Cinta Yang Tumbuh Dalam Kebencian (Love That Grows In Hatred)

Cinta Yang Tumbuh Dalam Kebencian (Love That Grows In Hatred)
Eps 13


__ADS_3

Jun masih duduk di hadapan Ayra, sedangkan Ayra masih saja terdiam. Ayra hanya memainkan jari-jari tangannya. Jun mulai membenarkan posisi duduknya dan menatap Ayra dalam.


"Ra, aku minta maaf sebelumnya. Ra, aku menikahimu benar-benar karena aku melihatmu. Daj untuk perkataan temanku saat itu, memang awalnya aku sangat membencimu. Itu karena aku tak tau harus menyalahkan siapa, aku sangat menyayangi Andra. Dan aku fikir dia mengakhiri hidupnya karena rasa cintanya padamu telah di tolak. Sampai akhirnya aku tau, kau pun menderita atas kepergian Andra dan bukan hanya aku. Ra, aku sungguh minta maaf. Aku sudah sangat menyakitimu, dan aku sudah melupakan kebencianku. Ra, ayo kita mulai dari awal. Maafkan atas semua perlakuanku padamu selama ini. Dan maaf karena aku telah membencimu".


"Biarkan aku sendiri dulu, aku tidak bisa berfikir apapun untuk saat ini".


"Kalau memang kau butuh waktu aku akan berikan waktu, aku hanya berharap kau memaafkan ku dan menerima ku".


"Aku ingin sendiri dulu". Secara halus Ayra mengusir Jun dari hadapannya.


"Ya sudah, jangan terlalu banyak fikiran. Jangan lupa juga vitamin dan obatnya di minum. Kalau gitu aku pamit dulu, besok aku kesini lagi". Jun pun bangkit dari duduknya, setelah mengambil ponsel dan kunci mobilnya di nakas Jun pun keluar kamar Ayra.


Ayra sendiri masih terdiam di kamarnya, banyak hal yang ia fikirkan hari ini. Ayra pun mencoba merebahkan tubuhnya, dan tanpa sadar dia tertidur.


Jun berjalan menghampiri orangtua Ayra yang sedang duduk santai di ruang TV, Jun pun pamit untuk pulang ke rumah ayahnya. Jun memberikan Ayra waktu, dan Jun akan menghargai apapun keputusan Ayra.


Flashback


Hari itu Jun berada di kamar Andra, setelah melihat Ayra mengalami trauma dan harus selalu meminum obat. Jun melihat foto Andra dan Ayra di nakas dekat tempat tidur Andra. Disana juga ada sebuah buku berwarna coklat.


Jun pun mulai penasaran dengan buku itu, karena setau Jun buku itu tidak ada. Karena Jun cukup sering ke kamar Andra. Saat di buka di halaman pertama ada sebuah foto, di mana ada Jun Andra dan kedua orangtua mereka.


Jun pun membuka halaman demi halaman, terlihat tulisan tangan Andra sangat rapih. Di sana banyak hal yang tertulis, mulai dari kesedihannya setelah ibunya meninggal. Dan ayahnya mulai berubah saat ibunya meninggal. Dan banyak cerita tentang kakaknya, seseorang yang selalu melindunginya dan selalu berada di sisinya. Dan tak lupa dia juga bercerita tentang gadis yang sangat ia sukai. Namun gadis itu bercerita bahwa menyukai seseorang.


"Hari ini aku tahu siapa orang yang dia sukai. Dia menunjukkan fotonya padaku, walau nampak belakang namun aku sangat mengenal pria ini. Pria ini juga orang yang sangat aku cintai, pertemuan mereka sangat membuatnya berkesan. kau tak pernah salah memilih orang ra, Kak Jun memang pria yang tepat. Iya begitu sempurna dalam segala hal, Aku bahkan sangat mencintainya".


Tulisan tangan Andra membuat Jun terkejut, karena Ayra menolak adiknya karena dirinya. Jun bahkan tak mengingat kapan pernah bertemu dengan Ayra. Sampai akhirnya dia mengingat pertemuannya dengan keluarga Ayra, dia bilang pernah bertemu di Jogja. Namun Jun sama sekali tak mengingat hari itu.


"Suatu hari nanti aku akan pertemukan kalian. Aku yakin kak Jun pun akan menyukai mu, karena kau gadis yang sangat baik. Aku berharap bisa melihat kalian bahagia".


Jun hanya bisa terdiam, bahkan tanpa di sadari nya dia meneteskan air matanya. Dia sangat merindukan adiknya, kini orang-orang yang di cintainya pergi meninggalkannya satu persatu. Hanya tinggal Ayahnya, dan semoga hubungan mereka membaik. Jun masih berkutat dengan fikirannya, betapa dia merasa bersalah karena menyalahkan Ayra selama ini tanpa tau Ayra pun sangat menderita.


