Cinta Tak Bersyarat

Cinta Tak Bersyarat
Chapter 26 | Cinta Tak Bersyarat


__ADS_3

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم


Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:


"(Mereka berdoa), Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi."


(QS. Ali 'Imran 3: Ayat 8)


♡♡♡


"Nikmat sehat, iman, serta islam itu adalah wujud cinta Allah kepada seluruh umat-Nya."


♡♡♡


Ratih mengurai pelukan bersama dengan kedua Putrinya. Matanya menatap lekat tepat di kedua bola mata Siska. "Apa kamu yakin dengan keputusan ini, Nak?" tanyanya dengan harap-harap cemas menunggu jawaban sang Putri sulung.


Siska terdiam sejenak, mencerna lontaran pertanyaan yang diberikan Ibunya. Dia membawa lengan renta sang Ibu ke dalam genggamannya, menatap lekat kedua bola Ibunya yang begitu menunggu jawabannya.


Dengan perlahan anggukkan kecil itu Siska berikan kepada Ibunya. "Bismillah," tuturnya dengan seluas senyum tipis dan mata yang sudah mulai kembali berkaca-kaca.


Air mata bahagia kembali merembes di kedua mata Ratih. Dengan begitu erat dia kembali merengkuh tubuh Putrinya. "Semoga Allah senantiasa mengistiqomahkan niat baikmu, Nak," doanya.


"Aamiin," Siska dan Shakira mengaminkan doa Ibunya.


Shakira menatap Kakaknya dengan binar bahagia yang tak bisa dia definisikan dengan kata-kata. Hanya pelukan yang bisa dia berikan pada sang Kakak. "Aku seneng liat penampilan baru Teteh. Semoga Allah mempermudah jalan hijrah Teteh," harapnya seraya mengurai pelukan diantara keduanya.


Siska mengacak pelan pucuk kepala Shakira yang kini sudah terbalut kerudung putih seragam sekolahnya. "Teteh harus banyak belajar sama kamu," ucapnya.


Ratih merasa hidupnya begitu lengkap dengan kehadiran kedua Putri kebanggaannya. Dia bahagia walau kini kehidupannya begitu amat sederhana. Dia merasa kehidupannya begitu sempurna saat ajaran agama ikut melengkapi keluarganya.


'Ayah kedua Putri kecil kita kini telah tumbuh dewasa. Doakan mereka agar menjadi wanita sholehah yang dirindukan surga,' batinnya. Dia tak mau banyak berandai-andai dan mengharapkan sang Suami hadir kembali di tengah-tengah mereka. Hanya satu harapnya, mereka kembali dipertemukan serta dipersatukan di jannah-Nya kelak. Itulah doa yang selalu dia panjatkan di hadapan sang Khalik.


"Ayo berangkat sekarang, nanti kalian kesiangan," tutur Ratih mengingatkan. Walau sebenarnya dia masih ingin menahan kepergian Siska untuk segera menceritakan perihal alasan di balik hijrahnya. Tapi dia tidak mau egois untuk menghalang-halangi niatan mulia Putrinya yang akan bekerja.


Siska dan Shakira menganggukkan kepalanya. Meraih punggung tangan kanan sang Ibu dengan khidmat, lalu melangkah pergi setelah mengucapkan salamnya. Mereka sampai melupakan bahwa menu makan pagi sudah terhidang di meja makan.


"Ya Allah permudahkanlah segala urusan kedua Putri hamba, berikan mereka kekuatan serta keistiqomahan dalam menapaki kehidupan barunya, aamiin."


♡♡♡


Kedua gadis beda usia itu memilih untuk menaiki angkutan umum daripada membawa sepeda motornya. Siska merasa kagok bila harus mengendarai motor dengan menggunakan pakaian seperti sekarang ini. Dia tidak mau mengambil resiko dan sampai membahayakan ke selamat dirinya dan sang Adik.


"Baju Teteh bagus. Aku suka," oceh Shakira saat kedua sudah duduk manis di dalam angkot.


