Cinta Yang Tumbuh Dalam Kebencian (Love That Grows In Hatred)

Cinta Yang Tumbuh Dalam Kebencian (Love That Grows In Hatred)
Eps 15


__ADS_3

"Hai bro". Sapa Ayra pada seseorang di hadapannya itu.


"Pengantin baru dah masuk aja. Gak honeymoon dulu apa?". Ledek seseorang tersebut, yang masih anteng di atas motornya.


"Resiko punya suami pengusaha muda. Hehe". Jawab Ayra dengan senyum lebarnya.


"Tau deh. Udah yok ah masuk, mobil suami loe masih nangkring di sana. Kayaknya lagi merhatiin kita, takut gue".


"Hahaha cemen loe ah". Ayra pun naik di belakang orang itu, yang ternyata teman Ayra.


Setelah Ayra tak lagi terlihat Jun pun melajukan mobilnya menuju kantor. Terlihat di kantor panji sudah sibuk dengan pekerjaannya. Jun pun tak ingin mengganggu sahabatnya itu, Jun pun langsung masuk ke dalam ruang kerjanya dan bekerja seperti biasanya. Namun entah kenapa dia sama sekali tak bisa fokus pada apa yang ia kerjakan. Jun pun menjauhkan dirinya dari meja kerjanya.


Jun mencoba keluar ruangan dan berjalan menuju ruang kerja Panji yang tak jauh dari ruang kerjanya. Terlihat Panji masih sibuk dengan kerjaannya, namun dia menyadari keberadaan Jun di tempatnya. Panji mencoba memperhatikan sahabatnya itu.


"Wait. Ada apa nih? Kejadian yang sangat langka kau berada di ruangan ku". Ucap Panji yang ke heranan, karena biasanya Panji yang selalu berada di ruang kerja Jun.


"Tak ada, aku hanya bosan saja".


"Wah, si gila kerja sudah mulai bosan dengan kerjaannya". Ledek Panji. "Aku tau kau baru datang, bagaimana bisa kau bosan. Hah? Apa istrimu masih marah?". Tanya Panji.


"Kau fikir saja. Itu ulah mulut siapa? Makanya kalau bicara itu di fikir dulu".


"Aku mana tau istrimu akan datang. Dan aku sudah minta maaf bukan. Apa aku perlu menjelaskan padanya?".


"Tak perlu, aku sudah menjelaskan semuanya. Hanya saja sekarang aku harus ekstra bersabar menghadapinya. Karena hanya bicara seperlunya denganku, bahkan lebih banyak diam. Tapi dengan teman lelakinya dia bisa tertawa sangat lebar".


"Aahh, aku mengerti. Jadi sekarang kau sedanh cemburu? Siapa laki-laki yang bisa membuatnya begitu bahagia dari pada suaminya yang tampan dan sukses ini?". Panji lagi-lagi malah meledek Jun yang sedanh kesal.


"Ya, ini slah siapa? Kalau saja kau tidak membahas masalah itu. Tak mungkin dia akan mendiamiku seperti sekarang". Jun pun terlihat sangat kesal.


"Aku kan sudah bilang, aku tak tau kalau istrimu akan datang. Dan aku sudah meminta maaf, tapi kau masih saja menyalahkan ku".


"Ah, aku tak perduli. Bonus tahun ini aku kurangi".


"Kau tak bisa seperti itu lah. Kau sangat tidak profesional, kenapa harus kau sangkut pautkan dengan pekerjaan dan gajiku". Panji mulai kesal dan bangkit dari duduknya.


"Karena uang segalanya". Jun pun keluar dari ruangan Panji.


"Ya.. Bos.. kau tega sekali". Panji sedikit berteriak, karena Jun sudah berada di balik pintu ruang kerjanya atau mungkin sudah masuk ke ruangannya.


