
Terdengar suara berisik dari kamar Ayra dan Jun, terdengar juga suara helaan nafas berat. Seorang gadis sedang duduk bersandar di sofa kamar. Lalu dia bangkit dan menghampiri seseorang yang sedang pulas ter tidur.
"Tuan, aku lapar. Bisakah anda mengantarku ke bawah?". Ayra membangunkan Jun dengan pelan, karena Ayra takut Jun terkejut. Namun tak ada respon dari Jun.
"Tuan Jun Atmajaya, ayo bangun. Aku lapar, apa kau tega pada istrimu?". Ayra mulai mengguncang tangan Jun. Jun pun mulai menggerakan badannya.
"Kau berisik sekali, tak bisakah kau diam?". Pinta Jun dengan mata masih terpenjam.
"Aku lapar, tak bisakah kau mengantarku ke bawah?apa kau tega istri mu kelaparan?"
"Kau ini repot sekali, pesan pakai poselmu saja. Di bawah pun restoran sudah tutup, kau tak lihat sekarang pukul berapa?". Jun pun menarik selimut lagi untuk tidur.
"Oh iya yah, kenapa aku tak memikirkan samapai ke sana". Ayra pun segera membuka aplikasi di ponselnya untuk memesan makanan online.
"Karena kau punya otak tapi di pakai". Saut Jun dari balik selimut.
"Cckkk". Ayra hanya mendengus kesal.
Ayra pun menunggu pesanannya datang, dan tak perlu waktu lama hanya perlu 30 menit. Pesanan Ayra pun akhirnya sampai, Ayra pun dengan cepat berjalan menuju pintu. Dan saat hendak membuka pintu Ayra berhenti dan membalikkan badannya.
"Tuan, istrimu keluar sebentar untuk mengambil makanan". Ayra sedikit bereriak agar Jun mendengarnya.
Jun tak menjawab, dia hanya menutupi telinganya dengan bantal yang ada di samping kepalanya. Dan Ayra pun bergegas ke bawah.
Terlihat Ayra memesan ayam tepung dengan nasi, dan beberapa camilan. Setelah menerima pesanannya Ayra pun berjalan menuju lift. Wajahnya terlihat senang, karena perut laparnya akan segera terisi.
Namun saat hendak sampai ke lantai kamarnya lift tiba-tiba terguncang dan berhenti. Ayra ketakutan, dia berusaha menggedor-gedor pintu lift dan meminta bantuan. Dan tiba-tiba lamupu lift mati, Ayra semakin ketakutan. Dengan cepat ia menelpon Jun. Jun yang masih tertidur kesal saat tidurnya lagi-lagi di ganggu. Apalagi saat tau telpon itu dari Ayra.
"Ada apa lagi sih?". Tanya Jun kesal saat mengangkat telpon dari Ayra.
"Kak Jun, liftnya mati. Aku takut, lampu lift nya juga mati. Tolong aku kak, hiks". Ayra dengan bergetar mulai menangis.
"Tenang ok. Aku akan ke sana sekarang, kamu nyalain senter ponsel kamu. Jangan panik ok".
"Jangan tutup telponnya aku takut".
"Ok ok". Jun pun bergegas keluar dan menelpon bagian keamanan sebelum keluar kamar. Dan bagian keamanan sedang memperbaiki.
"Bunda,hiks hiks". Terdengar suara dari ponsel Jun, Jun pun dengan cepat berlari melalui tangga darurat.
Saat Jun sampai lift tempat Ayra terjebak, pintu lift sudah terbuka dan terlihat Ayra sedang terduduk di sudut lift. Tubuhnya gemetar ketakutan, air matanya tak henti menangis. Jun yang melihat itu langsung dengan cepat memeluk tubuh Ayra.
"Gak usah takut ok. Aku disini, udah gak akan ada apa-apa". Jun memeluk dengan erat, kedua tangannya mengusap-usap punggung Ayra.
Tubuh Ayra lemas, bahkan tak mampu berdiri. Jun pun dengan sigap mengangkat tubuh istrinya.
"Maaf tuan atas kejadian ini". Petugas hotel merasa bersalah dan meminta maaf.
"Tidak apa-apa, saya permisi dulu".
"Baik tuan".
