
Roni datang dan duduk dibangkunya, dia tidak berhenti menatap bangku disampingnya dengan mata yang berkaca-kaca. Santi masuk kekelas dan terlihat masih sepi dan menghampiri Roni .
"sayang"
Panggilan santi membangunkan Roni dari lamunannya dan segera menghapus airmatanya yang entah sejak kapan sudah jatuh membasahi pipinya. Roni mendongakkan kepalanya melihat kearah santi yang kini sudah berdiri disampingnya.
"Kamu yang kuat yah sayang, kamu harus ikhlasin kepergian joko"sahut santi mengelus pundak roni.
"aku sudah mengikhlaskannya sayang, aku berharap dia tenang disana. Mungkin memang aku masih merasa kehilangan dia, dia benar-benar saudara yang baik buatku banyak pelajaran yang aku ambil dari dia, selain cerdas dia juga sangat bertanggung jawab, sangat bijaksana dalam masalah bisnispun dia sangat bijak dan telaten padahal umurnya dibawahku setahun."Roni tersenyum mengingat sikap joko, dan santi juga ikut tersenyum.
"dia memang sangat baik meskipun aku baru mengenal dia lebih dekat, aku kira dia songong dan playboy kayak apa yang dulu wulan sering katakan" santi terkekeh dan datanglah ria dan rassya
"pagi guys" sahut ria
"pagi" sahut Roni dan santi berbarengan.
"udah jam segini wulan belum datang?" sahut rassya
"sepertinya dia masih syok dan sedih atas kepergian joko." Sahut santi
"kasihan dia,," sahut roni
"apalagi 3hari lagi kita uas, dia pasti tidak akan bisa konsen" sahut ria
"kita harus menghiburnya dan membantu dia mengobati lukanya meskipun sedikit" sahut rassya
"sepulang dari kampus kita kerumah wulan aja gimana? Dia pasti butuh kita" sahut santu
"loe bener san, gta harus menghibur dia" sahut ria
"kita harus tau juga keadaannya sekarang gimana" sahut roni
__ADS_1
******
"Wulan,, sayang udah siang nich kamu belum bangun nak?" sahut mama mengetuk pintu kamar wulam.
"sayang,, kita makan siang bersamayuk. Mama udah masakin makanan kesukaan kamu lho sayang. Buka dong pintunya sayang, kamu gak mau memang ditemenin sama mama? Bukannya kamu takut kegelapan sayang" Sahut mama dan hasilnya nihil tidak terdengar apapun dari kamar wulan , mama menjatuhkan airmatanya merasa khawatir dan bingung harus bagaimana.
Mama segera kebawah saat mendengar ucapan salam dari bawah. Saat menuruni tangga terlihat sudah ada Santi, Ria, Roni dan Rassya.
Mama menghapus airmatanya
"Mama kenapa?" sahut santi, karena sudah sangat dekat dengan keluarga wulan, santi memanggil mama wulan dengan sebutan mama.
"wulan san ,," sahut mama kembali
menangis
"wulan kenapa tante?" Tanya ria
"wulan ,,, ini gw santi . Loe keluar dong" sahut santi seraya mengetuk pintunya tetapi tidak ada sahutan
******
gimana ceritanya sedih gak? terus tunggu kelanjutan ceritanya yah....
" wulan kita berempat diluar, buka dong Lan " sahut ria lebih kencang mengetuk pintunya tetapi hasilnya masih sama nihil
"wulan buka dong, biarin kita masuk"
sahut roni
"wulan kalau loe gak keluar juga, gw dobrak yah kamar loe sekarang" sahut rassya teriak
__ADS_1
"Ioe apa apaan sich, kasar banget"sahut ria
"ya biarin, biar dia mau buka pintunya"sahut rassya cuek dan benar saja terdengar suara kunci dan pintupun terbuka, keluarlah wulan dengan kondisi yang sangat kacau. Dia masih mengenakan pakaian yang kemarin dia pakai ke pemakaman, rambutnya sedikit acak-acakan dan menempel dipipinya karena wajahnya yang basah akibat airmata yang jatuh, dan matanya yang sembab sudah seperti mata kodok, hidung mancungnya yang merah dengan sedikit segukan yang masih terdengar menandakan dia sedang menangis, wulan tertunduk tanpa menatap keempat teman-temannya. Santi langsung memeluk wulan dan tak mampu membendung lagi airmatanya santi pun menangis dan ria , roni dan rassya tak kalah syok melihat kondisi wulam saat ini.
"loe harus kuat Lan, loe harus bisa mengikhlaskan joko, masih ada kita sahabat-sahabat loe yang akan slalu ada disamping loe" sahut santi dengan terisak
"loe harus bisa menerima semuanya Lan , loe gak boleh siksa diri loe seperti ini" sahut rassya
"kita sayang sama loe Lan ,, kita gak mau lihat loe nyiksa diri loe seperti ini" sahut ria
"dan joko juga pasti sangat sedih diatas sana melihat loe seperti ini, loe harus mengiklaskannya." Sahut roni meyakinkan
Santi melepaskan pelukannya yang tidak dibalas oleh wulan , dan wulan hanya menggelengkan kepalanya.
"G...w yang uda bunuh joko,, gw yang uda nyelakain dia" sahut Wulan terbata-bata dan airmatanya kembali jatuh membasahi pipi
"loe gak bisa nyalahin diri loe seperti ini Lan ,," sahut kirun memegang kedua pundak wulan .
"tatap gw Lan " wulan mengangkat kepalanya dan menatap mata Rassya.
" Gw sayang sama loe, masih ada gw dan tiga sahabat loe yang lain yang juga sangat menyayangi loe, gw tau loe merasa bersalah dan merasa kehilangan joko. Tapi loe gak harus nyiksa diri loe seperti ini, hidup loe masih panjang, masa depan loe sudah menanti loe di depan, kalau loe terus menyesali apa yang udah terjadi loe akan merusak hidup loe sendiri." Sahut rassya yang kini matanya berkaca-kaca. Wulan menatap kirun dengan tatapan kosong dan kepedihan yang teramat.
"gw gak sanggup sya, gw gak bisa menerima kenyataan ini" wulan kembali terisak dan rassya memeluk wulan dan ketiga temannya menatap wulan dan rassya dengan perasaan iba dan ikut menangis. Rassya melepaskan pelukannya dan membelai rambut wulan.
"loe udah kayak ade gw sendiri Lan," sahut rassta
"Wulan , gw juga sama kayak loe benar-benar kehilangan joko, sahabat sekaligus adik gw, tapi gw mencoba mengiklaskannya karena ini sudah suratan tuhan, sudah takdir tuhan kita tidak mampu berbuat apa selain menerimanya dengan ikhlas" Jelas Roni
"dan yakinlah Lan , allah tau mana yang terbaik buat hambanya. Yakinlah akan ada hikmah dan kebahagiaan dibalik ini semua" sahut ria tersenyum kepada wulan
Tetapi wulan tidak berkata apa-apa dan hanya menatap teman-temannya dengan tatapan yang sangat pedih.
__ADS_1
Bersambung