Jun masih duduk terdiam di kursinya, dia bolak balik membuka ponselnya namun tak ada satupun notifikasi. Perasaan kesal itu muncul sejak dia melihat senyum Ayra yang sangat lepas di hadapan teman laki-lakinya.


Sebenarnya perasaan Jun sudah mulai berubah, kebencian yang dia pendam sudah mulai terkikis sejak dia melihat Ayra ketakutan diruang kerjanya. Lalu perasaan itu semakin tak di mengerti oleh Jun saat dia membaca buku Andra.


Entah mengapa Jun merasa senang saat tau Ayra menyukainya sejak lama. Rasa senang itu pun semakin menggugurkan kebenciannya beberapa tahun lalu. Namun kini dia tak tau harus berbuat apa, karena Ayra masih saja mendiaminya. Dia tak tau apa Ayra sangay membencinya saat ini atau sudah memaafkan nya. Karena sikap Ayra masih tak bisa ia pahami.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu terdengar di ruang kerja Jun. Jun pun mempersilahkan masuk. Ternyata Ayah nya sendiri yang datang ke ruangannya. Pria paruh baya itu masuk dan duduk di hadapan anaknya.


"Kau sudah pindah?". Tanya ayahnya.


"Sudah kemarin".


"Di rumah lamamu?".


"Dimana lagi? Apa aku punya rumah yang lain?".


"Carilah rumah yang lebih luas. Agar Ayra lebih nyaman hidup bersama mu". Saran ayahnya.


"Kurasa dia baik-baik, jika pun tidak dia pasti akan menunjukkan sikap tak sukanya".


"Terserah kau saja kalau begitu, yang pasti kau harus ingat perlakukan dia dengan baik. Dan berikan apapun yang dia butuhkan".


"Hhmmm". Hanya itu jawaban dari Jun. Ayah Jun pun keluar dari ruang kerja Jun.


"Beli rumah baru? Aku sudah siap kan. Hanya saja tidak untuk pindah saa ini. Jika pindah sekarang pasti dia akan meminta kamar sendiri. Oh tidak bisa, itu tidak akan terjadi". Jun berbicara dalam hatinya sendiri. Sampai tak menyadari jika ayahnya sudah keluar dari ruangannya.

__ADS_1


****


Ayra pulang ke rumah saat sore menjelang. setelah tadi dia di antar Satya, teman satu kampusnya yang tadi membuat Jun kalang kabut.


"Kak Jun sudah di rumah?". Tanya Ayra saat melihat Jun sedang membaca di sofa.


"Sudah sejak tadi. Kebetulan sudah tidak ada kerjaan jadi aku pulang. Kau pulang naik apa? Apa sudah makan?". Tanya Jun balik.


"Aku tadi di antar teman ku. Dan juga aku sudah makan tadi sebelum pulang. Apa kak Jun sudah makan?". Tanya Ayra sembari duduk tak jauh dari posisi Jun duduk.


" Belum, aku fikir kita bisa makan bersama. Tapi tak apa, nanti aku pesan lewat aplikasi".


"Maaf aku tak tau kak Jun pulang sore. Jadi tadi aku makan di luar".


"Tak perlu minta maaf. Aku juga yang salah, karena tak bertanya dulu padamu. Padahal kau sudah bilang akan mengerjakan tugas bersama temanmu".


" Kalau begitu biar aku buat kan makan. Tunggu sebentar". Ayra pun bergegas menuju dapur.


"Tak usah ra, nanti aku beli saja. Kau pasti capek, istirahat saja". Jun mencoba mencegah Ayra membuka kulkas.


"Tak apa, aku hanya akan buat makanan yang mudah. Kak Jun duduk saja, oke". Ayra pun menuntun Jun ke meja makan.


"Kau yakin tak capek? Aku sungguh tak apa, nanti aku bisa beli di luar".


"Banyak bahan makanan di kulkas, sayang jika tidak di pakai".


