
Ddrrrttt drrttt
Berdering.....
ISTRI CANTIQ
Sejak tadi ponselku terus berdering tapi ku abaikan karena sedang di ruang meeting. Entah sudah berapa puluh kali berdering membuat semua orang di ruangan menatap ku. Aku pun melihat layar ponselku.
Astaga, aku lupa akan menjemput gadis kecil itu jam 3. Dan aku terkejut saat melihat jam di tanganku sudah menunjukan pukul 16.30. karena meeting molor aku jadi lupa ada janji dengannya.
"Ji, lanjutin meeting nya. Aku ada urusan mendadak". Tanpa pikir panjang aku langsung berlari menuju mobilku. Bukan aku sengaja melupakan janji, memang aku benar-benar lupa.
Tak butuh waktu lama aku menemuinya di halte dekat kampusnya. Dia sedang duduk memasang wajah murkanya. Aku pun langsung membunyikan klakson mobil agar dia melihatku, tanpa aku harus turun dari mobil.
Saat tau aku sudah datang dia langsung menghampiri ku, jangan di tanya seberapa marah dia. Tanduknya sudah kelihatan, wajahnya merah menyala dan sangat menyeramkan.
"Kau tau aku nunggu berapa lama? Bahkan kau tak tau betapa laparnya aku. Tuan, tidak bisakah anda tepat waktu? Dan jangam menyiksaku seperti ini". Gadis kecil itu terus saja meluapkan amarahnya.
"Ok maaf. Tadi ada meeting dan aku lupa".
"Semudah itu kau melupakan janji yang kau buat sendiri, sungguh kau menyebalkan".
Setelah 30 menit perjalanan aku berhenti di salah satu restoran. Karena aku tak ingin anak orang nanti sakit. Dan aku juga tidak mau di salahkan, jadi ku bawa dia ke tempat makan dulu.
"Bukannya kita mau beli cincin? Kok berhenti disini?". Tanya nya. Aku heran dengannya, tadi bukankah dia yang bilang bahwa dia lapar. Bahkan dia sampai menyalahkan ku. Benar-benar gadis labil.
"Bukankah tadi kau bilang, kalau kau itu lapar? Jadi aku bawa kau ke tempat makan. Biar aku tak di salahkan jika nanti kau sakit". Gadis merepotkan.
"Baiklah, tapi kau yang bayar ya calon suami. Hehe". Semangat sekali dia keluar dari mobilku.
Aku pun harus menunggunya makan, aku sudah seperti pengawalnya. Hanya memandanginya makan.
"Kau tidak lapar tuan?". Tanyanya.
"Tidak, aku sudah makan". Jawabku apa adanya.
"Kau lihat? Kau membuatku menunggumu dengan perut kosong. Sedangkan kau melupakan janjimu dengan perut sudah kenyang".
"Ok, aku minta maaf. Bisakah kau percepat makanmu nona? Karena aku harus kembali lagi ke kantor". Benar-benar gadis ribet.
Setelah membuatnya kenyang, aku dan dia pun ke tempat tujuan awal. Yaitu ke toko perhiasan. Membeli cincin dan serangkaiannya untuk mahar pernikahan kita 2 minggu lagi. Ya ampun menyebut pernikahan kita rasanya sangat menggelikan.
Ddrrrttt dddrrrtttt
Berdering...
Panji
Ponselku tiba-tiba bergetar, dan kulihat panji menelpon.
"Ada apa?".
"Kau masih lama bos?". Tanyanya.
"Sebentar lagi, apa ada masalah?".
"Iya bos, bisa kau cepat kesini?".
__ADS_1
"Ok".
Aku tutup telponnya.
"Udah selesaikan? Aku harus buru-buru ke kantor. Dan sepertinya aku tidak bisa mengantarmu sekarang. Apa kau mau ikut ke kantor aja? Nanti biar aku suruh orang antar kau pulang".
"Terserah saja".
Aku terpaksa membawa gadis kecil ini ke kantor, karena harus mengurus hal penting. Karena dia tak masalah jadi aku pun membawanya.
