Cinta Yang Tumbuh Dalam Kebencian (Love That Grows In Hatred)

Cinta Yang Tumbuh Dalam Kebencian (Love That Grows In Hatred)
Eps 17


__ADS_3

"maaf ra, bukan aku tak percaya pada mu. Hanya saja aku tak suka melihat mu berduaan dengan laki-laki. karena sebelumnya aku masih kesal, kamu tak mau aku antar sampai dalam kampus. kamu malah lebih milih naik motor sama teman laki-laki kamu". Jun mengeluarkan kegundahannya setelah minta maaf pada Ayra.


"Kak Jun cemburu?". Tanya Ayra spontan.


"Memang salah ya ra kalau suami cemburu sama istrinya?". Tanya Jun balik. Ayra hanya menggeleng.


"Bukan aku ngelarang kamu temenan sama cowok. Hanya aku kesal jika kamu terlalu dekat dengan mereka". Lanjut Jun.


"Oh, Ok".


"Apa kamu sudah tak marah ra? Apa kau sudah memaafkan aku?". Tanya Jun memastikan.


"Aku tidak pernah marah. Apa aku terlihat marah?". Ayra balik bertanya pada Jun.


"Tidak. Kau terlihat manis". Jawab Jun dengan senyum bahagianya.


"Kak Jun hari ini terlalu banyak bicara".


"benarkah? mungkin karena kamu juga merespon ku saat bicara, jadi pembicaraan kita terlihat panjang". Ucap Jun dengan senyum mengembang tanpa henti.


"Oohhh".


Ayra dan Jun pun sampai di rumah mereka, dengan cepat Ayra membereskan belanjaan yang tadi di belinya. Sedangkan Jun bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah selesai Ayra duduk di sofa depan TV dengan menyandarkan tubuhnya yang terlihat sangat lelah. Dari atas tangga Jun melihat Ayra sedang tertidur di sofa. Jun pun turun lalu duduk di sebelah Ayra yang sedang tertidur dengan tenang. Jun hanya diam, dia tak berbicara apapun. Jun hanya tersenyum dan tak henti memandangi Ayra.


Ayra membuka matanya, dia pun terkejut melihat Jun berada di dekatnya. Ayra memergoki Jun sedang menatapnya tanpa berpaling sedikit pun.


"Kenapa Kak Jun terus menatap ku?". Tanya Ayra.


"sedang menikmati keindahan di depan mata". Jawabannya dengan senyum.


"Kak Jun makin aneh. Apalagi hari ini, sangat sangat aneh". Ayra pun bangkit dari duduknya, lalu pergi meninggalkan Jun.


Jun terus saja menatap Ayra tanpa berkedip, bahkan senyumnya sejak tadi tak hilang. Setelah Ayra tak lagi terlihat dari pandangannya, Jun pun duduk bersantai sambil memainkan ponselnya.


Ayra terdiam di kamar mandi, dia menatap wajahnya dalan cermin.


" Ada apa dengan Kak Jun, kenapa dia berubah setelah membuatku kesal. Jika seperti ini pertahanan ku bisa runtuh. Kak Jun benar-benar tampan saat tersenyum. Ya ampun, mikir apa sih Ra, aku tuh lagi mode BT ke dia. Gak boleh goyah karena ketampanannya". Ayra berbicara sendiri di depan cermin, sebelum akhirnya dia bergegas untuk mandi.


setelah selesai dengan ritualnya, Ayra pun turun dari kamarnya. Ayra pun duduk di sofa tak jauh dari tempat Jun duduk. Jun yang menyadari kedatangan Ayra langsung menaruh ponselnya dan mendekati Ayra yang kini sibuk dengan ponselnya.


"Malam ini Kak Jun mau makan apa? nanti biar aku buatkan". Tanya Ayra yang tak menoleh sedikit pun ke arah Jun, karena dia sibuk mencari menu masakan di ponselnya.


"Apa saja asal itu masakanmu". Jawab Jun dengan tersenyum. Kini dia sudah berada tepat di dekat Ayra. Namun yang di dekati tak perduli sama sekali.


"oke". Ayra pun langsung bangkit dari duduknya dan berjalan menuju dapur. Jun pun tersenyum kecut, kareba usaha mendekati istrinya langsung gagal total.


Ayra pun mengeluarkan bahan-bahan dari dalam kulkas, dan bersiap untuk memasak. Terlihat Jun mengikuti Ayra ke dapur.


