Cinta Yang Tumbuh Dalam Kebencian (Love That Grows In Hatred)

Cinta Yang Tumbuh Dalam Kebencian (Love That Grows In Hatred)
Eps 12


__ADS_3

"Jadi juga kau menikah dengannya? Bukankah awalnya kau sangat menolak dijodohkan dengannya? Ada apa ini? Apa kau benar-benar akan membalaskan rasa sakit adikmu padanya? Apa harus dengan menikahinya?"


Praakkk


Mendengar itu dari balik ruangan kak Jun membuat tanganku lemas seketika. Aku menjatukan barang bawaanku. Aku masih terdiam syok mendengar itu.


"Ra, aku bisa jelasin". Kak Jun keluar ruangan dan melihatku. Memcoba untuk menjelaskan padaku.


Aku menepis tangannya yang berusaha memegang tanganku, hatiku rasanya sakit. Air mataku mengalir dengan deras, aku merasa di bohongi. Aku pergi dari hadapannya.


"Ra, aku bisa jelasin. Ra, dengerin dulu". Kak Jun terus saja mengikuti ku.


Aku masih diam memendam rasa sakit di dadaku. Bahkan sampai aku masuk lift dia terus mengikutiku dan memintaku mendengarkan penjelasannya.


"Stop kak, aku mohon biarkan aku sendiri dulu". Aku memintanya untuk tidak mengikutiku. Dia pun diam berdiri di tempatnya.


Aku masuk ke dalam lift dan keluar dari kantornya, ku laju sepeda motorku dengan cepat. Aku pun pergi ke suatu tempat. Karena aku yakin dia akan mengejarku dan mencariku di rumah.


Flashback


Tok tok tok


Ruang kerja Jun terdengar ada yang mengetuk. Dan ternyata panji rekan kerja sekaligus sahabatnya. Panji pun langsung masuk dan duduk di depan meja kerja Jun.


"Pengantin baru udah kerja aja. Gak honeymoon dulu bos?". Ledek panji.


"Gak sadar diri, ini kerjaan siapa? Sampe bikin orang harus berangkat pagi-pagi". Jun terlihat sedikit kesal.


"Ya maaf. Kan ada tugas dari big bos di suruh handle yang di luar kota. Gara-gara nikahan siapa coba?".


"Oh jadi gitu. Ok".


"Btw bagaimana gadis kecil yang kau benci itu?". Tanya panji dan Jun hanya terdiam.


"Jadi juga kau menikah dengannya? Bukankah awalnya kau sangat menolak dijodohkan dengannya? Ada apa ini? Apa kau benar-benar akan membalaskan rasa sakit adikmu padanya? Apa harus dengan menikahinya?"


Prakkk


Terdengar suara benda jatuh ke lantai, Jun pun teringat kalau istrinya akan ke kantor. Dengan cepat dia keluar ruang kerjanya, dan melihat Ayra sedang berdiri mematung.


Ayra pun bergegas pergi dan diikuti oleh Jun. Jun berusaha menjelaskan namun Ayra tak ingin mendengarkan apapun. Ayra pun meminta Jun untuk tidak mengikutinya. Dan meminta waktu untuk dia menyendiri.


Flash off


Dengan panik Jun pergi kerumah Ayra, karena dia tak tau kemana Ayra pergi. Bahkan dia tak memperdulikan Panji yang meminta maaf padanya.


Dengan cepat Jun melajukan mobilnya menuju rumah Ayra. Sesampainya di rumah Ayra Jun mengetuk pintu dengan paniknya. Membuat orang tua Ayra kebingungan, mereka pun tambah bingung saat tau ternyata Jun yang mengetuk pintu.


"Ayra udah sampe rumah belum yah?". Tanya Jun panik.


"Belum, bukannya tadi ke kantor kamu?". Tanya ayah Ayra balik.


"Ada kesalahpahaman antara aku sama Ayra yah".


"Ya udah sini masuk dulu. Mungkin sebentar lagi Ayra akan pulang".


