CINTA YANG TAK DIINGINKAN

CINTA YANG TAK DIINGINKAN
BAB 3


__ADS_3

Setelah sampai di kampus kami pun berpisah karena ruang kelas jauh. Aku melihat disekeliling parkiran kampus, tetapi orang yang aku cari belum juga datang. Entah kenapa hari itu aku merasa rindu melihat wajah seseorang. Antara aku menyukainya atau aku memang telah jantu cinta kepadanya.


"Gue duluan ya, soalnya 15 menit lagi kelas dimulai nih," ucapan Gladys sambil berjalan kearah fakultas desainer.


"Ya gue juga. Karena dosen gue bentar lagi masuk, duluan ya," ucap Ara sambil berjalan meninggalkan Bila.


"Iyaa hati-hati yaps. Jangan lupa ketempat biasa," ucapku pada mereka yang mulai berjalan jauh.


Lalu aku berjalan kearah perpustakaan, aku memang terkenal akan kepintaran dan ketelitian dalam suatu hal. Sampailah aku di depan perpustakaan yang begitu besar dimana anak-anak yang lain kalau mau membaca atau bersantai bisa di perpustakaan itu. Saat didalam perpustakaan memang sedang ramai apalagi mau jam makan siang. Saat aku berjalan mencari buku yang mau dibaca, aku tidak sengaja melihat wajah seseorang dibalik rak buku. Dan ternyata itu adalah Kevin, orang yang daritadi aku cari. Kami pun bertatapan disana dengan senyuman yang tidak dapat diartikan. aku pun langsung memanglingkan wajah dan menghembuskan nafas dengan kasar. Setelah itu aku mengambil buku dan duduk di meja panjang. Begitu juga dengan Kevin ia duduk disampingku. Aku berpura pura untuk mengabaikannya. Sepanjang aku membaca buku Kevin hanya memperhatikanku dengan tatapannya. Ia terus menatapku dan melirikku secara diam diam.


"Kenapa lo kev? ada yang aneh ya?" tanyaku sambil menatapnya.


"Hmmm... cantik," Ucapnya dengan pelan tetapi sangat jelas di telingaku.


"Hah?" tanyaku berpura pura tidak mendengar perkataannya tadi.


"Hah? gak ada," ucapnya berbohong padaku.


"Gue dengar dengar kata anak anak lu gak pernah pacaran ya? lo kan anak hits dikampus," tanyanya.


"Hits? gue sama kali, kayak anak anak lainnya punya kehidupan seperti biasa yang harus dijalani. Kalau soal pacaran enggak dulu deh soalnya gue mau fokus dulu sama kuliah," jawabku.


"Owh gitu," jawabnya sambil menatapku.


"Gimana keadaan kaki lo? udah mendingan?" tanyanya lagi.

__ADS_1


"Hmmm... udah kok, lagian kaki gue sakit juga karena lo. Cobak kalau lo ga ngikutin gue pasti kaki gue semalem gak bakal terkilir dan nyandung batu," jawabku dengan ketus.


"Iya maaf maaf," jawabnya.


Aku pun tertawa melihatnya sementara dia hanya tersenyum melihatku tertawa.


"Shuuttt...," ucap temanku.


"Hey... kalau mau pacaran bukan disini tempatnya noh diwarungnya bi iem tempat jadian milea ama dilan," ucap salah satu temanku yang lain dan serentak semua orang yang diperpustakaan tertawa lepas.


"Ehhh kita gak pacaran kok," ucapku dengan sedikit kesal.


Suasana perpustakaan hari itu pecah karena kami berdua. Sehingga membuat petugas perpustakaan terganggu dan menegur kami semua. Dan semua orang diperpustakaan langsung terdiam dan kembali membaca buku masing-masing. Karena aku merasa malu aku pun akhirnya keluar dari perpustakaan. Kevin pun menyusul untuk mengikutiku. Aku hanya mengabaikan panggilan darinya dan dia pun menarik tanganku. Entah kenapa rasa nyaman itu mulai ada ketika aku dekat dengan Kevin. Apalagi waktu dia memegang tanganku rasanya rindu tadi sudah terbayarkan hanya dengan melihat wajahnya saja.


"Bila... tunggu dulu, kamu kenapa marah? karena dibilang kita ini pacaran atau jangan jangan lo ngarep pacaran sama gue ya?" ucapnya.


Harusnya aku tidak berbicara seperti itu kepadanya, tetapi masa bodolah. Aku saja tidak mengerti dengan perasaanku sendiri. Bukannya aku menolak, tetapi aku masih menyukai laki laki di sekolah SMP ku sampai sekarang. Aku pun berjalan ke lorong kampus untuk menuju ke ke kelasku. Diperjalanan aku mau ke kelas, aku mendengar bahwa ada seseorang yang sedang membicarakanku. Sayangnya aku tidak melihat wajah mereka yang kudengar mereka menyebut nyebut tentang taruhan. Seketika aku terkejut mendengar hal itu. Tetapi, aku berusaha untuk positive thinking saja mana tau aku salah dengar lagian nama Bila banyak tudak mungkin Bila yang mereka sebut adalah aku. Aku pun mulai melanjutkan perjalananku ke kelas. Sesampainya didalam kelas aku duduk dan membaca materi minggu lalu. Setelah beberapa lama dosen menerangkan pelajaran waktu kelas pun sudah habis. Aku segera membereskan peralatan tugasku dan berjalan keluar kelas. Aku melihat di taman sudah ada dua sahabatku.


