
Seperti biasanya setiap pagi Ayra selalu menyempatkan untuk sarapan bersama orangtuanya. Terlihat Ayah dan bundanya sudah berada di sana.
"Pagi bunda, ayah". Sapa Ayra.
"Pagi sayang".
"Hari ini sudah mulai kuliahnya? ". Tanya ayahnya sembari menyeruput kopi hangat di tangan nya.
"Iya yah, dan mungkin pulang sore".
"Oya ra, gimana pendapat kamu tentang Jun? " tanya ayahnya tiba-tiba, membuat Ayra berhenti mengunyah makanannya.
"Kakak yang semalem? ". Tanta Ayra memperjelas.
"Iya, bagaimana? ". Tanya Ayahnya lagi.
"Baik, kelihatannya". Jawab Ayra lalu melanjutkan makannya.
"Apa kau tidak tertarik? ". Pertanyaan ayahnya lagi-lagi membuat dia menghentikan aktivitas makannya.
Ayra terlihat terdiam sejenak, lalu memandang ayahnya.
"Tertarik? Biasa saja". Jawab Ayra datar.
"Jelas tertarik lah. Siapa yang gak mau sama orang ganteng kaya dia. Masih muda udah sukses". Ayra bergumam dalam hatinya.
"Ayah berencana menjodohkan kamu dengan dia".
"Sudah bisa ditebak, pasti akan seperti ini. Tak masalah jika itu dia." Ayra berbicara sendiri dalam hatinya.
"Bolehkah aku memikirkannya terlebih dahulu? ". Tanya Ayra.
Ayah hanya mengangguk setuju, dan terlihat bunda hanya tersenyum memandang ayah dan anak tersebut.
Setelah menghabiskan sarapannya Ayra pun berangkat ke kampusnya. Karena hari ini dia ada kelas pagi. Dengan mengendarai sepeda motornya Ayra berjalan tidak terlalu kencang.
Setelah menempuh perjalanan 45 menit Ayra pun sampai di parkiran kampusnnya. Terlihat sahabat-sahabat nya sudah menunggu Ayra, dan langsung menghampiri Ayra ketika melihat Ayra sedang memarkirkan sepeda motornya.
"Naik motor lagi ra?? ". Tanya salah satu temannya.
"Iya, biar kalian gak nebeng mulu." jawab Ayra dengan sedikit candaan.
"Ya ilah, nebeng gak tiap hari juga."
"Ya udh lah, masuk yu". Ajak Ayra.
Mereka bertiga pun berjalan menuju ruang kelas. Terlihat masih belum ramai,mungkin karena Ayra datang lebih awal.
" menurut kalian nikah muda gimana?". Tanya Ayra tiba-tiba.
Terlihat kedua sahabat nya memandang Ayra heran. Dan kedua sahabat Ayra tersebut saling beradu pandang satu sama lain,lalu kembali memandang Ayra.
__ADS_1
"Jangan bilang kamu mau nikah ra?" . Tanya Lusi salah satu sahabat Ayra.
"Masih dalam masa pertimbangan". Jawab Ayra ringan.
"Jadi serius kamu mau nikah? Bukannya kamu belum punya pacar? Bahkan jomblo akut dari jaman SMA , cuma nungguin pacar khayalannya yg gak pernah ketemu dan entah dimana sekarang. " celetuk Tania sembari mengejek Ayra.
" ayah mau jodohin aku sama temen bisnisnya. Kan lumayan dapet orang kaya". Ucap Ayra sembari tersenyum garing.
"Jadi kamu mau nikah sama om-om ra? ". Tanya Tania terkejut.
"Enggak lah, kalau di jodohinnya sama om-om aku udah nolak duluan. Ini sama anaknya". Jelas Ayra.
"Ohh, masih muda gak ra? ". Tanya Tania penasaran.
"Kelihatannya masih muda, dan lumayan tidak akan memalukan jika di ajak jalan". Jawab Ayra lagi dengan senyuman.
"Kalo gitu sikat ra". Ucap Tania bersemangat.
"Kenapa jadi kamu yang bersemangat". Celetuk Lusi sembari menyenggol bahu Tania.
"Biarin, namanya siapa ra? ". Tanya Tania lagi penasaran.
"Jun Atmajaya". Jawab Ayra.
"Anaknya keluarga Atmajaya ra? ". Tanya Lusi terkejut.
" kakaknya Andra ra? ". Tanya Tania tiba-tiba.
"Sorry ra". Ucap Tania lirih, Tania merasa bersalah karena telah menyinggung seseorang dari masa lalu Ayra.
"Andra, aku baru ingat Andra adalah anak keluarga Atmajaya. Kenapa aku bisa sebodoh itu, jadi ka Jun kakaknya Andra". Ayra terus saja berbicara dalam hati, tanpa sadar dia membuat sahabat-sahabat nya bingung dan merasa bersalah.
"Ra, kamu gak apa-apa kan? ". Tanya Lusi sembari memegang bahu Ayra.
"Gak apa-apa kok lus". Jawab Ayra datar.
"Sorry ya ra, gak ada maksud nyinggung". Tania terlihat merasa bersalah.
"Gak apa-apa, masa lalu ya masa lalu. Aku yakin Andra juga udah tenang di sana". Ucap Ayra dengan tersenyum.
