Cinta Yang Tumbuh Dalam Kebencian (Love That Grows In Hatred)

Cinta Yang Tumbuh Dalam Kebencian (Love That Grows In Hatred)
Eps 4


__ADS_3

Terdengar seseorang membuka pintu, terlihat Pak Atmajaya sedang duduk memegang tab terlihat sedang serius membaca sesuatu.


"Malem yah". Sapa Jun setelah masuk rumah melihat ayahnya sedang duduk di ruang tamu. Setelah menyapa ayahnya Jun pun melanjutkan langkahnya.


"Tunggu sebentar Jun". Sang Ayah memberhentikan langkah Jun.


"Ada apa yah?" . Tanya Jun terlihat malas untuk berbicara dengan ayahnya .


"Ayah ingin bicara sebentar". Jawab sang ayah.


"Apakah sangat penting? Aku sangat lelah".


"Ayah hanya minta waktu sebentar,apakah sangat sulit untukmu?".


"Baiklah". Jun pun duduk tidak jauh dari tempat ayahnya duduk.


"Ayah ingin membahas masalah kau dan anak pak hermawan". Ayahnya tanpa basa basi membahas maslah yang sangat tidak di sukai Jun.


"Bukankah ayah sudah bilang tidak akan memaksaku? Kenapa sekarang kita membahas ini?". Jun terlihat kesal.


"Setidaknya berkenalan lah dulu baru kau putuskan". Ayahnya masih berusaha membujuk anak semata wayangnya itu.


"Yah, sungguh aku sangat muak membahas ini. Kenapa harus menikah dengan gadis kecil itu? Apakah kau punya anak hanya untuk memenuhi keinginanmu?". Jun benar-benar kesal.


"Aku hanya ingin mencarikan gadis baik untukmu, apa dengan kau memilih sendiri pilihanmu itu benar? Coba lihat kekasihmu itu, apa yang sudah dia perbuat. Kau bangga dengan pilihanmu? Aku hanya ingin hidupmu tidak di buat susah oleh gadis-gadis menghambur uang seperti kekasihmu itu". Ayahnya yang kesal pun jadi membahas masa lalu Jun.


"Kenapa ayah membahas masalah itu, aku dan karina sudah lama tidak bersama. Jadi jangan sangkut aputkan masalah itu."


"Setidaknya itu jadi bahan pertimbangan ayah. Kau tau aku berusaha mencarikan orang baik dari keluarga baik agar hidupmu selalu baik-baik ."


"Baik? Apa ayah tau bagaimana gadis itu? Apa ayah mengetahui kepribadian nya? Kenapa ayah percaya sekali bahwa dia baik? Apa dengan terlihat baik berarti dia orang baik? Jangan mudah tertipu sampul depan seseorang".


"Jadi kau tidak akan menerima perjodohan ini?".


"Tidak, tidak akan pernah". Jawab Jun tegas. Jun pun pergi menuju kamarnya.


Pikirannya tak karuan setelah berdebat dengan ayahnya. Pikirannya lagi-lagi masalah itu, peejodohan, pernikahan, gadis kecil, andra. Semua pemikiran itu membuat Jun merasa kesal, Jun pun akhirnya mandi untuk menenangkan otaknya yang tak karuan.


"Kau tau ka? Dia gadis baik, selalu apa adanya. Dia tidak pernah pilih-pilih teman,maka dari itu temannya banyak. Dia juga selalu tersenyum, kau tau aku sangat suka ketika dia sedang tersenyum. Saat kau bertemu dengannya pasti kau juga suka dengannya. Kau boleh menyukainya jika aku sudah tidak bisa bersamanya ,kau tau".


"Apa aku terlihat akan merebutnya?".


"Aku yakin jika kau kenal dia kau akan merebutnya dariku".


Jun teringat saat Andra bercerita tentang Ayra. Andra sangat menyukai Ayra, namun Ayra hanya menyukai seseorang. Dan karena itu Andra merasa kecewa, lalu mengakhiri hidupnya. Itulah pemikiran Jun, makanya Jun selalu menyalahkan Ayra atas kematian Andra.


"Apakah aku harus membalas kekecewaan Andra? Agar dia sadar apa yang telah dia perbuat terhadap Andra".


Jun masih berkutat dengan pemikirannya. Entah apa yang menjadi keputusannya.

__ADS_1


####


Drrrttt ddrrrrttt handphone Ayra berbunyi, Ayra pun cepat-cepat mengangkat nya.


"Halo yah".


"Apa sudah selesai kuliahnya?" Tanya ayahnya dari balik sambungan telpon.


"Sudah, ini sudah mau jalan pulang".


"Kalo gitu ke kantor ayah saja, temani ayah makan siang. Tadi ayah sudah izin bunda".


"Ok".


Ayra pun melajukan motornya ke kantor ayahnya. Namun saat baru tiba kantor ayahnya memberitahu bahwa Ayra langsung saja ke restoran tempat ayahnya tadi rapat. Untung saja tak jauh dari kantor ayahnya.


Ayra pun memarkirkan motornya, lalu masuk dan mencari ayahnya. Terlihat ayahnya sedang berbincang dengan seseorang, dengan ragu Ayra pun menghampiri ayahnya.


"Halo ayah". Sapa Ayra.


"Oh kamu sudah sampai nak, maaf ya ayah langsung suruh kamu kesini. Apa tadi sudah sampai kantor?". Tanya ayahnya.


