
Ayra prov
Pagi ini aku harus bangun pagi, karena harus menyiapkan sarapan dan juga pergi ke kampus. Aku melihat kak Jun yang tertidur sangat pulas. Dia terlihat sangat tampan seperti biasa.
Maafkan aku atas sikapku, aku tidak membencimu hanya saja aku sedang menyembuhkan rasa kecewaku padamu. Terimakasih karena masih sangat sabar menghadapiku.
Setelah berbicara sendiri di hadapannya yang tertidur, aku pun bergegas ke dapur untuk memasak sebelum pemilik rumah bangun. Ku lihat bahan makanan sudah ada yang habis. Aku pun membuat makanan dengan bahan-bahan yang masih ada. Dan tak butuh waktu lama masakanku pun selesai.
Semabari menunggu nasi matang aku pun kembali ke tempat cuci baju. Karena tadi aku meninggalkan cucianku. Karena mencucinya dengan mesin jadi tidak repot dan bisa di tinggal. Aku pun menjemur baju yang sudah selesai di cuci. Dan setelah semua selesai aku pun kembali ke kamar.
Aku melihat kak Jun masih tertidur,mungkin semalam dia tidur larut malam. Aku pun tak membangunkan nya, aku dengan cepat ke kamar mandi untuk bersiap.
***
Ayra keluar dari kamar mandi dengan baju sudah rapih. Sedangkan Jun terlihat sudah bangun, dan sedang duduk bersandar di tempat tidur dengan memainkan ponselnya. Dan dengan cepat ia meletakkan ponselnya saat melihat Ayra di hadapannya.
"Sudah bangun?". Tanya Ayra.
"Hhmm". Jawab Jun dengan anggukan.
"Mau mandi dulu atau sarapan dulu?".
"Mandi dulu saja".
"Baiklah, aku tunggu di bawah". Ayra pun berjalan menuruni anak tangga.
"Kau sangat berbeda sekarang, kau bersikap sangat dewasa saat bersamaku. Padahal dulu kau terlihat seperti anak manja. Kini kau bisa mengurus suami seperti ku". Jun berbicara seorang diri. Dia merasa Ayra sekarang menjadi gadis yang dewasa. Dia tak melihat Ayra yang seenaknya, dia seperti dua orang yang berbeda.
Ayra dengan sabar menunggu Jun, dia menyalakan musik di ponselnya lalu bernyanyi dengan suara yang tidak keras. Dari tangga Jun samar-samar mendengar ada suara orang bernyanyi, lalu dia berhenti dan mengintip sejenak. Dia melihat Ayra sedang bernyanyi pelan sembari menggoyang-goyangkan kedua tangannya.
"Ini lah kamu ra, sisi kekanak-kanakan mu muncul saat tak ada aku. Andai kau bisa bersikap apa adanya di depanku, tanpa harus ada yang kau tahan dan sembunyikan". Jun berbicara dalam hatinya. Lalu Jun pun turun berlahan dengan tak henti memperhatikan Ayra.
Ayra yang mendengar langkah Jun dengan cepat mematikan ponselnya. Jun hanya tersenyum memergoki Ayra yang gelagapan.
"Wah. Kau menyiapkan ini semua? Jam berapa kau bangun? Ku lihat cucian juga sudah kosong".
"Aku ada kuliah pagi jadi pekerjaan yang bisa ku kerjakan sekarang ya aku kerjakan. Maaf lauknya hanya ini saja, soalnya ada beberapa bahan yang sudah habis".
"Tak apa, aku berterima kasih kau sudah mau menyiapkan ini semua. Soal pekerjaan jangan jadikan bebanmu ra, nanti ada bibi yang kesini".
"Tak apa, baju juga kan pake mesin nyuci nya jadi gak akan capek".
"Baiklah. Asal kau tak lelah aku tak akan melarang. Soal belanja, nanti biar aku saja. Kalau kau ada yang di butuhkan tulis saja".
"Bagaimana kalau aku saja yang belanja? Aku hari ini pulang siang. Jadi tidak menggangu kak Jun bekerja".
"Baiklah jika itu maumu. Nanti sore kalau pekerjaan ku sudah selesai aku akan menjemputmu. Gunakan ini". Jun mengeluarkan kartu dari dompetnya dan menyerahkannya pada Ayra.
"Itu untuk belanja bulanan, dan segala kebutuhan mu. Kau bisa belanja keperluan kuliah dan membeli pakaian atau apapun yang kau butuhkam dan kau inginkan. Dan juga untuk biaya kuliahmu, semua bisa kau gunakan. Jadi mulai hari ini masalah kuliah kau tak perlu meminta pada orang tuamu. Sekarang semua menjadi tanggung jawabku".
