CINTA YANG TAK DIINGINKAN

CINTA YANG TAK DIINGINKAN
BAB 1


__ADS_3

Hi...


Kenalin namaku Nabila Sukma Anjani. Orang orang memanggilku Bila, aku berusia 20 tahun, kuliah di universitas Indonesia semester 4, anak dari bapak Hito Candrawinata seorang pengusaha sukses yang katanya kekayaannya ga bakal habis sampai 7 turunan. Mamaku sudah lama meninggal karena difitnah telah berselingkuh dengan pria lain dan waktu itu aku berusia 6 tahun. Pada waktu itu aku sudah mengerti apa yang mereka katakan. Memang sulit untuk merelakan kepergian mama sampai sekarang. Dan aku juga memiliki seorang kakak bernama Bayu Candrawinata. Ia berkuliah di sebuah Universitas di Australia. Sebentar lagi dia akan sarjana dan akan melaksanakan pernikahan (berjalan masuk kedalam kampus). Aku berjalan masuk kedalam kampus. Di kampus semua laki-laki memandangi kecantikanku. Aku memang sudah tidak heran lagi karena sejak SMA semua laki-laki menyatakan cintanya padaku. Bahkan mereka rela berbaris satu persatu mengantri untuk menyatakan cintanya kepadaku. Tetapi aku tahu mereka sama sekali tidak menginginkan hatiku namun fisikku.Terkadang memang terasa risih dengan tingkah laku mereka terhadapku. Apalagi senior perempuan dikampusku sangat membenci aku. Biasanya dipagi hari aku bertemu dengan sahabatku. Kami berteman sejak masuk SMP. Sebenarnya, karena merekalah aku bisa berubah menjadi wanita yang cantik dan seksi. Padahal aku dulu di SMP terkenal sebagai siswi cupu, kutu buku, dan sangat pendiam tetapi peduli dengan orang lain. Ya, aku berubah penampilan seperti ini juga karena seseorang. Aku menyukainya secara diam-diam padahal orang tuanya selalu saja menjodoh-jodohkan kami. Aku ga mau cerita hal ini ke sahabatku. Kalian tahulah kalau sahabat tahu tentang orang yang kita sukai pasti mereka ember. Bener ga?


Nah, dua perempuan cantik yang ada dilorong kampus itu adalah sahabatku. Mereka dari SMP selalu support aku untuk tidak insecure pada orang lain karena tidak ada gunanya. Hidup itu untuk dijalani bukan untuk dipilih. Apa yang dikatakan mereka betul jugakan? Aku pun berjalan kearah dua sahabatku. Perempuan yang memakai baju biru itu namanya Tiara Ramadhani, biasa dipanggil Ara (anaknya cantik, baik, pintar, dan humoris, suka memberikan solusi yang benar) dan perempuan yang memakai baju putih itu adalah Gladys Kim Young, Dia blasteran antara Indonesia dan Korea. Biasa dipanggil Gladys (fashionable bangetlah, baik, ramah, suka ganti-ganti style rambut, dan satu lagi anaknya suka ceplos-ceplosan, tetapi ya itu seleranya mengenai laki-laki tinggi banget maklumlah kalo sampai sekarang masih jomblo.


Kami bertiga pun berpelukan.


"Bila..," ucap Ara dengan girang.


"Ara Gladys..," balasku dengan girang.


"Bila..," ucap Gladys dengan girang.


"Gimana kalau kita langsung ke kantin aja? gue laper nih," ucap Ara.


"Hmmm...yuk," jawabku menganggukkan kepala.


"Nah, ide bagustuh,kebetulan belom sarapan nih.Tapi Lo yang traktir ya Ra..," ucap Gladys.


"Yaudah gampang tu. Soal traktir urusan gue tugas kalian cuma pesen apa aja yang ada dikantin," ucap Ara dengan senang.


"Hah? tumben lu senang traktir kita berdua, kesambet jin apaan lu Ra?" tanya Gladys dengan heran.


"Yaiyalah gue seneng," jawab Ara.


"Kenapa emang?" tanyaku.


"Karena hari ini aku ketemu sama kak Ali di gerbang depan," jawab Ara dengan senyum-senyum.


