Cinta Yang Tumbuh Dalam Kebencian (Love That Grows In Hatred)

Cinta Yang Tumbuh Dalam Kebencian (Love That Grows In Hatred)
Eps 2


__ADS_3

Banyak hal yang berubah dari hidup seorang gadis cantik ini, semenjak kejadian hari itu. Ayra Kaesa Hermawan, dia kini menjadi pendiam. Tak banyak bicara dan semakin tertutup. Sang ibu pun sedikit khawatir pada anak semata wayangnya itu. Sang ibu mencoba menghampiri Ayra yang sedang melamun di dalam kamarnya.


"Kamu sedang memikirkan apa nak? ". Tanya sang ibu.


"Tidak ada bun". Jawab Ayra singkat dengan menampakkan senyum tipis.


"Jika ada yang membebani fikiranmu, kamu bisa cerita dengan bunda atau ayah". Ucap sang ibu dangan mengusap pundak sang ank. Bundanya tau Ayra masih saja tak lepas fikirannya dari kejadian beberapa minggu lalu.


"Bunda gak usah khawatir, aku baik-baik saja". Ayra mencoba menenangkan bundanya, karena dia tau bunda pasti khawatir.


"Ya sudah kalo gitu, bunda keluar dulu. Klo ada apa-apa kamu bisa cerita apapun sama bunda atau ayah ".


"Iya bun, makasih ya bun".


"Iya sayang". Bunda pun keluar dari kamar Ayra dan meninggalkan Ayra.


Ayra kembali berkutat dengan fikirannya sendiri. Terlihat dia menghela nafas berat.


BEBERAPA TAHUN LALU


"Ya, apa kau tak merasa sepi sendirian di sini? ". Tanya seorang Ayra pada seorang laki-laki yang sedang bersamanya.


"Terkadang sendirian itu buat hati dan perasaan membaik. Aku bisa merenung dan melakukan apa yang aku suka tanpa ada pengganggu seperti mu". Ucapnya dengan senyum.


"Apa aku begitu mengganggu mu? Kau tau, hidupmu terlihat membosankan". Ledek Ayra masih dengan wajah cemberut nya.


"Haha kau terus saja bicara dan itu mengganggu ku". Sambung nya sembari tertawa.


"Apa kau tak punya teman? Bukankah biasanya anak orang kaya itu banyak teman dan punya pengikut. "


"Kau terlalu banyak menonton drama, ini dunia nyata kawan. "


"Aku yakin mereka tak tau kau putra pengusaha kaya".


"Biarlah cukup kau saja yang tau".


Ayra asik berbincang dengan Andra di atap sekolahnya. Sebelum akhirnya pulang. Ayra tau kalo Andra adalah anak keluarga Atmajaya dari nama belakangnya. Dan pernah sekali tak sengaja bertemu saat ada acara di rumah Andra, dan saat itu keluarga Ayra di undang karena Ayhnya adalah rekan bisnis Ayahnya Andra.


Sebenarnya di kalangan sekolah mereka tau Andra anak pengusaha, namun sifat pendiam Andra selalu dipandang sinis oleh anak-anak di sekolahnya. Karena di anggap Andra itu sombong, makanya Andra lebih memilih sendiri tak terlalu suka bergaul.

__ADS_1


Ayra mengingat hari dimana dia bersama Andra, berbincangan mereka mungkin tak panjang namun Ayra merasa cukup nyaman dengan Andra. Walau Andra lebih tua satu tahun dari Ayra, namun Ayra masih bisa bersikap apa adanya pada Andra.


"Kau selalu saja menyimpannya sendiri, bebanmu sangat berat. Semoga sekarang kau tenang di sana". Ucap Ayra lirih.


Ayra pun terpejam setelah beberapa saat mengingat Andra.


****


1 TAHUN berlalu sejak kejadian hari itu.


Jun pun sudah kembali setelah menyelesaikan s2 nya. Dan kini dia bekerja diperusahaan ayahnya. Jun memang dipersiapkan ayahnya untuk menggantikannya kelak. Dan kini Jun sudah mulai bekerja diperusahaan milik ayahnya.


Jun terlihat berada di kamar adiknya, semenjak adiknya meninggal Jun kerap kali berada di kamar adiknya. Walau hanya sekedar duduk atau merebahkan diri di kasur. Dia selalu mengingat masa-masa bersama dulu bersama adiknya.


Malam harinya Jun dan ayahnya harus datang menghadiri undangan keluarga rekan bisnisnya yang juga teman ayahnya.


"Apa aku harus ikut? ". Tanya Jun pada ayahnya saat berada di dalam mobil.


"Kita akan berbicara masalah bisnis, kau harus ikut suapaya tau lebih banyak tentang dunia pekerjaan ini". Jelas ayahnya.