"Mbak Gita yang ngasih ke Kakak," katanya dengan senyuman mengembang.


"Mbak Gita?"


"Iya, Mbak Gita. Kamu masih inget sama beliau? Itu lho Bundanya Gladys," terang Siska.


Shakira memandang tak percaya Kakaknya. "Teteh ketemu mereka?"


Siska mengangguk mantap. "Kemarin Teteh gak sengaja nabrak anak kecil, dan ternyata anak itu anaknya Mbak Gita."

__ADS_1


"Innalillahi, maksud Teteh  Gladys?" tanya Shakira penasaran.


Siska terlihat menggelengkan kepalanya, dan itu berhasil membuat kerutan bingung di kening Shakira.


"Gadis, nama anak itu. Dia anak pertamanya Mbak Gita, Kakaknya Gladys," jelas Siska.


"Masya allah, dunia emang sempit yah Teh. Kapan-kapan ajak aku main ke rumah mereka yah," kata Shakira.


Siska mengelus pelan puncak kepala Adik satu-satunya. "Tentu," balasnya dengan senyuman.


Obrolan keduanya terhenti karena memang Shakira sudah sampai di halte depan sekolahnya.


"Aku duluan Teh, assalamualaikum," ucapnya seraya mencium punggung tangan sang Kakak untuk yang pertama kalinya.


Siska tersentak kaget mendapat perlakukan tak terduga dari Adiknya. "Wa...wa...wa'alaikumussalam," jawabnya terbata karena saking terkejutnya.


Dia menatap tangan kanannya dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada geleyar yang aneh dalam dirinya, ini kali pertama ada seseorang yang mencium punggung tangannya. Dan itu Shakira, adiknya.


Cukup lama dia melamun hingga kesadarannya kembali. Dan beruntung dia tidak melewatkan halte tempatnya biasa turun. "Kiri, Pak," katanya lalu menyodorkan uang sebagai bayarannya.


Dia melangkahkan kakinya dengan penuh percaya diri, walau tak bisa dia pungkuri kini jantungnya berdebar hebat. Takut serta rasa gelisah itu membayangi setiap langkahnya. Namun, karena niat dan kebulatan tekadnya yang besar dia mampu sedikit mengusir keresahan hatinya itu.


"Masya allah ini teh beneran kamu, Sis? Ya  Allah Mbak sampe pangling liatnya," sambutan itu Siska dapatkan dari Hasna saat dia baru memasuki ruangan tempatnya bekerja.


Hanya senyuman tipis yang bisa Siska berikan sebagai jawaban. "Bismillah, Mbak."


"Mbak seneng liatnya, semoga selalu istiqomah yah," ucap Hasna.


Respons positif Siska dapatkan dari rekan-rekan kerjanya. Semuanya sangat mendukung serta mendoakan yang terbaik atas keputusan Siska yang memilih untuk menutup auratnya sesuai dengan syariat agama yang dia anut.


"Calon ustazah nih," ujar Shinta melontarkan candaanya. Dia ikut bahagia melihat penampilan baru sahabatnya.


Siska tertawa mendengarnya. "Enggak lah, gue mah gak ahli di bidang itu," sahut Siska.


"Kalau ada doa yang baik itu diaminin bukan malah ngelak kaya gitu," sela Shinta.


"Aamiin," ujar Siska merangkul bahu sahabatnya yang sudah menemani dia sejak awal masuk di perguruan tinggi.


"Terus loe kapan?" dengan sengaja Siska melontarkan pertanyaan bernada jail itu.


Shinta mendengus dan menghempaskan jauh-jauh tangan Siska dari bahunya. "Kapan-kapan," katanya dengan cengiran lalu pergi begitu saja.


Siska menggeleng pelan melihat punggung sang sahabat yang kini telah menghilang dari pandangannya.


Dia kembali menjalankan rutinitas pekerjaannya dengan hati senang dan perasaan riang. Kini sudah tidak ada lagi beban dalam hidupnya, semunya terasa nyaman untuk dijalankan. Ucapan syukur tak henti-henti terucap dari bibirnya.


