Cinta Tak Bersyarat

Cinta Tak Bersyarat
Epilog | Cinta Tak Bersyarat


__ADS_3

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم


"Cintai seseorang dengan sewajarnya. Namun, cintai Sang Pencipta lebih dari segalanya."


♡♡♡


Suasana khas pedesaan dan kehidupan masyarakat yang kental dengan kearifan lokal cukup terasa di sini. Satu hal yang membuat jatuh hati adalah pemandangan dan bentang alamnya yang mempesona. Sederhana namun penuh keindahan. Menatap ke arah kejauhan terlihat deretan bukit yang seolah-olah memagari sawah. Untuk melihat ujung sawah kita perlu berjalan menyusurinya. Sawah-sawahnya dipenuhi padi yang meninggi berwarna hijau menyejukan mata. Ujung-ujung daunnya yang meruncing bergoyang tertiup semilir angin.


Perempuan dengan balutan ghamis panjang serta khimar lebar terlihat tengah berdiri menghadap pemandangan indah di depan matanya. Dia memang selalu menghabiskan waktu pagi bersama bentangan sawah dan luasnya langit biru yang memayungi. Rasanya sesak di dada menghilang dan menguap begitu saja, saat netranya bertemu pandang dengan ciptaan Allah yang begitu mengagumkan. Andaikan tidak ingat dengan tugasnya untuk mencari uang, mungkin gadis berusia dua puluh enam tahun itu akan dengan senang hati berdiam diri di sana.


"Teh Siska!" teriakan nyaring yang keluar dari bibir mungil adiknya membuat dia menoleh seketika. "Apa?"


"Dipanggil Ibu," ucapnya memberitahu.


Tanpa banyak bertanya lagi wanita dengan balutan ghamis berwarna biru langit, dan khimar abu-abu itu melangkahkan kaki menuju rumah yang berada tak jauh dari tempatnya berada. "Ada apa sih?" tanya perempuan bernama Siska pada adik satu-satunya.


Shakira hanya mengedikan kedua bahunya tak peduli lalu menjawab, "Enggak tau."


Sepasang kakak beradik itu jalan berdampingan. Tinggi badan Shakira yang memang tak begitu jauh dengan sang kakak, membuat Siska begitu nyaman menyampirkan sebelah tangan kanannya di atas bahu sang adik. Keduanya tak henti-henti mengoceh, saling meledek adalah hal biasa bagi mereka. Sampai tak terasa kedua perempuan yang hanya berjarak beberapa tahun itu tiba di depan rumah sederhana bercat hijau.


"Mobil siapa?" seloroh Siska pada si bungsu Shakira.


"Yang jelas mobil orang lain, Teh. Kita mana punya mobil bagus kaya begitu," katanya seraya mendongak, menatap wajah ayu sang kakak yang tengah menampilkan senyuman tipis.


Dengan gemas Siska mengacak pelan kepala adiknya yang tertutup hijab. "Doain aja. Kalau usaha Teteh lancar insya allah kita bisa beli mobil," ujar Siska kembali menarik kedua sudut bibirnya.


Gadis yang baru lulus SMA itu memeluk erat pinggang kakaknya. Lantas berkata, "Aamiinnnnnnn."


"Ibu tungguin dari tadi malah ngobrol di sini." Penuturan Ratih menghentikan obrolan keduanya.


Siska hanya menyengir kuda lalu mengambil punggung tangan ibunya untuk disalami. "Apa emang? Tumben nyariin aku."


"Udah ah jangan banyak nanya. Ayo masuk," ajak Ratih dengan segera menggandeng putri sulungnya.


Rumah sederhana tanpa tingkat bernuansa pedesaan yang sangat kental. Terlihat jelas dari tatanan bangunan dan juga desain arsitekturnya. Ruang tamu yang hanya dilengkapi dengan beberapa sofa panjang dan juga satu televisi layar datar itu terlihat sedikit ramai karena kedatangan tamu.


"Ada siapa, Bu?" tanya Siska berbisik saat netranya sudah menangkap punggung tegap seorang laki-laki. Tak ketinggalan ada sepasang suami istri yang mengapit pria tersebut.


"Yuk duduk," ajak Ratih tanpa mau repot-repot menjawab pertanyaan putrinya.


"Maaf lama," tutur Ratih saat sudah mendudukan bokongnya di atas sofa. Sedangkan Siska hanya mampu menunduk dalam dengan perasaan cemas tak keruan. Firasatnya buruk.


Ketiga tamunya itu hanya mengangguk sopan dan tersenyum ramah sebagai jawaban.


"Siska," panggil seorang wanita yang berusia seperti ibunya, Ratih.


Mendapati suara yang tak asing menyapa rungunya. Membuat gadis cantik kelahiran Sunda itu mendongak. Air muka terkejut sangat terlihat jelas di wajah ayunya, terlebih lagi saat dia menilik satu persatu wajah tamu sang ibu yang tak asing. Gemuruh di dalam dirinya seakan bangkit ke permukaan, menguap dan membuat dadanya sesak dengan keringat dingin yang sudah mulai membasahi kedua telapak tangan.