Jangan di tanya bagaimana pandangan orang kantor saat melihat gadis kecil itu mengekoriku sejak turun dari mobil. Aku pun mengantarnya ke ruangan ku.
"Kau tunggu dulu disini, aku cari orang untuk memgantarmu".
"Hheemm".
"Bos, cepet ke ruang meeting. Kenapa kau masih disini?". Panji tiba-tiba mengaagetkanku. "Oppss maaf, aku tak tau nona cantik ikut kesini".
Nona cantik? Cantik dari mana? Urakan iya.
"Apa ada orang yang bisa mengantar dia pulang?" Tanya ku pada panji.
"Jam segini udah pada pulang, tadi kau tak lihat karyawan mulai pada keluar kantor? Hanya tinggal tersisa yang lembur".
"Aduh bagaimana ini." Aku bingung, haruskah aku meninggalkan nya? Atau mengantarnya dulu. Waktuku tak banyak.
"Tak apa kak, aku nunggu disini. Lagian tadi aku udah bilang bunda sama ayah mau pergi sama kak Jun". Manis sekali dia didepan panji, memanggilku dengan kak.
"Baiklah, jika butuh sesuatu di sana ada teh atau kopi. Jika ingin jajan di bawah ada kantin, dia buka sampai jam lembur selesai.jadi kau bisa kesana, bawa ini". Aku memberinya kartu karyawan untuk makan. Karena disini tidak menggunakan uang untuk bertransaksi. Anggaplah aneh, tapi aku maunya seperti itu.
"Baik bos. Terimakasih". Ucapnya dengan sikap sok manis.
***
Menunggu itu membosankan, sepertinya itu yang di rasakan Ayra. Dia pun berjalan turun ke lantai dasar, dan pergi menuju kantin. Beberapa karyawan yang masih di kantor terus saja melihat dan memperhatikan Ayra. Karena Ayra memang bukan karyawan di sana.
Setelah mengambil susu kotak dan camilan, Ayra pergi ke tempat pembayaran. Lalu menyerahkan kartu yang tadi di berikan Jun padanya. Beberapa karyawan yang sedang menunggu untuk membayar memperhatikan Ayra membayar dengan kartu yang bertuliskan nama Jun Atmajaya. Karena setiap kartu makan itu tertera nama dan nomor nik karyawan.
Mereka terdengar sedang berbisik-bisik. Membicarakan Ayra, namun Ayra cuek saja berjalan kembali ke ruangan Jun.
"Dia siapanya Pak Jun?". Tanya salah seorang karyawan wanita.
"Mungkin adiknya".
"Adiknya itu laki-laki dan sudah meninggal".
"Atau kekasihnya?".
"Bisa jadi, tapi selama di kantor tak ada yang tau kalau Pak Jun sudah memiliki kekasih".
Mereka terus saja bergosip, bahkan ramai di grup kantor. Ternyata ada juga yang mengambil gambar saat Jun dan Ayra masuk kantor bersama.
Namun si bahan gosip tengah asik memakan camilannya. Hingga makanannya habis namun Jun tak juga muncul, bahkan sampai Ayra tertidur di sofa ruang kerja Jun.
Pukul 20.30 Jun baru selesai rapat dengan rekan-rekannya. Ia bahkan sampai lupa meninggalkan Ayra di ruangannya. Dan tiba-tiba lampu padam.
"Ya ampun".
__ADS_1
"Ada apa Bos?".
"Aku meninggalkan gadis kecil itu di ruanganku". Jun langsung berlari menuju ruang kerjanya dengan bantuan cahaya dari ponselnya.
Jun mengarahkan cahaya ke seluruh ruangan, namun Ayra tidak terlihat. Dan Ternyata Ayra bersembunyi di pojok bawah sofa, terduduk memeluk lututnya. Dia terlihat seperti ketakutan, bahkan sampai mengeluarkan air matanya.
"Bunda. Ayah. Ayra takut. Bunda tolong ayra". Suaranya lirih, Jun pun langsung menghampiri Ayra.
