Cinta Tak Bersyarat

Cinta Tak Bersyarat
Chapter 8 | Cinta Tak Bersyarat


__ADS_3

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم


"Persahabatan bukan hanya sekadar sebuah ikatan. Melainkan sebuah tali persaudaraan."


♡♡♡


Seminggu telah berlalu semenjak kejadian itu Siska selalu menghindari dua sosok laki-laki yang tidak memiliki hati dan perasaan itu. Siapa lagi kalau bukan Farhan dan Irfan. Dua sejoli yang doyan memainkan hati perempuan. Bahkan Siska terang-terangan mengibarkan bendera perang.


Siska menjauh dari Farhan yang hampir setiap hari mengunjungi rumah kontrakannya. Tapi tak satu kali pun Siska menggubris kedatangannya. Dia juga memberi jarak pada Irfan saat keduanya tak sengaja berpapasan. Memberikan sedikit pelajaran agar mereka bisa berpikir, bahwa tak seharusnya mereka memperlakukan perempuan seperti itu.


'Jelema ciga kitu mah kudu diwarah. Lamun diantepken wae tuman,' kira-kira seperti itulah yang ada didalam pikiran Siska.


Manusia seperti mereka memang sudah seharusnya dikasih pelajaran. Kalau tetap dibiarkan akan jadi kebiasaan.


"Are you okey?" tanya Shandra sahabat Siska sejak masih zaman putih biru. Dia mengkhawatirkan keadaan Siska yang terlihat murung dan banyak pikiran.


Kini Siska dan Shandra sedang berada di sebuah kafe, yang tak lain dan bukan adalah kafe milik Shandra.


"I am fine, no what what," sahut Siska berlagak sok inggris.


Shandra tergelak mendengar jawaban Siska yang absurd itu. "Sepertinya kamu berbakat menjadi seorang pelawak," ucapnya dengan bahasa baku dan formal.


Jangan heran karena itu memang bahasa sehari-harinya. Dulu Shandra bercita-cita menjadi seorang guru bahasa indonesia. Tapi karena gagal dan tak direstui kedua orang tua. Sekarang Shandra berpindah haluan menjadi seorang pebisnis itupun atas permintaan kedua orang tuanya.


"Step awal menjadi seorang guru bahasa indonesia itu harus dimulai dari hal-hal kecil, termasuk bahasa dan gaya bicaranya." katanya kala itu saat Siska bertanya alasan mengapa dia menggunakan bahasa yang terkesan formal.


Padahal jika dipikir-pikir cita-citanya saja tidak kesampaian. Tapi kenapa dia masih keukeuh dengan bahasa formal nan bakunya itu? Alasannya pun terdengar aneh ditelinga Siska.


"Saya sudah nyaman," alasan yang konyol bahkan tidak masuk akal bagi Siska.


"Tiap kali ngomong sama lo gue berasa lagi berhadapan sama orang-orang besar yang mengharuskan gue pake bahasa indonesia yang baik dan benar. Kaku!" komentar Siska.


"Itu hanya perasaan kamu saja," elaknya.


"Lo mah replika robot di dunia," cibir Siska lalu meneguk setengah jus jeruk yang Shandra pesankan.


"Ada apa kamu menemui saya di sini?" tanyanya yang tak menghiraukan cibiran Siska. Sudah hal yang wajar baginya.


"Biasa lah curhat," jawab Siska dengan cengiran khasnya yang menampilkan lesung pipit di kedua pipinya.


Shandra adalah sahabat yang selalu siap sedia menampung segala keluh kesahnya.


"Boleh silakan," ucapnya setelah meminum lemon tea.


"Lo tau kan si Farhan tetangga gue dulu?" Siska mulai membuka sesi curhatnya.


"Hmm, Farhan yang suka main perempuan, bukan?" sahutnya.


"Iya tuh lo tahu. Dia nyuruh gue buat ngerusakin hubungan mantan pacarnya yang ketauan nyelingkuhin dia," adu Siska.


"Terus kamu mau. Begitu?" tebaknya.