Ayah Jun sebenarnya sudah menjelaskan bahwa Andra meninggal karena kecelakaan. Kemungkinan Andra terjatuh dari atap karena dia ingin duduk di balkon. Karena dari keterangan Ayra Andra sering duduk di atas sana. Saat itu lantai licin karena malam harinya telah turun hujan, dan kemungkinan itu yang menyebabkan Andra terjatuh.


Jun pun di landa kebimbangan, di mana rasa bencinya yang tak berdasar. Kini dia menyakiti Ayra dan keluarganya, Jun merasa dirinya benar-benar sangat jahat. Dia membenci Ayra tanpa mencari tau kebenarannya, mungkin Jun tau kebenarannya namun rasa kehilangan yang tak bisa diterima nya dia menyalahkan orang lain yaitu Ayra.


Kini hari pernikahannya sudah tinggal menghitung hari, Jun pun harus berfikir dengan jernih untuk keputusannya. Keputusan yang tidak akan menyakiti siapapun. Terlebih Ayra yang sudah cukuo sangat menderita.


Flash off


Setelah kejadian kemarin Ayra masih belum keluar kamar. Jun pun pagi-pagi sudah datang ke rumah mertuanya, dimana istrinya ada sana. Jun di sambut dengan sangat ramah oleh kedua orang tua Ayra.


"Kamu sudah sarapan Jun?". Tanya Bunda pada menantunya itu.

__ADS_1


"Sudah Bun, tadi sama Ayah". Ibunda Ayra hanya mengangguk dengan senyum ramahnya. " Ayra masih di kamarnya Bun?". Tanya Jun yang tak melihat keberadaan istrinya.


"Iya, belum keluar dari semalam. Coba saja kamu tengok di kamar".


"Baik Bun, aku permisi dulu". Setelah mendapat anggukan dari kedua mertuanya Jun pun berjalan menuju kamar Ayra.


Namun kamar masih tertutup rapat, tak ada tanda-tanda pemiliknya sudah terbangun. Jun pun berlahan menghampiri pintu kamar Ayra, dan mulai mengetuk pintunya dengan pelan.


"Ra, kamu sudah bangun?". Tanya Jun setelah mengetuk pintu kamar. Namun tak ada balasan dari dalam kamar.


"Ra, belum bangun?" Tanya Jun lagi, namun lagi-lagi tak ada respon dari dalam kamar.


"Ra, apa aku boleh masuk?". Jun mencoba meminta izin, namun tak ada jawaban lagi. Namun terdengar dari dalam Ayra membuka kunci kamar, dan membuka pintunya sedikit.


Jun yang mendapat izin masuk pun tersenyum senang. Lalu membuka pintu lebar, dan melihat Ayra duduk di atas tempat tidurnya dengan rambut masih acak-acakan. Jun pun hanya bisa tersenyum melihat istrinya yang benar-benar baru bangun dari tidurnya.


"Kamu baru bangun?". Tanya Jun yang juga duduk di atas tempat tidur ayra.


Ayra hanya menggeleng tanpa menghadap Jun, Ayra masih berkutat dengan ponsel di tangannya.


"Gak sarapan? Ini udah mulai siang loh". Lagi-lagi Ayra hanya membalas dengan gelengan dan anggukan.


"Apa aku boleh bicara?". Tanya Jun, lagi-lagi Ayra hanya mengangguk.


"Dari tadi bukannya udah ngomong? Kenapa sekarang baru tanya". Ucap Ayra dalam hati.


"Sebenarnya aku ingin mengajakmu pindah rumah. Karena sekarang kamu sudah menjadi tanggung jawabku, jadi aku ingin membawamu ke rumahku. Itu pun jika kau bersedia, jika kau menolak pun tak apa aku tak akan memaksa".


"Ok, jam berapa?". Tanya Ayra tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel. Padahal tak ada apapun di ponselnya, Ayra hanya mengalihkan fokus saja.


"Setelah kamu siap dan sarapan. Nanti aku akan bantu packing barang yang akan kamu bawa".


"Hhhmmm ". Hanya itu.


"Ya sudah, sekarang kamu mandi lalu sarapan. Jangan sampai telat makan, nanti sakit".


"Hhhmmm".


"Aku ke bawah dulu untuk menemui ayah dan bunda, aku memberi tau mereka tentang rencana kita". Setelah Ayra merespon dengan anggukan kepala Jun pun keluar dari kamar Ayra dan menemui mertuanya.


Ayra prov


Kau tau, dia datang pagi-pagi untuk membawaku ke rumahnya. Aku pun mengiyakan, karena aku sudah sah menjadi istrinya jadi aku harus patuh padanya. Jika tidak aku akan menjadi istri yang durhaka.