"Ya terserah ayah saja lah". Jun pun berhenti bertanya dan sibuk dengan ponselnya.


"Silahkan duduk". Nyonya rumah mempersilahkan mereka duduk.


Dan seseorang pun keluar dengan membawa nampan berisi minuman.


"Silah kan". Anak tuan rumah yang bawakan minuman mempersilahkan tamunya.


"Kamu... " . Jun dan anak tuan rumah yang ternyata Ayra sama-sama terkejut. Nampaknya mereka saling mengenal.


"Kalian saling kenal? ". Tanya bunda pada anaknya.


"Aku pernah gak sengaja ketemu kakak ini waktu lagi liburan di jogja. 2th lalu. Gak nyangka bisa ketemu lg". Cerita Ayra.


"Apa iya, aku sama sekali tak mengingatnya. Yang aku tau, kau orang terakhir yang bersama Andra. Kenapa aku tak menyadari bahwa dia adalah anak pak Hermawan". Jun terus saja berbicara dalam hati.


Jun benar-benar tidak menyangka akan bertemu dengan gadis itu. Ingatannya akan terus pada Andra jika ia mengingat gadis itu.


"Kau masih mengingatnya, bukankah itu waktu yang lama? ". Tanya pak Atmajaya.

__ADS_1


"Anak muda masih memiliki ingatan yang Bagus om". Jawab Ayra dengan senyum.


Ayah Jun pun tertawa mendengar jawaban Ayra, bunda dan ayah pun ikutan tertawa. Ayra tersenyum lebar setelah menjawab pertanyaan ayah Jun.


Sedangkan Jun terlihat masih terdiam datar, entah apa yang ada dalam fikirannya. Apa masih memendam amarah pada Ayra. Jun hanya berkutat dengan fikirannya.


Mereka pun berbincang setelah menyelesaikan makan malam. Ayra yang masih bergabung pun terlihat merasa bosan. Sampai akhirnya Ayra permisi untuk kembali ke kamarnya.


"Maaf ya anak ku selalu merasa bosan jika pembahasan masalah pekerjaan. Dia sama sekali tak tertarik dengam usaha ayahnya". Jelas ayah Ayra dengan senyuman.


"Tidak apa, anak gadis memang seperti itu. Selalu tak tertarik dengan dunia kantor". Ucap ayah Jun dengan senyum menanggapi pak Hermawan.


Dan akhirnya Jun dan Ayahnya pulang setelah berbincang tentang bisnis. Di dalam mobil hanya ada keheningan dari ayah dan anak itu. Sampai akhirnya ayahnya Jun mencoba bersuara dalam keheningan tersebut.


"Apa kau mengenal anak pak Hermawan? ". Tanya ayahnya.


"Bukankah ayah tadi sudah mendengar dari gadis itu. Kenapa masih bertanya padaku". Jawab Jun datar.


"Apa kau tak tertarik padanya? Dia terlihat anak baik dan pintar. Dia juga dari keluarga yang baik". Ayahnya mencoba bertanya dan menanti pendapat Jun.


"Ah, aku tau. Kau tidak bermaksud menjodohkanku dengannya bukan? ". Tanya Jun menyelidik.


"Tidak, hanya jika kau ada perasaan pada gadis itu tak ada salahnya. " ucap sang ayah.


"Makan malam dan bisnis hanya kedok. Aku tau apa yang ayah fikirkan. Aku harap ayah tidak mengusik kehidupan pribadiku. Sudah cukup ayah mengarahkanku pada dunia bisnis ini. Aku tidak mau mengikuti mau ayah yang lain. Jadi aku harap ayah menghormati apa yang menjadi keputusanku". Jun terlihat kesal pada ayahnya.


"Ayah tidak memaksamu. Itu jika kau tertarik, jika tidak ya sudah ayah tak akan memaksa".


Jun memasang wajah kesal, sejak awal dia paham maksud ayahnya. Di kehidupan orang berbisnis pasti tidak akan jauh dari perjodohan bisnis.


Samapai rumah Jun masih kesal, dia menjatuhkan tubuhnya di atas kasur.


"Menikah dengan gadis kecil itu? Tidak akan. Melihat dia mengingatkanku pada Andra. Tapi jika aku menikahinya bukankah aku bisa tau mengapa Andra memutuskan untuk bunuh diri. Dan aku bisa membalas rasa sakit Andra. Aku bisa memanfaatkan momen ini. Ahhh tak tau lah". Jun mulai bimbang dengan keputusannya.


Langkah apa yang akan di ambil Jun? Apakah Jun akan menikahi Ayra demi membalas rasa sakit adiknya? Atau dia lebih memilih membalas dengan cara lain?.


🌸🌸🌸


maaf jika semakin gak jelas ceritanya, semoga masih ada yang suka dan baca. jangan lupa komen dan like nya.. terimakasih. πŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2