Cinta Yang Tumbuh Dalam Kebencian (Love That Grows In Hatred)

Cinta Yang Tumbuh Dalam Kebencian (Love That Grows In Hatred)
Eps 18


__ADS_3

Ayra terus menatap ponselnya dan tersenyum geli. Jun sejak tadi memperhatikan Ayra bukan buku yang ada di pangkuannya.


" Apa yang membuatmu begitu bahagia?" . Tanya Jun setelah beberapa saat dia memperhatikan Ayra tak berhenti tersenyum.


" Tania, dia memintaku menyampaikan maafnya pada Kak Jun". Jawab Ayra tanpa berpaling dari ponselnya.


" Hah, pengganggu itu. Mereka berdua kurasa cocok. Sama-sama membuat orang kesal". Celetuknya kesal.


" Kak Jun masih marah?". Tanya Ayra, dan kini dia memalingkan wajahnya dan menatap Jun.


" Tidak, hanya kesal saja. Dan kenapa dia datang mencarimu? Kau hutang penjelasan pada ku".


" Oh iya. Tania memang selalu mencariku ketika di rumah orangtuanya sedang berselisih. Katanya terlalu menyebalkan melihat dua orang dewasa sedang berdebat. Maka dari itu dia datang mencariku".


" Apa hanya kamu temannya? Sampai sudah malam pun dia datang mencarimu".


" Aku dekat dengannya sudah sangat lama, dan dia hanya menceritakan masalahnya padaku jadi sudah menjadi kebiasaan".


" Apa dia tidak memiliki kekasih?".


" Dia tidak ingin di sibukan dengan urusan seperti itu. Jadi dia selalu menolak laki-laki yang mengajaknya berpacaran".


" Dasar gadis aneh. Ku harap dia menemukan kekasih hati ini. Supaya dia tidak menggangu mu lagi".


" Kenapa seperti itu? Aku dan dia sudah bersahabat sejak lama". Ayra terlihat sedih dengan kata-kata Jun tadi.


" Kau itu milikku sekarang, aku tidak ingin berbagi dirimu dengannya. Dia boleh mencari mu jika benar-benar penting, jika tidak ada hal penting aku tidak akan mengizinkan dia mengambil mu dariku". Ucap Jun tegas.


" Huh, dengan Tania saja cemburu". Celetuk Ayra.


" Apa aku salah? Aku hanya ingin menghabiskan waktuku denganmu tanpa ada gangguan dari siapa pun".


" Terserah Kak Jun saja. Aku mau tidur dulu". Ayra pun merebahkan tubuhnya lalu menarik selimut hingga menutup tubuhnya dan hanya menyisakan kepalanya saja.


" Selamat malam". Ucap Jun pelan di telinga Ayra.


"Hemm". Ayra yang sudah memejamkan matanya hanya menanggapi dengan singkat.


Jun pun melanjutkan bacaannya.


* * *


Ayra bangun pagi seperti biasanya. Dia pun bergegas bangkit dari tidurnya. Namun saat Ayra akan bangun Jun menarik tangannya, dan itu membuat Ayra jatuh di tempat tidur. Di tarik tangan Ayra dan membawanya dalam pelukan Jun. Jun mendekapnya erat dengan mata masih terpejam.


" Masih pagi mau kemana?". Tanya Jun lirih.


Ayra masih terdiam saat Jun memeluknya dari belakang. Jantungnya terus berdegub kencang dan tak karuan.


" Aku harus membuat sarapan". Jawab Ayra gugup.


" Ini hari Minggu, jadi tak perlu buru-buru. Tidur lagi saja". Ucap Jun dengan mata masih terpejam.


Ayra tak berkutik dalam pelukan Jun, karena Jun semakin mengeratkan pelukannya. Jun tersenyum senang di balik leher istrinya.


" Bagaimana kalau kita olah raga saja di taman kota? Pasti ramai di sana". Usul Ayra sembari melepas pelukan Jun. Jun pun tak menahan Ayra.

__ADS_1


" Kalau begitu aku siap-siap lebih dulu". Ayra dengan cepat lari ke kamar mandi.


" Lucu sekali wajahnya ketika sedang malu". Jun tersenyum melihat Ayra yang sedang gugup.