__ADS_1


Dan kau tau, dia sangat berbeda. Itu seperti bukan dirinya, saat pertama kali bertemu dengannya dia sangat dingin. Dan kini dia sangat hangat dan perhatian padaku, nada bicaranya juga lembut dan senyumnya selalu saja terlihat. Ah aku lupa, dulu kan dia sangat membenciku maka dari itu sikapnya dingin.


Dan sikapnya sekarang aku benar-benar tak mengerti, apa dia hanya baik di depan namun masih membenciku di dalam hatinya? Tak mudah bukan mengubah rasa bencimu menjadi rasa suka, apalagi cinta.


Kepala ku pening jika memikirkan itu, lebih baik aku cepat-cepat mandi dan bersiap. Aku pun memandang diriku dalam kaca.


"Whatttttt? Apa sejak tadi dia melihat keadaanku seperti ini? Aarrrrrggggghhhh sangat memalukan". Rambutku sangat berantakan dan sangat-sangat kacau. Dengan cepat aku lari ke dalam kamar mandi.


Setelah selesai mandi dan sudah rapih meski dengan baju seadanya, aku pun pergi menuju meja makan. Aku melihat pemandangan yang sangat aneh, seorang ayang yang sedang berbincang dengan menantunya. Aku hanya diam mendengarkan sembari menyantap makananku.


Bunda memberiku banyak pesan, karena aku akan pindah ikut dengan suamiku. Kau tau, mendengar kata suami rasanya aku ingin tertawa geli. Aku mengunyah makanan ku di temani pesan-pesan dari Bunda, katanya itu bekal untuk ku sebagai istri.


Aku pun menyelesaikan makanku dengan cepat, setelah itu aku langsung membereskan meja membantu Bunda. Dan tak butuh waktu lama untuk menyelesaikan itu. Setelah selesai aku buru-buru kembali ke kamarku.


Aku menyiapkan barang-barang yang akan aku bawa, dan aku membuka koper besarku. Ku letakkan di lantai depan lemari baju ku, supaya lebih mudah memindahkan bajuku dari lemari.


Aku tak tau apa yang akan terjadi ketika nanti kita tinggal bersama. Apa dia akan menyiksa ku? Aku yakin dia masih membenciku. Karena menurutku tak mudah mengubah rasa bencin itu menjadi suka.


"Ra, kenapa bengong?".


"Ah...???". Aku sangat terkejut mendengar suaranya, hampir saja aku jantungan.


"Apa yang kamu pikirin? Lagi ngapain duduk di lantai sambil bengong gitu?". Tanyanya dengan senyum .


Aku pun menengok kanan dan kiri, aku sedang terduduk di lantai dengan koper masih kosong tak ada apapun. Dan lihat dia? Pasti dia sedang menertawakanku.


"Mana barang yang mau di bawa?". Tanyanya dengan senyum lagi, dan tangannya mengusap-usap kepalaku yang masih duduk di lantai. Entah sudah berapa banyaj senyum yang ia keluarkan hari ini.


Dan kau lihat sikapnya sejak tadi? Setiap gadis pasti akan meleleh jika di perlakukan seperti ini, dan aku hanyalah gadis biasa kau tau. Namun aku sadar, dan teringat kejadian hari itu. Rasa kecewaku padanya masih sangat besar.


"Yee di tanya malah bengong lagi, Ra?". Kali ini dia menarik hidungku, dan aku hanya menatapnya kesal. Dia yang masih berdiri di hadapan ku masih saja tersenyum.


Dengan menahan rasa kesal aku pun dengan cepat memilih barang-barang yang akan aku bawa. Dia pun menatanya dengan rapih di dalam koper. Tak butuh waktu lama pun selesai dengan barang-barang ku.


Aku merebahkan tubuh ku di atas tempat tidur kesayangan ku. Mungkin ini kali terakhir, karena aku tak tau kapan akan kembali kesini. Setelah istirahat sebentar dia membawa koper-koper ku ke bagasi mobilnya. Aku pun pamit dengan ayah dan Bunda.


"Ayah nitip Ayra ya Jun". Ucap ayah.


"Iya yah, ayah tenang aja. Sekarang Ayra tanggung jawab Jun".


"Sering-sering main kesini ya ra".


"Iya Bunda". Aku pun memeluk bunda lama. Wanita terhebat yang selalu ada disisiku.

__ADS_1


"Kita pamit dulu ya yah, Bunda. Takut kesorean nanti macet".


Bukankah kau terlalu buru-buru bung? Kau membuatku ku takut. Aku pun dengan cepat memeluk bunda. Setelah kami berpelukan seperti Teletubbies aku pun naim ke dalam mobilnya. Dan pergi menuju tempat tinggal nya. Bunda dan Ayah melambaikan tangan melepas ku pergi.


__ADS_2