
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Abu Hurairah Radhiyallahuanhu, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali akan dihisab adalah shalatnya. Jika shalatnya baik, dia sukses dan berhasil dan jika shalatnya rusak, dia sangat rugi."
(HR. Nasai dan Turmudzi)
♡♡♡
"Salah sebelum disalatkan. Karena kita tidak akan pernah tahu berapa lama lagi waktu kita menginjak bumi ini."
♡♡♡
Kini tidur nyenyak Siska kembali diganggu oleh dua ustadzah sekaligus. Ceramah pagi yang biasanya tayang di televisi kini tayang di dalam kamarnya secara langsung bahkan tanpa ada jeda iklan sama sekali. Tak tanggung-tanggung dua ustadzah kondang mengisi acara kultum pagi ini untuk memberikan wejangan dan bisikan rohani islami.
"Ok, ok aku bangun," Siska menyerah melambaikan tangan pada kamera agar acara siraman rohani pagi ini berhenti.
"Mau salat atau disalatin?" tanya Ratih yang membuat bulu kuduk Siska meremang. Namun, karena matanya yang masih berat untuk dibuka jadi dia masih setia dengan posisi tidur ayam-nya. Mata terpejam namun telinga masih berfungsi untuk mendengar segala macam ceramahan Ibu dan Adiknya.
"Shakira ambil keranda biar kita salatin Kakak kamu sekarang juga." ucapan Ratih membuat Siska kaget dan langsung duduk tegak di atas kasur.
Ada yah orang tua macam Ibunya? Ini mah lebih kejam dari ibu tiri.
"Iya, iya ini udah bangun," sahutnya malas sekaligus kesal.
Kalau setiap pagi seperti ini bisa benar-benar mati berdiri Siska dibuatnya. Kemarin-kemarin hanya Ibunya yang mengisi kultum pagi. Tapi sekarang Shakira menjadi sekutu Ibunya. Memang benar-benar kompak Ibu dan Adiknya dalam mengganggu tidur nyenyaknya. Sekarang kultum pagi dari dua ustadzah beda generasi. Terus besok apalagi?
"Cepet ambil wudhu terus kita jamaah subuh." titah Ratih seraya berkacak pinggang.
Siska seperti seorang pekerja yang tunduk dan patuh pada majikannya. Bergegas ke kamar mandi dan melakukan apa yang nyonya besar perintahkan.
"Begadang aja bisa giliran disuruh bangun subuh gak bisa!" cibiran dari mulut manis nan pedas Shakira membuat tingkat kekesalan Siska semakin melambung tinggi.
Siska memperlihatkan kepalan tangannya ke arah wajah Shakira. Tapi Shakira malah menampilkan tatapan tajam membunuhnya, seakan-akan dia mengatakan 'aku gak takut'.
"Salsha, kamu apain Adik kamu?" lontaran pertanyaan dari Ratih mengurungkan niatnya untuk menggembok mulut Shakira dengan lakban hitam yang ada di kolong meja.
Tidak ada perubahan yang signifikan dari ritual salat subuh yang Siska kerjakan. Semuanya masih sama. Dia pasti tertidur dengan posisi sujud yang sangat mengenaskan tapi sangat menyamankan baginya.
__ADS_1
"Astaghfirullah, Teh Ika malah tidur!" samar-samar Siska mendengar keterkejutan Shakira yang sepertinya tak tahu menahu dengan kebiasaan buruk sang Kakak.
Dalam hati Siska ingin bersorak mencibir ketidaktahuan sang Adik, 'Baru tau, makanya jangan sok-sokan bangunin aku subuh-subuh begini.'
Walaupun Shakira sama seperti Siska tidak menggunakan kerudung sebagai penutup kepala. Namun, Shakira bisa dibilang cukup taat dibandingkan Kakaknya. Dia tak pernah meninggalkan sholat lima waktunya, sedangkan Siska?
"Salat itu tiang agama. Amalan pertama yang Allah hisab saat hari perhitungan kelak. Salat itu diibaratkan angka satu dan amalan-amalan lainnya adalah angka nol, jika salatnya enggak dikerjain, percuma kita beramal karena tetep semua amalan kita bernilai nol. Tidak ada artinya," kira-kira begitulah jawaban Shakira pada saat Siska mempertanyakan alasannya mengapa selalu mengerjakan salat lima waktu tanpa bolong dan tepat waktu.
"Udah biasa Teteh kamu kaya gitu," timpal Ratih yang sepertinya sudah kehabisan stok rasa sabar dengan kebiasaan Putri sulungnya.
"Gimana hidup mau bener kalau sholat aja kaya gitu." ucapan pedas nan sinis muluncur bebas dari mulut Shakira.
"Aku denger lho," ucap Siska tapi masih setia dengan posisi sujudnya. Begitulah dia, Siska si tukang tidur ayam. Kalau kata orang sunda 'perem hayam.'
"Sengaja! Biar Teteh mikir. Cik atuh mikir." Shakira kembali berucap dengan begitu sarkatis.
"Udah kamu bangun terus siap-siap buat ke rumah sakit," ujar Ratih yang membuat Siska bangun dari posisi sujudnya. Kaget!
"Siapa yang sakit? Ngapain ke sana?"
"Teteh. Buat meriksain otak Teteh yang konslet gara-gara kebanyakan tidur!" jawaban Shakira membuat Siska sulit menahan kesabarannya.
"Kamu? Enggak ada sopan-sopannya yah sama Teteh," ucap Siska tajam seraya menunjuk dua bola mata hitam Shakira yang menatapnya juga dengan tak kalah tajam.
"Ini masih pagi kalian malah ribut sendiri. Salsha cepet siap-siap Om Elang nunggu kamu di rumah sakit jam delapan." ucapan Ratih membuat mulut Siska menganga tak percaya.