Sejak percakapan pagi itu Ayra jadi sering melamun, entah apa yang sedang ia fikirkan. Yang pasti pikirannya kembali ke masa lalunya. Kematian Andra yang terjadi di depan matanya. Dan seseorang yang ia tunggu sejak bertahun-tahun lalu. Semua berkecamuk dalam hatinya.
setelah pulang dari kampus Ayra tak terlihat keluar kamar, dia masih duduk terdiam di kamarnya. bahkan saat bunda memanggil dan mengetuk pintu pun Ayra tak menyahuti. bunda pun masuk karena pintu ternyata tidak di kunci.
"Ra, kamu kenapa? ". Tanya bunda mengejutkan Ayra yang sedang duduk di depan meja belajarnya.
"Eh buda, gak apa-apa kok bun". Jawab Ayra dengan memaksakan senyuman.
"Gak usah di tutupin dari bunda, bukannya kamu sudah berjanji akan membicarakan apa saja yang mengganggu fikiranmu". Ucap bunda sembari mengusap kepala anaknya penuh sayang.
"Gak ada bun, bener kok. Ayra pasti cerita kalo ada apa-apa ". Ayra mengusap tangan bundanya mengisyaratkan bahwa bunda tak perlu khawatir.
__ADS_1
"Ya sudah, bunda kesini ingin membahas masalah semalam. Apa kamu sudah memikirkan? Bunda tidak ingin membebanimu. Jika kamu merasa keberatan bunda akan bilang kepada keluarga om atma. "
"Aku bagaimana keputusan dari kak Jun aja bun, aku yakin ayah sama bunda sudah memikirkan yang terbaik buat aku". Jawab Ayra dengan senyum.
"Jujur aku tak tau apa keputusanku ini tepat, aku memikirkan diriku sendiri dan Andra. Aku tau kak Jun orang yang baik. Karena hanya kebaikan yang aku dengar dari mulut adiknya. Dan beberapa tahun lalu aku bertu dengannya pun aku tau dia orang yang baik. Namun apa pantas aku bersama dengannya. Aku merasa bersalah setiap mengingat Andra. Andai waktu itu dia datang lebih awal. Mungkin dia mampu mencegah Andra."
Ayra kembali berkutat dengan fikirannya sendiri setelah bunda keluar dari kamarnya.
18 agustus 2018
Yogyakarta.
Liburan yang sangat menyebalkan bagi Ayra. Karena dia bangun kesiangan jadi dia di tinggal sahabat-sahabatnya sendirian di kamar hotel. Sedangkan sahabat-sahabatnya, guru pembimbing serta teman satu kelasnya sudah pergi untuk wisata. Ayra pun berencana menyusul.
Saat di jalan dia melihat seorang nenek sedang kerepotan membawa barang dagangannya. Ayra pun datang menghampiri, karena telihat nenek itu akan menyebrang jalan yang cukup ramai.
"Sini nek aku bantu bawa". Ayra menawarkan bantuan dengan membawakan tas jinjing milik nenek tersebut. Sedang nenek tersebut masih menggendong bakul di punggungnya.
"Matur suwun nggih ndok". Ucap terima kasih dari nenek tersebut.
"Iya nek sama-sama ". Ayra tersenyum.
Namum Ayra dan nenek tersebut tak juga menyebrang.
"Gimana nyebrangnya ini, aku takut. Rame banget jalannya. Tapi kalau gak di bantuin kasian nenek ini". Ucap Ayra dalam hati.
Ternyata Ayra juga takut, dan tiba-tiba Ayra pamit sebentar sama nenek tadi. Dan Ayra menghampiri seseorang yang sedang berdiri memegang ponselnya di tepi jalan tak jauh dari tempat Ayra tadi berdiri.
"Kak minta tolong boleh?, tolong sebrangin aku sama nenek itu". Ayra menunjuk nenek yang sedang berdiri di pinggir jalan.
Tanpa berkata apa-apa, laki-laki itu berjalan menghampiri nenek yang tadi bersama Ayra. Ayra hanya membuntuti dari belakang.
"Badhe nyebrang mbah?, tak sebrangaken nggih". Laki-laki itu berkata sembari teraenyum.
(Mau nyebrang nek? Aku sebrangin ya)
"Oh nggih, matur suwun nggih ". Nenek itu pun mengungkapkan terima kasih.
Laki-laki itu menyeberangkan nenek tersebut sedangkan Ayra hanya membuntuti di belakang mereka. Setelah sampai di sebrang jalan laki-laki itu berbincang dengan nenek sebentar. setelah selesai Ayra pun mencoba menghampiri laki-laki tersebut.
"Kak makasih ya udah bantu aku sama nenek". Ucap Ayra dengan senyuman.
"Hem". Hanya itu tanggapan dari laki-laki itu.
"Gak bisa nyebrang sok-sokan mau nyebrangin orang". Terdengar laki-laki itu berbicara lirih.
"Kenapa ka? ". Tanya Ayra yang tak mendengar ucapan laki-laki tersebut.
Tapi laki-laki itu hanya menggeleng lalu pergi dari hadapan Ayra. Tanggapan laki-laki itu terhadap nenek tadi dan Ayra sungguh berbeda. Tapi Ayra masih saja terlihat senyum-senyum sembari mengantar nenek tadi ketempatnya berdagang.
Dan ternyata laki-laki yang memiliki sikap berbeda itu adalah Jun Atmajaya. Anak tertua keluarga Atmajaya. Laki-laki yang sempat membuat Ayra tersentuh karena mau menolong orang tanpa pandang apa pun di balik wajah tampannya. Pertemuan yang tak terduga bagi Ayra dan Jun pun kembali terjadi.
__ADS_1