Cinta Tak Bersyarat

Cinta Tak Bersyarat
Chapter 4 | Cinta Tak Bersyarat


__ADS_3

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Allah Subhannahu wa Ta'ala telah berfirman:


"Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya"


♡♡♡


"Aku tidak suka menonton drama, karena hidupku sudah terlalu banyak drama. Drama hidup yang tak mengenal kata tamat dan selesainya."


♡♡♡


Siska kini berada di salah satu coffe shop. Bersama dengan sesosok makhluk yang bernama Farhan. Sedari tadi Siska hanya menjadi pendengar yang baik untuknya. Mendengarkan segala macam curhatan sampah yang tidak ada manfaatnya.


Farhan, teman sekaligus tetangga samping rumah Siska dulu. Walaupun kini mereka sudah tidak bertetangga lagi tapi pertemanan diantara keduanya masih terjalin sampai dengan sekarang.


"Lo dengerin gue gak sih?" tanyanya seperti kesal dan terkesan nyolot karena sedari tadi Siska tak merespons apapun selain diam dan menikmati secangkir kopi yang dia pesankan.


"Dengerin kok," jawab Siska santai. Dia memang sedari tadi mendengarkan Farhan hanya saja dia malas untuk berkomentar.


Farhan mendelik tak percaya mendengar jawaban Siska. Tapi Siska tak acuh dan tak mempedulikannya.


Bodo gue gak peduli! Siapa suruh curcol sama gue? Boro-boro ngurusin hidup lo, ngurusin hidup gue aja udah ribet gini!


"Udah?" tanya Siska bosan karena dia tak kunjung membuka suaranya lagi, dan kini malah menatap Siska dengan sorot mata elang miliknya.


Farhan tak merespons karena kini dia tengah dilanda kekesalan tingkat tinggi. "Menurut gue sih udah lupain aja. Ngapain lo terus-terusan mikirin dia tapi dianya enggak," ucap Siska berkomentar dengan apa yang dialami temannya itu.


"Gue gak mikirin dia! Catet baik-baik di otak lo!" ralatnya menggeram kesal. Dia tidak terima dengan komentar yang Siska lontarkan.


"Biasa aja kali, tadi lo yang nyuruh gue koment lah sekarang malah kaya gini," Siska menjawab dengan kesal.


"Koment lo unfaedah," sarkasnya meremehkan.


"Gue cabut kalau omongan lo tentang itu-itu mulu. Panas nih kuping, emang kagak ada topik lain apa?"


"Ternyata semua perempuan itu sama gak ada bedanya! Enggak lo enggak Sarah sama aja!" ucapnya tegas dan tajam.


Siska menggeram kesal. Dia tidak terima disamakan dengan makhluk bernama Sarah itu.


Gue dan Sarah sama? Jelas-jelas beda! Beda banget!


"Enak aja lo sama-samain gue sama Sarah si awe-awe lenjeh! Itu."


"Lo nyebelin sih sama kaya dia," jawabnya yang membuat Siska ingin menjitak kepalanya sekarang juga. Namun, karena Siska merasa sedikit iba pada sosok makhluk galau di hadapannya jadi dia urungkan niatnya.


"Efek playboy diselingkuhin jadi kaya gini nih," cibir Siska setelah mengambil sepotong donat bertoping keju kesukaannya.


"Enggak yah," elaknya tak terima. Padahal tadi dia sendiri yang bercerita pada Siska. Kalau dia diselingkuhin pacarnya yang bernama Sarah.


Siska berdecih mendengar kebohongan dari mulut Farhan. "Jadi judul ftv keren nih 'Disaat Playboy patah hati gara-gara diselingkuhin mantan pacarnya sendiri' haha," ucap Siska tergelak menertawakan nasib temannya.


"Enak aja lo kata, kagak gitu ceritanya," sergahnya.


"Haha, terus apaan? Terima nasib aja kali Boss."


"Oh, iya salah judul ceritanya, maksud gue itu 'Karma seorang Peselingkuh yang diselingkuhin' nah ini baru cocok." Siska kembali tergelak sedangkan Farhan memberengut kesal.


Ternyata menertawakan nasib orang lain sangat menyenangkan. Bahkan bisa sedikit mengurangi rasa galau gue karena tak kunjung mendapatkan kerjaan.


