
" Benar-benar menyebalkan, kenapa semua ini harus terjadi. Dan kenapa harus aku yang menikah dengan gadis kecil itu". Jun masih meratapi nasibnya.
Jun terduduk di atas ranjangnya, dia benar-benar tidak habis fikir kenapa semua ini terjadi. Di saat dia menolak perjodohan dari ayahnya, kini dia harus menerima dengan paksa perjodohan itu. Dengan gadis yang sangat dia benci, gadis yang membuat hati adiknya terluka.
Jun benar-benar tak tau harus berbuat apa, karena dia sudah berjanji dengan ayah Ayra. Dia sungguh tidak tega jika harus menolak dan melihat sakit ayah Ayra kambuh lagi. Dengan terpaksa dia pun harus menerima perjodohan itu.
Jun pun hanya bisa pasrah menerima keadaannya ini, dia merasa tak tega melihat ayah Ayra dalam keadaan sakit maka dari itu dia mau menerima perjodohan itu. Walau sebenarnya Jun sangat tak menyukai Ayra.
Di sisi lain terlihat ayah Jun sedang duduk terdiam di ruang kerjanya, sembari memandangi sebuah buku agenda di hadapannya. Nampak wajah Ayah Jun menunjukan kesedihan. Entah apa yang sedang ada di benaknya. Bahkan sempat terlihat ayah Jun mengusap air matanya. Dan tak lama dia pun meletakan buku berwarna cokelat itu di laci meja kerjanya.
####
"Ayah, kenapa aku harus menikah dengan kak Jun? Kau kan tau, aku belum selesai kuliah." Ayra masih saja merengek pada ayahnya, karena dia merasa masih terlalu dini untuk menikah.
"Ayah hanya akan merasa tenang jika ada orang yang menjagamu, ayah khawatir jika ayah tiada kamu tak ada yang menjaga".
"Aku yakin ayah akan sembuh kenapa ayah harus berfikir terlalu jauh. Aku belum mengenal kak Jun dan aku masih ingin mengejar impianku".
"Bicarakan impianmu pada Jun, ayah yakin di akan mendukungmu. Dan ayah yakin dia anak yang baik dia akan bisa menjagamu. Ayah hanya ingin melihatmu bahagia, dan ayah akan tenang jika ada seseorang yang bisa menjagamu. Dan kau bisa pelan-pelan mengenalnya, rasa itu ada karena terbiasa bersama. Tak perlu ada yang di cemaskan." Ayah Ayra masih membujuk Ayra.
Ayra masih terdiam, merenungi nasibnya.
"Bukannya aku tak suka di nikahkan dengan kak Jun, aku sangat bahagia malah. Hanya saja tidak secepat ini aku ingin menikah." Ayra berbicara dalam hatinya.
Siapa yang tidak suka di nikahkan dengan pria yang sudah lama dia suka. Ayra pun berfikir demikian, namun bagaimana dengan Jun. Apakah Jun berfikir hal yang sama. Dan pada akhirnya Ayra hanya mampu pasrah menerima semua, Ayra berharap semua adalah hal baik.
----
Jun datang ke kantor dengan wajah yang sangat lesu. Panji sang sahabat yang melihat itu pun langsung mengikuti Jun ke ruang kerja Jun.
"Ada apa dengan wajah tampan itu bos?" Tanya panji dengan nada meledek.
"Kau tau pada akhirnya aku harus menikah dengan gadis kecil itu". Jun terlihat sangat kesal.
"Tak ada salahnya bukan, kau mendapatkan seorang gadis anak tunggal pengusaha. Kekayaan mu akan bertambah kawan, bukan kah itu menguntungkan". Ucap panji .
"Kau fikir kekayaan ku tidak cukup untuk menghidupi diriku? Aku tak butuh itu, aku ingin menikah dengan orang pilihanku".
"Seperti wanita-wanita pecinta uang itu?". Tanya panji dengan nada meledek.
"Sudah lah, kau tak perlu ikut campur. Pada akhirnya aku akan kalah dengan pak tua itu".
__ADS_1
"Wah... Kau sangat tidak sopan dengan ayahmu sendiri. Aku yakin ayahmu tak akan memilihkan gadis sembarangan untuk putranya".
"Namun nyatanya itu yang terjadi." Ucap Jun dalam hatinya.
"Sudah sana, keberadaan mu disini sangat tidak membantu." Usir Jun.
Karena sudah di usir oleh sahabat sekaligus atasannya itu panji pun keluar ruangan. Dan melanjutkan pekerjaannya, lalu tak lama ayahnya masuk ke ruangan Jun.
"Apa kau sibuk?" Tanya ayahnya.
"Seperti yang anda lihat". Jawab Jun datar. Jun pun langsung membuka file-file yang ada di hadapannya, seolah-olah dia sangat sibuk padahal dia baru saja datang.
"Jika tak sibuk makan siang datanglah menemui Hermawan, ayah sudah janji bertemu namun tak bisa datang karena ada rapat penting".