"Hi..," ucapku.


"Hi...."ucap mereka berdua.


"Lama banget sih Bil. Emangnya lo hari ini ada materi sama pak Witno?" tanya Gladys.


"Iya tumben lama banget?" tanya Ara juga.

__ADS_1


"Iya nih. Materi dari pak Witno banyak banget soalnya kami minggu depan ada ujian," Jawab Bila.


Di sebrang taman ada Gengnya Kevin disana ada Rian, dan Ali. Kevin dari tadi hanya memperhatikanku. Aku bisa melihat arah tatapannya. Aku hanya berpura pura tidak tahu saja. Disana mereka sedang berbicara dan tertawa melihatku. Aku sebenarnya penasaran dengan obrolan mereka. Tiba tiba tibalah minuman yang aku pesan tadi dari kantin. Aku pun merasa risih melihat Kevin yang daritadi melihatku disini. Aku pun langsung berpindah posisi duduk disamping Ara. Awalnya sahabatku heran melihat tingkah lakuku dan mulai bertanya tetapi aku hanya menjawab "gak apa apa, tempat duduknya basah sedikit nih" alasanku. Sepanjang obrolan kami Gladys baru menyadari kalau daritadi Kevin memperhatikanku.


"Ehh... kayaknyaa kak Kevin perhatiin salah satu dari kita deh, coba liat," ucap Gladys (sambil menunjuk kearah rombongan Kevin).


"Ahh masaak siih... ga mungkinlah seorang Kevin itu bisa perhatiin cewek kayak kita, apalagi suka sama cewek," ucap Ara.


"Emang loe tahu darimana Ra? emangnya loe sedekat apa sama Kevin?" tanyaku dengan penasaran dengan maksud ucapan Ara.


"Hah? enggak sedeket itu tapi gue bisa liat dari sikapnya dia kan tetangga gue ya wajarlah gue tahu," jawab Ara.


"Hah? serius Ra? kalo gitu tiap hari lu liat pemandangan indah dong," Ucap Gladys sambil menggoda Ara dan kami pun tertawa.


"Ehh tunggu deh kayaknya kak Kevin itu ngeliatin loe Bil?." Tanya Gladys pada Bila.


"Masa sih, ah paling liatin kita ngobrol doang," jawabku.


Setelah beberapa lama aku mengobrol dengan sahabatku. Kami pun pulang. Ara dan Gladys pulang bersama karena rumah mereka satu jalan sementara aku, menggunakan mobil sendiri. Kami berjalan kearah parkiran dan masuk ke mobil masing masing. Aku belum masuk kedalam mobil sementara sahabatku sudah pergi. Tiba tiba datanglah Kevin dan mengajakku untuk pulang bersama. Namun, aku menolak ajakannya karena aku membawa mobil sendiri. Dia sangat memaksaku sekali dan aku tipikal orang yang suka dipaksa, aku pun menamparnya. Dia pun terdiam dan malah berkata kasar kepadaku.


"Ehh... cewe brengsek beraninya lo nampar gue, lo pikir lo siapa ha?" ucapnya dan membuatku kecewa dengan ucapannya.


"Aku udah bilang ga mau, gausah dipaksa dan oke aku minta maaf karena udah nampar kamu. Tapi aku ga suka cowok yang kasar kayak kamu, aku kecewa sama kamu," ucapku dan masuk kedalam mobil.


Aku berpikir sepanjang jalan mengenai ucapan Kevin tadi. Aku menangis memikirkan itu semua. Tidak aku sangka Kevin berbicara itu kepadaku. Kata itu selalu terngiang ngiang di benakku. Andai saja aku tidak bertemu dengan laki laki seperti itu mungkin hidupku sekarang sudah tenang dan tidak sesakit ini. Aku membuka dashboard mobil dan melihat wajah orang yang aku suka.

__ADS_1


"Kenapa kamu itu gak pernah peka kalau aku suka sama kamu, kenapa setelah kita lulus SMP kamu ngilang. Kamu jahat!! dulu kamu bilang akan selalu menjaga aku, melindungi aku, dan ga akan pergi ninggalin aku. Tapi, sekarang? aku benci sama kamu aldo, aku benci!!" ucapku dengan keras dan tiba tiba ban mobilku kempes ditengah jalan. Aku pun meminggirkan mobilku ketepi jalan dan meninggalkannya disana. Aku pun menelpon ksupirku untuk mengurus mobilku. Dan mau tidak mau aku harus berjalan kaki karena taxi juga tidak ada yang lewat dan batrai ponselku juga akan habis. Aku berjalan menuju apartemen.


Aku mau nanya, kalian pernah ga ngerasa sesedih ini hanya karena mendengar ucapan lawan jenis kalian yang menyakitkan menurut kalian? Tapi menurut aku kalian jangan terlalu berlarut larut dalam kesedihan karena emosi sesaat itu bikin masalah makin rumit.


__ADS_2