Om Elang? Ngapain? Bukannya dia adalah Ayahnya Irfan? Oh No! Jangan bilang....
"Cepet Salsha," tegas Ibunya dan dengan pikiran seribu tanya Siska bersiap untuk menemui Elang-ayah Irfan si dokter menyebalkan-.
♡♡♡
Sesuai titah dari Ibunda ratu tercintanya Siska sekarang sedang berada di lobi rumah sakit tempat Elang berada. Gugup, sudah pasti karena ini adalah kali pertama pertemuan Siska dengan Elang. Biasanya dia selalu didampingi oleh kedua orang tuanya. Namun, sekarang dia hanya seorang diri saja.
Siska mengetuk pintu ruangan yang Elang tempati. "Permisi Om," ucap Siska begitu sopan setelah berhasil masuk kedalam ruangan besar yang didesain dengan gaya modern itu.
Dengan cat putih sebagai background ruangannya. Bingkai foto besar yang memperlihatkan keluarga kecil Elang. Terlihat ada Intan-istri Elang-dan juga Irfan yang berdiri gagah di tengah-tengah kedua orang tuanya. Irfan adalah anak tunggal dari Elang dan Intan.
"Silakan duduk," ucapnya yang masih setia dengan posisi duduk membelakangi Siska. Kursi kebesaran yang Elang duduki membuat Siska kesulitan melihat wajahnya. Jangankan wajahnya punggungnya saja tidak. Karena kursinya yang terlampau besar dan tinggi.
__ADS_1
Siska duduk berhadapan dengan Elang yang belum juga membalikkan kursinya untuk berhadapan dengan Siska.
"Ada apa Om panggil Siska ke sini?" tanya Siska ragu. Walaupun beliau adalah teman Ayahnya, tapi dia merasa kaku jika harus berbincang dengan Elang.
Siska melihat kursi itu bergerak untuk menghadapnya, dengan segera Siska menundukkan kepalanya. Entahlah dia selalu merasa takut jika berhadapan dengan Elang, padahal beliau sangat baik dengan dia dan keluarganya.
"Sha," Panggilnya, yang membuat Siska heran dan memberanikan diri untuk melihat orang yang duduk di kursi kebesaran Elang. Siska merasa sangat familiar dengan suaranya dan itu bukan suara Elang. Bahkan Elang tak pernah memanggilnya dengan sebutan 'Sha' seperti tadi.
"Lo? Kok bisa di sini?" bingungnya saat melihat wajah tanpa dosa Irfan yang tengah cengengesan melihat raut wajah kebingungan Siska.
"Bisalah, ini kan rumah sakit bokap gue," sombong Irfan.
Siska malas bila harus berhubungan lagi dengan orang itu. Siska beranjak dari duduknya, melangkahkan kaki jenjangnya untuk meninggalkan ruangan kepala rumah sakit itu.
"Kata Papah lo butuh kerjaan. Kenapa sekarang lo malah cabut?" tanyanya beruntun saat Siska baru beberapa langkah saja.
Darimana dia tahu tentang ini? Ish pasti ini kerjaan Ibu.
"Enggak," singkatnya. Siska tak mau lagi berurusan dengan Irfan yang akhirnya akan membuat perasaan Siska kembali terbuka dan terluka, karena terlalu banyak berharap padanya.
"Jangan boong! Gue tau lo butuh kerjaan ini. Papah nyuruh gue buat jadiin lo apoteker di rumah sakit ini," jelasnya.
"Enggak usah, gue bisa cari kerja sendiri." Siska masih keukeuh dengan penolakannya.
"Cari kerja di Jakarta susah, Sha. Kalau di sini lo bisa dapet kerjaan kenapa harus susah-susah cari di tempat lain?"
Siska tahu niat keluarga Irfan baik bahkan sangat baik. Namun, dia merasa sudah cukup bergantung hidup pada orang lain. Dulu dia sangat bergantung pada sang Ayah dan hartanya, lalu setelah harta dan Ayahnya hilang tak tersisa dia luntang-lantung kebingungan seperti sekarang. Dan dia tidak mau itu terulang kembali, menggantungkan hidup pada Irfan dan keluarganya pasti akan membuat dia lupa diri lagi seperti dulu. Terlebih lagi dia takut perasaannya terus berkembang besar jika selalu berdekatan dengan Irfan.
"Sorry, Fan tapi gue rasa di luar sana masih ada lowongan kerja buat gue. Gue gak mau bergantung hidup dan utang budi sama keluarga lo," tolak Siska yang kembali melanjutkan langkahnya untuk pergi.
"Lo ngomong apaan sih Sha? Gue udah anggep lo saudara gue sendiri. Lo itu sahabat baik gue, jadi please jangan ngomong kaya gitu lagi," ucapnya.
Siska merasakan ketulusan dari setiap perkataan yang Irfan lontarkan. Namun, dia juga merasakan kesakitan saat Irfan mengatakan bahwa dia hanya dianggap seperti saudara dan sahabatnya Irfan saja.
Gue menginginkan hal lebih dari sekedar itu Fan. Ingin rasanya dia meneriakan kalimat itu, tapi tak bisa.
Apalah gue? Siapalah gue? Gue cukup tahu diri untuk itu.
Siska membalikkan badannya untuk melihat Irfan yang juga kini tengah menatap lekat kedua bola matanya tajam. "Maaf Fan gue gak bisa. Tolong sampein salam maaf dan makasih gue sama Om Elang dan Tante Intan," ucap Siska begitu mantap agar mampu meyakinkan Irfan.
__ADS_1
Tak ada sahutan dari Irfan dan itu membuat Siska mundur secara teratur untuk pergi meninggalkan Irfan sendiri.