
"Bunda, Jun sebelumnya minta maaf.." aku menjeda kalimatku. "Karena Jun gak bisa jaga Ayra dengan baik, Andai Jun tau dari awal. Jun pasti gak biarin Ayra sendirian di ruang kerja Jun. Jun minta maaf Bunda." Aku merasa bersalah untuk hal ini. Apa aku terlalu kejam jika masih memaksakan pernikahan ini hanya untuk membalas rasa sakit Andra.
"Bukan salah kamu, kamu fikirkan dahulu maslah perjodohan kalian. Jika Jun merasa keberatan, ayah tidak masalah. Ayah hanya tidak ingin Ayra nantinya menjadi beban untuk mu. Pulang dan istirahatlah, nanti baru di fikirkan. Toh masih ada waktu beberapa hari untuk memikirkannya".
"Terimakasih ayah,bunda. Kalau begitu Jun pamit". Aku pun pulang dengan perasaan tak menentu, ada rasa tak tega melihat gadis kecil itu. Namun rasa sakitku seperti terkorek kembali dan itu membuat teramat sakit.
Setelah sampai rumah aku langsung masuk kamar Andra. Aku duduk bersandar di ranjang milik nya yang kini sepi. Apakah selama ini dia menderita? Sungguh hatiku masih sangat marah padanya. Benarkah sikapku ini? Sungguh fikiranku sangat kacau.
Aku melihat foto di nakas samping tempat tidurnya, terlihat seorang anak laki-laki dengan senyum lebar sedang duduk bersama gadis yang juga tersenyum lebar. Wajahnya sangat berbeda dengan wajah tadi yang ku lihat.
Pagi harinya aku bertemu ayahku di meja makan, seperti biasa aku hanya makan dalam diam. Aku tau pasti ada yang ingin di bicarakan, tapi aku hanya diam menunggu ayah sendiri yang berbicara.
"Ayah dengar kabar dari om Hermawan, apa kau sudah memikirkannya?". Pertanyaan yang sudah bisa ku tebak.
Aku masih terdiam, aku masih memikirkannya. Apakah aku harus tetap lanjut atau aku harus berhenti.
"Aku masih memikirkannya, ku harap ayah mengerti".
"Baik, ayah akan menerima segala keputusan mu. Satu hal pasti yang harus kau ingat, dia gadis yang baik. Terlepas dari sakit yang ia lalui selama ini". Jelas ayah.
"Hemm, aku berangkat ke kantor lebih dulu". Aku pun beranjak dari dudukku dan pergi meninggalkan ayahku sendiri di meja makan.
Aku melajukan mobilku menjauh dari kantor. Aku bahkan tak tau kemana arah tujuanku. Aku hanya mengendarai mobilku tanpa tujuan, dengan fikiran rumit yang sedang terjadi di dalam otakku.
***
Seharin ini manusia kutub itu tak ada kabar, harusnya hari ini aku dan dia ke butik untuk mempersiapkan baju pernikahan. Apa terjadi sesutu dengannya? Bahkan ini sudah sore. Apa aku coba menghubungi dia saja? Tapi apa dia nanti gak kegeeran? Huh.
Suami Tampan
Hai tuan
Apa kau lupa ada janji denganku?
Dia sudah membacanya tapi tak membalasku. Apa terjadi sesuatu padanya?
Apa kau baik-baik saja tuan?
Lagi dia hanya membacanya tak membalas pesanku. Mungkin dia sedang sibuk. Ya sudah ku tunggu kabar saja darinya.
"Hai ra". Teriak tania dan lusi bersamaan ketika membuka pintu kamarku.
"Ada apa kalian kesini?" Tanya ku, tak seperti biasanya.
"Mau bertemu denganmu, mau apa lagi. Kau tak datang kuliah hanya bersantai di kamar".
"Hehe aku hari ini tak enak badan. Kata bunda aku semalam sakit. Padahal aku tak merasakan apapun". Jelasku, bunda memamg melarang ku berangkat kuliau tadi pagi. Katanya aku demam semalaman, seingat ku semalam aku di kantor kak Jun. Tapi entah kenapa tiba-tiba aku sudah di rumah dan bunda bilang aku sakit. Bukankah aneh? Seharian ini juga manusia kutub itu tak membalas pesanku.
"Tunggu sebentar ya, aku mau menemui bunda". Izin ku pada kedua sahabat ku itu.
"Bundamu tadi keluar, katanya ada urusan dengan temannya. Kita berpapasan tadi di pintu". Jelas tania.