Tak lama Ayra pun keluar dari kamar mandi dengan baju olahraga. Jun terus menatap Ayra dari atas tempat tidur.


" Ayo, aku tunggu 5 menit. Jika tak turun aku pergi sendiri". Setelah mengikat rambut panjangnya Ayra pun turun ke bawah. Jun pun bergegas menuju kamar mandi. Dia tidak ingin di tinggal oleh istrinya.


Di ruang makan Ayra sedang meneguk susu yang baru saja di buatnya. Tak lama Jun pun terlihay menghampiri Ayra.


" Kak Jun mau kopi atau teh?". Tanya Ayra menawarkan.


" Ini saja sepertinya lebih enak". Jun mengambil gelas berisi susu yang ada di tangan Ayra. Jun pun meminum susu yang tinggal setengah gelas. Ayra hanya terdiam melihat tingkah Jun.


Mereka pun bergegas pergi ketaman kota. Setiap hari minggu pasti di sana banyak orang-orang yang berolahraga ataupun hanya sekedar berjalan-jalan pagi.


Ayra dan Jun pun berlari mengitari taman setelah sampai. Namun baru sebentar saja Ayra sudah merasa lelah. Jun tersenyum melihat Ayra yang terduduk di rumput sambil mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.


" Apa kamu ingin istirahat?". Tanya Jun.


" Iya, kalau Kak Jun masih mau lari silahkan. Aku tunggu disini".


" Baiklah. Ingat jangan kemana-mana".


" Baik".


Jun pun melanjutkan larinya dan meninggalkan Ayra yang sedang kelelahan seorang diri. Ayra yang melihat banyak anak-anak sedang bermain sangat senang, Ayra pun menghampiri mereka. Ayra ikut bermain bersama anak-anak kecil itu.


Jun mengedarkan pandangannya mencari Ayra. Karena dia tidak melihat Ayra di tempat tadi dia meninggalkannya. Seketika pandangan mata Jun mengarah pada seseorang yang sedang berlarian.


Ayra berlarian bersama beberapa anak kecil, mereka terlihat sedang bermain gelembung sabun. Ayra berlarian membuat banyak gelembung , dan di kejar-kejar oleh beberapa anak kecil. Anak-anak itu sangat senang dan tertawa gembira.


Tiba-tiba Ayra menghentikan permainannya, dia mengembalikan gelembung pada pemiliknya. Ayra melihat Jun sedang duduk di atas rerumputan. Ayra dengan cepat menghampiri Jun.


" Sudah mainnya?". Tanya Jun saat Ayra sudah berdiri di hadapannya.


" Sudah. Apa Kak Jun sudah menunggu lama?". Tanya Ayra balik sembari duduk di samping Jun. Ayra merasa tak enak karena Jun sudah menunggunya.


" Tidak, aku baru saja duduk. Kau terlihat sangat senang".


" Mereka sangay lucu". Jawab Ayra dengan senyum yang tak kunjung hilang. Matanya pun tak lepas dari anak-anak kecil tadi.


" Apa kau mau?". Tanya Jun dengan senyum jahil.


" Mau apa? Gelembung seperti itu?". Tanya Ayra polos.


" Mau anak maksudku". Ucap Jun dengan senyum lebar nan jahil.


" Aduh mulai lagi anehnya. Ayo ah pulang". Ayra pun bangkit dari duduknya, berjalan meninggalkan Jun.


" Aku serius Ra, aku bisa kasih kamu anak-anak yang lucu. Bahkan lebih lucu dari mereka". Jun terus saja menggoda Ayra, Jun mengikuti Ayra dan terus saja berbicara.


Ayra tak mempedulikan Jun yang terus saja berbicara. Ayra hanya tidak ingin Jun melihat wajahnya yang sudah memerah seperti kepiting rebus.


" Aku serius ra, kapan pun kamu mau aku pasti kasih".

__ADS_1


" Apa sih kak berisik banget". Ayra berjalan semakin cepat, Ayra juga menutup kedua telinganya dengan tangan.


Jun yang berjalan di belakang Ayra masih tersenyum jahil. Ayra dengan cepat masuk ke dalam mobil, Jun pun bergegas masuk pula ke dalam mobil. Jun melihat Ayra yang sedang menatap kaca luar. Wajah Ayra terlihat memerah, senyum Jun tak juga hilang sejak tadi menggoda istrinya.