"Baiklah, kali ini aku menurut pada istri ku". Jun pun duduk dengan manis dan tenang. Namun matanya terus saja mengikuti pergerakan Ayra. Dan tak sadar Jun tersenyum begitu saja saat memperhatikan Ayra memasak.


"Kenapa wanita terlihat jauh lebih cantik ketika sedang memasak".


"Apa kau pernah melihat wanita memasak selain aku?". Tanya Ayra tanpa menoleh ke arah Jun yang duduk di belakang nya.


"Pernah". Jawaban Jun membuat Ayra menoleh padanya dan menghentikan sejenak memasaknya. Dan saat melihat Jun tersenyum Ayra pun melanjutkan nya kembali.


"Tak perlu cemburu, wanita itu ibuku". Ucap Jun dengan tersenyum lebar. Jun puas melihat reaksi Ayra yang spontan itu.


"Hhmmm baiklah jika tidak cemburu. Aku tidak memaksa". Jun merasa sangat senang dengan apa yang telah dia lakukan ke Ayra, sedang Ayra masih memasang wajah kesal di depan masakannya.


"Silahkan tuan, semoga anda suka dengan masakan saya". Ayra menyerahkan piring berisi lauk yang ia masak tadi. Lalu dia mengambilkan nasi untuk Jun. Dan masih saja menatap Ayra.


"Bisakah anda tidak menatapku tuan? Sungguh itu sangat mengganggu ku".


"Aku hanya menatap mu. Apa aku salah memperhatikan istriku sendiri?".


"Terserah saja. Aku pamit ke kamar dulu". Ayra pun melangkahkan kakinya untuk meninggalkan dapur.


"Tak bisakah kau menemaniku makan?". Pinta Jun pada Ayra.


Ayra pun mengehentikan langkahnya, lalu memutar balik badannya dan berjalan menuju meja makan yang baru saja ia tinggal kan. Ayra menarik kursi di hadapan Jun, dan duduk menemani Jun yang makan dengan sangat riang gembira.


"Bagaimana harimu di kampus?". Tanya Jun di sela-sela suapannya.


"Biasa saja, tak ada yang istimewa".


"Benarkah? Tapi ku lihat kau nampak bahagia saat bertemu dengan temanmu di depan gerbang kampus". Jun mengungkit apa yang dilihat nya tadi pagi.


"Apa anda memperhatikan kami? Pantas saja temanku merasa tak nyaman".


"Aku hanya tak sengaja melihatnya".


"Oh."


"Baiklah aku sudah selesai. Kau bisa istirahat. Terimakasih untuk makanannya".


"Biar aku saja yang mencuci piring". Ayra menghentikan Jun yang akan menaruh piring kotor di tempat cuci piring.


"Tidak usah. Ini biar aku yang selesai kan. Aku tidak ingin membuat istri ku lelah".

__ADS_1


"Apa anda yaki?". Tanya Ayra memastikan.


"Iya. Kau istirahat saja".


"Baiklah". Ayra pun berjalan menuju kamar nya.


Setelah selesai membereskan dapur dan duduk sejenak, Jun pun berencana untuk ke kamar mengambil tab miliknya. Di kamar terlihat ayra sedang duduk dan membaca novel di atas tempat tidur.


"Kau belum tidur?". Tanya Jun.


"Sebentar lagi, apa ada yang anda butuhkan?". Tanya Ayra saat melihat Jun sedanh membuka lemari.


"Tidak, hanya ingin mengambil selimut".


"Apa anda akan tidur di sofa lagi?". Tanya Ayra, dan pertanyaan Ayra membuat langkah kaki Jun terhenti.


"Pasti sangat tidak nyaman. Anda bisa tidur disini, kasur ini juga terlalu besar untuk aku tempati sendiri".


Apa ini? Apakah ini sebuah lampu hijau? Ayra mempersilakan Jun tidur bersama dengannya. Jun masih terdiam mematung, dia hanya takut apa yang di dengarnya salah.