Siska mengangguk. "Iyalah mana bisa gue nolak orang dia ngiming-ngimingin gue imbalan," jujur Siska. Dia paling tidak bisa menutupi apapun dari Shandra. Kecuali perihal masalah hati dan perasaannya.


"Seharusnya kamu tolak saja. Kasihan tahu mantan pacarnya." ujarnya masih dengan muka datar tanpa ekspresi.


Dia mah emang gitu orangnya. Unik kaya barang antik.


"Jadi menurut lo gue salah gitu?"


Shandra menganggukkan kepalanya mantap. "Iya, karena tidak seharusnya kamu tolong menolong dalam hal keburukan. Itu tidak baik, Siska." ucapnya menasehati.

__ADS_1


Shandra memang paling jago dan ahli dalam menasehati dan mencuci otak Siska. Tapi dalam hal kebaikan bukan malah sebaliknya.


"Terus gue harus gimana? Gue, kan udah terlanjur setuju sama rencana dia," tanya Siska yang mulai terpengaruh dengan ucapan sahabatnya itu.


Shandra terdiam sejenak seperti orang yang tengah berpikir serius. "Kalau begitu kamu temui Farhan lagi saja. Lalu bilang pada dia jika kamu sudah tidak mau lagi bekerja sama dengannya."


"Shan, bisa gak sih bahasa formalnya diilangin dulu. Asli nih gue berasa curhat sama robot," keluh Siska.


"Maaf tidak bisa. Saya sudah nyaman dengan bahasa seperti ini. Lebih sopan dan enak didengar," jawabnya.


Enak didengar apanya? Ngaco nih orang!


"Sudahlah jangan terlalu mempersalahkan bahasa saya. Lanjutkan saja cerita kamu, bukannya kamu sudah terbiasa dengan gaya bicara saya yang seperti ini," lanjutnya.


"Oke baiklah saya akan melanjutkannya. Dan dimohon untuk anda menyimaknya dengan seksama," tutur Siska meniru gaya bicara Shandra.


Shandra terkekeh pelan, "Kamu tidak pantas berbicara seperti itu. Saya seperti sedang berbicara dengan orang lain."


"Udah lah lupain soal itu, gue lanjutin. Lo masih inget Irfan temen SMP kita dulu?" tanya Siska meneruskan sesi curhatnya.


"Irfan? Sepertinya saya masih mengingatnya," jawabnya.


Tinggal bilang 'Iya' aja pake berbelit-belit, Shan. Pemborosan kata tuh.


"Lo tau kan dia itu playboy kelas kakap dari dulu?"


Shandra mengangguk setuju. "Lalu?"


"Gue kerja di rumah sakit bokapnya. Dan lo tau gak? Dia nyuruh gue buat bantuin dia putus sama pacarnya. Gila, kan tuh orang!"


"Dia memang seperti itu orangnya," komentar Shandra begitu santai, padahal Siska curhat sudah dengan gaya lebay. Tapi raut wajah Shandra datar-datar saja.


"Lo tau gak? Kalau ternyata cewek yang Farhan dan Irfan maksud itu adalah cewek yang sama. Namanya Sarah," ucap Siska.


"Jadi gini ceritanya...." Siska menceritakan semua keterkaitan antara dirinya, Irfan, Farhan, dan Sarah.


"Rumit sekali ternyata kisah percintaan mereka," sahutnya setelah mendengarkan penjelasan Siska.


"Terus apa yang harus gue lakuin?" Tanya Siska.


"Menurut saya, kamu lebih baik jangan ikut campur masalah percintaan mereka lagi. Biarkan saja mereka menyelesaikannya sendiri," sarannya.


"Gitu yah?"


Shandra mengangguk dengan menampilkan senyuman manisnya. Dia memang paling bisa memberikan Siska pencerahan. Walau sedikit kesal karena mendengar bahasanya yang kelewat formal. Tapi setidaknya beban pikiran Siska sedikit berkurang setelah bercerita dengannya.


"Sudah?" tanyanya.


Siska hanya mengangguk saja, dia bingung harus berkata apa lagi.


"Kalau begitu, silakan dinikmati menu baru kafe ini," tuturnya.


"Gratis, kan?" canda Siska.