"Semoga Ayah bisa tenang di sana dan tidak lagi menanggung dosa karena ulah perbuatan aku dulu," gumamnya.


♡♡♡


Sepulang dari tempatnya bekerja Siska memutuskan untuk mampir di salah satu pusat perbelanjaan. Untuk membeli beberapa pasang pakaian untuk dia pakai, karena memang dia tidak memiliki pakaian serupa yang kini dia gunakan.


Deringan ponselnya berbunyi tanda ada panggilan masuk. Dengan segera Siska mengangkat teleponnya.

__ADS_1


"Halo, di mana?" sapa orang di seberang sana yang tak lain dan bukan adalah Shandra, sahabat karib Siska.


"Toko baju muslimah, Shan," sahut Siska memberitahu. Dia memang sudah berjanjian akan menghabiskan waktu bersama.


"Saya menuju ke sana," kata Shandra dengan gaya bahasa andalannya.


"Gue tunggu di depan toko biar loe gak salah masuk toko," ujar Siska.


"Ya," dan satu kata yang dilontarkan Shandra itu menghentikan obrolan diantara keduanya.


"Siska?" dengan ragu Shandra memanggil sahabatnya yang sangat berbeda dari terakhir kali mereka bertemu.


"Ayo masuk, temenin gue belanja baju," ucap Siska tanpa menghiraukan air muka datar Shandra yang penuh tanya.


"Udah nanti aja nanyanya, mending kita shopping dulu," katanya dengan kerlingan mata jail.


Shandra memukul pelan bahu Siska. "Akan saya tunggu penjelasan anda," kesalnya.


"Dengan senang hati saya akan menceritakannya Mrs. Robot," sahut Siska dengan kekehannya.


Kedua perempuan sebaya itu larut dengan aksi berbelanjanya. Beberapa pasang gamis serta khimar dibeli Siska, sedangkan Shandra hanya bertugas untuk menemani saja.


"Berapa Mbak?" tanya Siska saat mereka sampai di depan kasir.


Sang Kasir menyebutkan nominal yang yang harus Siska bayar, serta membungkusnya dengan paper bag.


"Biarkan saya yang membayarnya," ucap Shandra menahan tangan Siska yang tengah merogoh dompetnya.


"Enggak usah. Gue masih ada duit kok," tolak Siska.


"Tidak. Anggap saja ini hadiah dari saya untuk kamu," kekeuh Shandra memberikan kartu ATM-nya kepada sang Kasir tanpa menunggu persetujuan dari Siska.


Siska mengembuskan napasnya pasrah. Dia tidak bisa menolak titah tegas sahabatnya.


"Makasih, Shan," ucapnya dengan senyuman manis.


Shandra tak segan untuk memberikan senyuman terbaiknya pada Siska. "Kembali kasih."


"Apakah masih ada yang mau dibeli?" tanya Shandra begitu antusias.


Siska menggeleng. "Udah cukup," balasnya.


"Baiklah, mari kita makan terlebih dahulu rasanya perut saya sudah meronta minta diisi," ajak Shandra menggandeng lengan Siska.


Dengan semangat Siska menganggukkan kepalanya. "Tapi kalau ini gue yang bayarin loe. Masa iya gue yang ajak loe ke sini tapi malah loe yang traktir gue," tutur Siska tak enak hati pada sahabatnya.


"Jangan berbicara seperti itu. Saya senang jika melihat kamu senang," sela Shandra tak suka mendengar ucapan Siska.


"Loe emang sahabat terbaik gue," ucap Siska tanpa malu merengkuh tubuh sang Sahabat.


"Kita bukan hanya sahabat. Tapi saudara," ujar Shandra meluruskan.


Siska semakin mengeratkan pelukannya. Dia begitu bersyukur mendapatkan sahabat seperti Shandra.

__ADS_1


__ADS_2