
Ayra tengah mengedarkan pandangannya ke seluruh rumah. Jun membawa Ayra ke tempat tinggalnya. Jun masih sibuk dengan koper-koper yang ia bawa.
"Maaf ya ra, tempat tinggal ku kecil. Tapi ini hasil jarih payahku sendiri. Karena kamu tanggung jawab ku, jadi aku tidak ingin merepotkan orang tua kita. Nanti kalau rumah yang aku siapkan sudah selesai kita bisa pindah". Jelas Jun.
"Tidak, ini cukup besar untuk kita berdua".
Seperti ini lah kira-kira tempat tinggal mereka.
"Oya ra, kamu gak usah sungkan. Rumah ini juga rumah kamu, kamu juga boleh pake dapur. Kalau masalah bersih-bersih rumah nanti setiap hari akan ada mbok yang datang. Jadi kamu tak perlu memikirkan pekerjaan rumah, cukup fokus belajar saja". Ucap Jun dengan terengah-engah karena dia baru saja selesai membawa koper terakhir ke atas. Sedang Ayra duduk di atas tempat tidur, karena Jun tak mengizinkan Ayra mengangkat koper-koper miliknya ke atas.
"Ok". Jawab Ayra singkat. " Apa ada barang yang tak boleh aku sentuh atau aku gunakan?". Lanjut Ayra bertanya.
"Tak ada, semua yang aku punya di dalam rumah ini semuanya juga milikmu. Istirahat lah, nanti semua ini biar aku bereskan".
"Biar bajuku aku saja yang bereskan. Aku bisa taruh di mana baju-bajuku?". Tanya Ayra yang sudah bangkit dari duduknya.
"Kamu bisa pakai yang sebelah kanan. Itu bisa kamu pakai, aku sudah kosongkan".
Ayra pun bergegas membereskan baju-baju miliknya, memasukan ke dalam lemari. Sedangkan Jun turun ke bawah, membereskan buku-buku kuliah Ayra di meja kerjanya.
Setelah selesai membereskan barang di bawah, Jun pun naik ke kamar. Dan terlihat Ayra memejamkan matanya di atas tempat tidur, Jun pun mengambil selimut di ujung tempat tidur nya lalu menyelimuti Ayra.
Jun pun kembali turun dan pergi ke dapur, Jun membuka kulkas dan melihat isi kulkas. Setelah memastikan ada yang bisa ia masak, Jun pun mulai menyiapkan bahan-bahan untuk memasak. Karena Jun tak pandai memasak, Jun hanya membuat nasi goreng dan telor mata sapi.
Ayra terlihat berjalan ke arah dapur untuk mengambil segelas air, wajahnya pun masih tampak berantakan karena dia baru saja bangun dari tidurnya. Jun hanya tersenyum melihat Ayra yang sedang meneguk air minum. Jun pun menghampiri Ayra.
"Kamu sudah bangun? Apa kamu lapar? Aku sudah buatkan nasi goreng". Jun bertanya sembari menarik karet gelang di tangan Ayra, lalu mengikat rambut panjang Ayra yang terurai. Ayra yang terkejut hanya mampu terdiam mematung.
"Pasti sudah lapar kan? Ayo duduk lalu makan. Ok". Jun mengarahkan Ayra ke kursi, lalu mendudukkan Ayra. "Jika ada yang kurang pas bilang saja". Jun menyodorkan piring berisi nasi goreng yang di buatnya tadi, tak lupa di atasnya ia beri telor mata sapi.
"Terimakasih". Ucap Ayra setelah menerima sepasang sendok yang Jun berikan.
Ayra pun menyendok nasi di hadapannya, Jun yang masih berdiri di hadapan Ayra terus saja menatap Ayra dengan senyum mengembang. Ayra yang merasa sedang di perhatikan langsung melirik dan menatap Jun dengan tatapan tajam penuh rasa kesal. Jun yang di tatapan seperti itu justru tersenyum makin lebar. Ayra pun melanjutkan makannya setelah melihat Jun sudah tak lagi menatapnya.
Setelah menyelesaikan makannya Ayra membawa piring kotornya ke tempat cuci piring. Dan Ayra pun hendak mencuci piring di tangannya. Namun Jun tiba-tiba dengan cepat mencegah Ayra.
"Gak usah, nanti aku aja". Cegah Jun.
"Biar aku aja yang cuci piringnya, tadi kan kak Jun udah masak buat aku. Jadi biarin ini aku yang ngerjain". Ayra sedikit menekan kan kata-katanya.:
"Ok baiklah". Jun pun menyerah, Jun tidak ingin berdebat hanya untuk masalah cuci piring. Jun duduk di meja makan dan terus saja memandangi Ayra dari belakang.