"Tentu, spesial untuk sahabat saya yang tengah dilanda gundah gulana. Saya akan menggratiskan menunya," sahutnya merespons baik candaan Siska.


"Bungkus boleh kali, buat Adek sama Emak gue," gurau Siska.


"Boleh, tunggu sebentar biar saya persiapkan," ucapnya lalu pergi.


Candaan yang selalu Siska lontarkan selalu Shandra anggap sebuah kebenaran. Dia itu orangnya kelewat serius dan tidak bisa diajak becanda.

__ADS_1


♡♡♡


"Teh ada yang nyariin tuh di depan," teriak Shakira.


"Siapa?" tanya Siska yang baru saja keluar dari kamar.


"Aa montir," jawab Shakira yang masih fokus menatap layar televisinya.


"Bilang sama dia Teteh gak ada di rumah," titah Siska.


"Enggak ahk, masa aku disuruh bohong sih."


Shakira memang bukan sekutu yang baik kalau urusan bohong- berbohong. Dia pasti akan menolak!


"Tuh ada di teras depan lagi ngobrol sama Ibu," lanjut Shakira.


Siska langsung berlari ke luar rumah dan benar saja Ratih sedang tertawa ria bersama Irfan.


Dasar playboy! Emak gue juga diembat.


"Tuh Siskanya," tunjuk Ratih ke arah Siska.


"Tante ke dalem dulu yah," pamit Ratih sopan.


"Ngapain lo ke sini?" todong Siska yang masih berdiri di ambang pintu seraya menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


Irfan berjalan mendekat ke arah Siska. "Kenapa lo ngehindarin gue?" tanyanya begitu dingin dan ketus berbeda sekali dengan cara dia berbicara tadi dengan Ratih yang halus dan lembut.


"Enggak," elak Siska.


"Apa salah gue, sampe lo ngehindarin gue?" tanya Irfan dengan tatapan matanya yang begitu tajam dan menyeramkan.


Dasar gak punya otak. Dia masih nanya apa salahnya, helow dia pikir dia siapa bisa seenaknya bersikap dan bertindak seperti itu?


"Jawab gue Salsha!" tegasnya mencengkeram kedua bahu Siska.


"Lepas! Dan jangan panggil gue dengan sebutan itu." Siska memberanikan diri untuk menatap manik mata tajam milik Irfan.


Hening! Tak ada lagi perang adu mulut diantara keduanya. Mereka saling diam dengan tatapan tajam bak elang yang siap menerkam.


"Bersikap lah profesional. Dan jangan pernah campurin masalah pribadi sama kerjaan." ucap Irfan lalu melepaskan cengkeraman tangannya.


"Bukan urusan lo!" sahut Siska.


Dia sudah tahu niat kedatangan Irfan ke rumahnya hanya untuk mempertanyakan perubahan sikap Siska yang selalu menghindar saat keduanya tak sengaja berpapasan.


"Jelas ini urusan gue karena lo kerja di rumah sakit bokap gue!"


"Oke, kalau itu masalahnya gue akan resign sekarang juga dari rumah sakit bokap lo," ucap Siska menekan setiap kata pada kalimatnya.


"Gue bilang jangan campurin urusan pribadi sama urusan kerjaan!"


"Keputusan gue udah bulat. Gue akan resign," pungkas Siska lalu berlari dan menutup pintu kasar hingga menimbulkan suara keras.


"Siska ada apa, Sayang?" seloroh Ibunya saat mendengar suara pintu yang Siska tutup kasar.


"Itu, Bu ada tukang ngamen yang maksa minta bayaran jadi aku usir aja," jawab Siska asal jeplak.


"Lho bukannya tadi, Nak Edgar lagi di depan yah? Kok gak diajak masuk?" Ratih memberondong Siska dengan sejumlah pertanyaan.


Siska memutar otak mencari alasan yang masuk akal, "Oh, Irfan yah Bu? Ada pasien gawat darurat katanya."

__ADS_1


Memang benar kata orang kalau sudah sekali berbohong pasti akan ada kebohongan lain yang mengikuti di belakangnya.


Maafkan anakmu yang telah berbohong ini, Bu.


__ADS_2