
Brrraaakkkk
Jun membanting pintu ruangannya, nampaknya dia masih kesal pada ayahnya.
"Wait wait wait , kenapa kau marah-marah?? " Tanya seseorang yang berada di ruangan Jun.
"Sedang apa kau disini?? Bukankah kau punya ruangan sendiri?". Tanya Jun ketus pada sahabatnya itu. Yang juga sekertaris dari ayahnya.
"Aku hanya ingin datang kesini, apa ada sesuatu yang terjadi ? Kau terlihat sangat kesal?". Tanya Panji.
"Kau tau, ayahku mencoba menjodohkanku dengan gadis kecil. Sangat sangat menjengkelkan". Terlihat wajah Jun sangat kesal.
"Wah, sekecil apa dia? Anak sd,smp atau tk?". Tanya panji dengan candaan.
"Aku sedang tidak bercanda".
"Ok sorry, memangnya siapa gadis kecil itu?".
"Anak pak Hermawan, apa kau pernah melihatnya. Sungguh gadis yang merepotkan".
"Aku pernah bertemu dengan pak Hermawan tapi belum pernah bertemu anaknya. Apakah cantik?" Tanya Panji mulai penasaran.
"Tak ada cantik-cantik nya. Gadis urakan tak jelas."
"Yang benar? Apa mungkin ayahmu menjodohkan mu dengan sembarang gadis? Atau jangan-jangan ayahmu punya hutang dengan pak Hermawan". Panji mengeluarkan pendapatnya.
"Sebesar apa hutang ayah ku sampai harus mengorbankan aku hah? Tak masuk akal. "
"Terus kau menolaknya?".
"Menurutmu? Apa aku harus menerimanya? Kau tau dia hanya akan merepotkan ku saja".
"Apasalahnya untuk di coba, siapa tau kau memang berjodoh dengannya".
"Kau fikir pernikahan itu mainan?".
Kring kring
Terdengar suara telepon di runagan Jun.
"Angkat telepon nya bodoh". Perintah Jun pada panji.
"Kenapa harus aku?". Tanya panji kesal.
"Kau lihat siapa yang lebih dekat? Cepat angkat, siapa tau telpon penting".
Panji pun dengan kesal mengangkat telpon di sebelahnya, panji selalu saja jadi sasaran kemarahan sahabatnya itu. Namun tak pernah sekalipun di masukan ke hati. Panji dan Jun berteman sejak sekolah menengah pertama, dan setelah lulus kuliah Panji bekerja di perusahaan ayah Jun, sedangkan Jun melanjutkan S2 nya diluar negeri.
"Dari ayahmu bodoh".
Jun pun bangkit dari tempat duduknya untuk menerima telpon dari ayahnya. Dan tak lama berbicara Jun pun berjalan menuju pintu untuk keluar.
__ADS_1
" Eh tunggu. Mau kemana kau bodoh?". Tanya panji .
"Tak perlu tau, urus saja perusahaanku. Aku dan ayahku akan keluar. Mungkin agak lama, dan kau kerjakan semua kerjaanmu dan kerjaanku. Mengerti?!".
"Yaaaa. Kau memintaku kerja rodi? Apa kau akan membayar lemburku?". Teriak panji yang sudah melihat Jun keluar.
"Ku bayar 3x lipat lemburmu". Teriak Jun juga dari luar.
"Dasar anak bos ".
Jun pun bersama ayahnya pergi dengan menggunakan mobil. Terlihat muka ayah Jun sedikit panik. Jun pun melaju mobilnya dengan sedikit kencang.
Dan tak lama mereka pun sampai di salah satu rumah sakit di kota tersebut. Setelah memarkirkan mobilnya,Jun dan ayahnya masuk dan menemui seseorang.
Terlihat seorang gadis sedang menangis sesunggukan,dan sang ibu di sebelahnya pun menangis sembari berusaha untuk tegar. Jun hanya memangdangi gadia itu yang masih saja menangis.
"Terimakasih sudah datang. Maaf merepotkan". Ucap bunda pada ayah Jun.
"Tidak, bagaimana keadaan Hermawan?". Tanya ayah Jun.
"Masih belum tau, karena masih di tangani dokter."
"Yang sabar, pasti Hermawan akan baik-baik saja."
"Terimakasih".
Sedangkan Ayra masih saja menangis di sudut ruangan. Dan terlihat ayah Jun meminta Jun untuk menemani Ayra yang sedang terpuruk. Dengan terpaksa Jun pun menghampiri Ayra. Jun berdiri di hadapan Ayra, tak tau harus berbuat apa. Dan tiba-tiba Ayra memeluk Jun, Jun yang terkejut hanya bisa terdiam mematung.
Ayra yang terduduk sembari memeluk perut Jun yang sedang berdiri masih saja terisak. Jun pun reflek mengusap-usap kepala Ayra seperti memberikan ketenangan.
Tak lama dokter pun keluar dan menemui keluarga Ayra.
"Bagaimana keadaan suami saya dok?". Tanya Bunda panik.
"Keadaan pak hermawan sekarang sudah setabil, lain kali jangan biarkan dia terlalu banyak fikiran ya bu. Karena kondisi jantungnya semakin buruk, jadi kalian harus menjaga suasana hatinya." Jelas dokter.
"Terimakasih dok".
