
"Jun". Seorang wanita yang sejak tadi berdiri di depan pintu rumah Jun langsung menghampiri Jun dan memeluk tangan Jun.
"Apa yang kau lakukan?". Jun melepas kan tautan tangan wanita itu.
" Ku rasa kalian perlu bicara. Aku permisi dulu". Dengan perasaan bingung Ayra oun membalikan badannya dan melangkah untuk membuka pintu.
" Tak perlu, kau tetap disini". Jun menarik tangan Ayra, Jun tak ingin Ayra salah paham padanya.
"Aku tak ingin ikut campur masalah kalian. Jadi aku tak ada urusan di sini. Bicaralah dengan nya, setelah itu Kak Jun boleh jelaskan padaku". Ayra bicara dengan nada yang sedikit lirih. Namun hatinya bergejolak tak menentu. Ada rasa penasaran yang luar biasa, tapi dia harus bersikao dewasa.
"Baiklah". Dengan berat hati Jun melepaskan tangan Ayra daru genggamannya.
Jun dan wanita yang mencarinya itu pun keluat bersama setelah Ayra menutup pintu rumahnya.
Dua cangkir kopi panas masih mengeluarkan asapnya. Kedua orang yang duduk berhadapan masih terdiam, tanpa ada satupun yang mulai berbicara. Jun terlihat sangat marah, namun masih bisa ia tahan. Sedangkan wanita di hadapannya masih menunduk.
"Ada urusan apa kau mencariku?". Tanya Jun setelah sejak tadi mereka hanya terdiam.
"Aku mendengar kau telag menikah, aku langsung pulang setelah mendengar itu. Aku ingin meminta penjelasan padamu".
"Penjelasan? Untuk apa? Kau dan aku sudah mengakhiri hubungan kita 1 tahun lalu. Aap kau lupa?". Jun masih berusaha untuk tidak meledak-ledak, meski sesungguhnya dia sudah sangat kesal dan marah.
Ya, wanita itu adalah Alicia. Mantan kekasih Jun, mereka menjalin hubungan sejak di sekolah menengah atas hingga satu tahun terakhir. Kini Jun dan Alicia sudah tak lagi bersama, tapi sepertinya Alicia masih memiliki rasa pada Jun.
"Aku tak menyetujuinya, kau memutuskannya sepihak".
"Alicia, bersikaplah dewasa. Kita berdua sama-sama tau akar permasalahannya dimana. Aku berhak memutuskan hubungan kita karena aku adalah orang yang terhianati. Kau ingat?".
"Aku sungguh menyesal, aku juga sudah meminta maaf padamu. Tak bisakah kau ingat kenangan-kenangan indah kita dulu?". Alicia mencoba mengingatkan Jun tentang kisah indah mereka.
"Asal kau tau, masa lalu indah itu sudah kau hancurkan hari itu. Hari di mana kau dan Alex tidur bersama. Kau yang menghancurkan semuanya, jika kau lupa biar aku ingatkan".
"Jun, tak bisakah kau melupakan hari itu? Aku yakin kau masih mencintai ku. Cinta yang begitu lama tak mungkin hilang dalam sekejap". Alicia mencoba meraih tangan Jun, namun dengan cepat Jun menepisnya.
"Cinta? Selama apapun cinta itu ada akan hacur hanya dengan satu penghianatan. Dan semua hilang sejak hari itu, kini hanya tersisa kebencian. Bahkan rasa sakit pun sudah tak bisa kurasakan, karena sudah terlalu menyakitkan".
"Tidak Jun, aku yakin kau masih mencintai ku. Dan kau menikahi gadis itu hanya untuk pelarian bukan? Jun, aku bersedia menunggumu hingga amarahmu benar-benar hilang".
"Pernikahan ku tak pernah main-main, pernikahan itu bukan pula pelarian. Pernikahan ku itu memang atas dasar aku menyukai istri ku. Jadi ku mohon berhenti mengganggu ku ataupun rumah tangga ku. Kami sudah bahagia sekarang, ku harap kau mengerti".
Jun bangkit dari duduknya lalu pergi meninggalkan Alicia yang masih kesal dan mengepalkan tangannya.
Alicia terlihat sangat marah, karena laki-laki yang dia cintai pergi meninggalkannya.
***
Saat ini Jun duduk berhadapan dengan Ayra yang masih menundukkan kepalanya. Jun masih memperhatikan Ayra yang terdiam tak menatapnya sama sekali.
" Apa tak ada yang ingin kau tanyakan?". Tanya Jun yang sejak tadi menatap Ayra.
