Cinta Yang Tumbuh Dalam Kebencian (Love That Grows In Hatred)

Cinta Yang Tumbuh Dalam Kebencian (Love That Grows In Hatred)
Eps 1


__ADS_3

Terlihat seorang pria sedang memandangi seorang gadis yang tengah bercanda dengan beberapa temannya di depan gerbang sekolah mereka. Terlihat raut wajah laki-laki itu menahan amarah dan kekesalan. Laki-laki itu terus saja memandangi dari balik kaca mobilnya sampai gadis itu pergi dengan menaiki mobil hitam. Sepertinya di jemput oleh keluarganya.


Laki-laki dengan penuh amarah itu adalah Jun Atmajaya. Putra pertama Keluarga Atmajaya yang saat ini masih menempuh pendidikan di salah satu universitas di luar negri.


3 hari sebelumnya.


Jun mendapat kabar dari keluarganya. Klau adik semata wayangnya meninggal dunia. Jun pun dengan pikiran yang kalut buru-buru pulang. Dan untungnya Jun masih sempat melihat adiknya di makamkan.


Andra Atmajaya putra kedua keluarga Atmajaya yang meninggal karena bunuh diri. Dan itu membuat Jun sang kakak merasa teramat sangat sedih. Jun merasa di saat adiknya sedang kesulitan dia tak ada di sisinya. Karena beberapa tahun terakhir Jun lah yang menjadi sandarannya. Karena ibu mereka sudah meninggal beberapa tahun lalu. Sedangkan sang ayah yang seorang pengusaha itu teramat sangat sibuk dengan pekerjaannya.


Beberapa hari sebelum Andra meninggal.


"Halo kak, apa kau sibuk? ". Tanya Andra yang mencoba menghungi kakaknya.


"Tidak, apa ada sesuatu yang mengganggu mu? ". Tanya Jun, dia terlihat khawatir melihat raut wajah adiknya dari balik layar ponselnya.


"Hanya sedikit masalah, kau tau lah anak sekolah sepertiku. Masalahnya hanya seputar sekolah". Jawab Andra dengan sedikit menampakan senyumnya.


"Lalu ada apa dengan wajahmu? Kenapa terlihat sedih?. Apa ini ada hubungannya dengan gadis itu? ". Tanya Jun.


"He" . Andra tersenyum sebentar.


"Dia hanya menganggap ku sebagai teman. Di matanya aku tak bisa lebih dari seorang teman. Sebesar apapun rasa yang ku miliki akan tetap sama". Jawab Andra dengan senyum lagi.


"Tidak apa-apa, masih banyak waktu untuk berusaha meluluhkan hatinya". JUN mencoba memberi semangat pada adik kesayangannya.


"Waktu ku tidak banyak. Tapi setidaknya aku tau perasaannya dan dia tau perasaanku. Biarlah perasaanku aku simpan untuk diriku sendiri. Aku senang dia masih menganggapku teman. Walau jujur saja aku malu jika harus bertemu dengannya".


"Hei, kenapa harus malu. Tak ada yang salah jika di tolak. Kau masih bisa cari yang lain". Jun masih mencoba menghibur adiknya. Jun tau adiknya sangat tertutup anaknya.


Pembicaraan masih berlanjut hingga larut. Dan Andra pun mematikan telpon, karena besok harus ke sekolah.


Andra terdiam di kamarnya, sembari memandangi langit malam dari balik jendela kamarnya.


Esok harinya Andra sudah bersiap untuk berangkat sekolah. Dia pun bertemu ayahnya di meja makan. Pemandangan yang selalu sama, wajah dingin ayahnya di pagi hari.


"Pagi ayah". Sapa Andra.


"Hem". Selalu itu tanggapan ayahnya.

__ADS_1


"Ayah, maaf jika selama ini aku selalu merepotkan dan menyusahkanmu".


"Dari dulu apa pernah kau tak merepotkan". Jawaban yang selalu ketus sudah biasa di dengar oleh Andra.


"Iya, maka dari itu aku meminta maaf kepada ayah. Aku harap aku tak lagi menyusahkanmu. Dan terima kasih selama ini menjadi pelindung bagiku. Menjadi ayah untukku, terima kasih untuk segalanya. Aku permisi berangkat kesekolah dulu". Andra pun beranjak dari duduk nya. Kali ini dia tak sedikit pun menyentuh sarapan paginya.


" aku selalu menyayangi ayah, terima kasih banyak. " ucap Andra lirih sebelum pergi.


Ayahnya hanya terdiam mendengar kata-kata dari anaknya itu. Ayahnya tenggelam dalam pikirannya sendiri.


Di sekolah pagi-pagi sudah ramai, terlihat seorang gadis terdiam syok di atas gedung. Sedang di bawah anak-anak ramai berteriak histeris.


Gadis tadi menangis setelah mengambil buku yang tergeletak di dekatnya. Hari itu semua ramai, bahkan media pun ramai. Gadis tadi pun harus ikut ke kantor polisi, karena hanya dia saksi satu-satunya yang melihat seseorang jatuh dari atas gedung.


Ya, Andra Atmajaya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya di sana. Di tempat ia selalu merasa nyaman.


Di kantor polisi gadis itu masih terisak, tanpa sepatah kata pun.