Jun pun duduk di hadapan orang tua Ayra. Jun bingung harus menjelaskan dari mana. Dia pun bingung sendiri atas apa yang sudah terjadi.


"Ayah Bunda sebelumnya aku minta maaf. Sebenarnya tadi Ayra mendengar aku dan temanku bicara soal aku yang awalnya menolak untuk menikah dengan Ayra. Jujur aku awalnya menolak dengan keras perjodohan ini. Aku sangat membenci Ayra atas perginya Andra. Aku sangat menyalahkan nya. Sampai akhirnya aku tau kalau Ayra juga menderita atas peristiwa itu. Dan aku juga baru tau tentang Ayra dari buku harian yang Andra tinggalkan. Ayah Bunda sungguh aku minta maaf. Aku tak bermaksud menyakiti kalian semua. Aku hanya merasa tak adil saat Andra pergi". Jun menjelaskan yang sebenarnya di hadapannya orang tua Ayra.


"Kami mengerti, sekarang kita tunggu saja Ayra pulang. Ayah yakin dia akan kembali". Ayah Ayra mencoba menenangkan Jun yang sudah sangat kebingungan dan merasa sangat bersalah.


"Lebih baik sekarang kamu istirahat saja di kamar Ayra. Nanti Bunda sama Ayah coba hubungi Ayra". Ibunda Ayra pun menyuruh Jun untuk istirahat dan menunggu.


"Terimakasih Bunda, Jun tunggu di sini aja".


"Kamu itu butuh istirahat, dari pagi sampai malam ada acara dan pagi-pagi sudah ke kantor. Kamu itu lelah nak, istirahat saja dulu ya. Nanti Bunda bangunkan jika Ayra pulang".


"Baik Bunda. Permisi istirahat dulu yah".


"Iya nak".

__ADS_1


Jun pun masuk ke kamar Ayra untuk pertama kalinya. Dan kamarnya seperti kamar perempuan pada umumnya. Namun dia terlihat lebih netral untuk warna cat di kamarnya. Terlihat seperti Ayra yang memang cuek orangnya.


Jun pun merebahkan diri di kasur kesayangan Ayra. Bahkan dia tak mengganti bajunya, mungkin dia benar-benar lelah.


Sedangkan Ayra yang ditunggu sedang pergi ke suatu tempat. Dia pergi ke rumah sakit, karena dia waktu itu punya janji dengan Rafa. Ayra pun mencoba menemui Rafa.


Saat hendak bertemu Rafa, Ayra tak sengaja bertemu dengan dokter Ghibran. Dokter Ghibran yang melihat Ayra pun langsung menghampiri Ayra.


"Hai, sedang apa di Rumah Sakit?". Tanya Ghibran.


"Mau ketemu Rafa, dia gimana keadaannya?". Tanya Ayra balik pada Ghibran, karena memang Ghibran adalah dokter yang merawat Rafa.


"Kita ke kamarnya aja yuk, ada mamahnya Rafa disana". Ghibran dan Ayra pun berjalan menuju kamar dimana Rafa biasa di rawat.


Terlihat seorang wanita muda sedang membereskan barang-barang yang tergeletak di dekat ranjang tempat Rafa biasanya istirahat.


"Kak, kenapa di beresin? Rafa udah boleh pulang?". Tanya Ayra pada wanita tadi, yang ternyata adalah ibu dari Rafa.


"Iya Ra, Rafa udah boleh pulang dari rumah sakit. Dia sekarang udah gak sakit lagi, dia udah bahagia sekarang". Ucapnya dengan linangan air mata.


"Kak, maksud kakak Rafa..?". Ayra tak bisa menyelesaikan kalimatnya.


"Iya Ra, kemarin dia harus pergi. Maaf gak ngabarin kamu Ra, karena kamu juga lagi ada acara penting".


Ayra pun menitikan air mata, dia merasa bersalah karena tak bisa bertemu Rafa beberapa hari terakhir ini. Ayra pun meminta ibu Rafa untuk di antar ke makam Rafa.


Setelah ziarah ke makam Rafa, Ayra pun pamit. Dan kebetulan saat dari rumah sakit tadi dokter Ghibran ikut juga ke makam Rafa.


