Cinta Tak Bersyarat

Cinta Tak Bersyarat
Chapter 2 | Cinta Tak Bersyarat


__ADS_3

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


"Jika bertemu dengan dia membuat kesehatan jantungku terganggu. Maka aku harap, ini adalah pertemuan pertama dan terakhirku."


♡♡♡


Siska membulatkan mata tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Bahkan dengan gerakan refleks dia langsung mengucek-ngucek matanya sampai berulang kali.


"Ngapa lo?" tanyanya, mungkin dia heran dengan tingkah Siska yang saat ini sibuk mengucek mata.


Sontak kepala Siska merespons cepat menggeleng tanda dia dalam keadaan baik-baik saja. Walaupun sebenarnya keterkejutan masih jelas terlihat di wajah cantiknya.


"Ngapain lo disini?" Setelah beberapa detik tak ada obrolan akhirnya Siska mengajukan pertanyaan itu.


"Harusnya gue yang nanya gitu sama lo," selanya yang seperti tak ingin menjawab pertanyaan Siska.


"Gue?" Rasanya kosakata Siska hilang begitu saja saat bertatap muka langsung dengan dia yang sudah beberapa tahun ini menghilang dari pandangan matanya.


Dia mengangguk. "He.em," singkatnya.


Siska kelabakan tak tahu harus menjawab apa. Yang bisa dia lakukan hanya menggigit pelan bibir bawahnya. Gugup!


"Ditanya, malah diem. Kenapa lo?" sindirnya.


"Enggak papa," elak Siska yang sebenarnya tak tahu harus menjawab apa. Bingung, gugup, menggelayut manja di dalam benaknya.


"Gue duluan," pamit Siska saat sebuah angkot mampir di halte tempatnya berdiri.


"Tunggu!" Cegahnya saat setengah badan Siska sudah hampir masuk ke dalam angkot.


"Maaf, Pak enggak jadi," ucapnya pada sopir angkot dan langsung menarik lengan Siska agar segera turun mengikutinya.


"Maaf," kata Siska tak enak pada sopir angkot yang kini tengah mengeluarkan sumpah serapahnya karena kesal Siska tak jadi naik angkotnya.


"Apa?" sarkas Siska setelah angkot itu hilang ditelan jalanan.


"Enggak papa," jawabnya dengan begitu santai dan enteng.


Rasanya Siska ingin menimpuk dan mengubur hidup-hidup makhluk di depannya sekarang juga. Karena ulah dia yang menarik paksa lengan Siska dan itu membuat kesehatan jantung Siska terganggu. Berdetak lebih cepat dari biasanya serta aliran darahnya seperti mengalir dengan begitu derasnya.


"Sorry," ucapnya lalu menghempaskan tangan Siska agar terlepas dari cekalannya.


"Gue denger Om Rama dua bulan yang lalu meninggal. Turut berduka cita," tuturnya memulai obrolan.


Siska hanya tersenyum tipis dengan ucapan duka yang didengarnya. Dia tidak suka mendengarkan kalimat-kalimat turut berduka cita dari orang-orang di sekelilingnya. Karena semakin banyak dia mendengarnya, maka semakin sulit juga dia untuk mengikhlaskan kepergian Ayahnya.


"Btw, tinggal dimana lo sekarang?" tanyanya basa-basi, tanpa menatap ke arah Siska sedikitpun. Pandangannya lurus menatap jalanan yang saat ini kosong melompong.


"Bukan urusan lo," jawab Siska tak acuh dan tak mau memperpanjang obrolan diantara mereka. Entah mengapa ada perasaan aneh yang menyapa hatinya saat berdekatan dengan orang itu. Dan menurut Siska bersikap tak acuh dan dingin adalah cara terbaik untuk menutupi rasa aneh yang dia rasakan.


"Lo masih sama ternyata," Ia berucap dengan melirik sekilas ke arah Siska.


Siska tak berniat untuk meresponsnya. Dia ingin cepat pergi dari tempat itu dan meninggalkan dia sendirian.


"Ayo pulang udah malem." Ajaknya karena tak kunjung mendapat tanggapan dari Siska.


Siska menatap arloji yang melingkar manis di pergelangan tangannya. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam.


"Ayo gue anterin lo sampai tempat tujuan." Ia kembali berucap seraya memasang kembali penutup kepalanya.