"Hahahah...Ali yang satu SMA dengan kita dulu?" tanya Gladys dengn tertawa.


"Iya...emangnya kenapa? kok lu ketawa-ketawa gitu? iri ya?" bertanya kembali kepada Gladys.


"Waktu lu ga masuk sekolah hari itu, kak Ali nyatain perasaannya ke Bila," ucap Gladys.


"Hah? beneran Bil?" tanya Ara dengan suara yang lantang.


"Ehhh...shutt suara pelanin dikit napa? kenceng amat," jawabku dengan pelan-pelan.


"Tauk nih si Ara lupa, padahal udah kita ceritain dulu," ucap Gladys.


"Iya bener, tapi kan dulu lagian juga gue ga terima cinta dia kok," jawabku dari pertanyaan Ara.


"Owh gitu bagus deh, saingan kurang satu," ucap Ara dengan lega.


"Oh iya jadi gak traktirnya?" tanyaku pada Ara.


"Ya jadilah untuk kalian berdua hari ini semuanya gratis," jawab Ara dengan senang.


"Beneran? sama mbak mbaknya juga boleh?" tanya Gladys.

__ADS_1


"Boleh kalo mbaknya mau," ucap Ara dengan tertawa.Dan kami bertiga pun tertawa sambil berjalan kearah kantin bersama.


Kami pun sampai di kantin dan memilih tempat duduk untuk duduk namun, tempat duduk penuh dengan anak laki-laki. Mereka yang melihat aku bingung mencari tempat duduk akhirnya mereka pindah dari tempat duduk mereka dengan berebutan. Huft... hal itu bikin aku jadi lebih pusing lagi. Kami pun akhirnya duduk dengan tatapan pria dikantin yang hanya tertuju padaku.


"Eh... Ra kan bentar lagi mau libur akhir semester nih, lu mau kemanaa?" tanya Gladys.


"Paling ke Bali ikut papi kesana, you know lah papi kan sibuk bisnis kesana kemari dan kebetulan gue pengen jalan-jalan ke Bali, kalo lo Bila?" jelas Tiara sambil tersenyum.


"Gue sih pengennya buat bantuin anak-anak yang kurang mampu gitu sekalian pengen ngajarin mereka tentang ilmu kedokteran, kalo lu Dys?." tanyaku pada Gladys sambil menyedot minumannya .


"Kalian semua pasti udah tahulah gue bakal kemana," Belum sempat Gladys melanjutkan perkataannya malah kami potong dengan candaan.


"Paling gue ke luar negri cari bahan-bahan baju buat rancangan dress terbaru yang super duper mewah," gurauku dan Ara dengan tertawa lepas.


Dan kami pun tertawa bersama-sama.


"Ehh gue baru inget nih kalo gue ada kelas sama pak Witno kalian tahukan pak Witno gimana? kalo telat sedetik aja masuk kelas tuh pintu bakal dirantai sama dia," ucapku bercanda pada mereka.


"Nambah-nambah aja lu Bil," ucap Ara dari belakang sambil tertawa.


Saat aku berjalan kearah lorong kelasku. Aku berpapasan dengan seorang lelaki tampan dan dua pengawal setianya. Semua orang tahu tentang dirinya. Dia adalah Kevin seorang lelaki tampan di kampus ini dan semua perempuan menyukainya berbeda dengan aku. Karena menurutku laki-laki yang bermodalkan ketampanan tak akan membuat kita bahagia di masa depan. Aku pun terus berjalan melewatinya dan menoleh kearahnya sedikit. Tetapi dia menghalangiku untuk lewat. Sebenarnya dari awal ospek kami selalu tidak pernah akur.


"Hey cewek sok cantik, ngapain liat-liat?" tanyanya padaku dengan sedikit kasar.


"Hah? gue? liatin elu? idiih!!"


"Minggir gak!!" ucapku padanya.


"Minggir!!" teriakku.


"Oke gue bakal minggir tapi jawab dulu pertanyaan gue. Kenapa lo gak pernah mau terima cinta anak-anak dikampus?" tanyanya padaku.


"Pertama gue ga suka sama cowok yang cuma liat fisik cewek doang, yang kedua gue ga suka sama cowok yang sok kegantengan kayak lo," jawabku dengan kesal.