"Terimakasih banyak kak. Ini aku terima". Ayra memasukan kartu itu ke dalam dompetnya, dan melanjutkan sarapan.
Setelah selesai makan Jun mengantar Ayra ke kampusnya. Dan seperti biasa, Ayra sudah di tunggu oleh teman laki-lakinya.
"Kamu bareng temen kamu lagi ra?". Tanya Jun saat melihat teman Ayra sudah berada di tempat yang sama saat dia menunggu Ayra kemarin.
"Iya. Aku males jalan ke dalam sendiri, Lusi sama Tania hari ini kelasnya siang jadi aku bareng satya. Kak Jun gak marah kan?". Tanya Ayra memastikan, karena wajah Jun sudah berubah menjadi dingin.
"Kalau boleh jujur aku kesel. Kenapa kamu gak minta aku anter sampai dalem? Apa gunanya punya suami yang punya mobil kalau nganterin istrinya hanya sampai pinggir jalan". Jun masih memasang wajah datarnya.
"Ya sudah. Mulai besok kak Jun bisa nganterin aku Sampai dalam. Tapi hari ini aku bareng temen aku, kasihan dia udah nunggu dari tadi".
"Oke". Wajah Jun langsung berubah, senyumnya terlihat sangat jelas.
Ayra pun mencium punggung tangan suaminya sebelum dia turun dari mobil Jun. Sedangkan Jun masih memperhatikan Ayra dari dalam mobilnya. Sampai Ayra masuk dan tak terlihat, Jun baru melajukan mobilnya menuju kantor.
Ayra masih tertawa mengingat kejadian tadi, satya sampai terheran-heran melihat tingkah Ayra hari ini.
__ADS_1
"Loe kenapa sih Ra? Dari tadi cengar-cengir, udah gila loe ya?".
"Lucu aja sama suami gue. Dia kesel gue boncengan mulu sama lau".
"Ya iyalah cumi. Suami mana yang gak kesel liat istrinya boncengan sama laki-laki lain setiap hari. Itu tandanya suami loe normal cumi".
"Kalau orang yang suka sama kita gitu gak sih?".
"Nih bocah pake di tanya, kalau dia gak suka sama loe gak bakal dia marah dan nikahin cewek kayak loe".
"Loe bener juga, hehe. Oya besok loe gak usah nungguin gue".
"Ya iyalah, libur ngapain gue ke kampus".
"Emang iya? Dalam rangka apa sekolah libur?". Tanya Ayra bingung.
"Dalam rangka hari Minggu. Loe gak liat kalender? Sekarang kan hari sabtu".
"Enggak, tiba-tiba lupa hari gue".
"Hah?! Dasar marpuah". Satya menepok jidatnya, tak mengerti dengan Ayra.
Ayra memutuskan untuk ke swalayan sepulang dari kampus, karena kalau pulang dulu pasti males keluar lagi. Dan Lusi ikut dengan Ayra, dia ngotot minta ikut jadi Ayra membawanya.
Ayra belanja lebih cepat, karena di bantu lusi. Setelah segala kebutuhan sudah masuk dalam troli belanjaan, Ayra dan Lusi pun pergi menuju kasir.
"Dapet jatah bulanan berapa ra dari pak suami?". Tanya Lusi mulai kepo.
"Gak tau. Dia cuma bilang apa yang aku butuhkan tinggal pake ini aja". Ayra menunjukkan kartu di tangannya. "Termasuk biaya kuliah dan apapun yang aku mau".
"Enak banget sih ra. Kan jadi pengin".
"Kapain pengin, kamu kan punya kartu tanpa limit".
"Pengin nikah Ra bukan kartu ke gitu".
"Belum terlihat hilalnya. Hehe".
"Hhmmm".
"Ayra". Seseorang memanggil Ayra dengan nada yang sedikit tinggi. Membuat Ayra dan Lusi menoleh bersamaan.
"Kak Ghibran". Ayra sedikit terkejut melihat Ghibran juga ada disana.
"Dokter". Lusi pun terkejut saat melihat Ghibran.
"Oh halo". Sapa Ghibran pada Lusi.
"Kamu kenal kak Ghibran lus?". Tanya Ayra.
"Dia yang aku ceritakan waktu itu". Bisik Lusi di telinga Ayra.
FLASHBACK
"Dari mana aja sih Lus? Sampe bolos segala?". Tanya Tania saat Lusi baru datang dan duduk bergabung dengan mereka.
"Tau nih, aku kan jadi nebeng satya". Protes Ayra.
"Keponakan ku sakit, jadi pagi-pagi harus nganter kakak ku bawa anaknya ke rumah sakit".