"Apa ada yang bisa di bantu?". Tanya Jun tepat di dekat telinga Ayra. Ayra spontan menengok, dan itu membuat keduanya hampir saja menyatukan bibir mereka.


Jun dan Ayra hanya diam saling pandang. Dan entah atas dorongan apa Jun mendekatkan wajahnya pada Ayra, tangannya menyentuh pipi Ayra dengan lembut. Ayra hanya terdiam dengan wajah tesipu, tiba-tiba Jun memcium bibir Ayra lembut. Ayra yang syok hanya terdiam membulatkan matanya. Jun pun dengan cepat melepaskan bibirnya.


"Maaf ra, aku tak bisa mengendalikan diriku". Jawab Jun canggung, Ayra terlihat masih syok dan masih terdiam mematung.


"apa ada yang bisa aku bantu?". Tanya Jun dengan nada terbata, mereka berdua terlihat sangat canggung.


"cuci sayuran saja". Jawab Ayra. mereka pun melanjutkan memasak.

__ADS_1


Jun terdiam saat sedang mencuci sayuran. Seperti sedang memikirkan sesuatu.


"apa yang kulakukan tadi. Ayra pasti berfikir aku kurang ajar, dan mungkin dia akan semakin membenciku". Jun sedang berbicara dalam hatinya. Sesekali Jun melirik Ayra yang sedang fokus memasak.


* AYRA *


Tubuhku rasanya seperti tak bertulang, apa yang kak Jun lakukan padaku sangat membuatku terkejut. Apa wajahku merah saat ini? aku harua tetap stay cool, dia pasti akan menertawakan ku jika dia menyadari betapa malunya aku.


Aku jadi tak fokus memasak, jantungku berdegup dengan kencang. Apa maksudnya dia melakukan itu padaku? apa dia mencintaiku? atau hanya mempermainkan ku.


Aku sungguh masih tak bisa mengerti. Apa semudah itu kebenciannya hilang? manusia itu memang sulit sekali untuk di pahami.


"Ra sayurannya sudah selesai ku bersihkan". Kak Jun menyerahkan sayurannya pada ku.


"Ok, makasih kak. Kakak duduk aja, nanti kalau udah selesai aku panggil".


"Baik". Dengan patuh diabpun pergi dari hadapanku dan ku lihat dia duduk di sofa sambil menyalakan TV.


Aku pun melanjutkan memasak, aku membuat capcai seafood untuknya. semoga saja dia suka, karena aku hanya membuat masakan yang tak sulit.


setelah selesai aku pun menyiapkan makanan di atas meja makan. Aku hanya membuat capcai seafood dan telor dadar. Aku hanya bisa memasak itu, itu pun tak tau bagaimana rasanya.


"Kak makanan sudah siap. mau makan sekarang atau nanti?". Tanyaku dari dapur.


"sekarang saja". Kak Jun menjawab sembari bangkit dari duduknya.


Ting Tong (Suara bel rumah).


Kak Jun dan aku saling pandang, kita pun sama-sama mengangkat bahu pertanda tak tahu siapa yang datang.


"biar aku saja kak". Aku bergegas menuju pintu dan membukanya.


"Ada apa kau kemari?". Tanya Kak Jun yang sudah berdiri di belakang ku.


"Hai Ra". Dari belakang tamu tadi munculnya Tania dengan senyum tak kalah lebar.


"Bos bisakah kau tak menatapku seperti itu? aku hanya ingin berkunjung". ucap kak panji pada kak Jun. Tapi kak Jun masih terdiam dengan wajah kesal.


"Kamu ngapain malem-malem kesini Tan?". Tanyaku pada sahabatku.


"Boleh masuk dulu gak?". Tanya Tania balik.


Aku pun menoleh ke pada kak Jun yang juga menatap ku.


"Ah lama. Boleh ya masuk, gak baik tamu di biarin di depan pintu". Tania pun menerobos ku dan kak Jun yang sedang berdiri di depan pintu, dan di ikuti Kak Panji.


Kedua tamu itu pun duduk seenaknya, aku dan kak Jun masih berdiri menatap mereka yang terlihat seperti tuan rumah.


"Kamu masak ra?". Tanya Tania yang sudah berada di dapur.


"Stop jangan di sentuh". Dengan cepat Kak Jun berlari menghampiri meja makan.


"ini punya saya, jadi jangan di makan. Jika kamu lapar nanti aku pesankan makanan". Kak Jun dengan cepat mencegah Tania yang sudah memegang sendok. Aku hanya tersenyum melihat wajah kesal Kak Jun.