"Oh ok". Bunda bahkan tak izin denganku, apa seburu-buru itu. Hemm sudah lah.
***
__ADS_1
Sudah beberapa hari Jun tak memberi kabar pada Ayra, dia juga tak masuk kantor. Ayahnya pun memahami, begitu juga kedua orang tua Ayra. Karena orang tua Ayra tidak ingin memaksakan Jun.
Setelah 4hari Jun menghilang dari peredaran, akhirnya Jun muncul dan datang menemui orang tua Ayra. Jun datang saat Ayra sedang tidak di rumah. Karena Ayra tak mengetahui bahwa Jun sudah tahu tentang sakitnya.
"Jun, apa kabar?". Tanya ayah pada Jun setelah membuka pintu.
"Baik yah". Balasnya.
"Ayo masuk, duduk dulu. Biar ayah panggil Bunda dulu". Ayh Ayra pun masuk ke dalam untuk memanggil istrinya.
Kini di ruang tamu mereka duduk betiga. Orang tua Ayra mengerti apa yang dirasakan Jun. Namun mereka masih terdiam, mereka menunggu Jun sendiri yang memulai berbicara. Mereka tidak ingin membebani Jun.
"Sebenarnya saya bingung harus mulai dari mana". Jun mulai membuka suaranya.
"Tak apa, bicaralah. Kami tidak memaksa kamu untuk tetap melanjutkan pernikahan ini". Jelas ayah.
"Iya Jun, Bunda sama ayah tidak ingin memberimu beban besar. Kami terima apapun keputusan yang kamu buat".
"Saya akan tetap menikah dengan Ayra. Setidaknya saya bisa bantu ayah sama bunda jaga dia". Jawab Jun, ada apa dengan jawaban itu? Menjaga Ayra? Bukankah dia sangat membenci Ayra? Atau udah ada rasa simpatik dalam dalan dirinya?
"Terimakasih Jun. Ayah sama bunda berharap semua akan baik-baik saja untuk kalian".
"Iya yah".
Setelah melakukan segala persiapan, hari pernikahan mereka pun tiba. Acara cukup ramai, mungkin karena keluarga mereka adalah keluarga pebisnis. Jun menampakkan senyum, tapi senyum itu terlihat sedikit dipaksakan. Jun lebih banyak diam. Dia juga tak berbicara dengan Ayra. Mungkin semua orang memaklumi karena mereka menikah karena di jodohkan.
Ayra sedang bersama sahabat-sahabatnya, setelah menemani Jun menemui rekan bisnisnya. Ya hanya sekedar berdiri sebagai istri Jun. Dan menebar senyum.
"Ra kenapa kau tak pernah bilang kalau suamimu tampan?". Tanya Lusi dengan polosnya.
"Gak baik loh ra ngatain suami sendiri". Timpal Tania.
"Itu nyata no tipu-tipu".
"Tapi kamu suka kan ra? Iya kan?". Tanya Lusi dengan nada menggoda Ayra.
"Suka sama manusia kutub itu? Biasa saja."
"Yakin ra?" Tanya Tania memastikan, dengan senyum jailnya.
"Apaan sih kalian".
"Yee di tanya malah ngambek".
Hari itu pun berlalu begitu cepat, setelah menggelar acara pernikahan Jun dan Ayra kini berada di kamar hotel yang sama. Kamar yang sudah Jun pesan sebelumnya. Ayra pun langsng merebahkan diri di kasur yang sangat luas itu.
"Tak bisakah kau membersihkan dirimu dulu baru berbaring di kasur?". Tanyanya dengan nada juteknya.
"Baiklah". Dengan nada lesu dan lelah Ayra pun masuk ke dalam kamar mandi. Untung saja baju pengantin yang Ayra kenakan tidak repot untuk di lepas, jadi dengan tenang dan santai Ayra membersihkan diri.
Tak butuh waktu lama hanya 45 menit Ayra di kamar mandi, dan dia kini sedang berada di balik pintu dengan kepala keluar dan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
"Kak Jun". Ayra mencoba memanggil Jun, namun tak ada suara yang menyauti. Akhirnya dengan handuk yang di lilitkan di tubuhnya dia pun keluar kamar mandi dan hendak menghampiri koper miliknya yang berada di dekat ranjang.
Pantas saja saat di panggil Ayra Jun tak menyahut, ternyata dia tertidur di atas ranjang. Padahal tadi dia sendiri yang menyuruh Ayra untuk membersihkan diri dulu, sekarang malah dia yang sudah tertidur di atas ranjang.