"Gue bisa pulang sendiri," tolak Siska. Dia tak mau kembali terlena dengan mulut manis laki-laki di hadapannya yang pandai sekali membuat Siska melayang terbang dan jatuh ke dasar jurang.


Dia menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengunci helm. "Buruan naik!"


"Gue bisa pulang sendiri," Siska kembali mengulang ucapan yang sama seperti sebelumnya.


Dia berdecak kesal, "Naik sendiri atau gue angkat lo?" ancamnya.


Siska mendengus sebal dengan tindakan otoriter-nya. Siapa dia? Berani-beraninya menyuruh Siska begitu.


"Buruan naik Siska Salsha Rizky Ramadhan!" jelas, tegas, dan lugas ucapan bernada perintah itu.


"Siap komandan," sahut Siska lalu naik di jok belakang.


Sepanjang perjalanan tak ada obrolan diantara keduanya. Mereka saling diam dan menatap jalanan malam, sampai laki-laki dengan balutan kemeja putih nan bersih itu menghentikan motornya di pelataran rumah kontrakan yang Siska tempati.


Tunggu, kok dia bisa tahu tempat tinggal Siska? Padahal Siska belum sempat memberitahunya.


"Turun," ucapan laki-laki itu membuyarkan kebingungan Siska.


"Apa sih yang enggak gue tahu tentang lo," ucapnya yang seperti membaca kebingungan Siska.


"Gue tau alamat lo dari boyok," lanjutnya dengan cengiran khas.


"Siska kok temennya gak diajak masuk, Sayang?" seloroh Ratih yang tiba-tiba saja datang dari balik pintu.


"Tukang ojek, Bu," jawab Siska asal, tak mau Ibunya tahu siapa orang yang sudah mengantarkannya pulang.

__ADS_1


"Assalamualaikum, Tan gimana kabarnya?" tanpa diduga dan disangka dia membuka helm, lalu turun dari motornya, dan menghampiri Ratih yang tengah berdiri di ambang pintu.


"Wa'alaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh, Alhamdulillah baik," jawab Ratih menyambut gembira kedatangan orang yang baru saja mengantarkan Putrinya pulang.


"Ayo masuk dulu," tutur Ratih.


"Udah malem, Tan mungkin lain waktu Edgar bisa mampir lagi," tolaknya yang mampu membuat hati Siska bersorak senang.


"Ya udah kalau gitu hati-hati dijalan. Jangan lupa mampir. Makasih juga udah nganterin Siska pulang," balas Ratih sebelum pemilik nama lengkap Edgar Ahmad Irfan Rifa'i itu pulang.


"Iya, sama-sama Tan," sahutnya dan langsung menancap pedal gas motornya kencang.


Dia adalah laki-laki bermulut manis dengan kadar kemanisan yang mencapai kadar overdosis, dan karena itu pula banyak hati yang dia lukai tanpa dia sadari, termasuk Siska. Karakter seperti Irfan --nama panggilan yang Siska berikan untuknya-- itu sulit ditebak. Dari luar dia terlihat tulus namun aslinya modus. Wajah tampan dan polosnya tak menunjukkan dia adalah seorang playboy, tapi pada kenyataannya dia sangat ahli dalam mempermainkan hati perempuan.


Irfan adalah teman sewaktu SMP Siska dulu, dan karena hubungan bisnis antara kedua orang tua mereka Siska dan Irfan menjalin hubungan pertemanan sampai sekarang. Namun, setelah keduanya lulus sekolah dan Irfan memutuskan untuk berkuliah di salah satu Universitas di Bandung. Jadi, mereka jarang sekali bertemu bahkan tidak pernah bertemu. Dan hari ini adalah hari pertama Siska dan Irfan bertemu kembali setelah hampir lima tahun lebih tidak bertemu.


"Malah bengong disitu, ayo masuk," teguran Ratih membuyarkan lamunan panjang Siska tentang laki-laki yang sudah berhasil menawan hatinya.


Selalu saja seperti itu, saat Siska bertemu pandang dengan Irfan pasti dia seakan hilang kesadaran. Ketampanan wajahnya, sorot mata teduhnya, dan senyum manisnya selalu berhasil membuat Siska jatuh pada pesonanya. Irfan, dia adalah sosok laki-laki misterius yang berhati modus.