"Kagak gitu oncom!" jitakan berhasil mendarat di kening mulus Siska.

__ADS_1


"Intinya mah sama, diselingkuhin!" keukeuh Siska tak mau kalah.


"Punya temen gini amat, gue telen lo hidup-hidup," ancam Farhan menakut-nakuti Siska. Tapi pada kenyataannya Siska sama sekali tidak takut.


Tadi pagi Farhan mengajak Siska untuk bertemu di tempat langganan mereka. Tapi karena tadi pagi Siska ada urusan jadi baru sore ini dia memenuhi ajakan Farhan. Dan kini Siska menyesal karena mau-maunya di ajak nongkrong bareng hanya untuk curhat-curhat tidak jelas seperti ini.


Buang-buang waktu gue aja!


Biasalah cowok obrolannya tak jauh-jauh dari obrolan seputar cewek. Farhan yang tak terima diselingkuhin Sarah, ceweknya yang kini sudah berubah status menjadi mantan pacarnya. Padahal setahu Siska dia juga selingkuh dengan Marsha yang sekarang masih berstatus sebagai pacarnya.


Dasar playboy, maunya selingkuh giliran diselingkuhin gak terima. Gak punya kaca kali dirumahnya. Nanti gue beliin kaca yang gede buat dipajang di kamarnya biar dia tahu diri.


"Gue kira dia cewek baik-baik, lah taunya dia juga sama-sama tukang maen kaya gue," tuturnya melanjutkan sesi curhat yang tadi sempat terpotong.


"Jodoh itu cerminan diri Boss, lo mau jodoh yang baik tapi lo masih kaya gini, ngaca!" ucap Siska mengeluarkan apa yang ada dalam otaknya.


Boss adalah nama panggilan yang Siska berikan untuk Farhan. Secara dia adalah pewaris tunggal dari bisnis keluarganya yang worang kaya tujuh turunan yang hartanya tidak akan habis-habis.


"Ya, tapi kagak gitu juga kali. Gue kan pengen gitu dapet jodoh yang baik terus bisa bimbing gue biar jadi baik kaya dia."


"Lo kebanyakan nonton drama, mana ada yang kaya begitu di dunia nyata. Yang baik mah cuman ditakdirin buat yang baik juga bukan malah sebaliknya."


Drama, sinetron, dan film adalah makanan sehari-hari Farhan. Dia akan uring-uringan tidak jelas kalau sampai lupa dan melewatkan satu episode sinetron favoritnya. Tipikal laki-laki langka di dunia, spesies yang hampir punah yang memang sudah seharusnya dibumihanguskan.


"Serah lo lah," pungkas Farhan yang sudah seperti kehabisan kata-kata.


"Terus sekarang mau lo apa?" tanya Siska yang penasaran dengan tindakan Farhan selanjutnya.


Mendengar pertanyaan Siska, Farhan seperti mendapatkan lampu hijau dan ide brilian dalam otaknya. Dia tersenyum miring ke arah Siska. "Gue bakal tunjukkin ke dia gue yang sebenarnya," seringainya.


"Maksud lo?" otak Siska agak lola jika membahas tentang hal seperti itu.


"Ya, kalau dia bisa selingkuh di belakang gue, kenapa gue enggak?" ujarnya ringan. Seringan kerupuk yang ada di pasar.


"Kalau gue selingkuh itu biasa, jadi gak ada salahnya. Tapi kalau gue yang diselingkuhin itu beda ceritanya. Gue gak terima!"


"Udah lah lupain aja, lo juga udah dapet gantinya," cegah Siska yang tak mau melihat Farhan berbuat hal yang tidak-tidak.


"Gue gak terima Sarah nyelingkuhin gue, karena gak ada sejarahnya seorang Farhan Hamid Firmansyah diselingkuhin. Dan dia satu-satunya cewek yang berani nyelingkuhin gue," ucapnya final.


Farhan adalah laki-laki yang suka mempermainkan hati perempuan. Tapi dia tidak akan pernah terima kalau hatinya dipermainkan perempuan lain. Egois! Memang begitulah dia, angkuh dan sombong karena kekuasaan dan kekayaan yang dimilikinya. Sampai dia merasa hati perempuan bisa dibeli dengan uangnya sendiri.


