Cinta Tak Bersyarat

Cinta Tak Bersyarat
Chapter 22 | Cinta Tak Bersyarat


__ADS_3

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم


"Berhijab bukan hanya tentang kesiapan ataupun kecantikan semata. Melainkan tentang wujud keimanan dan kewajiban yang memang sudah sepatutnya dilakukan."


♡♡♡


Hari baru, suasana hati baru, dan tentunya membuka lembaran baru. Siska mencoba untuk melupakan perihal kesakitan dan kegundahan hatinya. Berjalan maju ke depan dengan niat dan tekad yang mantap demi memperbaiki kualitas hidupnya.


Bekerja menjadi tujuan utamanya dan uang menjadi target yang harus dicapainya. Hidupnya akan stuck di tempat jika dia hanya mementingkan perihal hati dan perasaannya saja. Dan sekarang waktunya dia untuk mengubah jalan takdirnya.


Berangkat pagi-pagi buta menjadi pilihannya. Menghabiskan waktu sekitar tiga puluh menit untuk bisa sampai di tempat tujuannya, tentunya dengan motor bebek yang akhir-akhir ini dia gunakan kembali karena memang sudah dia service dan rombak habis-habisan.


"Tumben jam segini udah nangkring di sini," heran Shinta saat melihat Siska tengah duduk santai dan memainkan ponselnya untuk membunuh kebosanan.


"Loe aja yang kesiangan," sahut Siska acuh tak acuh. Dia tengah fokus berselancar ria di sosial media.


Shinta melihat arlojinya yang bertengger cantik di pergelangan tangan kirinya. "Enggak kok."


"Loe liat apaan sih serius amat kayanya," seloroh Shinta mengungkapkan rasa penasarannya.


"Bukan apa-apa," elak Siska lalu memasukan handphone-nya ke dalam saku celana bahannya.


"Bukan apa-apa tapi langsung siap siaga tuh tangan nyembunyiinnya," dengus Shinta.


"Bukan urusan loe juga," kata Siska lalu bangkit dari duduknya.


"Mau ke mana loe?" tanya Shinta.


"Kerja lah. Gue dibayar buat kerja bukan buat kepoin hidup orang lain," sindir Siska.


"Akhir-akhir loe sensitif banget dah, Sis. Kenapa sih?"


Siska menghela napasnya. "Emang gak mempan yah kalau ngomong sama orang muka tembok."


'Kalau gue terus ladenin dia bisa kena semburan larva panas,' batin Shinta. Dia memilih mundur dan tidak lagi banyak bertanya takut membangunkan singa dalam diri Siska.


Kaki jenjang Siska menyusuri koridor rumah sakit yang belum begitu ramai namun orang yang berlalu lalang cukup banyak. Taman rumah sakit menjadi tujuannya, entahlah dia sedang ingin menghirup udara bebas pagi ini.


Mendudukan bokongnya di kursi kosong yang berada di bawah pohon rindang membuat dirinya tenang dan damai. Ada beberapa pasien yang berseliweran dengan kursi rodanya membuat Siska sedikit iba.


Rumah sakit memang sangat identik dengan orang-orang sakit. Dan Siska kurang begitu menyukai tempat itu, tapi nyatanya kini dia berkecimpung di dunia medis yang sangat khas dengan rumah sakit dan peralatan kesehatannya.


Pandangannya begitu lurus ke depan menyaksikan apa saja yang menyapa indra penglihatannya. Hingga akhirnya dia teringat akan poselnya, dan dengan segera dia mengambil ponsel pintar itu. Mengaktifkan data seluler-nya dan memutuskan untuk melihat akun instagram-nya yang sudah lama tidak dia gunakan.


Terlihat sangat banyak notifikasi di sana, dari mulai pemberitahuan beberapa akun yang mem-follow akunnya, DM juga ikut meramaikan notifikasinya, ataupun postingan baru yang di upload oleh teman sosial medianya. Di tengah kesibukannya berselancar ria tiba-tiba saja jari tangannya terhenti dan tertegun melihat salah satu postingan yang berada di beranda akun instagram-nya yang menampilkan sebuah gambar.