Jun prov
Sejak kejadian kemarin kamu sangat diam ra, aku tak tau harus berbuat apa untuk bisa mengembalikan kamu ke mode awal. Awal saat aku yang penuh kebencian ini bertemu denganmu. Gadis galak yang terkadang marah-marah, dan banyak bicara. Kini kamu lebih banyak diam dan hanya berbicara seperlunya saja. Andai aku tak sebodoh itu, aku tak akan mungkin mengubah mu menjadi seperti ini.
"Kenapa?". Pertanyaan itu membuyarkan lamunanku.
"Tak ada, besok kuliah jam berapa?". Tanyaku untuk memulai obrolan.
"Jam 7 pagi". Jawabnya jelas dan padat.
__ADS_1
"Biar aku yang anter ya?". Tawarku, siapa tau dia bersedia. Setidaknya aku bisa mulai dekat nya.
"Ok". Jawabnya singkat.
Aku senang karena dia tak menolak ku untuk mengantarnya. Setidaknya ini awal yang baik untuk ku memperbaiki hubungan dengan Ayra.
"Kak, aku pake kamar mandi duluan ya? Gak apa-apa kan?". Tanya Ayra, terlihat dia masih sangat sungkan denganku.
"Ok".
Karena tak tau harus berbuat apa, aku pun mengambil buku bacaanku di rak. Aku membaca di sofa depan Tv, jam sudah menunjukkan pukul 7:30 malam. Aku mulai membuka buku ku dan membacanya.
"Kak. Kak Jun". Suara pelan itu terdengar sangat lembut. Aku mencoba membuka mataku berlahan, dan aku terkejut saat melihat wajah Ayra tepat di hadapanku.
Aku tak tau sejak kapan aku mulai tertidur, setahu ku tadi aku sedang membaca buku. Ku lihat buku bacaanku bahkan sudah ada di lantai. Dan aku terbaring di sofa. Aku pun memandang gadis di hadapanku itu, dia mengerutkan dahinya.
"Ayo bangun, mandi dulu". Perintah nya. Ayra pun bangkit dari duduk jongkoknya. Tanpa sadar aku menariknya, dan itu membuatnya kembali ke posisi awal tadi dia duduk.
"5 menit lagi". Aku tak melepaskan pandanganku dari wajahnya.
"Udah malem nanti bisa sakit kalo kemaleman mandinya". Ayra mencoba bangkit lagi, namun lagi-lagi aki menariknya.
"Ada apa sih?". Tanyanya dengan nada kesal, karena aku mencoba menahannya.
"Hanya ingin memandang istriku, apakah salah?". Jawabku dengan senyum lebar.
"Mau ke lempar dengan bantal? Cepat bangun". Wajahnya terlihay sangat lucu saat marah, matanya hampir saja keluar. Aku lagi dan lagi hanya bisa tersenyum. Aku baru menyadari ternyata gadis di hadapanku ini sangat lucu. Ya ampun, apa ini? Kenapa aku sebahagia ini saat bersamanya?
"Gak usah senyam senyum, terserah ya mau bangun atau tidur lagi. Tapi kalau nanti sakit aku gak mau repot ngurusin kamu". Dia terlihat kesal, lalu berjalan menuju kamar.
"Baju jangan lupa, dan jangan pura-pura lupa". Aku pun memutar balik dan menghampirinya yang ternyata sedang menyiapkan baju ganti untukku.
"Terimakasih istriku". Ucapku dengan senyum dan tak lupa aku menjahilinya dengan mencubit pipinya.
"Ih rese banget sih. Udah sana mandi". Dia mendorongku dari belakang menuju kamar mandi.
"Ok ok". Dengan senyum yang masih mengembang di bibirku aku masuk ke kamar mandi.
Terlihat dia menahan kesal karena kejahilan ku. Aku hanya senang melihatnya ketika sedang kesal seperti tadi. Dia terlihat sangat lucu ketika sedang kesal.
Setelah menyelesaikan mandi aku pun keluar, dan terlihat Ayra sudah tertidur. Aku pun turun ke lantai bawah untuk melanjutkan pekerjaan yang ku tinggalkan hari ini. Dan harus menyelesaikannya sebelum besok pagi.
****
Tengah malam Ayra terbangun, dia pun turun dari kamar nya untuk mengambil air minum. Ayra pun melihat Jun tertidur di sofa. Terlihat lampu laptopnya masih menyala. Ayra pun balik lagi ke atas dan mengambil selimut.
Ayra pun menyelimuti Jun yang sedang tertidur, dan membereskan gelas bekas kopi yang tadi Jun minum. Dan Ayra pun pergi menuju dapur seperti tujuan awalnya.
Dan ternyata Jun terbangun, namun Ayra tak menyadarinya. Jun tersenyum melihat Ayra yang sedang berjalan di tangga menuju kamarnya. Setelah itu Jun pun benar-benar tertidur dengan pulas.
Pagi harinya dapur sudah terlihat sangat sibuk. Ayra sedang menyiapkan sarapan pagi, Jun yang mendengar ada suara di dapur pun langsung bangun. Jun mencoba melihat apa yang sedang terjadi di dapur. Jun mengedarkan pandangannya dan melihat Ayra sedang memasak.