♡♡♡


"Siska abis sarapan kamu jemput Shakira di stasiun," titah Ratih pada saat keduanya tengah menikmati sarapan pagi.


Shakira Rizky Ramadhani adalah adik dari Siska Salsha Rizky Ramadhan, yang tinggal di Bandung bersama dengan Ema Esih --Nenek sekaligus Ibu dari Ratih-- karena Shakira yang terlalu betah dan enggan untuk meninggalkan kota kelahirannya. Jadi, dia memutuskan untuk tinggal bersama dengan Nenek kesayangannya, sedangkan Siska tinggal di Jakarta bersama dengan Ayah dan Ibu tercinta, itu dulu karena sekarang Siska hanya tinggal berdua saja.


Sudah sekitar sebelas tahun Siska menetap dan tinggal di Jakarta. Meninggalkan kota kelahirannya, serta meninggalkan bahasa daerahnya. Ibu Kota membuat Siska lupa bahwa dia berasal dari desa.


Kota Kembang, ya mungkin orang-orang sangat familiar dengan julukan itu. Tak ada lagi Siska yang lugu dan cupu, yang ada hanyalah Siska yang modis dan eksis.


"Liburan?" tanya Siska, karena memang sudah menjadi rutinitas setiap libur semester sekolah dia akan menyambangi Orang Tua serta Kakaknya yang tinggal di Jakarta.


"Enggak, katanya dia mau pindah sekolah di sini. Tinggal bareng sama kita," jawab Ratih setelah menelan kunyahan nasi dalam mulutnya.


"Kesambet apa tuh anak tiba-tiba mau migrasi kesini?" tanya Siska tak percaya. Dia tahu betul Shakira adalah orang yang sangat cinta tanah kelahiran.


"Mau cari suasana baru katanya," sahut Ratih setelah mendapatkan kabar itu dari Putri bungsunya beberapa hari lalu.


Siska hanya manggut-manggut saja lalu kembali menghabiskan nasi dan telur ceplok buatan Ibunya sebagai menu sarapan pagi ini.


"Ya udah kalau gitu Siska pamit jemput Shakira dulu." pamit Siska pada Ibunya yang kini sibuk membersihkan piring kotor.


"Pake motor jemputnya biar hemat ongkos," tutur Ratih.


Dari sekian banyak harta peninggalan Ayahnya yang tersisa hanyalah motor butut yang selalu nangkring di ruang keluarga. Ya, karena rumah kontrakan ini tidak menyediakan garasi. Jadi, mau tak mau motor itu harus disimpan di ruang keluarga.


"Iya Bu," jawab Siska lalu mengeluarkan motor dan memanaskan mesinnya yang sudah lama tak digunakan itu.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh Bu," ucap Siska dengan dengusan sebal dan kesal.


Beruntung pagi ini Siska tak mendapatkan kultum pagi dari Ibunya karena lupa mengucapkan salam. Kalau hari-hari sebelumnya sudah pasti ceramah pagi menjadi menu sarapan keduanya. Alasan untuk menjemput Shakira menjadi penyelamat Siska pagi ini, yang absen dari ceramah panjang sang Ibu yang kini menjelma bak seorang ustadzah yang setiap pagi wara-wiri di televisi.


"Siska biasakan kalau mau pulang dan pergi itu ucapkan salam. Salam itu doa agar kita selamat sampai tujuan. Apalagi kalau mau masuk dan keluar rumah, salam sangat dianjurkan supaya setan enggak ikut masuk ke rumah kita. Sebagaimana dalam firman Allah SWT yang berbunyi :


'Apabila kamu memasuki rumah-rumah hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya, yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, dengan salam yang penuh berkah dan baik dari sisi Allah.' (QS. An Nur: 61)." ceramah Ratih panjang kali lebar dengan membacakan ayat-ayat Alquran yang sama sekali tak Siska mengerti.


Siska hanya manggut-manggut lalu pergi ke stasiun untuk menjemput Shakira Adik semata wayangnya. Beruntung hanya satu hadits dan serentetan kata saja, hingga tidak sampai berepisode-episode lamanya.


Anggota tubuh Siska terasa kaku karena sudah lama tidak mengendarai motor. Biasanya mobil yang akan menemani dia kemanapun pergi. Tapi kini hanya sebuah motor bebek peninggalan sang Ayah yang menjadi kawan sejatinya. Terlebih lagi motor itu harus Siska hidupkan secara manual (kick starter) karena electric starter-nya rusak dan sudah tidak bisa digunakan lagi.