"Hey kamu kenapa? Udah gak apa-apa ada aku ok". Jun memeluk Ayra supaya Ayra lebih tenang. "Ada aku ok, tak perlu ada yang kau takuti". Jun terus saja menenangkan Ayra yang masih menangis.
"Ada apa Bos?". Tanya panji yang mengikuti Jun dari belakang.
"Ambilkan air hangat". Perintah Jun, dan tanpa kata panji langsung mengambil air hangat tak jauh dari tempat nya berdiri.
"Nih ". Panji menyerahkan gelas berisi air hangat yang ia minta.
"Minum dulu ya, biar tenang ok". Jun membantu Ayra untuk minum, lalu mendudukannya di sofa.
"Ada apa dengannya?" Tanya panji.
"Aku tak tau, mungkin dia takut gelap. Aku coba hubungi orangtuanya dulu".
Jun pun menelpon ibunda Ayra.
"Bunda, sebelumnya Jun mau minta maaf. Ayra masih di kantor, karena tadi Jun ada masalah di kantor. Dan maaf bunda apa Ayra punya trauma atau takut gelap? Tadi Jun liat dia ketakutan di ruangan Jun. Karena tiba-tiba lampu padam. Jun sungguh minta maaf bunda". Jun mencoba menjelaskan, meski terlihat rumit baginya.
"Tak apa Jun, berikan saja dia minum. Dan di tasnya ada obat, bunda selalu sediakan untuk jaga-jaga. Kalau-kalau hal seperti ini terjadi. Untuk masalah Ayra nanti bunda jelaskan di rumah".
"Baik bunda, terimakasih".
Jun pun buru-buru membuka tas Ayra dan mencari obat yang bunda maksud. Lalu segera meminumkannya pada Ayra. Dan tak lama dia jauh lebih tenang. Dan tertidur di pelukan Jun.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengannya?". Tanya panji.
"Aku tak tau, bukankah kau lihat dia seperti gadis sehat pada umumnya? Tak ada tanda-tanda bahwa dia sakit atau apapun?".
"Apa mungkin dia memiliki trauma?".
"Entahlah, tadi ibunya bilang akan menjelaskan nya padaku. Jadi aku harus membawanya pulang".
"Tapi dia tertidur?".
"Terus? Kita harus nunggu dia bangun baru mengantarnya pulang? Hah? Siapkan mobil. Aku akan mengantarnya sekarang".
"Baiklah Bosku".
Jun pun menggendong Ayra hingga ke mobil, karena Ayra masih tertidur setelah tadi meminum obat. Lalu Jun mengantar Ayra pulang. Tak butuh waktu lama mereka sampai di rumah Ayra.
Bunda yang dengar suara mobil langsung membukakan pintu, sedangkan Jun sedang mengeluarkan Ayra dari mobil dan menggendong Ayra hingga ke kamarnya.
"Maaf ya Jun merepotkan kamu".
"Tidak bunda, harusnya Jun yang minta maaf karena dah buat Ayra jadi seperti ini".
"Tidak apa, ini tidak parah. Besok dia akan baik-baik saja".
Jun pun duduk bersama kedua orang tua Ayra. Bunda ingin menjelaskan kenapa Ayra seperti itu.
__ADS_1
"Sejak kepergian Andra Ayra selalu menyalahkan dirinya. Karena dia tidak bisa menghentikan Andra. Dan sejak saat itu dia selalu mengurung diri di kamar. Dengan keadaan lampu tidak di nyalakan. Sejak saat itu saat jiwanya sudah pulih justru trauma pada gelapnya muncul. Jun bunda sama ayah minta maaf karena tak memberitahukan mu sejak awal. Kini ayah sama buda serahkan padamu, apakah kamu akan meneruskan perjodohan kalian atau tidak". Bunda mencoba untuk tidak memaksakan perasaan Jun, apalagi menerima putrinya yang masih sering sakit seperti itu.
"Bunda Jun sebelumnya minta maaf .."