Jun duduk di meja makan dan terus memandang istrinya yanh sedang sibuk dengan masakannya. Ayra pun menyadari keberadaan Jun di meja makan.
__ADS_1
"Tuan, tak bisakah anda berhenti menatapku?". Pintanya saat dia menyadari Jun terus saja menatapnya.
"Bukankah tak baik menyia-nyiakan pemandangan indah di depan mata?". Ucap Jun dengan senyum lebarnya.
"Lebih baik anda sekarang pergi mandi, karena semalam anda berjanji akan mengantarkanku. Aku tak mau jika nanti aku terlambat".
"Baiklah". Jun pun menurut dan dengan cepat berjalan menuju kamar mandi.
Ayra menata meja setelah selesai memasak. Di meja makan sudah tersedia sandwich, omelette dan salad buah. Tak lupa Ayra menyediakan segelas teh manis panas. Sedangkan untuknya segelas susu dengan ukuran gelas sedang.
Tak lama Jun turun dari kamarnya, kini dia terlihat sudah rapih dengan baju kerjanya. Ayra sempat melihatnya sekilas, lalu dia melanjutkan sarapannya yang baru akan dimulai. Jun masih berdiri di depan meja makan, terlihat senyumnya tak berhenti mengembang dari bibirnya.
"Maaf hanya buatkan ini untuk sarapan". Ucap Ayra saat melihat Jun masih terdiam berdiri di depan meja makan.
"Untuk apa minta maaf, aku justru sangat berterima kasih karena kau sudah mau repot-repot menyiapkan ku sarapan". Jun pun duduk di kursinya dan mulai mengambil sendok di hadapannya.
"Silahkan di nikmati".
Mereka pun makan dalam kesunyian, hanya ada suara sendok dan piring yang saling berbenturan. Mereka benar-benar sangat tenang ketika makan. Setelah selesai, Ayra pun membereskan piring kotor di meja.
"Mau bawa salad dan sandwich nya? Aku buat banyak". Tanya Ayra ketika dia mulai membereskan makanan yang masih ada di meja.
"Boleh, masukan saja ke kotak makan nanti aku membawanya. Aku mau membereskan file-file yang harus aku bawa."
"Oke". Ayra pun memasukan beberapa potong sandwich dan satu kotak makan kecil salad.
Ayra pun kembali ke meja dan mengambil tas miliknya. Terlihat Jun juga sudah beraiap berangkat. Mereka pun keluar bersama-sama.
Ayra pun di antar sampai depan kampusnya, lebih tepatnya sebelum gerbang kampus. Ayra bersiap untuk turun.
"Kamu yakin hanya sampai sini?". Tanya Jun. "Ke dalam nya masih lumayan jauh loh ra".
"Tak apa, temanku sudah menunggu di depan pintu gerbang". Jawab Ayra yang sudah selesai melepas sabuk pengaman.
"Baiklah". Jun pasrah karena Ayra tidak ingin di antaranya sampai dalam.
"Oya jangan lupa bekalnya.". Ayra mencoba mengingatkan.
"Oke. Terimakasih. Pulang mau aku jemput?". Tanya Jun.
"Tidak usah, nanti aku dengan teman saja. Sekalian menyelesaikan tugas yang belum selesai".
"Baiklah, hati-hati. Jika ada sesuatu jangan sungkan menghubungi aku, oke?".
"Ok, aku pamit". Ayra menyodorkan tangannya, dan Jun pun terlihat memandang Ayra bingung.
"Tangan anda tuan". Pinta Ayra.
Jun pun menuruti ayra dan menyodorkan tangannya. Ayra lalu meraih tangan Jun dan mencium punggung tangan Jun. Dan Ayra dengan cepat langsung membuka pintu dan keluar.
Jun masih di sana, dia benar-benar memperhatikan istrinya dari dalam mobil. Terlihat Ayra jalan dan melambaikan tangannya, di sana ada seorang laki-laki di atas motor yang membalas lambaian Ayra. Jun masih memperhatikan dengan seksama.
Ayra dengan senyum lebar menghampiri laki-laki di hadapannya itu. Ayra pun tanpa ragu duduk di kursi belakang motor laki-laki tersebut. Dan tak jauh dari sana Jun masih melihat istrinya bahkan sampai istrinya itu tak lagi terlihat. Jun pun terlihat sangat kesal, namun tak di perlihatkan.
__ADS_1
"Siapa laki-laki itu? Kenapa dia bisa tersenyum begitu lebar di hadapannya? Bahkan aku tak pernah mendapatkan senyuman itu. Apa kau yakin itu hanya temanmu? Atau itu adalah kekasihmu yang tak bisa kau lepaskan?". Jun hanya berbicara sendiri. Hatinya mungkin saja terasa sesak dan kesal. Namun ayra tak tau akan hal itu. Dan Jun hanya memendamnya sendiri.