"Inget, Han sekarang lo udah pacaran sama Marsha selingkuhan lo dulu. So, menurut gue gak ada gunanya lagi lo ungkit-ungkit soal itu. Dan gue minta sama lo jangan mainin perasaan cewek lagi. Jadiin Marsha satu-satunya cewek dihati lo," ucap Siska tak terima dengan perlakuan Farhan yang terlalu meremehkan harga diri seorang perempuan.


"Ya, lo tau gue kan. Gue paling gak bisa tahan tiap liat cewek bening dikit," belanya tak mau disalahkan. Padahal sudah jelas di sini dia lah yang salah dan Sarah yang menjadi korban. Dan mungkin Marsha akan menjadi korban selanjutnya, lalu besok-besok siapa lagi?


"Yaudah makanya jangan perpanjang lagi masalah ini. Karena yang salah di sini itu lo, bukan Sarah."


"Enggak bisa, pokoknya gue gak terima diselingkuhin dia," keukeuhnya.


"Yaudah terus rencana lo apaan?" tanya Siska menyerah, jika harus terus beradu argumen dengan Farhan sampai mulut Siska berbusapun Farhan tidak akan mendengarnya. Kalau A ya harus A tidak bisa diganggu gugat.


Farhan berbisik tepat disamping telinga Siska, lalu tersenyum penuh arti ke arah Siska yang memasang wajah terkejut.


"Gak mau, apa-apaan lo jadiin gue tumbal," tolak Siska tidak setuju dengan ide gila Farhan.


Jelas saja Siska tidak setuju karena dia menyuruh Siska untuk menggoda dan merebut laki-laki yang sekarang sudah berstatus sebagai pacar Sarah. Laki-laki yang sudah berani mengambil Sarah dari tangannya.


Siska tak bisa menerima alasan konyol yang diberikan Farhan kepadanya, "Biar dia tau sakitnya patah hati dan diselingkuhin," seringainya tajam. Muncullah sifat antagonis yang ada di dalam diri Farhan.


Korban sinetron!

__ADS_1


"Lo baik deh, cantik banget sih hari ini," bujuk Farhan seperti setan yang terus berbisik-bisik manja di telinga Siska.


"Gue bilang enggak yah enggak!"


"Gue kasih lo bayaran deh kalau lo berhasil buat mereka putus," bujuknya lagi.


'Apa-apaan tuh anak bujuk gue pake duit segala,' batinnya.


"Sorry gue gak terima sogokan," tolak Siska.


"Bantuin gue napa, kalau lo berhasil lo boleh minta apa aja sama gue," Farhan kembali membujuk Siska dengan tawaran yang lebih menarik dari sebelumnya. Dan Siska sedikit tergiur dengan tawaran itu, tapi dengan cepat Siska segera menghilangkan pikiran dangkalnya.


'Gue perempuan sama kaya Sarah, jadi gue tau bagaimana hancurnya perasaan Sarah. Karena kita sama-sama perempuan yang termakan buaian mulut manis laki-laki buaya seperti Farhan dan Irfan.' Siska berusaha sekuat tenaga meyakinkan hatinya agar tidak tergiur dengan bujukan Farhan.


"Tawaran gue gak main-main lho. Apapun yang lo mau bakal gue kabulin," ucapnya kembali mengiming-ngimingi imbalan. Kini dia bermain dengan kedua alis tebalnya yang dia naik turunkan.


Sungguh menjijikan! batin Siska tak suka.


Siska menghitung kesepuluh jarinya sambil berkata ambil, jangan, ambil, jangan, dan pas di jari terakhirnya ternyata jawabannya 'jangan' dan Siska sedikit kecewa. Kenapa jarinya berdusta pada hatinya yang terus bersorak untuk menerima tawaran menggiurkan Farhan.


"Hmm, emang kaya apa sih cowok yang jadi pacarnya Sarah?" Setelah berpikir cukup lama akhirnya Siska memutuskan untuk melihat siapa gerangan laki-laki yang sudah merebut Sarah dari Farhan.