" Aku tak berhak bertanya, tapi jika kak Jun ingin menjelaskan aku akan mendengarkan. Aku tak ingin memaksa kak Jun untuk bercerita".
__ADS_1
"Oke. Tapi kau boleh bertanya apa pun jika kau berubah pikiran. Aku akan menjelaskan semuanya padamu. Karena kamu berhak tau apa yang sebenarnya terjadi".
"Hemm". Ayra mengangguk.
"Dia Alicia. Dia mantan kekasih ku, aku mengakhiri hubungan dengannya 1 tahun lalu. Dia tak terima aku meminta untuk mengakhiri hubungan dengannya. Tapi aku tak bisa memaafkannya, kesalahan nya sudah sangat sangat mengecewakan ku. Rasa sakit yang di buatnya sungguh sudah menghilangkan perasaan ku padanya". Jelas Jun.
"Apa kesalahan yang dia buat? Sampai kak Jun tak bisa memaafkannya?". Tanpa di sadari Ayra pun mengajukan pertanyaan. Jun hanya tersenyum mendengar Ayra bertanya.
"Aku memergokinya sedang bersama musuhku di apartemen nya. Bukan hanya sekedar bersama, tapi mereka tidur bersama".
"Apa yang salah dengan tidur bersama?". Tanya Ayra tiba-tiba.
"Gadis kecil. Maksud ku tidur bersama itu berhubungan badan". Jun tak bisa menyembunyikan senyumnya, dia merasa Ayra sangat lucu. Entah dia benar-benar polos atau hanya spontan bertanya, karena sejak tadi Ayra begitu serius mendengarkan Jun bicara.
" Dari mana kak Jun tau?". Tanyanya lagi.
"Karena aku melihat baju mereka berserakan. Dan ku lihat mereka berada di kamar tanpa busana. Aku bisa memaafkan hal lain, tapi tidak untuk perselingkuhan dan penghianatan. Dan dia sudah sangat menyakiti ku".
Ayra masih mendengarkan sampai Jun selesai menjelaskan semuanya. Jun terus saja memperhatikan wajah Ayra yang sangat serius mendengarkannya.
"Apa ada yang ingin kau tanyakan lagi?". Tanya Jun.
Ayra hanya menggelengkan kepalanya dan kembali terdiam.
" Apa ada yang sedang kau fikirkan?". Tanya Jun setelah melihat Ayra masih terdiam.
"Tak ada". Jawab Ayra singkat.
Ayra hanya memandangi punggung suaminya yang semakin menjauh dari hadapannya.
" Punggung yang sama. Dan aku selalu menyukainya, sama seperti pertama kali melihatnya. Hanya kini sikapnya sangat manis, dan tak sedingin kutub lagi. Apakah ini sifat aslinya yang selalu tersenyum?".
***
Ting tong
Seseorang membunyikan bel, Ayra pun bergegas menuju pintu. Setelah pintu terbuka terlihat wanita dengan tinggi semampai bak model. Wajahnya cantuk dengan kulit putih. Rambut panjangnya pun di biarkan tergerai. Wanita ini cukup terbuka dalam hal berbusana. Ayra hanya memandangi bingung, ada urusan apa lagi dia datang kemari.
"Apa anda mencari kak Jun? Dia sedang tidak ada di rumah". Ucap Ayra pada wanita yang kemarin datang menemui suaminya itu.
"Aku tau, karena aku bertemu dengannya. Apa aku tak di persilahkan masuk?". Ayra pun akhirnya membiarkan wanita itu masuk dan duduk di sofa.
Ayra masih terdiam menunggu si tamu berbicara lebih dulu. Wanita itu membenarkan posisi duduknya.
" Aku tau kau ini istrinya Jun, namun kau harus tau kalau Jun masih sangat mencintaiku. Dia hanya menuruti ayahnya untuk menikahimu. Dan kau harus bersiap jika nanti Jun menceraikan mu. Karena aku yakin Jun akan kembali pada orang yang tepat". Ucapnya panjang lebar.
" Saya rasa masalah anda dengan Kak Jun, jadi tolong selesaikan sendiri dan jangan libatkan saya. Dan jika nanti kak Jun benar menceraikan saya itu jadi urusan saya. Jika anda sudah selesai, silahkan keluar nona". Ayra pun mempersilahkan Alicia untuk pergi.
Dengan kesal Alicia pun pergi dari rumah Jun. Ayra sedikit lega, namun dia tak bisa memungkiri kekhawatirannya. Dan sejak kepergian wanita tadi Ayra masih saja memikirkan nasib rumah tangganya. Hingga dia merasa lelah dan tertidur.