"Kak, ini hadiah yang aku janjiin ke Rafa waktu itu. Aku serahin ke kakak ya, nanti bisa juga di pake ke adiknya Rafa". Ayra menyerahkan kotak hadiah pada ibu Rafa.


"Makasih banyak ya Ra". Ayra dan ibu Rafa pun saling berpelukan.


Setelah mengantarkan ibu Rafa kerumahnya. Ghibran dan Ayra pun kembali ke rumah sakit, karena Ayra meninggalkan sepeda motornya di sana.


"Ra, maaf ya di pernikahan kamu kemarin aku gak bisa dateng. Karena harus ada operasi dan menangani Rafa saat itu".


"Gak apa-apa kak. Pasien kakak kan jauh lebih penting". Ucap Ayra dengan senyum.


"Tidak kak, aku sedih karena tak sempat menemui Rafa sebelum dia pulang untuk selamanya".


"Doakan saja, aku yakin Rafa sudah bahagia sekarang. Tak perlu lagi merasa sakit".


"Kak Ghibran benar, sekarang pasti Rafa sudah bahagia".


Obrolan mereka pun harus terhenti, karena Ghibran sudah memarkirkan mobilnya di Rumah Sakit. Mereka sudah sampai, Ayra pun dengan cepat turun dari mobil dan diikuti Ghibran.


Namun tiba-tiba Ayra sempoyongan dan hampir terjatuh. Untung saja Ayra dengan cepat bersadar di mobil Ghibran. Ghibran yang melihat itu pun langsung menghampiri Ayra.


"Kamu kenapa Ra? Ayo biar aku bantu ke dalam". Ghibran pun memapah Ayra ke dalam rumah sakit, lalu membawa Ayra ke UGD untuk diperiksa oleh dokter.


"Bagaimana keadaannya Ayra dok?" Tanya Ghibran pada dokter yang memeriksa Ayra.


"Dia kecapean aja, darahnya rendah jadi harus banyak istirahat".


"Denger tuh Ra, harus banyak istirahat". Ghibran mengulangi kata-kata dokter tadi.


"Baik dokter. Terimakasih". Ucap Ayra dengan senyum.


"Tapi saya udah boleh pulang kan dok?". Tanya Ayra memastikan.


"Boleh, nanti saya resepkan vitamin dan obat penambah darah ya".


"Baik dok, terimakasih".


Dokter yang memeriksa Ayra pun pergi, dan Ayra bersiap untuk mengambil obat dan pulang ke rumah. Karena sudah cukup lama dia keluar rumah, dan pasti ayah sama Bunda khawatir.


"Kamu naik apa tadi Ra?". Tanya Ghibran yang masih bersama dengan Ayra.


"Naik motor ka".


"Kalau gitu biar aku antar Ra, bahaya kalau bawa motor sendiri". Ucap Ghibran penuh kekhawatiran.

__ADS_1


"Gak usah kak, nanti aku males ngambil motornya lagi". Ayra mencoba untuk menolak. Bagaimanapun dia wanita bersuami, bukankah tak baik jika mereka hanya berduan dengan laki-laki yang bukan siapa-siapa nya.


"Udah gampang, nanti aku minta temenku ikut bawa motor kamu".


"Duh aku jadi ngerepotin". Ayra pun sulit untuk menolak Ghibran.


"Gak, dari pada kamu ada apa-apa di jalan. Gak tenang akunya".


"Baiklah jika dokter ini memaksa". Ucapnya dengan senyum.


"Ya udah, abis ambil obat tunggu aja di lobi. Nanti aku nyusul sama temenku".


"Siap ka".


Dan benar, Ghibran membawa temannya. Temannya menaiki motor Ayra sedang Ayra bersama Ghibran. Mereka pun berjalan menuju rumah Ayra. Tak banyak obrolan yang terjadi di antara mereka. Karena Ayra lebih banyak diam, dan merespon Ghibran hanya seperlunya.


