Cinta Yang Tumbuh Dalam Kebencian (Love That Grows In Hatred)

Cinta Yang Tumbuh Dalam Kebencian (Love That Grows In Hatred)
Eps 8


__ADS_3

"Apa kau menyukainya?". Tanya ayah tiba-tiba.


Ayra terdiam dengan pertanyaan ayahnya. Nampaknya pertanyaan ayah terlalu mengejutkan bagi Ayra.


Ayra masih terdiam mematung, jelas dia tak memahami arti dari pertanyaan ayahnya.


"Ayah tanya, apa kau menyukainya?". Ayah memperjelas pertanyaannya.


"Yang ayah maksud kak Ghibran?". Ayra balik bertanya.


"Iya, dokter yang tadi".


"Tak ada orang yang tak suka dengan kak Ghibran. Termasuk aku. Orangnya tampan, baik, sopan, seorang dokter, dan dia juga kaya raya. Semua wanita pasti menyukainya yah". Jelas Ayra dengan tersenyum.


"Jadi kamu menyukai dokter itu?". Ayah lagi-lagi bertanya hal yang sama, seperti tidak percaya dengan jawaban anaknya.


Ayra hanya mengangguk dan tersenyum pada ayahnya. Terlihat wajah ayah sedikit berubah, nampak tak memahami jalan pikiran anaknya.


"Ra, kamu itu sudah ayah jodohkan jadi ayah harap lupakan dokter itu". Ucap ayah.


"Yah, aku menyukai kak Ghibran hanya sebatas teman. Dia terlalu baik untuk ku, rasanya tak pantas jika aku mendapatkan orang seperti kak Ghibran". Ungkap Ayra dengan senyum manisnya.


"Syukurlah kalo kamu tak memiliki hubungan dengan dokter Ghibran. Ayah percaya Jun anak baik, jadi kamu tak usah khawatir". Terlihat ayah menyunggingkan senyum lebarnya.


"Aku akan percaya dengan pilihan ayah. Kalo gitu aku pamit ke kamar dulu ya yah". Setelah mendapat anggukan pertanda iya, Ayra pun berjalan menuju kamarnya.


----


"Bagaimana acara makan siangnya?". Tanya panji yang sudah duduk manis di hadapan Jun.


"Ku lihat kau sering sekali datang keruang kerjaku. Apa kau tidak ada pekerjaan hah?".


"Heyy tak usah mengalihkan pembicaraan kawan. Ku rasa acara makan siang romantis berhasil. Terlihat dari raut wajah yang penuh dengan kebahagiaan". Panji menghoda sahabatnya itu.


"Berhasil apa, aku hanya makan siang sendiri. Dan dia pergi dengan kekasihnya".


"Apa? Seorang Jun di campakkan seorang gadis hanya demi laki-laki lain? Sehabat apa dia sampai-sampai dia lebih memilih untuk meninggalkan mu".


"Aku malah senang, siapa tau dia akan menentang pernikahan ini. Dan kabur dengan kekasihnya".


"Bukankah kau akan merasa malu jika itu terjadi?, Kau itu pria tampan yang sukses namun di campakkan seorang gadis".


"Jaga bicaramu atau nanti ku pecat kau". Jun meninggikan suaranya, Jun terlihat kesal dengan pernyataan sahabat sekaligus rekan kerjanya itu.


"Ok ok Bos. " Panji pun kabur, takut dia akan menjadi sasaran amukan Jun.


Jun masih berkutat dengan fikirannya ketika panji sudah keluar dari ruangannya. Dia tak memperdulikan pekerjaannya yang sudah menumpuk di meja kerjanya.


"Bos, ada meeting sama klien. Mau berangkat sekarang atau gimana?". Tanya panji yang sudah berdiri tepat di depan meja kerjanya.


"Astaga". Jun terkejut saat mendapati panji sudah berdiri di sana. "Yaaa, tak bisakah kau mengetuk pintu dulu sebelum masuk?". Jun sangat kesal dengan panji.