"Apa harus? Sungguh aku sangat malas. Bisakah dibatalkan saja?". Tanya Jun memohon.
"Tidak bisa, aku tidak ingin mengecewakan sahabat ku". Ucap ayah Jun.
"Ayolah yah, tak bisakah kau tak memaksaku untuk hal seperti ini?" Jun masih berusaha memohon.
"Ini untuk membahas pernikahan kalian, ayah harap kau tak mengecewakan Hermawan, ayah tidak ingin sakitnya akan kambuh lagi".
"Hhuufffttt" Jun menghela nafas berat.
Pada akhirnya anak akan kalah dari ayahnya. Jun pun dengan terpaksa datang menemui ayah Ayra saat jam istirahat, meski masih ada pekerjaan yang belum selesai Jun tetap datang karena merasa tak enak jika tak datang. Sedang pekerjaan dia lempar ke sahabatnya.
Saat jam makan siang Jun pun datang ke tempat yang di beritahu ayahnya. Saat masuk restoran Jun mencoba mencari pak Hermawan, namun yang dia lihat hanya ada Ayra. Jun pun tanpa ragu menghampiri Ayra, karena dia berfikir mungkin ayah Ayra sedang berada di toilet.
"Mana ayahmu?" Tanya Jun pada Ayra tanpa basa basi.
"Kenapa kakak disini?" Tanya Ayra bingung.
"Aku bertanya, kenapa kau malah balik bertanya bukam menjawab pertanyaanku?" Jun berbicara sangat ketus pada Ayra.
"Bisakah berbicara biasa saja? Meski aku lebih muda seharusnya kakak bisa lebih sopan kepada ku". Ucap Ayra mulai kesal dengan sikap Jun.
"Ok, lalu mana ayahmu?". Tanya Jun lagi.
"Aku tak tau, aku juga sedang menunggunya. Lalu kenapa kakak disini?". Tanya Ayra.
"Bertemu ayahmu tentu saja. " Jawab Jun.
__ADS_1
Dan tak lama setelah pesanan makanan mereka datang handphone Jun berdering. Dengan cepat pun Jun mengangkat nya.
" Iya om"..
"Maaf Jun tiba-tiba klien minta rapat dadakan. Bisakah kau temani Ayra makan siang sejenak?? Pasti dia kecewa jika tau ayahnya tak datang dan dia harus makan sendiri". Suara di balik telpon tersebut adalah ayah Ayra.
"Iya om aku mengerti". Jawab Jun singkat.
"Terima kasih banyak Jun".
"Sama-sama ". Jun menutup telepon di tangannya. Lalu meletakkannya di atas meja, dan langsung menatap Ayra.
"Ada apa?". Tanya Ayra, nampaknya dia tau kalau tadi adalah telpon dari ayahnya.
"Ayahmu tidak bisa datang, dan aku harus menemani mu makan siang". Jawabnya ketus.
"Rencana yang sudah bisa di tebak, tidak bisakah para orang tua itu lebih kreatif". Ucap Jun dalam hati kesal.
" Dih, dasar orang tua. Tak bisakah lebih kreatif jika ingin membuatkan kencan untuk anaknya". Ayra pun kesal, namun kata-katanya itu di dengar oleh Jun.
"Kencan? Apa kau anggap ini kencan? Dasar anak kecil". Jun sangat kesal dengan kata-kata yang di ucapkan Ayra.
"Aku tidak pernah berfikir seperti itu. Aku hanya berpendapat, mungkin itu pemikiran mereka".
" Banyak alasan, akui saja jika kau mengharapkan bisa berkencan dengan ku".
"Jika iya memang kenapa?". Tanya Ayra menantang.
"Kau fikir aku mau? Maaf gadis kecil aku tak tertarik".
" Apa? Gadis kecil? Yah, aku bukan anak kecil. Aku sudah 20 tahun ya". Ayra nampak sangat kesal karena di bilang anak kecil.
"Bersikaplah sopan pada yang lebih tua nona. Sudah, habiskan makanan mu lalu pergi".
"Kau mengusir ku? Hisss tak perlu nunggu makanan ku habis, aku pergi sekarang". Ayra sangat kesal atas perlakuan Jun padanya..
"Yah, aku tak bertanggung jawab jika nanti kau sakit". Teriak Jun pada Ayra yang sudah berjalan ke arah pintu keluar.
Dan saat sedang menunggu taksi, terlihat seorang menghampiri Ayra. Seorang pria yang sangat rapih dan tampan, dia juga terlihat sedikit dewasa dari Ayra.
"Wah ternyata benar ini kau". Ucap orang tersebut ketika memastikan bahwa itu orang yang dia kenal.
__ADS_1
"Dokter?" Ayra pun terkejut.
Dari dalam restoran Jun melihat Ayra sedang berbincang dengan seseorang. Jun hanya memandang sinis terhadap Ayra.