"Oh.. tapi kok muka berbunga-bunga gitu? Habis menang lotre ya?". Tanya satya yang masih mengunyah bakso di mulut nya.
"Hehe hilal jodoh nampak terlihat. Aku bertemu dokter tampan, dia masih muda. Ya ampun benar-benar terlihat dewasa dan penyayang anak". Lusi terus saja tersenyum menceritakan dokter yang di temuinya itu.
"Woi, jangan kebanyakan mengkhayal. Kamu kan tak tau apa dia sudah punya pacar atau bahkan sudah menikah. Apalagi kalau dia tampan".
"Bisa jadi". Lusi mulai terdiam dan memikirkan ucapan Tania.
__ADS_1
"Tak apa lus, jodoh kan tak akan kemana. Kalau memang dia jodohmu pasti akan ada jalannya". Ayra mencoba menghibur Lusi dan mengembalikan moodnya.
FLASH OFF
"Kalian sudah mau pulang?". Tanya Ghibran.
"Udah selesai sih belanjanya, cuma kita masih mau ngopi-ngopi dulu. Iya kan ra?". Lusi menyenggol tangan Ayra, dan Ayra hanya melotot pada Lusi. Ayra takut Jun nanti mencarinya, karena Ayra hanya izin untuk belanja.
"Apa boleh gabung? Kebetulan aku juga ingin kopi".
"Boleh dong. Kalau gitu ayo kita cari cafe deket sini". Lusi sangat bersemangat.
Ayra yang tak enak hati pun akhirnya ikut, Ayra tau Lusi suka dengan Ghibran jadi dia tidak ingin membuat Lusi sedih. Mereka pun pergi ke cafe yang tak jauh dari swalayan. Karena di dalam penuh, mereka pun duduk di luar dan sekalian menikmati angin sore.
Drrttt ddrrrttt
Ponsel Ayra berdering, saat melihat siapa yang menelepon nya ayra dengan cepat mengangkatnya.
"Sudah selesai ra?". Tanya seseorang dari balik telpon.
"Sudah, sekarang masih sama teman di cafe".
"Teman laki-laki atau perempuan?".
"Aku bersama Lusi dan...." Kalimatnya terpotong.
"Sejak kapan Lusi berubah menjadi laki-laki ra?". Seseorang yang menelepon nya kini sudah berada di hadapannya.
"Maaf tuan, saya rasa anda sudah tau jika Ayra sudah menikah. Dan tidak baik jika kalian hanya berduaan, itu bisa menimbulkan fitnah".
"Kak...". Ayra mencoba menghentikan Jun berbicara, karena tak enak dengan Ghibran.
"Kenapa tak jujur saja ra?". Tanya Jun pada Ayra.
"Aku jujur, aku memang bersama lusi dan kak Ghibran".
"Ok baiklah, apa kita bisa pulang sekarang?". Tanya Jun menatap Ayra.
"Anda tampak sangat cemburu tuan. Saya dan istri anda berteman baik, saya kira anda sudah tau itu. Tak baik jika anda mengekang istri anda".
"Saya tidak pernah mengekang istri saya. Saya hanya tidak suka jika dia hanya berdua dengan laki-laki yang saya tidak tahu".
"Kalau begitu anda bisa mengenal saya. Dan anda juga bisa berteman dengan saya seperti istri anda".
"Ada apa ra?". Tanta Lusi bingung. Kedatangan Lusi membuat kedua laki-laki itu menoleh.
"Tak ada apa-apa. Hanya ada 2 ekor kucing yang sedang bertengkar". Jawab Ayra menahan tawa.
"Kucing?". Jun dan Ghibran bersamaan merespon.
"Kak Jun lihat Lusi? Aku tidak berbohong bukan?".
"Ok. Maaf aku salah telah berprasangka buruk".
"Itu tanda anda tidak percaya dengan istri anda tuan".
"Saya tidak meminta pendapat anda. Dan jangan campuri urusan rumah tangga orang". Jun dan Ghibran masih saja saling sindir.
"Ya sudah, aku dan kak Jun pulang dulu. Kak Ghibran aku nitip Lusi ya, tadi kita gak bawa kendaraan".
"Baik ra".
"Kita duluan ya lus".
"Ok ra. Bye".
"Bye".
__ADS_1
Ayra pun masuk ke dalam mobil Jun, terlihat mereka masih saling diam. Jun mungkin tak enak karena berprasangka buruk pada ayra. Sedangkan Ayra masih berusaha menahan tawanya. Karena dia merasa tingkah Jun lucu, sifat kekanak-kanakan nya terlihat. Bahkan di umurnya yang sudah dewasa, dia masih bersikap seperti itu.