"Aku sudah mengetuk nya bahkan tanganku samapi merah. Tapi kau tak merespon, ya sudah aku buka aja pintunya. Lagi mikirin apa sih bos?. Mikirin calon istri yang jalan sama lelaki lain ya?". Tanya panji dengan senyum mengejek.


"Sialan kau". Jun melempar berkas yang ada di depannya. Reflek panji pun menangkapnya. "Tak usah banyak berkomentar".


"Baiklah. Apakah kita berangkat sekarang?". Tanya panji.

__ADS_1


"Hemm". Jun pun bergegas untuk pergi meeting dengan panji.


***


Meja makan malam ini sangat ramai, padahal hanya bertambah satu orang. Ya, om Atmajaya sedang berada di rumahku. Dan sejak tadi yang di bahas adalah pernikahanku dan kak Jun, namun kalian tau lelaki itu tak menampakkan dirinya. Apakah aku bisa bertahan dengannya? Orang yang aku kagumi ternyata jauh berbeda dari apa yang aku kira.


Tingtong....


Tak lama bel rumah berbunyi, aku pun dengan malas berjalan membuka pintu depan. Saat ku buka, terlihatlah pemandangan yang sangat indah. Pria dengan tinggi semampai, wajah tampan, hanya saja tak berekspresi. Dingin seperti es batu dalam kulkas. Tanpa sadar aku terpaku memandangnya.


"Sudah puas memandang ku nona? Aku tau aku tampan, tapi bisakah kau minggir dan tidak menghalangi jalanku". Sungguh kata-katanya menyadarkan ku bahwa dia adalah pria menyebalkan.


Pria menyebalkan itu masuk dengan sesuka hatinya. Rasanya ingin aku pukul kepalanya dengan vas bunga yang ada di meja, sekalian saja biar dia amnesia. Bahkan tak perlu bangun sekalian. Dasar kulkas,eh bukan tapi kutub.


"Tak usah mengumpatku dalam hati, hatimu bisa rusak jika terus menjelekan orang". Manusia kutub itu tiba-tiba berdiri tepat di sampingku dengan sedikit membungkuk, wajahnya bahkan sangat dekat denganku. Dia berbicara sangat dekat dengan telingaku.


"Kalian sedang apa di depan pintu? Ingat ya belum sah". Suara bunda membuat aku dan kak Jun terkejut. Kami pun jadi salah tingkah, karena posisi kami berdiri seperti hendak berlelukan. Dan membuat bunda salah paham.


"Apan sih bunda". Aku pun buru-buru masuk ke dalam sebelum bunda menggoda ku semakin parah.


Terlihat bunda senyum-senyum senang, sedangkan manusia kutub itu cuek seperti tak terjadi apapun. Memang tak terjadi apapun, tapi lihat wajahnya yang sok cuek itu sungguh sangat menyebalkan.


"Kenapa di depan lama sekali ra?". Tanya ayah saat aku menghampiri meja makan.


"Biasa yah anak muda". Bukan aku loh ya yang jawab, tapi bunda. Dengan senyumnya yang sejak tadi tak luntur.


Manusia kutub yang menyebalkan itu duduk di sampingku, ingin rasanya ku tumpahkan makanan di hadapanku ini ke wajah dinginnya itu.


"Tak puaskah tadi mengumpatku nona? Dan sekarang kau masih saja mengumpatku". Bisiknya, dan membuat 3 orang tua di depan kami senyum-senyum bahagia.


Dan aku tak habis fikir kenapa dia tau aku sedang kesal padanya. Apakah dia bisa membaca fikiran orang?. Kubrasa hanya kebetulan saja.


"Nampaknya kalian sudah bisa berkomunikasi, ayah senang lihatnya". Sungguh ayah, andai kau tau anakmu ini dengan tuan muda itu sangat tidak akur. Aku memang tertarik padanya sejak lama, itu karena aku dulu tak tau bahwa dia adalah manusia iblis yang menyebalkan.


Ucapan ayah hanya mendapat senyuman dari ku dan manusia itu. Lalu kami melanjutkan makan, sembari membahas pernikahan KAMI. Dan kalian tau, 2 minggu lagi kita menikah. Bukankah itu terlalu cepat? Dan aku akan hidup dengan manusia itu, apa hidupku nanti tidak membeku?.