"Ayra, jika kamu diam seperti ini terus masalah ini tidak akan selesai". Seorang polisi sedikit menahan amarahnya, karena Ayra. gadis yang berada di atas dan menyaksikan Andra terjun, gadis itu adalah Ayra Kaesa Hermawan.


"Kamu bicara saja Ay, gak usah takut. Bunda disni sama kamu apapun yang terjadi ". Sang ibu yang berada di situ mencoba menenangkan anaknya, walau sesungguhnya dia pun merasa sangat sedih.


"Aku mencoba memanggilnya, tapi dia tidak mendengar ku. Kenapa dia seperti itu?" tanya Ayra dengan deraian air mata.


Ayra mencoba memanggil Andra saat Andra sedang berdiri di tepi atap,namun Andra yang sedang menggunakan handset tidak mendengar Ayra memanggil. Polisi pun tak tau apakah Andra sengaja untuk mengakhiri hidupnya atau tidak sengaja terpeleset.


"Apa terakhir bertemu dia membicarakan sesuatu?" tanya polisi kembali.


"Dia seperti biasa, tak ada yang aneh atau di bicarakan. Aku salalu bertemu dengannya setelah jam pulang sekolah. Karena dia selalu sendiri makanya aku berteman dengannya. Dia sangat tertutup, dan tadi pagi aku berencana mengembalikan buku miliknya".


"Apa dia pernah bicara sesuatu yang mengarah ke arah dia akan mengakhiri hidupnya? ".


"Beberapa hari lalu dia hanya bilang dia lelah, aku juga melihat sudut bibirnya berdarah. Saat aku tanya dia hanya bilang terpleset dan terbentur meja". Jelas Ayra.


"Apa kau pernah melihatnya di buli teman satu sekolah".


"Tidak, karena aku akan bertemu dia setelah pulang sekolah, itu pun hanya 30menit ".


Ayra dan Andra sudah satu tahun terakhir berteman, dan itu saat tak sengaja Ayra bertemu Andra di atap. Sejak saat itu Ayra rutin bertemu dengan Andra seusai sekolah walau hanya sebentar.

__ADS_1


Ayra merasa Andra orang yang baik, hanya saja dia terlalu pendiam. Andra lebih suka menyendiri. Saat jam istirahat Ayra pun melihat Andra sedang duduk sendiri di dalam kelasnya.


Setelah kejadian itu, Ayra menjadi pendiam. Dia tak banyak bicara, Ayra selalu terbayang kejadian itu. Sejak saat itu Ayra pun tak pernah lagi pergi ke atap sekolah.


Keluarga Atmajaya yang mendengar kabar itu langsung bergegas ke ruang otopsi dan mengurus segala keperluan pemakaman.


Ayra pun hadir ke pemakaman Andra di dampingi ibundanya. Karena Ayra masih syok atas kejadian itu. Banyak anak-anak yang hadir melihat Ayra dan membicarakannya.


"Itu bukannya cewe yang ada di atas pas Andra mau loncat? ".


"Iya, katanya sih dia yang bikin Andra bunuh diri".


Banyak bisikan anak-anak yang datang ke pemakaman Andra, namun Ayra hanya diam di dampingi ibundanya.


2 hari Ayra gak masuk sekolah, dia masih syok karena kejadian Andra. Ayra hanya terdiam mengurung diri dikamarnya.


Dan esok harinya Ayra pun mencoba berangkat kesekolah, sahabat Ayra selalu menemani Ayra. Mereka diminta orang tua Ayra untuk menjaga Ayra, karena Ayra masih butuh teman.


Sembari berjalan sahabat-sahabat Ayra mencoba menghibur Ayra. Namun Ayra hanya tersenyum tipis menanggapi gurauan sahabatnya itu.


Terlihat di sebrang jalan Jun masih memandangi Ayra dari balik kaca mobilnya. Dia masih merasa Ayra adalah penyebab Andra bunuh diri. Jun mencoba mengikuti Ayra dari belakang sampai Ayra tiba di rumah. Setelah itu Jun kembali ke rumah.


Jun pun dengan langkah gontai berjalan memasuki rumah, terlihat ayahnya sedang duduk di meja makan.


"Kapan kamu kembali kuliah? ". Tanya ayahnya pada Jun yang berjalan melewati ayahnya.


"Lusa". Jawab Jun singkat.


"Sebelum kejadian ini apa dia berbicara padamu? ". Tanya ayahnya.


"Dia menelfon, kami hanya membahas masalah sekolahnya. Ada apa yah? ". Tanya Jun penasaran. Karena ayahnya tiba-tiba membahas ini.


"Tidak ada". Jawabnya singkat.


Jun pun kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar Andra. Dia duduk di lantai sembari bersandar di ranjang. Jun terus memandangi isi kamar adiknya itu.


"Sebenarnya apa yang membuatmu begitu putus asa seperti ini? Apakah karena dia?? Jika memang iya, aku pun akan membuatnya merasakan rasa sakit. Seperti yang kau rasakan. Biar dia sadar dia telah membuatmu meninggalkan ku dan melepas cita-cita mu". .


@@@@

__ADS_1


mungkin ceritanya membosankan. sya menulis hanya karna ingin. jika suka bisa komen nnti bsa di lanjut. kalo gak suka boleh juga komen kasih masukan. karena nulis ini bukan karena sya berbakat atau apa. hanya saya suka baca jd coba buat iseng nulis.. terima kasih sebelumnya.. 🙏🙏🙏


__ADS_2