Jun pulang sedikit terlambat dari waktu yang di janjikan. Karena mereka janji akan makan bersama malam ini. Lampu rumah menyala tapi dia tak melihat Ayra di lantai bawah, Jun pun memanggil Ayra tapi juga tak ada jawaban. Jun pun mengecek di kamar, dan ternyata Ayra sudah tertidur.
__ADS_1
"Tumben sekali jan segini sudah tidur". Gumam Jun setelah melihat istrinya sudah terlelap.
Jun pun kembali turun ke bawah, dia berjalan menuju dapur. Jun melihat makanan yang di masak Ayra masih ada di meja makan, bahkan piring masih tertata rapih seperti tak tersentuh oleh siapapun.
"Apa dia ketiduran saat menunggu ku pulang? Tapi aku hanya telat 5 menit saja. Hemm, mungkin dia lelah seharian mengurus rumah".
Jun kembali ke kamar untuk berganti, Jun pun menghampiri Ayra. Jun jongkok di samping ranjang, dan mendekati wajah Ayra.
"Ra, kamu udah makan?". Tanya Jun sambil mengusap-usap pipi Ayra lembut.
"Aku sangat mengantuk, kak Jun makan saja". Jawab Ayra lirih dengan mata terpejam.
"Baiklah, nanti jika lapar bilang ya".
"Hemm". Ayra mengangguk.
Jun memcium kening Ayra lalu kembali turun ke lantai bawah. Jun menyantap makanan buatan Ayra, lalu membereskan bekas nya makan tadi setelah makannya selesai. Sehingga dia tak menyisakan cucian piring kotor.
***
# JUN #
Ku buka mataku, kulihat jam menunjukkan pukul 06.00 pagi. Dan Ayra sudah tidam ada di samping ku, aku pun bangkit dari tidurku. Ku lihat kamar mandi kosong tak ada orang.
Ku langkahkan kaki turun ke lantai bawah. Rumah sudah rapih, di meja makan pun sudah ada sarapan yang tersedia. Cucian baju pun sudah ada di jemuran baju. Namun sosok yang ku cari tak terlihat,ku cari ke seluruh rumah kecilku tapi tak juga melihatnya. Dengan panik aku mengambil ponselku di kamar.
^Istri cantiq^❤️
- kak aku pergi ke kampus, maaf gak bangunin kamu. Makanan sudah aku siapkan di meja.
Aku mencoba menelponnya namun tak di angkat olehnya.
^Me^
- ada kelas pagi? Pulang jam berapa? Nanti aku jemput ya?
Ku tunggu, sudah ceklis dua tapi masih belum ada balasan. Bahkan setelah aku menyelesaikan makan dan mandi. Aku pun pergi ke kantor dengan rasa khawatir karena Ayra tak kunjung membalas pesanku. Sesekali aku mencoba menelpon, namun tak juga di angkat. Aku juga tak tau nomor ponsel temannya, jadi aku hanya bisa menunggunya.
^ Istri Cantiq ^❤️
- aku sudah di rumah, maaf baru balas. Tadi aku mampir ke rumah bunda, maaf karena gak izin. Dan maaf juga karena aku membawa motorku dari rumah bunda.
Pukul 11.15 dia baru membalas pesanku. Aku pun dengan cepat keluar kantor, ku kendarai mobilku denfan kecepatan penuh. Aku ingin cepat-cepat melihat keadaannya, karena aku merasa ada yang aneh dengannya hari ini. Aku hanya ingin memastikan dia baik-baik saja.
Tak butuh waktu lama untukku sampai ke rumah. Dengan cepat ku buka pintu dan mencari keseluruhan ruangan, tapi dia tak ada. Aku pun naik ke kamar atas, dan ku lihat dia sedang tertidur dengan tenang.
Ku cek suhu tubuhnya dengan tanganku, dan sangat bersyukurnya aku karena dia tak demam. Aku duduk di tepi ranjang tepat di sebelahnya. Ku tatap wajah tenangnya, dan genggam tangannya.
"Syukurlah kau baik-baik saja. Sungguh aku sangat mengkhawatirkan mu. Karena aku merasa hari ini kau sangat aneh". Aku hanya bicara seorang diri, karena Ayra masih tertidur. Ku kecup keningnya sebelum aku pergi.
"Aku pergi dulu, baik-baik di rumah". Aku pun pergi setelah berpamitan dengan istriku yang sangat tenang tidurnya.
__ADS_1