Setelah pemeriksaan selesai, ayah Ayra pun di bawa ke ruang rawat inap. Jun dan ayahnya pun masih disana, karena khawatir ayra ataupun bundanya butuh sesuatu.
Ayra masih saja menangis di samping ayahnya yang masih terpejam. Jun yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya, tak mengerti dengan tingkah gadis itu.
"Hey, kenapa kau menangis?". Tanya ayahnya dengan suara lirih, terlihat sudah siuman dan melihat anak gadisnya sedang menangis di sampingnya.
"Ayah, kenapa kau bisa sakit seperti ini? Aku sangat takut kehilanganmu." Ayra semakin menangis .
"Ayah tidak apa-apa, kenapa kau begitu heboh. Sebentar lagi juga boleh pulang, iya kan bun?" Tanya ayahnya mencari dukungan.
"Iya, kamu tak perlu khawatir." Bunda menjawab dengan tenang,walau hatinya pun sangat sedih.
"Apa kau sudah lebih baik?" Tanya Ayah Jun .
__ADS_1
"Sudah, terima kasih sudah menjaga istri dan anakku".
"Tidak, aku hanya menemani saja".
"Jun, apa om bisa bicara denganmu?".tanya ayahnya Ayra.
"Silahkan om". Jun pun mendekat pada ayah Ayra sedangkan Ayra beralih ke sebelah bundanya.
"Saya hanya berjaga-jaga, saya titip Ayra denganmu ya. Saya hanya percaya kepada mu, meski dia ceroboh aku yakin dia tak akan merepotkan mu. Apa kau bisa menjaganya dan menyayanginya? " Sungguh pertanyaan yang memberatkan.
Jun masih terdiam, sebelum akhirnya menjawab.
"Aku akan berusaha om, semoga om cepat sembuh".
"Kenapa aku harus dititipkan? Tak akan ada yang bisa menggantikan ayah. Ayah tak boleh meninggalkan ku".
"Sungguh gadis manja, kau fikir aku mau menjagamu. Hanya karena om Hermawan sakit saja.jika tidak aku menolak mentah-mentah". Jun merutuk dalam hati.
"Ayah tidak akan meninggalkan mu, hanya saja ayah akan tenang jika Jun juga bisa menjagamu. Ayah berharap kau bisa menikah dengan Jun agar ayah ada yang membantu untuk menjaga mu".
"Kenapa harus menikah dengan mr.cuek ini? Aku ingin tetap bersama ayah". Ayra merengek pada ayahnya.
"Kau fikir aku mau menikah denganmu. Kalau bukan karena ayahmu dan ayahku tidak akan mau ". Jun terus berucap dalam hati, tak mampu di keluarkan di depan orang tua Ayra.
"Ayra, kau masih akan bersama ayah. Hanya saja ayah akan merasa tenang jika ada orang lain juga menjaga mu. Ayah harap kau memahami perasaan ayah".
Akhirnya Ayra pasrah dengan permintaan ayahnya, sebenarnya bukan Ayra tak mau menikah dengan Jun. Hanya saja dia ingin ketika menikah Jun sudah mencintainya. Bukan karena paksaan orang tua mereka. Namun karena ini permintaan ayah nya, Ayra pun tak bisa membantahnya.
"Benar kau akan menikahi Ayra?" Tanya ayahnya Jun pada anaknya itu.
"Ayah tidak dengar? Apa aku harus mengulang lagi". Jawab Jun sedikit menahan emosinya. Jun memamg masih sangat kesal.
"Baiklah, kalau begitu semua biar kami yang urus. Kau istirahat saja, tak perlu memikirkan hal ini. Lalu kapan pernikahannya akan di gelar?". Tanya Ayah Jun.
"Terserah kau saja, kami menerima. Iya kan Bun?".
"Iya, kami menerima saja."
Setelah pembahasan itu Jun dan ayahnya pun pamit pulang. Di dalam mobil suasana nampak panas. Jun terlihat emosi namun masih saja terdiam.
"Apa Ayah puas?". Akhirnya Jun mengeluarkan emosinya.
"Bukankah tadi kau sendiri yang mengiyakan? Aku tak pernah memaksa mu". Jawab ayahnya menahan senyum, melihat anaknya seperti ini dia merasa sangat lucu.
"Itu karena om Hermawan sedang sakit, harusnya Ayah membantuku untuk menolaknya."
"Kenapa harus Ayah? Ayah adalah orang pertama yang akan mendukung Hermawan. Kau sudah berjanji, dan kau harus menepati janjimu. Karena lelaki itu yang dipegang ucapannya, jadi jangan sampai ingkar. Kau tau". Ayahnya mengingatkan.
"Tak perlu Ayah memberitahu ku, aku sudah mengerti". Jun benar-benar kesal atas kejadian hari ini.
Tanpa sepatah katapun Jun lansung masuk ke kamarnya setelah sampai rumah. Jun merebahkan tubuhnya di atas kasur.
__ADS_1
"Menikah? Dengan gadis itu? Si anak manja? Pasti sangat merepotkan. Tapi bukankah bagus, aku bisa membalasnya. Membalas rasa kecewa andra, supaya dia tau apa sudah dia lakukan pasti ada balasannya. Agar dia tau gimana rasanya sakit dan kecewa."
Haruskah ku lakukan itu? Membuatnya membayar semuanya?.