
"Wah ternyata benar itu kau".
"Dokter?". Ucap Ayra yang terlihat terkejut.
"Sudah selesai makan siang?" Tanya seseorang yang di sebut dokter itu.
"Batal". Ucap Ayra dengan sedikit senyum.
"Ada apa?".
"Ayah tak jadi datang, jadi aku memutuskan untuk tidak melanjutkan makan siang disini. Kakak juga akan makan siang?". Tanya Ayra.
"Iya, apa kau mau menemani ku untuk makan siang?". Tanya nya.
"Jika pak dokter yang kaya raya ini bersedia mentraktir ku makan enak sudah pasti bersedia". Ucap Ayra dengan candaan.
"Tidak masalah, kau bisa makan sepuasnya. Kau tau, aku tidak akan bangkrut hanya dengan mentraktir mu makan siang". Balas nya dengan candaan.
"Baik lah. Let's go".
"Dasar". Dokter iti tersenyum dengan mengusap-usap kepala Ayra, terlihat seperti sudah sangat dekat.
Sedang di dalam restoran seorang Jun masih saja memandangi arah luar, dimana terlihat Ayra yang sedang berbincang dengan seseorang tadi.
"Apakah itu kekasihmu gadis kecil? Tampaknya kau akan menangis nanti jika kau menikah denganku dan harus meninggalkan kekasihmu itu". Ucap Jun dengan menyeringai.
Jun berfikir bahwa laki-laki yang bersama Ayra tadi adalah kekasih Ayra, maka dari itu Jun merasa senang jika Ayra jadi menikah dengannya. Dengan begitu Ayra akan merasa terluka karena terpisah dengan kekasihnya. Itulah yang ada di pikiran Jun saat melihat Ayra dengan seorang laki-laki.
Jun pun melanjutkan makannya sebelum dia kembali ke kantor, dan dia harus membayar makanan yang Ayra pesan namun tak sedikitpun ia makan.
Disis lain Ayra sedang menikmati makan siang dengan senang di temani dokter tampan.
"Makasih ya kak Ghibran atas traktiran nya". Ucap Ayra dengan senyum.
Ghibran Rafif Fakhri seorang dokter spesialis anak. Laki-laki yang sudah cukup lama dikenal Ayra. Mungkin sudah sekitar 2tahun. Saat itu Ayra sedang berada di rumah sakit bersama ibunya. Dia yang masih syok atas bunuh dirinya Andra harus menjalani pengobatan dan tak sengaja bertemu dengan Dokter Ghibran.
Beberapa tahun lalu.
"Ayra, berhenti nak". Bunda terus memanggil Ayra yang berjalan lurus dengan fikiran yang kosong. Ayra tak mendengar suara Bunda yang terus memanggil nya.
Dan saat itu dokter Ghibran tak sengaja melihat Ayra berjalan dengan pikiran yang kosong. Karena Dokter Ghibran tau Bunda sedang memanggil Ayra, namun Ayra tak bergeming akhirnya Dokter Ghibran mencoba menghentikan Ayra .
"Hey tunggu sebentar". Dokter Ghibran menghentikan Ayra dengan memegang bahu Ayra, dan mendudukan Ayra di kursi.
"Apa kau mau permen?". Dokter Ghibran mengeluarkan permen lolipop dari sakunya. Dia memang selalu membawa nya saat sedang di rumah sakit, mungkin karena dia Dokter anak.
"Terima kasih Dokter". Ucap Bunda pada Dokter Ghibran.
"Sama-sama bu".
"Ayo nak kita bertemu Dokter dulu". Ajak Bunda, karena tadi belum sempat di panggil Ayra malah berjalan pergi.
"Kalau boleh tau, pemeriksaan di bagaian apa bu?" Tanya Dokter Ghibran.
"Psikiater Dok".
"Kalau gitu mari saya bantu".
"Terimakasih Dok".
Dokter Ghibran membantu Bunda memapah Ayra yang seperti mayat hidup, dan Ayra pun harus rutin datang ke rumah sakit. Dan sesekali Dokter Ghibran menemui Ayra dan mengajaknya berbicara, Bunda pun senang karena Ayra terbantu oleh adanya Dokter Ghibran. Ayra pun mulai mau berbicara, walau hanya sedikit namun itu sudah sangat bagus untuk kemajuan Ayra.
__ADS_1
Dokter Ghibran pun senang karena kemajuan Ayra, dan setelah Ayra tak lagi ke rumah sakit Dokter Ghibran sesekali pun bertemu dengan Ayra. Maka dari itu mereka kini berteman dengan baik.
"Habis ini langsung pulang?". Tanya Ghibran.
"Iya udah gak ada kelas juga".
"Apakah mau ikut denganku kerumah sakit?". Tanya Ghibran.
"Hhmm, sudah lama aku tidak kesana". Jawab Ayra antusias.
"Iya, bahkan Rafa menanyakan pacarnya yang tak pernah datang".
"Ya ampun, aku sungguh jahat telah melupakan nya. Apakah boleh membawakan makanan untuk mereka?". Tanya Ayra.
"Tentu saja".
"Apa ada yang alergi dengan makanan? Aku akan mencatatnya". Ayra pun mulai mencatat apa yang Ghibran sebutkan.
Ayra pun membelikan Roti, Biskuit dan semacamnya untuk di bawa ke rumah sakit. Setelah membeli yang akan ia bawa Ghibran pun melajukan mobilnya menuju Rumah Sakit.
Tak butuh waktu lama Ayra dan Ghibran pun sampai. Ayra dengan semangat membawa makanan ke dalam Rumah Sakit dan menemui anak yang sedang bermain di ruang bermain Anak.