Gambar yang sederhana bahkan terkesan biasa. Namun, memiliki arti dan makna yang luar biasa. Tubuhnya seketika bergetar hebat, persendiannya lemas seketika, dan ketakutan ikut serta membayanginya. Hingga buliran bening dari mata indahnya mendesak untuk segera ditumpahkan. Namun, sebisa mungkin ditahannya.


Bayangan akan sosok sang Ayah seketika hadir begitu saja menghampirinya. Rona wajah berseri yang selalu ditampilkan sang Ayah seakan-akan berlarian ke sana ke mari di dalam memori otaknya. Namun, seketika bayangan itu hilang tak tersisa dan hanya menyisakan air muka yang sangat sulit untuk dia baca, tapi yang jelas tidak ada lagi binar bahagia di sana. Ada apa dengan dirinya? Mengapa hatinya diliputi banyak ketakutan dan rasa bersalah yang menggunung. Terlebih lagi caption-nya yang membuat dia semakin merinding dibuatnya.

__ADS_1



5,483 suka


Ikhwan.id Untuk Muslimah


.


"Ayahku masuk neraka karena diriku."


.


Sadarlah saudariku selamatkan Ayahmu dengan berhijab mulai dari sekarang.


Perasaanya kian bertambah kacau tak keruan saat melihat postingan tersebut. Pikiran dan hatinya seketika tertuju pada mendiang sang Ayah yang sudah tiada.


Tepukan lembut di bahunya menyadarkan Siska dari keterpakuannya. Hasna dengan senyuman lebar menyapa penglihatan Siska.


"Mbak," Siska membeo.


"Tumben pagi-pagi udah nangkring di sini," ucapnya setelah dia berhasil mendaratkan bokongnya di samping Siska.


Siska hanya menampilkan senyuman tipisnya. Dia bingung harus berkata dan bersikap seperti apa.


"Yaudah, Mbak duluan yah, Sis. Jangan lama-lama di sini bentar lagi masuk jam dinas," pamitnya.


"Apa?" tanyanya seraya menolehkan kepala ke arah Siska.


"Aku mau tanya sesuatu sama Mbak," ungkapnya.


"Tanya apa?" sahut Hasna antusias dan penasaran.


Siska menggiring Hasna untuk kembali duduk di tempat yang semula. Berulang kali Siska mengembuskan napasnya kasar. Menormalkan gemuruh di dadanya yang kian menyiksa dan membuatnya sesak.


'Ada apa dengan Siska pagi ini? Dia keliatan aneh, gusar, dan bahkan tak tenang,' Hasna membatin dengan penuh tanda tanya besar.


"Sejak kapan, Mbak pake itu," tanya Siska begitu ragu dan ambigu.


"Itu?" bingungnya, lalu mengikuti arah telunjuk Siska yang mengarah pada kain panjang yang menjulur menutupi kepala hingga dadanya.


"Hijab?" lanjutnya seraya memegang kain pahsmina berbahan satin.


Siska mengangguk. "Iya," dia berujar dengan suara yang begitu lirih dan suara yang kecil serta tercekat.


Hasna mengangkat kedua sudut bibirnya. "Sejak, Mbak sudah baligh," jawabnya.


Siska terperangah tak percaya. Keterkejutan terlihat jelas dari air mukanya. "Apa gak gerah, Mbak?"


Hasna menggelengkan kepalanya mantap. "Panasnya api neraka gak akan sebanding dengan panasnya dunia."

__ADS_1


Siska menilik penampilan Hasna dari ujung kaki hingga kepala. Wanita yang tengah hamil itu menggunakan gamis panjang berwarna maroon dengan kerudung hitam dan juga jas-nya. Sangat pas dan cocok di tubuhnya yang mungil namun perut yang cukup besar.


Penuturan Hasan mampu membuat bulu kuduk Siska merinding dan ketakutan.


"Kenapa kamu tiba-tiba nanya gitu sama, Mbak padahal, 'kan kamu udah sering banget liat penampilan, Mbak?" tanyanya.


Siska menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Ehmm... itu... anu...," ujar Siska gugup dan bingung.