Jun pun membawa Ayra ke kamar hotelnya, untung saja kejadian tadi tidak ramai. Jun hanya tidak ingin orang tua Ayra yang berada di hotel yang sama panik, melihat Ayra ketakutan seperti ini.
Jun menaruh Ayra di sofa, Jun juga mengambilkan minum untuk Ayra. Ayra masih sedikit syok.
"Minum dulu". Jun menyodorkan gelas berisi air putih. Namun Ayra masih saja diam.
"Tak perlu cemas, kamu sudah aman. Sekarang minum dulu ok". Jun menggenggam tangan Ayra dengan pelan sehingga tidak membuatnya terkejut.
Dan untungnya petugas keamanan Hotel sigap, jadi Ayra tak lama berada di dalam lift dan tak membuat Ayra ketakutan parah seperti tempo hari.
"Maaf, aku merepotkan". Ucap Ayra lirih.
"Tidak ada yang merasa di repotkan. Kau melakukan hal yang benar karena menelpon ku bukan orang tuamu". Jun sedikit lega karena Ayra tak ketakutan separah seperti saat di kantor nya.
"Kenapa?".
"Karena kamu sekarang tanggung jawabku. Jadi jika terjadi sesuatu orang pertama yang harus tau adalah aku. Kau mengerti?".
"Hhmmm". Ayra hanya mengangguk.
"Sekarang makan, lalu pergi tidur".
"Tak bisakah kau menemaniku sebentar?". Tanyanya lirih.
"Ok baiklah". Dengan helaan nafas kasar Jun pun menemani Ayra menghabiskan makanan yang ia pesan tadi.
Ayra makan dengan masih sesunggukan karena tadi menangis. Dan dengan cepat Ayra menghabiskan semua makanannya.
__ADS_1
"Dalam keadaan seperti ini pun kau masih bisa makan dengan lahap". Ucap Jun dengan menggelengkan kepalanya.
"Rasa lapar itu tak bisa di ajak kerja sama". Jawab Ayra sebelum melahap suapan terakhir dari makanannya.
"Sudahkan? Sekarang cepat tidur. Besok aku harus ke kantor pagi-pagi".
"Baik tuan".
Setelah membersihkan bekas makanannya tadi Ayra pun menyusul Jun ke tempat tidur. Namun Ayra tak bisa memejamkan mata, apalagi lampu kamar sudah di matikan oleh suaminya.
Ayra berbalik membelakangi Jun, dia sama sekali tidak bisa tidur. Ayra memang selalu tidur dengan lampu kamar menyala. Nampaknya Jun lupa kalau Ayra takut jika gelap. Namun di sisi lain Ayra juga tak ingin membuat suaminya tak bisa tidur, makanya dia diam saja saat Jun mematikan lampu kamar.
Jun tiba-tiba bergerak dan memeluk Ayra dari belakang. Ayra pun terkejut atas apa yang dilakukan Jun.
"Kau harus mulai belajar mengalahkan rasa takutmu. Ada aku disini, dan tidak akan terjadi apapun hanya karena kau tidur dalam gelap. Pejamkan matamu dan fikirkan hal-hal yang membuatmu bahagia". Ucap Jun di telinga Ayra. Dan ini kali pertama Jun dan Ayra sangat dekat dan intim.
"Hhmmm". Ayra mengangguk mengerti, Ayra pun berusaha memejamkan matanya. Meski sulit Ayra sangat berusaha untuk terlelap, sedang Jun sudah pulas dengan masih memeluk Ayra.
AYRA PROV
Dia tau aku takut gelap, sejak kapan? Apa bunda dan ayah memberi tahunya tentangku? Yang pasti aku bersyukur karena dia masih mau menjadi bagian dari hidupku. Aku tau dia melakukan banyak hal padaku termasuk memeluk ku saat ini, dan ini mungkin karena rasa belas kasihan. Aku tau dia tak pernah mencintaiku, namun aku tetap bersyukur dia tetap berada di sampingku saat tau kondisi ku.