__ADS_1
Saat tau Jun sudah tertidur dengan langkah kilat dia menghampiri koper miliknya. Dan setelah mendapat baju yang akan di pakai, ayra pun bangkit dari posisi jongkoknya. Dan kedua mata Ayra bertemu dengan kedua mata Jun yang ternyata sudah terbangun.
"Aaaaaaa". Ayra teriak dengan sangat keras lalu berlari ke kamar mandi.
Sedangkan Jun masih terdiam mematung di atas ranjang. Sedangkan Ayra sedang merutuki kebodohannya.
"Yaa, tuan. Anda sungguh mesum, saya tidak terima". Ayra mengoceh dengan kesal setelah keluar dari kamar mandi.
"Apa katamu? Mesum? Kau sendiri yang keluar tidak memakai baju. Kenapa menyalahkan ku".
"Kan anda bisa menutup mata, bukan malah melihatku".
"Bukam salah mataku. Salahkan dirimu sendiri yang ceroboh. Lagi kita ini kan sudah sah suami istri, kenapa harus marah. Bahkan aku tak berdosa jika melihatmu tanpa sehelai benang pun". Ucap Jun dengan senyum jail menggoda istrinya.
"Dasar cowo mesum". Ayra memukuli Jun dengan bantal.
"Ya sakit. Kau menyiksa suamimu, kau sangat durhaka kau tau. Ayra stop".
"Enak aja. Kak Jun udah ngeliat aku tanpa ijin, aku gak terima". Ayra terus memukuli Jun, Jun pun berlari ke kamar mandi.
"Berarti kalo di ijinin boleh liat?haha". Tanya Jun dengan tawa jailnya dari dalam kamar mandi.
"Juuunnnn aattmmmaajjaayyaa". Ayra berteriak dengan sangat keras karena kesal. Sedangkan Jun sedang tertawa karena membuat istrinya itu kesal.
"Siapkan baju ku, ada di koper". Teriak Jun dari dalam kamar mandi.
"Aku gak mau". Balas teriak dari Ayra.
"Apa kau mau jadi istri durhaka?".
"Aku tak peduli". Mereka saling berteriak, sampai suara air terdengar dan tak ada lagi balasan dari Jun.
Ayra pun menyiapkan baju ganti untuk suaminya. Dia mengambil kaos oblong warna hitam dan celana pendek, tak lupa dalaman pun ia ambilkan. Sebenarnya Ayra geli karena harus menyiapkan baju suaminya bahkam sampai ke bagian dalam. Namun dia tidak ingin masuk neraka karena durhaka pada suami.
Setelah menyiapkan baju untuk Jun dan menaruhnya di atas sofa, Ayra pun naik ke kasur dan menutup dirinya dengan selimut sebatas leher. Lalu ia terpejam karena sudah sangat lelah, di tambah tadi dia juga mengeluarkan tenaga untuk marah-marah pada suaminya.
Jun pun keluar kamar mandi dan menuju koper miliknya. Dan melihat baju yang sudah di siapkan Ayra, Jun tersenyum tipis. Setelah mengganti baju dia pun menghampiri Ayra yang ternyata sudah pulas.
"Sudah pulas, bahkan dia belum makan". Jun pun keluar untuk mengisi perutnya yang lapar. Dan meninggalkan Ayra di kamar hotel sendirian.
Di lobi Jun pun bertemu ayah mertuanya yang juga akan ke restoran hotel. Mereka pun berjalan bersama. Dan setelah memesan pesanan mereka, Jun dan ayah mertuanya pun mengobrol.
"Jun, ayah titip Ayra ya. Maaf jika nanti putri ayah akan selalu merepotkan mu. Karena sebenarnya dia gadis yang sangat manja". Ayah mertua Jun memulai obrolan.
"Iya ayah, ayah gak usah khawatir. Sekarang Ayra tanggung jawab aku, aku akan berusaha menjaga ayra sekuat tenaga. Ayah gak usah khawatir".
"Makasih ya Jun".
"Iya yah sama-sama".
Mereka pun melanjutkan obrolan hingga larut, dan setelah merasa mengantuk Jun dan Ayah mertuanya kembali ke kamar masing-masing.
Jun memandang Ayra yang sangat damai dalam tidurnya. Lalu ia pun bersiap untuk tidur dan menjelajah alam mimpi.
@@@@@
__ADS_1
maaf semakin gaje. sebenarnya bingung mau lanjut atau gak. makasih buat yg udh setia baca, semoga suka. jangan lupa kritik dan sarannya di kolom komentar ya.. terimakasih.. 🙏🙏