__ADS_1


Dengan pandangan mata menuntut penjelasan dia menoleh ke arah ibunya yang justru memberikan senyum terbaik. "Dengarkan dulu sebentar," pintanya pada sang putri yang sudah mulai pucat pasi.


Wanita paruh baya yang tadi memanggil Siska, bangkit dari duduknya dan menghampiri Siska dengan duduk di samping gadis itu. "Apa kabar, Nak?" tuturnya dengan lengkungan senyum. Berbasa-basi hanya untuk menghilangkan kecanggungan yang tercipta.


Antara kaget bercampur gugup Siska berkata, "Alhamdulillah baik, Tan."


"Apa kamu sudah memutuskannya?" tanyanya begitu to the point.


Siska kembali menunduk dengan kedua tangan yang tak henti memilin ujung khimar. Setidaknya cara itu bisa menghilangkan sedikit kegugupan dan kegelisahan dalam dirinya. Melirik sekilas ke arah ibunya meminta bantuan. Namun, tak membuahkan jawaban yang dia inginkan.


Beberapa kali dia menarik dan mengembuskan napasnya kasar. Hanya untuk sekadar membuat hatinya merasa lebih tenang. "Mohon maaf, Tan aku gak bisa," ujar Siska dengan sekuat tenaga menahan gejolak dalam dada.


Helaan napas panjang Ratih keluarkan sebagai wujud keputusasaan. "Kenapa lagi, Sayang?"


Dengan perlahan dan tanpa menghilangkan rasa sopan, dia memiringkan sedikit tubuhnya untuk menghadap sang ibu. "Aku belum siap, Bu."


"Mau sampai kapan kamu terus seperti ini?" Tatapan terluka yang dipancarkan ibunya sangat menyayat hati dan perasaan Siska.


"Tidak untuk waktu secepat ini, Bu." Dengan perlahan dia mengutarakan apa yang masih mengganjal hatinya.


"Ini sudah hampir dua tahun, Nak. Janganlah terlalu menutup hati seperti ini," ucap Ratih mengelus pelan punggung tangan sang putri.


"Apa gak ada sedikitpun kesempatan untuk gue, Sha?" Suara laki-laki yang dulu sangat amat dia cintai begitu mengusik relung hatinya.


Siska menatap dengan pandangan mata yang sudah mulai berkabut. "Maaf gue gak bisa!" Perempuan yang masih berstatus lajang itu dengan segera memasuki kamar. Rasa sakit akan trauma masa lalu itu masih membayangi sampai kini. Dia tidak ingin kembali jatuh pada lubang yang sama seperti dulu.


Sesampainya di dalam kamar dia langsung mengunci pintu, dan menjatuhkan tubuhnya hingga bersandar di balik pintu. Sungguh, hatinya masih terluka dan belum siap untuk kembali dibuka. Dia merutuki dirinya sendiri, jika saja dia tahu mobil yang terparkir cantik di halaman rumah itu milik keluarga Irfan, dia tidak akan pernah mau mengikuti permintaan ibunya.


Suara ketukan pintu sama sekali tak membuat perempuan itu beranjak dari posisinya. Dia masih memerlukan waktu untuk menyembuhkan rasa sakit. Dia tidak mau gegabah dan salah langkah dalam memutuskan masa depannya.


"Buka, Nak Ibu mohon!" teriakan yang dibarengi dengan gedoran itu menyapa rungunya.


"Maafkan anak tante karena sudah terlalu banyak melukai kamu, Nak. Tapi Tante mohon berikan Edgar kesempatan," pinta Intan. Dia tahu putra satu-satunya itu sudah membuat kesalahan yang cukup fatal. Melukai hati seorang perempuan sama saja seperti melukai hati ibunya sendiri.


Siska sadar bahwa tidak seharusnya dia bersikap demikian, dan justru melibatkan ibu serta orang tua Irfan yang tidak tahu menahu dengan duduk persoalannya. Ego dan rasa takut yang melambung tinggi membuat dia jadi seperti sekarang ini. Dengan perlahan dia membuka pintunya dan mempersilakan dua wanita paruh baya itu masuk ke dalam.


Ratih yang sangat mengerti dengan perasaan sang putri dengan penuh kasih sayang merengkuh tubuh Siska dan mengelus pelan punggungnya. "Semua orang mempunyai masa lalu menyakitkan. Tapi jangan sampai hal itu membuat kamu takut untuk melangkah ke masa depan. Jangan melihat masa lalunya karena dia sudah tidak hidup di masa itu. Buka lembaran baru untuk menata masa depan yang lebih baik lagi." Dengan perlahan dia memberi putrinya pemahaman.


Ratih mengurai pelukan. Menatap tepat di kedua bola mata putrinya yang syarat akan rasa takut. "Ibu yakin kamu masih mencintainya. Hanya saja kamu menyangkal kebenaran itu karena rasa takut kamu yang berlebihan."