Aku benar-benar tak bisa tidur, apalagi dia sama sekali tak bergerak. Dia masih pada posisinya memelukku. Dia memintaku untuk tidur dengan tenang, tapi dia membuatku sulit bergerak. Sekuat tenaga aku melepaskan pelukannya, sampai akhirnya aku mampu terlepas dari pelukannya. Aku pun bangkit dan duduk di sofa, aku bermain ponsel karena benar-benar tak bisa memejamkan mataku.
"Kenapa tidur di sofa?". Tanya seseorang yang sudah memasang wajah bantalnya di hadapanku.
Entah sejak kapan aku tertidur, aku hanya ingat semalam bermain ponsel di sofa.
"Gak niat tidur, taunya ketiduran". Jawabku dengan senyum.
"Kayaknya kamu lebih nyaman di sofa, jadi mulai sekarang kamu boleh tidur di sofa".
"Ya gak gitu juga dong. Enak di situ gak enak di saya". Sungguh pernyataan yang tak terduga dari manusia kutub itu.
"Buktinya semalam kamu di suruh tidur di kasur malah pindah ke sofa".
"Salah siapa meluk aku sampe aku gak bisa gerak sama sekali". Aku pun bicara dengan nada yang mulai tinggi karena kesal.
"Siapa dulu yang ketakutan dan gak bisa tidur kalau lampu mati?".
"Kenapa gak tanya dulu sebelum lampu di matiin?"
"Aku tau kak Jun sebenarnya udah tau kan soal aku yang takut gelap?".
"Dari mana kamu menyimpulkan kalau aku tau?".
"Karena sikap kaka pas nolong aku di lift dan setelah dari lift".
"Aku harus kerja, aku udah kesiangan". Manusia itu pergi gitu aja.
"Nanti koper baju aku kamu yang bawa. Aku udah bilang sama ayah sama bunda kamu pulang bareng mereka. Nanti aku nyusul setelah dari kantor".
"Kak kamu tuh belum jawab pertanyaan aku loh". Ucapku sedikit berteriak karena dia sudah masuk ke dalam kamar mandi.
Dengan rasa kesal yang masih menumpuk di hati, aku menyiapkan baju kerjanya. Lalu aku membereskan baju yang akan di bawa pulang. Karena memang siang ini kami semua keluar dari Hotel tempat acara kemarin.
Dan perdebatan adalah kegiatan pagi pertama kami sebagai sepasang suami istri, bukankah itu sangat lucu?. Akankah perdebatan kecil seperti ini akan terus terjadi pada kami. Aku hanya berharap semua akan baik-baik saja, antara aku dan manusia kutub itu. Upsss suamiku maksudnya, aku bisa kualat jika terus mengatainya.
Setelah selesai membereskan barang-barang, aku duduk di sofa sembari bermain ponsel. Terlihat Kak Jun keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk di pinggangnya, dada bidangnya terekspos begitu saja.
"Ya, tak bisakah pakai bajunya di kamar mandi?". Teriakku dengan kedua telapak tangan menutup wajahku.
"Ribet banget pake baju doang".
"Kak Jun tuh harusnya menghormati aku, membuat mata aku ternodai seperti ini".
"Kau itu istri ku yang sah, gak dosa liat suami begini".
"Ahh gak denger gak denger". Aku mencoba tak menghiraukan ucapannya. Aku pun mencoba membuka sedikit jariku, melihat apakah dia sudah selesai berpakaian.
"Gak usah ngintip-ngintip, bilang aja suka kan?".
"Idih enak aja, aku tuh cape nutup mata mulu. Lain kali pakai baju di kamar mandi".
"Kemarin siapa yang mulai duluan?".
"Kenapa bahas kemarin, itu kan karena aku lupa bawa baju".
" Anggap aja hari ini aku juga lupa". Memang sangat menyebalkan dia ini.
__ADS_1
Cup
"Aku ke kantor dulu". Dia tiba-tiba mencium keningku. Lalu pergi begitu saja.
Aku masih terdiam mematung, apa yang baru saja terjadi? Apa yang dia lakukan? Apa dia menyukaiku? Atau dia hanya menjalankan peran sebagai seorang suami? Haruskah seperti itu? Ya Tuhan, kenapa jantungku berdetak sangat cepat.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu membuatku tersadar, dengan cepat aku membuka pintu kamar. Terlihat Bunda sudah berdiri cantik di depan pintu kamar ku menginap.