" Ra, aku serius loh dengan kata-kata ku tadi." Jun masih saja menggoda Ayra.


" Kak apa sih, udah ayo jalankan mobilnya".


" Baiklah, tapi jika kamu berubah pikiran dan tiba-tiba ingin anak yang lucu bilang saja ya ra. Aku pasti kasih".


" Apa sih kak. Masih aja bahas ini". Ayra sedikit kesal dengan Jun yang sejak tadi menggoda nya.


Jun tersenyum puas menjahili Ayra. Jun pun melajukan mobilnya dengan santai. Dia sangay menikmati momen saat ini. Ayra terus menghindari tayapan Jun. Ayra terus saja menatap arah luar jendela, tak menghiraukan Jun yang sesekali melihat ke arahnya.


Mereka pun tak butuh waktu lama untuk sampai di rumah mereka. Jun memarkirkan mobilnya lalu mereka pun jalan bersama tanpa ada pembicaraan.


Terlihat ada seorang wanita yang sedang berdiri di depan pintu. Ayra menatap Jun karena Ayra tau wanita itu tak mingkin mencarinya karena dia tak mengenalnya. Sedangkan Jun masih memasang wajah datarnya.


"Jun". Wanita itu langsung menghampiri Jun dan memeluk lengan tangan Jun.


"Apa yang kau lakukan?". Jun mencoba melepas pelukan tangan wanita di sampingnya itu.


"Kurasa kalian perlu bicara. Aku permisi dulu". Ayra pun mencoba pergi dari situasi canggung ini.


" Tak perlu. Kau tetap disini". Jun menarik tangan Ayra, Jun tak ingin Ayra salah paham.


"Aku tak ingin ikut campur masalah kalian. Jadi aku tak ada urusan di sini. Bicaralah dengannya, setelah itu kak Jun boleh jelaskan padaku". Ucap Ayra dengan nada yang sedikit lirih.


"Baiklah". Jun pun dengan berat melepaskan tangan Ayra.


Ayra pun masuk ke dalam rumah mereka. Sedangkan Jun pergi bersama wanita yang datang menemuinya tadi.


Ayra kini duduk di sofa depan TV, Ayra terdiam dengan pandangan kosong. Mungkin Ayra sedang memikirkan suaminya yang pergi dengan wanita lain.


#AYRA#


Siapa wanita itu? Dia terlihat akrab dengan Kak Jun. Apakah wanita itu mantan kekasihnya? Atau mungkin kekasihnya? Tak tau lah, kepala ku terasa sakit memikirkan nya.


Aku pun bangkit dari duduk, dan mulai mengerjakan pekerjaan rumah yang ada. Setidaknya fikiranku tak melulu tentang Kak Jun dan wanita itu.


"Kau sedang apa?". Suara itu sontak membuatku terkejut. Sejak kapan Kak Jun berada di belakangku? Mengapa aku tak menyadarinya?


"Ku tanya kau sedang apa?". Kak Jun mengulangi pertanyaannya, karena sejak tadi aku masih tetap diam. Terang saja, dia tiba-tiba ada di belakang ku tanpa ku sadari kapan dia pulang.


"Ah? Aku sedang mengepel lantai". Jawabku dengan sedikit terbata.


" Bukankah ada pelan di belakang? Kenapa harus pakai kain seperti itu?".


"Tak apa, kalau pakai kain kaya gini yang kotor lebih terlihat dan mudah untuk di bersihkan".


"Apa kau tak lelah berjongkok sedari tadi? kau tak harus mengerjakan pekerjaan rumah".


"Tak apa, pekerjaan rumah tak memberatkanku".


"Baiklah". Kak Jun pun duduk di kursi depan meja makan. Ku ambilkan segelas air untuknya, dan ku taruh di hadapannya.

__ADS_1


Karena pekerjaan rumahku sudah selesai, aku pun duduk di hadapannya. Aku sedikit pun tak menatapnya, aku hanya menundukkan kepalaku.


"Apa tak ada yang ingin kau tanyakan?". Tanya kak Jun, yang sedari tadi mungkin sudah menatapku.


__ADS_2