"Yaudah kalau gak mau dijawab juga gak papa. Mending sekarang kita kerja," ungkapnya yang diangguki oleh Siska.


Hasna sudah menganggap Siska sebagai adiknya sendiri. Adiknya sudah pergi meninggalkan dia untuk selama-lamanya. Melihat pribadi Siska dia seperti melihat jelmaan sang Adik dalam diri Siska.


Siska merasa tidak nyaman dengan tatapan Hasna yang sangat sulit dia artikan. "Kenapa, Mbak? Apa ada yang salah?"


"Enggak, Mbak cuman lagi kangen aja," jawabnya membuat Siska menautkan kedua alisnya bingung.


"Kangen?"


Hasna mengangguk dengan senyuman termanisnya. "Kamu ngingetin, Mbak sama mendiang adik Mbak. Husna," ucapnya dengan suara bergetar dan dengan mata yang berkaca-kaca.


Husna adalah anak yang memiliki rasa keingintahuan yang tinggi, maka dari itu dia tak pernah lelah berceloteh untuk mengeluarkan segala pertanyaan dalam otaknya pada sang Kakak. Dan pertanyaan yang Siska ajukan membawa Hasna dalam bayangan akan Adiknya yang selalu mempertanyakan perihal agama, terlebih lagi tentang hijab yang sudah menjadi kewajiban bagi wanita muslim.


Siska kaget bukan main mendengar penuturan Hasna, "Mbak punya adik?" tutur Siska.


Hasna menganggukkan kepalanya. "Kalau dia masih ada mungkin sekarang udah seusia kamu."


"Sekarang Adik Mbak di mana?" tanya Siska.


"Dia sudah meninggal saat masih duduk di bangku kelas sembilan SMP," jawab Hasna.


"Masih muda tapi udah meninggal, kasian. Turut berduka cita, Mbak"


Hasna menghapus air matanya yang sudah lancang keluar. "Umur gak ada yang tau, Sis. Gak ada yang bisa jamin usia muda bakal hidup selamanya."


Husna meninggal karena penyakit kronis yang dideritanya. Kanker darah lebih tepatnya atau lebih dikenal dengan sebutan leukemia. Kanker darah atau leukemia adalah kanker yang menyerang sel-sel darah putih. Sel darah putih merupakan sel darah yang berfungsi melindungi tubuh terhadap benda asing atau penyakit. Sel darah putih ini dihasilkan oleh sumsum tulang belakang.


Ucapan Hasna semakin membuat bulu kuduk Siska meremang. Ketakutan semakin membayanginya.


"Jangan sampai tertipu sama nikmatnya dunia karena itu hanya akan membuat kita terlena dan melupakan kehidupan akhirat yang kekal abadi," tutur Hasna dengan senyuman hangatnya.


Begitu banyak manusia yang terlena karena usia yang masih muda. 'Aku masih muda, aku ingin menikmati masa mudaku' alasan klise yang sewaktu-waktu bisa menghancurkan semuanya. Jangan terlalu sombong dengan usia muda karena itu tak menjamin hidup kekal di dunia. Jangan terlalu sombong dengan harta dan pangkat dunia karena itu tidak akan menyelamatkanmu dari kematian.


"Ulah agul ku rupa, ulah sombong ku harta, ulah adigung ku pangabisa. Geuningan ari di cabut nyawa mah teh bisa kukumaha," ucap Hasna dengan bahasa sundanya.


"Jangan bangga dengan rupa, jangan sombong dengan harta, jangan pongah dengan kemampuan semata. Kalau sudah dicabut nyawa kamu tidak bisa melakukan apa-apa."


Hasna menikah dengan laki-laki kelahiran Sumedang Jawa Barat. Dan kalimat itulah yang selalu sang Suami katakan kepadanya agar senantiasa mengingat kematian dikala dia lupa akan nikmatnya dunia.


Mendengar penuturan itu malah semakin membuat Siska cemas dan takut. Hati dan perasaannya tak tentu arah. Carut marut berbaur menjadi satu yang semakin membuat perasaannya kalut.

__ADS_1


__ADS_2