"Sembarangan aja lo lagian gue emang ganteng kali, lo nya aja belum buka mata lebar-lebar ya gak bro?" ucapnya padaku sambil memegang rambutku. Aku pun berjalan meninggalkannya.


"Liat aja suatu saat lo bakal suka sama gue dan nyatain prasaan lo ke gue didepan semua orang!!" teriaknya padaku.


"Ngarep lu bro?" tawa Ali.


"Idiih!!" jawabnya.


Sesampainya aku di kelas. Aku pun langsung membuka laptop dan mencatat apa yang dijelaskan oleh pak Witno. Setelah 3 jam berlalu, waktu kelas pun berakhir dan aku pun langsung ke taman karena disana sudah ada Ara dan Gladys yang juga baru selesai dari kelas mereka.


"Hi...guys," ucap Ara sambil tertawa.


"Hi..," jawabku dengan cemberut sambil duduk.


"Lo kenapa Bila?" tanya Gladys padaku.


"Gue kesel banget sama cowok sok kegantengan itu!!" ucapku dengan sangat kesal.

__ADS_1


"Kevin?" tanya Ara.


"Ya iyalah siapa lagi cobak cowok yang super nyebelin dikampus ini!!" jawabku dengan kesal.


"Hahahh..," tawa Gladys.


"Kok lu ketawa sih?" tanyaku pada Gladys dengan kesal.


"Yaeyalah kalian berdua itu cocok banget kalik," ucapnya padaku dan membuatku semakin kesal.


"Ihhh... Gladys!!" ucapku.


"Hahah..," tawanya.


"Udah kali Bil keselnya," ucap Ara padaku.


"Ehh... gua duluan ya soalnya supir gue udah di gerbang depan. Bye Bye," ucap Gladys sambil meninggalkan kami.


"Ehh ntar malem lu tidur dirumah gue ya, soalnya bokap lagi ke Itali," teriakku pada Gladys dan ucapku lagi pada Ara.


"Siip tapi kita foto shoot yuk, buat post di instagram..," ucap Ara Sambil tersenyum padaku.


"Tenang ajaa kalik ntar gue siapin semuanya," ucapku dengan tenang.


"Okay... kalo gitu gua pulang dulu ya mau izin ke mami papi," ucap Ara sambil pergi ke parkiran.


"Iya-iya anak mami," gurauku pada Ara sambil tertawa.


Aku pun menuju gerbang kampus untuk memesan taksi online, tetapi taksi yang aku pesan dari tadi belum ada yang menerima orderanku... ya mau gimana lagi aku pun terpaksa memutuskan untuk berjalan kaki mencari halte. Disaat aku berjalan hujan deras pun turun dengan tiba-tiba turun, memang hari itu langit sangat gelap. Dan saat aku berlari, aku melihat halte diujung jalan dan aku pun langsung berlari kesana tanpa aku sadari bahwa ada seorang lelaki tampan yang juga duduk bersamaan disampingku yang tak lain adalah Kevin orang yang paling aku benci.


"Elo!!" ucapku dengan terkejut.


""Elo lagi!!" ucapnya.


"Ngga ga mungkin gue jodoh sama orang kayak lo amit-amit!!" ucapku dengan kesal.


"Idiih gue juga ogah!!" jawabnya. Aku berjalan untuk pergi dari halte itu. Tetapi.


"Ehh... lu mau kemana?" tanyanya menarik tanganku.


"Terserah gue lah, lagian gue ogah satu tempat teduh sama lo" ucapku dengan ketus.


"Ehh... hujannya deras ntar lu sakit!!" ucapnya menarik tanganku.


"Ihh lepasin gak... Aaaak," teriakku dengan terkejut dan langsung memeluk Kevin. Dari kecil aku selalu takut mendengar suara petir. Setelah beberapa menit kami berpelukan.


"Ehh... sorry gue sengaja," ucapku dengan sedikit malu.


"Halah modus," ucapnya yang semakin membuatku kesal.


Aku pun terpaksa duduk disampingnya sambil menunggu hujan reda. Karena cuaca dingin aku pun merasa kedinginan. Kevin pun meminjamkan jaketnya kepadaku. Perasaanku waktu itu benar benar canggung sekali. Dan saat itu aku bertatapan dengannya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2