"Sudah, tapi tak apa demi ayahanda rercinta". Jawab Ayra dengan senyum ceria.


"Eh ada om Atma, selamat siang om". Sapa Ayra pada Pak Atmajaya.


"Halo Ayra, silahkan duduk". Pak Atmajaya mempersilahkan Ayra duduk.


"Tidak, kebetulan rapatnya sudah selesai". Jawab Pak Atmajaya.


" Kamu mau makan apa ra?" Tanya ayahnya.


"Ini saja". Ayra menunjuk menu makanan pada buku menu.


"Maaf telat." Seseorang datang.


"Tak apa, Ayra juga baru sampai". Ucap pak Atmajaya.


Jun yang baru tiba pun duduk tepat di samping ayahnya dan Ayra. Terlihat hanya tersenyum pada ayah Ayra, dan tak melirik sekalipun pada Ayra.


"Cih, apa aku segitu menjijikan sampai dia tak melirikku sama sekali". Gerutu Ayra dalam hati.


"Dasar pak tua itu memang sudah kelewatan, masih saja berusaha mendekatkan ku dengan gadis kecil ini". Jun pun sedang menggerutu dalam hatinya.


Sedangkan orang tua mereka sedang berbincang sembari tertawa-tawa. Dan di hadapannya kedua anak mereka sedang merutuk dalam hati.


Setelah makanan datang Ayra pun menyantap makanannya, dan sesekali menyauti ayah dan teman ayahnya itu berbicara. Sedang Jun akan menyaut jika itu berhubungan dengan pekerjaan. Dan mereka pun akhirnya selesai makan.


"Oya, kalian bisa di sana sebentar. Ada yang ingin saya bicarakan dengan ayah Ayra". Pak Atmajay mencoba mengusir anak-anak muda itu.

__ADS_1


Mau tak mau Ayra dan Jun pun bangkit dari duduk nya, dan mereka pun duduk di meja yang sama. Karena ini jam istirahat jadi semua restoran pasti penuh dan hanya tersisa satu meja saja. Jadi mau tidak mau Ayra dan Jun pun duduk bersama.


"Kak, apa mulut kaka penuh dengan lem?" Tanya Ayra tiba-tiba, membuat Jun menatapnya tajam.


"Maksudnya?" . Tanya Jun balik tak tau apa maksud perkataan Ayra.


" Terlihat kau susah sekali tersenyum dan bicara. Apa bicara dengan kakak sangat mahal?".


"Apa kau bisa diam? Kau terlalu berisik". Pinta Jun ketus.


"Galak sekali, kau akan cepat tua jika suka marah-marah".


"Kau tau, kau lah yang membuatku cepat tua. Karena kau membuatku ingin marah. Kau tau". Jun terlihat kesal. "Ah, kenapa juga aku harus repot-repot menyauti kau bicara. Sangat menyebalkan".


"Kak hati-hati loh kalo marah sama seseorang. Nanti ujung-ujungnya suka". Ucap Ayra dengan senyum.


Jun hanya melihat Ayra dengan tatapan kesal, sedangkan Ayra sangat senang menggoda Jun yang selalu saja ketus padanya. Jun pun kembali pada ponselnya.


"Ayo pulang. Ayah sudah selesai, atau kau masih ingin bersama Ayra?". Tanya Ayanya Jun.


"Tidak terima kasih". Jawab Jun tegas.


" Kenapa? Apa anakku begitu membosankan?" Tanya Ayah Ayra dengan menatap Jun tajam.


"Ti..tidak om. Hanya saja saya masih banyak kerjaan di kantor". Jawab Jun terbata.


"Haha hanya bercanda, saya tau kau sangat sibuk. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk makan siang bersama". Ucap Ayah Ayra dengan senyum lebar dan menepuk-nepuk bahu Jun.


Mereka berempat pun keluar restoran, terlihat Ayra sudah mengenakan helmnya.


"Ayah, om aku duluan ya". Pamit Ayra setelah berada di atas motornya. Lalu melajukan motornya.


"Apa tidak bahaya dia menggunakan motor?" Tanya pak Atmajaya.


"Dia sudah biasa, sudah pernah kecelakaan juga jadi sudah jago". Jawab Ayah Ayra dengan senyum.


"Gak ada manis-manis nya jadi perempuan, bukankah terlihat dia anak manja yang tidak bisa apa-apa selain bermain?". Ucap Jun dalam hati.


Setelah berpamitan Ayah Ayra pun pergi terlebih dahulu. Jun pun masuk mobil bersama ayahnya. Terlihat masih saja terdiam dalam kesunyian.


"Apa sudah ada ketertarikan?". Tanya ayahnya tiba-tiba.


"Kenapa kau sangat berusaha sekali menjodohkan ku dengan dia?". Tanya Jun kesal.


"Hanya merasa dia adalah gadis yang cocok untukmu".


"Bisakah kau tak lagi menjodohkan ku dengannya". Pinta Jun pada ayahnya.


"Ya sudah, kalau memang kau tidak bisa menerimanya. Nanti ayah bicara dengan pak Hermawan".

__ADS_1


Ayah Jun pun menyerah untuk memaksa anaknya. Jun pun terlihat sedikit lega ayahnya sudah mengiyakan permintaannya. Walau nanti tidak tau akan terjadi lagi atau tidak.


__ADS_2