"Hai semua". Sapa Ayra dengan gembira.
"Kak Ayra". Seru anak-anak dengan semangat.
Anak-anak pun datang menghampiri Ayra dan memeluknya, namun ada sebagian anak yang hanya diam. Karena mereka belum mengenal Ayra, sepertinya pasien baru. Dan terlihat seorang anak laki-laki duduk terdiam dengan wajah cemberut tak memandang Ayra. Ayra pun mencoba menghampiri nya.
"Hai pria tampan, apa kau marah padaku?". Tanya Ayra.
Anak laki-laki itu masih saja diam, dia malah menyilangkan tangannya di dada.
"Apa kau benar-benar sedih?" Tanya anak laki-laki itu.
"Tentu saja, karena kau terus mendiami ku". Lagi-lagi Ayra mencoba berpura-pura memasang wajah sedih.
"Baiklah, kali ini aku maafkan".
"Wah pria tampan ini semakin dewasa". Puji Ayra.
"Tentu saja, aku harus dewasa. Kelak jika aku bertumbuh tinggi aku akan menikah denganmu". Ucap anak laki-laki itu ceria.
"Wah, tuan Rafa yang tampan ini akan menikahi ku. Aku akan menunggumu hingga tumbuh tinggi". Anak laki-laki itu adalah Rafa, yang selalu menganggap bahwa Ayra adalah kekasihnya.
"Benar kah?".
"Tentu saja. Rafa, topi mu keren. Apakah itu baru?". Tanya Ayra.
"Apa kau akan kecewa jika aku tak memiliki rambut?". Tanya Rafa dengan wajah murung.
"Tentu tidak, pasti semakin keren". Ayra mencoba membuat Rafa tak lagi murung.
"Tapi kata anak-anak yang lain aku ini jelek karena tak memiliki rambut".
"Tak apa, nanti jika kemoterapi nya selesai rambutmu akan tumbuh kembali. Bagaimana kalau nanti aku buatkan topi untukmu, supaya kau semakin keren."
"Benarkah?"
"Tentu, nanti saat aku datang lagi aku akan membawanya. Aku akan membuatkan topi rajut untukmu.kau setuju?".
"Tentu, aku sangat senang".
__ADS_1
Ayra masih berbincang dengan Rafa dan bermain dengan beberapa anak lainnya di sana. Sedangkan di balik pintu Ghibran terus memandangi mereka dengan senyum.
"Dokter hati-hati kelamaan memandang bisa jatuh cinta loh". Ledek salah satu suster yang melihat Ghibran sedang memandang Ayra.
"Apa sih suster ini". Ghibran jadi salah tingkah di ledek salah seorang suster.
Ghibran memang sangat perhatian dengan Ayra, sejak mereka pertama bertemu hingga saat ini. Kebetulan Ghibran juga masih sendiri, dia belum terlihat memiliki kekasih. Maka dari itu, dokter Ghibran seringkali di jodohkan dengan Ayra. Para suster dan dokter kenalan mereka selalu saja menjodoh-jodohkan mereka.
Ayra pun menemui dokter Ghibran di ruang kerjanya. Terlihat Ghibran sedang serius mengerjakan pekerjaannya.
Tokttok
Ayra mengetok pintu, membuat penghuni ruangan menoleh ke arah sumber suara.
"Sibuk sekali sepertinya pak dokter". Ayra pun masuk menemui Ghibran.
"Duduk ra". Ghibran mempersilahkan. "apa sudah akan pulang?". Tanya Ghibran.
"Iya, sudah sore. Aku pamit ya".
"Aku antar ra, kebetulan aku sudah selesai". Ghibran menawarkan diri untuk mengantar.
"Hehe Baiklah jika pak dokter memaksa". Ucap Ayra dengan senyum kudanya.
"Hheemm, ayo" . Ghibran pun tersenyum tampan.
Ghibran pun mengantar kan Ayra pulang, dan sesampainya di rumah terlihat orangtua Ayra sedang duduk di teras.
"Sore om". Sapa Ghibran sopan.
"Sore dokter, loh kok bisa barengan sama Ayra?". Tanya ayah Ayra.
"Iya om, tadi Ayra dari rumah sakit".
"Kamu sakit nak?". Tanya ayah panik.
"Tidak yah, aku abis main aja sama anak-anak disana. Sudah lama aku tidak pernah menjenguk mereka". Terang Ayra.
"Oh. Ayah kira kamu sakit". Ayah menghela napas.
"Kalo begitu saya pamit dulu om, tante". Ghibran pun pamit untuk pulang.
"Iya dokter Ghibran, terimakasih sudah mengantar Ayra". Ucap bunda pada dokter Ghibran.
"Sama-sama tante, kalo gitu saya pamit".
Dokter Ghibran pun mengendarai mobilnya dan berlalu dari kediaman Ayra.
Ayra yang hendak masuk pun di hentikan langkahnya. Membuat Ayra masih terdiam di depan pintu rumahnya.
"Tunggu sebentar Ayra". Suara ayah menghentikan langkah Ayra.
"Ada apa yah?". Tanya Ayra penasaran.
"Apa kamu dekat dengan dokter tadi?". Tanya Ayah dengan wajah serius.
"Dekat, dokter Ghibran orangnya baik yah. Bagaimana bisa tidak dekat dengannya". Jawab Ayra ringan.
"Apa kau menyukainya?". Tanya ayah tiba-tiba.
Ayra terdiam dengan pertanyaan ayahnya. Nampaknya pertanyaan ayah terlalu mengejutkan bagi Ayra.
__ADS_1