"Kamu kenapa?". Tanya Bunda, apa aku terlihat aneh? Sampai Bunda bertanya seperti itu?
"Ah? Gak apa kok bun". Jawabku terbata dengan senyum canggung.
"Kirain ada apa, kamu udah siap-siap? Kita pulang sekarang?". Tanya Bunda.
"Udah, aku cuci muka dulu ya bun".
"Pasti baru bangun ya? Kamu gak nyiapin keperluan suamimu ke kantor?". Tanya Bunda mengintrogasi ku.
"Nyiapin kok". Jawabku dengan cepat.
"Bunda kira kamu masih asik tidur. Sekarang kamu kan sudah menikah jadi bangunnya harus lebih pagi".
"Baik Bunda. Kalau gitu aku siap-siap dulu ya".
Bunda pun kembali ke kamarnya, lalu aku dengan cepat mencuci muka dan bersiap untuk kembali ke rumah.
Aku pun ikut orang tuaku kembali ke rumah. Karena memang itu yang di perintahkan suamiku. Tak perlu waktu lama, aku dan keluargaku sampai ke rumah kami.
Aku dengan cepat masuk ke kamarku, lalu merebahkan tubuhku di kasur. Nampaknya rasa lelahku belum juga hilang. Apalagi semalam tak bisa tidur, jadi ku rebahkan tubuhku di kasur ternyamanku.
Tok tok tok
"Ra, Bunda boleh masuk?". Suara Bunda membangunkan ku dari alam mimpiku.
Ternyata aku tertidur, mungkin karena semalam aku hanya tidur sebentar saja.
"Masuk aja Bun, gak di kunci". Ucapku sedikit berteriak.
Bunda pun membuka pintu kamarku, sedangkan aku masih berbaring cantik di tempat tidur.
"Sudah siang cepat bangun. Bunda sudah siapkan makan siang untuk Jun, nanti kamu antarkan ke kantor ya. Tadi Bunda sudah bilang supaya dia gak usah makan siang di luar".
"Bunda nelpon kak Jun?". Tanyaku, apa Bunda sudah sedekat itu dengan menantu barunya.
"Tadi dia yang nelpon Bunda, katanya nelpon kamu gak di angkat-angkat".
"Hah?". Aku langsung mengecek ponselku. "Hehe handphone nya aku silent".
"Hhhmm dasar, ya sudah sana siap-siap. Bunda siapkan makan siangnya".
"Ok Bun". Aku pun dengan cepat menuju kamar mandi. Bersiap mengirim makan siang untuk suami dinginku.
Tak butuh waktu lama aku bersiap, lalu mengambil makanan yang sudah Bunda siapkan. Aku pun melajukan sepeda motorku. Karena aku berencana untuk mengunjungi rumah sakit setelah dari kantor suamiku.
Tiba juga di kantornya, ini kali kedua aku menginjakkan kaki ku di kantor ini. Dan kali ini aku sudah sebagai istrinya. Nampaknya semua orang di kantornya sudah tau, karena mereka menyapa ku. Aku hanya memberi senyum kepada mereka.
"Maaf apa tuan Jun ada di ruangannya?". Tanya ku pada resepsionis di lobi kantor.
"Ada nona, tadi tuan Jun sudah menghubungi saya jika nona datang suruh langsung ke dalam saja."
"Baik, terimakasih".
"Sama-sama"
Aku pun menuju ruangan kak Jun.
"Jadi juga kau menikah dengannya? Bukankah awalnya kau sangat menolak dijodohkan dengannya? Ada apa ini? Apa kau benar-benar akan membalaskan rasa sakit adikmu padanya? Apa harus dengan menikahinya?"
Praakkk
Mendengar itu dari balik ruangan kak Jun membuat tanganku lemas seketika. Aku menjatukan barang bawaanku. Aku masih terdiam syok mendengar itu.
"Ra, aku bisa jelasin". Kak Jun keluar ruangan dan melihatku. Memcoba untuk menjelaskan padaku.
#####
masih lanjut ya.. semoga yang baca suka.. jangan lupa kritik dan sarannya di kolom komentar. terimakasih untuk yang sudah baca dan masih setia baca. ๐๐๐๐๐๐งก๐
__ADS_1