Farhan menampilkan seulas senyumnya. Dia sudah berhasil membuat Siska penasaran dan masuk ke dalam perangkapnya. Siska akui mulut Farhan sangat lihai dalam bujuk-membujuk.


Farhan mengambil handphone yang berada di dalam saku celana jeans-nya, mengotak-ngatik benda pipih itu dengan lihai dan cepat.


"Nih," Farhan berujar seraya menyodorkan handphone yang sudah terpampang nyata wajah sang pria yang sudah berani-berani mengambil miliknya.


"Serius dia orangnya?" tanya Siska tak percaya dengan foto laki-laki yang tak asing baginya. Bukan tak asing lagi, melainkan dia sangat mengenal laki-laki itu.


Jelas sekali foto itu memperlihatkan bingkai kebahagiaan antara sepasang kekasih. Wajah Sarah dan Irfan terbingkai indah di dalam foto tersebut.


Kenapa harus dia? Kenapa hidup gue selalu berurusan dengan dua makhluk playboy macam mereka berdua?


"Gue gak mungkin becanda soal yang begituan, Siska!"


"Enggak, gue gak mau," Siska kembali menolaknya. Siska tak mau terjerumus lagi.


"Yakin gak mau? Apapun lho, Sis. Apapun yang lo mau bakal gue penuhi. Mobil, rumah, atau apapun itu," bujuknya lagi-lagi dan lagi.


Siska menelan salivanya susah payah bohong jika dia tidak tergiur dengan tawaran yang Farhan ajukan. Rumah? Ahk dia sudah bosan hidup susah di kontrakan sempit itu. Mobil? Dia juga sudah muak dengan motor butut milik Alm. Ayahnya. Dia merindukan semua kemewahan itu! Otaknya melanglang buana kemana-mana, memikirkan tawaran Farhan yang sangat membuat angannya berkelana kemana-mana.


"Oke gue mau," ucap Siska setelah menimang-menimang semuanya.


"Nah gitu dong, itu baru namanya Siska Salsha Rizky Ramadhan." ucapnya bangga dan bahagia.


Siska dan Farhan sudah seperti tokoh antagonis dalam sebuah sinetron. Saling bekerjasama dalam hal keburukan demi mendapatkan apa yang mereka inginkan. Simbiosis mutualisme, dua orang yang berambisi tinggi dengan keegoisan yang juga sama tinggi.


Walaupun Siska sudah menerima tawaran dari Farhan. Tapi jauh di dalam lubuk hatinya dia masih ragu dengan keputusan yang telah diambilnya.


Perkataan sang Ibu tiba-tiba saja datang dan terngiang-ngiang dalam benaknya. Dimana saat itu ibunya mengatakan. "Kita memang buta agama, tapi kita jangan sampai menghalalkan segala cara untuk kepentingan dunia. Karena setiap apa yang kita perbuat pasti akan ada akibatnya. Hukum sebab akibat itu ada dan pasti."


Allah SWT berfirman:


Istikbaaron fil-ardhi wa makros-sayyi', wa laa yahiiqul-makrus-sayyi'u illaa bi'ahlih, fa hal yanzhuruuna illaa sunnatal-awwaliin, fa lan tajida lisunnatillaahi tabdiilaa, wa lan tajida lisunnatillaahi tahwiilaa


"karena kesombongan (mereka) di bumi dan karena rencana (mereka) yang jahat. Rencana yang jahat itu hanya akan menimpa orang yang merencanakannya sendiri. Mereka hanyalah menunggu (berlakunya) ketentuan kepada orang-orang yang terdahulu. Maka kamu tidak akan mendapatkan perubahan bagi Allah, dan tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi ketentuan Allah itu." (QS. Fatir 35: Ayat 43).


Tapi apa yang Siska lakukan sekarang? Dia mengabaikan petuah Ibunya!


Maafin Siska, Bu... Ini yang terbaik untuk kita, Aku akan memberikan Ibu tempat tinggal yang layak. Dan tentunya tidak seperti tempat yang sekarang ini kita tempati.

__ADS_1


Keadaan ekonomi memang selalu menjadi hal yang krusial di dunia ini. Di mana semua orang menganggap uang, tahta, dan harta adalah segalanya.


Ada yang mengatakan uang bukanlah segalanya, tapi segalanya membutuhkan uang.


__ADS_2