"Oke, tapi boleh pilih sendiri ya?". Sungguh Tania tau caranya memanfaatkan momen. hehehe.


"huh". Kak Jun menghela nafas kasar. "Ok. Kau nji sekalin. Biar kau tak memakan makananku".


"Ok Bos, terimakasih banyak". Terlihat Tania dan Kak Panji sedang sibuk memesan makanan.

__ADS_1


Aku dan Kak Jun pun sudah berada di meja makan. Kak Jun menghampiri ku dan berbisik padaku.


" Temanmu Ra, sungguh sangat menjengkelkan".


"Bukankah teman Kak Jun juga?". ucapku dengan menahan tawa.


"Dia memang selalu menjengkelkan". Dengan hati yang masih kesal Kak Jun pun duduk dan bersiap untuk makan.


"Ra boleh nonton film gak? ada yang bagus nih di Netflix". Teriak Tania dari ruang tengah.


"Tanya pada Tuan rumahnya. Aku tak tau". Jawabku dengan sedikit berteriak.


"kau boleh menonton asal tak merusak barang-barang ku". Teriak kak Jun masih dengan wajah kesalnya.


Setelah selesai makan dan membersihkan piring kotor, aku dan kak Jun pun bergabung dengan Tania dan Kak Panji. Tania dan kak panji sudah mulai serius menonton sambil makan, setelah dalam 30menit orderan makanan mereka sampai.


"Kok kalian bisa barengan kesini?". Tanya ku pada Tania.


"Kebetulam ketemu di depan". Jawab Tania tanpa berpaling dari makanannya.


"sebenarnya kalian datang kesini dalam rangka apa?". Tanya Kak Jun. "apa hanya untuk menumpang makan dan menonton?". Lanjut kak Jun.


"kau tau kan ra kenapa aku mencari mu?".


Ku lihat kak Jun menatap ku dan meminta aku menjelaskan. Namun ku beri isyarat nanti ku ceritakan.


"Nah kalau kau ada apa?". Tanya kak Jun pada kak Panji.


"Aku mencari teman untuk mengobrol".


"apa harus aku?". Tanya kak Jun semakin kesal.


"kau satu-satunya orang yang bisa aku ajak bicara".


"ku rasa kalian cocok, kalau begitu lanjutkan saja". Kak Jun sudah sangat kesal. Aku hanya mencoba menahan tawa. karena wajah kak Jun sangat lucu.


"kalau kak Jun mau istirahat duluan aja". Aku menawarkan kak Jun duluan istirahat, karena aku kasihan melihatnya sudah sangat kesal.


"kau yakin akan bersama mereka menonton film horor?". Tanya kak Jun memastikannya padaku.


"hehehe". aku hanya tertawa garing. jujur saja aku sebenarnya takut.


"sudah biarkan saja mereka. ayo ke kamar". Kak Jun menarik tanganku dan membawaku ke atas.


"Bos tenang saja, aku dan anak ini tidak akan menggangu kok". Celetuk kak Panji.


"harusnya pulang jika tidak ingin mengganggu". balas kak Jun dengan nada masih terdengar kesal.


"ah, jangan lupa jika akan pulang bersih kan semuanya".


"apa kau sudah selesai?". terdengar kak panji bertanya pada Tania.


"sepertinya kita harus pergi sekarang. kau lihat muka seramnya bisa membunuh kita". kak panji dan Tania pun dengan cepat membereskan tempat mereka menonton. aku yang mendengar hanya menahan tawa.


apa sangat menakutkan jika kak Jun marah? aku malah ingin ketawa melihat kak Jun sangay kesal.


"Ra, aku pulang ya. Pak Bos terimakasih sudah mentraktir kami". teriak Tania dari lantai bawah.


Tak lama terdengar pintu terkunci, berarti mereka sudah keluar dan pulang. sebenarnya tak enak pada Tania, tapi lebih tak enak lagi pada kak Jun. kak panji terlihat sangat takut pada kak Jun, dan aku hanya menahan tawa melihat tingkah mereka.

__ADS_1


setelah mendengar mereka keluar, aku pun turun kebawah untuk memastikan tempat sudah di bersihkan atau belum. Dan ternyata tempat masih sangat kacau, aku pun harus membereskannya. setelah selesi aku kembali ke atas, kulihat Kak Jun sedang membaca buku di tempat tidur. Aku pun menghampirinya dan duduk di sebelahnya. Aku pun mengambil ponselku dan mulai sibuk dengan ponsel itu.


__ADS_2