Kick starter adalah metode menghidupkan motor dengan cara diengkol atau diselah. Sedangkan electric starter adalah teknik menghidupkan motor dengan cara memencet tombol yang ada di setang kanan.


Siska menghentikan motor tepat setelah dia berada di parkiran motor stasiun kereta. Mata Siska memonitor mencari keberadaan Shakira --adiknya yang kini sudah berusia limabelas tahun--, di umur yang begitu muda Shakira sudah berani pulang pergi Bandung Jakarta sendiri. Sedangkan Siska? Jangan ditanya lagi. Dia itu anti naik angkutan umum. Tapi keadaan kini memaksa dia untuk menggunakan fasilitas umum itu sebagai kendaraan sehari-harinya termasuk angkot yang beberapa hari belakangan ini menemaninya mencari pekerjaan.


Lain halnya dengan sang adik yang sangat bersahabat dekat dengan segala macam angkutan umum termasuk kereta api yang sudah seperti kawannya sendiri. Shakira selalu menolak setiap ditawari tiket pesawat untuk pulang pergi Bandung Jakarta. Maraknya fenomena pesawat jatuh membuat Shakira antipati dengan transfortasi udara itu.


"Teteh!" teriakan cempreng Shakira merusak gendang telinga siapa saja yang mendengarnya, bersamaan dengan pelukan erat yang membuat dada Siska sesak karena ulah sang Adik yang terlalu kencang memeluknya.


"Aduh Shakira, bisa gak sih sekali aja suara toa kamu itu volumenya dikecilin? Pengang nih kuping Teteh," cerocos Siska yang masih terengah-engah mengatur napasnya.


"Hehe, itu mah Teteh aja yang lebay," elak Shakira.


"Udah yuk pulang Ibu udah nungguin kita," ajak Siska lalu meraih kedua tas jinjing milik Adiknya.


♡♡♡


"Lho kenapa Teh? kok berenti?" tanya Shakira heboh saat motor yang Siska kendarai berhenti di tengah jalan.


"Udah jangan banyak nanya, bantu Teteh dorong dulu," balas Siska tak mau mendengar ocehan unfaedah adiknya.


"Berat atuh Teteh," protesnya, tapi Shakira tetap menuruti apa yang diperintahkan Kakaknya. Mendorong motor, walau dengan gerutuan tak jelasnya.


"Yang ikhlas kalau dorong motor," tegur Siska yang pengang mendengar ocehan Shakira.


"Ikhlas," singkatnya ketus, kentara sekali dia tidak ikhlas mendorong motor itu.


"Ikhlas tapi kaya gitu, itu maha namanya gak ikhlas," balas Siska.

__ADS_1


"Ya Allah Gusti boga lancek kieu-kieu teuing. Ges mah nitah protes deuih," gerutuan Shakira dengan bahasa sundanya yang sangat kental.


"Ya Allah punya kakak kok gini-gini amat. Udah mah nyuruh protes lagi."


"Capek ahk," ucap Shakira menghapus peluh keringat yang membanjiri wajahnya.


Siska men-standarkan motor di pinggir jalan lalu menghapus peluh yang juga membasahi wajahnya. Capek? Jelas saja.


"Istirahat bentar di sini," ucap Siska pada Shakira yang sudah selonjoran di tepi jalan.


Siska mencoba untuk menghidupkan motornya. Namun, sampai semua tenaganya terkuras habis motor itu tak kunjung hidup juga. Kalau tahu akan mogok dia tidak akan mau membawa motor itu.


Siska menyerah dan pasrah dia juga ikut duduk selonjaran di samping Adiknya.


"Mogok?" suara seseorang tiba-tiba menganggu aktivitas istirahat keduanya.


"Enggak!" jawab Siska asal tanpa mengalihkan fokusnya dari kegiatan menatap layar ponsel yang menampilkan sejumlah pesan.


'Udah tahu mogok, malah nanya segala! Gak punya mata emang?' begitulah kira-kira gerutuan Siska.


"Aa teh montir?" tanya Shakira dengan suara cemprengnya.


"Bisa dibilang begitu," jawabnya.