Tak butuh waktu lama untuk sampai di rumah Ayra. Terlihat ayah Ayra sedang duduk di teras rumahnya, dan langsung berdiri saat melihat mobil dan motor masuk ke dalam pekarangan rumahnya.


Ayra dan Ghibran pun turun dari mobil. Ghibran pun menyapa ayah Ayra yang sudah memandanginya dari tadi.


"Om". Sapa Ghibran.


"Kok kalian bisa barengan?". Tanya ayah Ayra tanpa basa-basi.


"Tadi ketemu di rumah sakit om, terus liat Ayra hampir pingsan jadi aku nawarin untuk nganterin". Jelas Ghibran, Ghibran takut ayah Ayra salah faham.


"Kamu sakit Ra?". Tanya ayah Ayra.


Mendengar ada suara mobil datang ibunda Ayra dan Jun pun langsung keluar. Jun langsung menghampiri Ayra, saat mendengar pertanyaan ayah Ayra.


"Kamu sakit?". Tanya Jun, mengulangi pertanyaan ayah Ayra.


"Aku gak apa-apa". Ucap Ayra sembari menepis pelan tangan Jun yang memegang tangannya.


"Kak Ghibran makasih ya tumpangannya, bang is makasih ya udah bawa motor aku."


"Iya Ra, kalau gitu aku sama Is pulang dulu ya. Om tante mas kami pamit dulu".


Ghibran dan bang Is pun pulang. Ayra pun dengan cepat masuk ke kamarnya tanpa memperdulikan orang tuanya dan suaminya.


Dengan cepat Ayra mengunci pintu kamarnya. Jun mengikuti Ayra hingga ke depan kamarnya, Jun berusaha mengajak Ayra berbicara. Namun Ayra masih tidak mau untuk mendengarkan.


"Ra, dengerin penjelasan aku dulu Ra. Kasih aku waktu buat jelasin semuanya". Jun berusaha untuk mengajak Ayra berbicara. Namun yang di ajak bicara diam seribu bahasa di dalam kamarnya.


"Ra, ayo dong Ra buka pintunya. Gak enak Ra sama ayah sama Bunda. Kasih aku waktu buat jelasin semuanya".


"Masih belum buka pintu?". Tanya Bunda yang tiba-tiba datang.


"Belum Bun". Jawab Jun, terlihat Jun sudah sangat putus asa.


"Ra, buka pintunya Bunda mau bicara sebentar". Pinta sang Bunda.


Ayra pun membuka pintu dan membiarkan ibundanya masuk. Ayra duduk terdiam di tempat tidurnya. Bundanya pun duduk di samping putrinya setelah menutup pintu kamar.


"Itu obat apa Ra?". Tanya Bunda saat melihat bungkusan obat ada di atas meja samping tempat tidur Ayra.


"Vitamin sama obat penambah darah". Jawab Ayra singkat.


"Oh, tapi kamu gak apa-apa kan?".


"Gak apa-apa Bun, cuma darah rendah aja sama kecapean".


"Syukurlah". Bunda terdiam sejenak. "Ra, kamu sama Jun kalau ada masalah lebih baik di selesaikan segera dengan kepala dingin. Biarkan Jun menjelaskan semua, setelah itu apa keputusanmu semua ada di tangan mu. Jangan biarkan masalah berlarut-larut. Ya sudah, sekarang selesaikan masalah kalian. Bunda keluar dulu". Bunda pun keluar dan membiarkan pintu kamar anaknya terbuka, disana Jun masih berdiri memandang Ayra yang terdiam di dalam kamar.


"Ra, apa aku boleh masuk?". Jun meminta persetujuan Ayra.


"Hhmmm". Ayra mengiyakan.


Jun pun mengambil kursi lalu duduk di hadapan Ayra, Ayra masih duduk terdiam di atas kasur miliknya. Jun pun bersiap untuk mejelaskan pada Ayra.


Bagaimana reaksi Ayra saat tau niat awal Jun ingin membalas atas kepergian Andra? Akankah Ayra dan Jun berpisah atau tetap bersama?

__ADS_1


__ADS_2