Setelah makan kami bersantai di teras belakang, kata ayah menikmati angin malam. Aku dan tuan muda itu duduk menjauh dari ketiga orang tua itu. Bukan mau kami tapi mau mereka. Dan kami hanya mengikutinya saja.


"Mana ponselmu?". Tak ada angin tak ada hujan dia menanyakan ponselku.


"Untuk apa?". Tanyaku ketus.


"Aku hanya ingin meminta nomor CALON ISTRIKU". Apa maksudnya dia menekankan kata calon istri, mendengarkan kata itu darinya sungguh menggelikan.


"Baiklah CALON SUAMIKU". Aku pun menjawab dengan menekan kata calon suami. Terlihat wajahnya tak senang, aku tak peduli. Aku pun menyerah kan ponselku, karena dia menyimpan nomornya sendiri.


Kalian tau apa? Dia menyimpan nomornya dengan nama SUAMI TAMPAN. Ya tuhan, aku tau kau tampan tapi aku tak tau kau senarsis itu. Sungguh menggelikan wahai tuan muda.


"Kenapa? Wajahmu terlihat bahagia".


Apa katanya? Bahagia? Andai kalian lihat wajahku, sungguh aku ingin sekali memukulnya.


"Bahagia dari mana? Apa kau melihat aku bahagia. Oh sungguh penglihatanmu bermasalah tuan".


"Oh benarkah?". Dia pun menelpon nomorku.


Dengan cepat aku mengambil ponselnya saat dia mengeluarkan dari sakunya.

__ADS_1


"Yaaa". Pria itu berteriak kesal. Aku hanya menjulurkan lidahku.


Aku pun menyimpan nomor ku sendiri dengan nama ISTRI CANTIKQ.


"Bukankah ini adil tuan?". Aku menunjukkan layar ponselnya. "Awas jika kau mengubahnya". Ancamku.


Sebentar, kenapa aku mengancamnya? Apakah aku terlihat seperti kegirangan? Atau terlihat sangat ingin menjadi istrinya.


Dia lalu mengambil ponsel di tangan ku, masih dengan wajah datarnya yang dingin. Lalu memasukkannya ke dalam saku lagi. Sungguh malam ini terasa sangat lama, bukankah sangat menyebalkan.


***


ISTRI CANTIQ


...Kau dimana?...


Aku di kampus.


Ada apa calon suami?


...Selesai jam berapa?...


...Aku jemput....


Wah.. ada apa ingin menjemput ku?


🤔🤔🤔


...Beli cincin untuk mahar....


... Gak usah banyak nanya, pulang jam berapa?...


Sensi amat pak.😬


Pulang jam 3 sore.


...Ok. Nanti aku jemput. ...


Ok. 👍


"Bos, kau sedang apa?"


"Yaaa, tak bisakah kau tak mengagetkan ku? Kau ingin aku mati muda? Hah?". Sungguh manusia satu ini selalu saja buat emosi.


"Aku sejak tadi disini kau tak menyadarinya? Oh tuhan inikah efek jatuh cinta? Bahkan tak memperdulikan orang di sekitarnya".


"Bisa diam tidak? Atau kau ingin aku pecat?"


"Chatting dengan siapa? Apakah calon istrimu?".


"Apa urusanmu, kau urus saja pekerjaan ku. Bila tidak ingin ku pecat".


"Ok baiklah. Ingat kawan, jangan halangi cinta itu jika sudah datang".


"Berisik kau. Pergi sana".


Jangan heran dengan manusia itu, dia akan selalu berisik dimana pun. Aku harus segera selesaikan pekerjaanku, karena aku harus menjemput gadis kecil. Bukan keinginanku asal kalian tau, tapi ayahku.

__ADS_1


Gadis merepotkan itu, bagaimana aku bisa hidup dengannya nanti. Membayangkan saja sudah buat sakit kepala.


Kalo bukan karena aku mau bales rasa sakit Andra, gak akan aku terima perjodohan ini.


__ADS_2