Tapi tunggu, suaranya seperti tak asing bagi Siska. Dia mendongak dan melihat dua manik mata hitam legam milik orang yang mengaku dirinya sebagai montir. Hah? Mulutnya menganga dengan begitu lebar. Tak percaya!


"A tolong benerin atuh motornya mogok," ucap Shakira seperti memohon pada orang itu.


"Boleh," singkatnya.


Dengan gaya sok tahunya dia mengobrak-abrik motor peninggalan Rama. Dia bukanlah montir tapi sedikit banyak dia mengetahui hal-hal yang berbau otomotif.


"Pantes aja mogok orang businya lepas," ujarnya yang masih fokus memperbaiki motor.


"Tuh udah bener," ucapnya setelah selesai memasangkan busi motor yang tadi terlepas.


"Busi teh apaan yah, A?" tanya Shakira dengan begitu polosnya.


Laki-laki tampan itu tergelak mendengar pertanyaan polos Shakira, "Coba kamu tanya Mbah Google." guraunya.


"Hape aku mah cuman bisa dipake telepon sama sms doang," sahut Shakira.


Dia kembali tergelak mendengar jawaban Shakira yang begitu jujur, "Minta sama Teteh kamu."


Siska tak menyahut dengan gurauan orang yang sudah menolongnya. Dia sibuk menyelami perasaannya yang sudah semakin tidak keruan.


"Makasih A," ucap Shakira begitu segan dan sopan pada Irfan.


Ya, orang itu adalah Irfan, dokter muda nan tampan yang mengaku dirinya sebagai montir berjas putih.


"Sami-sami," balas Irfan dengan bahasa sunda. Jelas saja dia bisa berbahasa sunda karena dia pernah tinggal dan menetap sementara di Bandung pada masa perkuliahannya beberapa tahun lalu.


"Loh Aa teh bisa bahasa sunda, tau gitu tadi gak usah ribet-ribet atuh pake bahasa indonesia," cerocos Shakira heboh saat mendengar cara bicara Irfan yang tak terlihat kaku dengan logat sundanya.


Irfan hanya tersenyum simpul menanggapi ocehan receh Shakira.


"Thanks Fan," tutur Siska berterima kasih.


"Oke, santai aja kali Sha kaya sama siapa aja," sahut Irfan dengan senyuman tipis nan manis yang mampu membuat semua wanita melayang ke langit ketujuh.


"Sha?" ulang Siska.


"Udah ahk gue cabut duluan, ada pasien yang nunggu," pamit Irfan.


"Oh, iya ini kue buat Tante Ratih dari Mamah. Tadinya gue mau ke rumah lo, tapi berhubung ketemu lo di sini, yaudah gue titip aja sama lo." lanjutnya. Lalu pergi meninggalkan Siska dan Shakira begitu saja.


Intan memiliki toko kue yang diberi nama 'Intan Bakery', dan sudah menjadi kebiasaan Intan kala dia menemukan resep baru dia pasti meminta Ratih untuk mencicipi kue buatannya. Ratih memiliki selera lidah yang tinggi dalam urusan makanan.


"Pasien? Pasien apaan yah? Katanya montir kok bahas pasien udah kaya dokter aja," Shakira berucap tak jelas dengan kebingungannya.


"Dia siapa sih Teh? Kok aku jadi lier gini."


"Bisa gak sih kalau ngomong itu jangan dicampur-campur. Kalau sunda ya sunda aja. Kamu pikir gado-gado apa?" protes Siska tanpa menjawab kebingungan Shakira.


"Udah kebiasaan gak bisa dilengitkeun," jawabnya kembali mencampur adukkan bahasa.


"Up to you, terserah anjen, kumaha kamu," balas Siska dengan tiga bahasa sekaligus.


"Dasar, punya kakak kesehatannya terganggu. Bisanya protes doang tapi sendirinya juga ikut-ikutan malah lebih parah dari aku. Sakarepmu ae, Teh daku lelah menghadapimu," cerocosan Shakira.


Bodo ahk, bingung-bingung tuh anak. Aku juga bingung ladeninin dia yang dari tadi baceo ciga burung beo. Lha kok aku jadi ikutan Shakira sih?


Catatan Kaki :


Dilengitken : Dihilangkan.


Sakarepmu : Terserah kamu.

__ADS_1


Baceo : Ngoceh gak jelas.


Ciga : Kaya (bukan kaya orang yang banyak uang yah), seperti.


__ADS_2