"Aku hanya tidak ingin kau merasa tak nyaman. Jadi aku tak masalah tidur di bawah". Jawab Jun setelah menyadarkan dirinya dari lamunan.


"Sungguh aku tak apa. Anda pasti tak nyaman tidur di sofa".


"Baiklah, nanti aku ke atas setelah menyelesaikan pekerjaan ku".


"Hhmm". Terlihat Ayra sedikit menampakkan senyumnya, walau hanya sedikit sekali.


"Oya, aku tak ingin kau memanggilku Anda apalagi Tuan. Aku hanya ingin di panggil kak atau mas. Sayang juga boleh". Protes Jun dengam senyum lebar. "Jangan terlalu formal ok".


Ayra hanya mengangguk, dan setelah mendapat jawaban dari Ayra Jun pun menaruh kembali selimut yang tadi di ambilnya ke tempat semula. Lalu Jun turun ke bawah untuk melanjutkan pekerjaannya.


Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 10 malam. Namun Jun masih saja di lantai bawah. Apakah dia lupa kalau dia berjanji pada Ayra akan tidur di kamar?.


Ayra yang hendak ke dapur mengambil air minum melihat Jun masih berkutat dengan laptopnya. Ayra mencoba menghampiri Jun yang masih serius menatap layar laptopnya.


"Belum selesai?". Tanya ayra.


"Iya. Masih banyak file yang harus diselesaikan. Karena untuk rapat besok pagi". Jawabnya tanpa menatap Ayra.


"Mau aku buatkan kopi? Atau aku siapkan makanan?". Tanya Ayra lagi. Sontak pertanyaan itu membuat jari-jari Jun yang sejak tadi menari di atas laptop berhenti. Dia pun menatap istrinya.


"Sebenarnya aku tak ingin merepotkan mu. Tapi kopi boleh juga. He". Jawabnya dengan senyum kuda. Jun memperhatikan Ayra yang berjalan ke dapur, dia sangat senang atas perhatian yang Ayra berikan padanya.


Tak butuh waktu lama, Ayra pun menaruh secangkir kopi dan sepiring makanan ringan di meja.


"Terimakasih istriku". Ucap Jun dengan senyum yang sejak tadi tak hilang dari bibirnya.


"Sama-sama, kalau begitu aku tidur duluan ya kak".


"Oke. Selamat malam".


"Malam. Jangan terlalu capek, aku tak mau mengurus orang sakit".


"Baik istri ku". Meski Ayra berbicara dengan nada yang ketus, namun Jun tetap memancarkan senyum. Dan dia terus saja menggoda istrinya.


Ayra yang terlihat wajahnya memerah dengan cepat meninggalkan Jun pergi menuju kamarnya. Sedangkan Jun melanjutkan pekerjaannya agar cepat ia selesai kan. Namun hingga larut Jun masih berada di depan laptopnya.


Sampai waktu menunjukkan pukul 03.00 dini hari, Jun pun menyelesaikan juga pekerjaannya. Jun pun meninggalkan laptop di meja lalu berjalan ke kamarnya.


Terlihat Ayra sedang tertidur dengan damai. Dan seperti yang Jun tau Ayra tak bisa tidur dengan lampu padam. Jadi kamar selalu terang benerang semenjak ada Ayra di rumahnya.


Jun masih memandang Ayra yang sedang tertidur dengan pulas.


"Terimakasih, meski kau sangat membenciku tapi kau masih mau berada di sisi ku. Terimakasih juga atas segala perhatian yang kau berikan. Aku senang dan bahagia. Aku berharap kau akan selalu berada di sisiku. Maaf aku telah menyakiti mu dan mengecewakanmu".


Jun pun dengan lembut mengecup kening Ayra, Ayra masih tidur dengan damai meski Jun menyentuhnya. Jun pun merebahkan tubuhnya dan mulai tertidur.

__ADS_1


__ADS_2