"Berikan, Nak Edgar kesempatan," pinta Ratih begitu hati-hati.


Siska yang mendengar hal itu hanya mampu diam seribu bahasa. Netra hitam legamnya menatap ke arah Intan yang sedari tadi menyaksikan percakapan serius antara dirinya dan sang ibu. Wajah penuh pengharapan sangat terpancar jelas di sana.


♡♡♡


"Makasih." Satu kata itu mewakili kebahagiaan yang kini tengah dia rasakan.

__ADS_1


Hanya anggukkan kecil tanpa adanya  senyuman Siska berikan pada laki-laki yang tengah duduk di samping meja yang menjadi sekat keduanya.


"Sha!" Panggilan itu selalu membuat debaran jantungnya menjadi tak seirama. Tak ada tolehan ataupun sahutan yang perempuan dua puluh enam tahun itu berikan.


"Maafkan gue di masa lalu... gue harap loe bisa kembali membuka hati...," ucapnya. Siska sama sekali tak berminat untuk menanggapi.


"Gue cinta sama loe!" Perkataan Irfan membuat debar jantungnya semakin menggila luar biasa.


"Tidak sepantasnya kamu mengumbar perkataan itu kepada perempuan yang jelas-jelas tidak halal untuk mendengarnya." Sahutan yang Siska berikan sungguh di luar dugaan.


Irfan meringis dengan wajah malu bukan kepalang. "Gue cuman mengungkapkan apa yang gue rasakan."


"Mending aku masuk ke dalem aja, ah. Percuma di sini juga jadi nyamuk doang," sindir Shakira yang memang didapuk untuk menjadi penengah di antara Siska dan Irfan.


"Diem di sini!" Perintah Siska tak terbantahkan.


Shakira mendengus sebal dan menggerutu tak jelas. "Iya, iya, iya."


Irfan hanya mampu menahan senyumnya saat melihat perdebatan kecil di antara kakak beradik itu. "Udah kamu diem aja di sini. Biar kita gak berduaan, kalau cuman berdua, 'kan yang ketiganya setan," canda Irfan dengan sedikit sunggingan.


Mendengar hal itu malah membuat Shakira tersinggung. Dengan dongkol dia berkata, "Enak aja Aa bilang kaya gitu. Secara gak langsung Aa teh sebut aku setannya."


Protesan dari mulut Shakira justru mengundang tawa di antara Irfan dan Siska. Keduanya melepas tawa seperti tanpa beban sama sekali. Melihat tawa yang terpancar indah di wajah Siska membuat Irfan senang dan bahagia. Dengan enteng dia berkata, "Gue suka liat loe ketawa lepas kaya gitu."


Siska yang baru menyadarinya, dengan segera menghentikan tawa dan melihat sekilas wajah laki-laki di sebelahnya yang tengah tersenyum.


"Katakanlah kepada laki-laki yang beriman,’Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.’ Al-qur'an Surah. An-Nur ayat 30." Dengan usil Shakira menyadarkan kakaknya dan Irfan yang tengah saling bertatapan.


Kedua muda-mudi itu dengan segera memutus kontak mata dan beristigfar berulang kali. Melihat Siska dan Irfan yang salah tingkah seperti itu malah membuat Shakira menyemburkan tawanya.


"Bawa langsung ke KUA...," katanya tersenyum jail. Dengan sengaja gadis remaja itu membuat wajah kakaknya merona. Tangan kanan Siska yang sudah gatal begitu cepat menyambar pinggang adiknya, yang menimbulkan ringisan pelan keluar dari bibir mungil tanpa pewarna milik Shakira.


"Kalau cinta bilang aja kali, Teh," katanya begitu enteng.


"Masih kecil gak boleh bahas cinta-cintaan," sela Siska.


"Iya, terserah yang tua aja. Anak muda mah ngikut we," tukasnya dengan suara yang dibuat-buat.


"Buruan halalin, kalau nikahnya ketuaan kasian anaknya masa punya orang tua rasa kakek nenek," teriak Shakira dengan segera melesat masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Siska dan Irfan yang dilanda kecanggungan.


"Gimana?" tanya Irfan begitu ambigu dan membuat Siska tak mengerti. "Apanya yang gimana?"


"Tawaran Shakira," jawabnya dengan kedua alis yang sengaja di naik turunkan.


Siska tersedak ludahnya sendiri. Kerongkongannya kering tak bisa berkata-kata namun hatinya tak bisa dibohongi, bahwa kini dia tengah berbunga-bunga karena bahagia. Dengan perlahan serta malu-malu perempuan itu mengangguk ragu.


Irfan yang melihat hal itu mengangkat kedua sudut bibirnya dan berkata, "Jawab dong."

__ADS_1


"I... i... iya," sahut Siska gugup dengan wajah yang sudah semerah kepiting rebus.


-END-


__ADS_2