
Kondisi perekonomian di keluarga Pak Tejo pasang surut semenjak dia tidak merantau lagi.Terlebih lagi Putrinya membutuhkan biaya cukup banyak untuk membayar uang sekolahnya.Pak Tejo dan Istrinya harus pintar mengelola keuangannya untuk kehidupan sehari-hari dan sebagian di tabung buat jaga-jaga kalau Jeng Ani meneruskan pendidikannya di bangku kuliah nantinya.
Ibu Parni yang sehari-hari keliling jual dagangan tempenya semenjak dia ada kasus dengan Lek Heri kini agak sedikit sepi .Ibu Parni sering di ejek warga sekitar tentang perselingkuhannya dengan tetangganya tersebut.Akan tetapi dia harus menerima dengan lapang dada karena perbuatannya tersebut dengan senyuman.
Suatu hari Ibu parni keliling dari kampung ke kampung untuk menjajakan dagangan dengan mengendong keranjang berisi tempe seperti biasa bertemu dengan sekumpulan ibu-ibu julid terhadapnya.
"Bu mari sini mau beli tempe nya bu"ucap salah satu ibu-ibu yang duduk santai di depan perumahan warga.
"Oh iya bu mari mau beli berapa"tanya Ibu Parni membuka dagangannya.
"10 ribu ya bu yang bagus-bagus ya saya mau bikin tempe mendoan"balasnya.
Oya bu maaf ne mau tanya memangnya cinta terlarangnya Ibu sama itu tuuu siapa nama ibu...ibuuu ....Lek Heri sudah kandas ya kok kembali ke suaminya ???"tanya tetangganya tersebut mengejeknya.
"Saya sudah tidak punya urusan lagi bu sama dia ,saya mohon dengan sangat jangan mengungkit-ungkit masa lalu saya lagi ya bu "jawab Bu Parni kesal.
"Lho bu saya kan cuma tanya aja kenapa ibu sewot ,cukup ibu saja ya yang jadi penggoda laki-laki orang ,jangan ibu turunkan kepada putrimu"hina tetangganya.
Ya Allah Bu Tega sekali bicara begitu ,terima kasih ya sudah membeli tempe saya tapi lain kali kalau bicara di fikir dulu ya bu "imbuh Bu Parni tersenyum namun batinnya terasa sakit atas penghinaan tetangganya.
Kadang Bu Parni mengeluh kepada suaminya tentang apa yang dirasakan selama berjualan.Namun apa daya hanya itu mata pencarian Ibu Parni selama itu.
Sementara itu Jeng Ani sehari-hari fokus dengan kegiatan sekolahnya atas Kecerdasnya dan kecantikan alaminya yang dia miliki dia selalu mendapatkan kesempatan untuk mengikuti berbagai lomba antar kabupaten .
Pada suatu hari di pagi hari itu, seperti biasa jam kesenian berlangsung sesuai dengan jadwalnya penilaian lomba menari tradisional di jam pelajaran Pak Erlang.
Tok...tok..,Pak Erlang melangkahkan kaki memasuki ruangan kelas.
__ADS_1
"Selamat pagi anak-anak bagaimana kabarnya pagi hari ini sehat??apakah semua sudah siap dengan menampilkan tari tradisional di masing-masing kelompok??tanya Pak Erlang tersenyum.
Siapppp Pak sudah " jawab murid-murid dengan serentak.
"Pintar,sekarang kelompok siapa yang akan maju duluan silahkan"ucap Guru Kesenian tersebut.
"Ani mari maju biar cepat kelar",ajak teman kelompoknya.
"Ah kok pertama kali sih tunggu sebentar lagi"jawab Ani masih ragu.
"Ayolaaaaah"cepat dong nanti di dahului kelompok lain An"rayu temannya.
"Hae...hae yang di pojokan sana kayaknya mau maju duluan deh teman-teman ayo beri tepuk tangannya kelompokkkkkkkkkkkkkkkk Andriani"teriak murid laki-laki di kelas tersebut.
Semua murid tertuju pada kelompoknya Ani ,awalnya Ani masih ragu-ragu untuk menampilkan tarinya namun Pak Erlang menujuknya untuk segera maju kedepan bersama kelompoknya.
Beberapa detik kemudian kelompoknya Ani maju kedepan dengan tarian tradisional yaitu tarian Jaipongan ,Pak Erlang tidak mengalihkan perhatiannya ke gerakan tubuh Ani .Sepertinya Pak Erlang jatuh cinta kepada muridnya tersebut..
Beberapa jam kemudian jam pelajaran telah selesai.Waktunya memasuki jam istirahat seperti biasa murid-murid berhamburan keluar kelas untuk jajan di kantin dan ada juga yang duduk santai berkumpul di depan ruang kelas.
Jeng Ani yang terbiasa membaca novelnya di depan ruang kelas di saat waktu jam istirahat pelajaran ,tiba-tiba Pak Erlang datang menghampirinya.
"Hey masih baca novel ya"tanya Pak Erlang tiba-tiba duduk di samping Jeng Ani.
"Oh Bapak,siap Pak sudah terbiasa begini"jawab Jeng Ani malu-malu.
"Kenapa kamu tidak ke kantin seperti anak-anak yang lain"tanya Pak Erlang penasaran.
__ADS_1
"Saya sudah sarapan Pak dirumah jadi saya jarang jajan di sekolah"jawab Ani .
"Hebat ya kamu ,Bapak salut deh sama kamu"puji Pak Erlang.
"Ani bapak boleh tanya sesuatu tidak ,tapi jangan marah ya,kamu sudah punya pacar belum ??boleh dong bapak daftar jadi pacar kamu,soalnya Bapak tertarik padamu saat pertama kali masuk di sekolahan ini "tanya Pak Erlang dengan serius.
"Sebelumnya terima kasih ya Pak sudah menaruh hati pada saya ,tapi saya tidak mau berpacaran pak saya mau fokus dengan sekolah saya dulu"jawab Jeng Ani dengan santainya.
"Oh begitu ya ,kok kamu kayak jual mahal begitu sikapmu sama laki-laki"balas Pak Erlang terlihat sinis.
Bukan begitu Pak,tapi memang saya sudah meyakinkan diri saya sendiri untuk tidak berpacaran maaf ya Pak"imbuh Jeng Ani .
"Ya sudah deh lupakan saja apa kata-kata yang keluar dari mulut Bapak tadi ya maaf kalau saya lancang,oke deh aku ke kantor dulu ya"ucap Pak Erlang kecewa bergegas pergi meninggalkan Jeng Ani.
Sebelum pulang dari sekolah Ani melihat papan pengumuman yang berisi nama-nama yang belum melengkapi keuangan sekolah di akhir semester saat itu.
Ya Allah banyak sekali yang belum terbayarkan ,kasihan Bapak cari kemana uang sebanyak ini,sedangkan Bapak kemarin baru saja meminjam uang ke Jurangan Wiwik untuk SPP ku"Batin Jeng Ani sedih.
Tiba sampai di rumah Jeng Ani memberitahukan kepada Bapak dan Ibunya perihal kekurangan uang sekolah akhir semesternya.
"Pak -Buu ,saya tadi melihat papan pengumuman kalau saya tidak bisa mengikuti ujian akhir semester kalau belum terlunasi semua kekurangan uang sekolahnya Pak"ucap Jeng Ani menundukkan kepala.
"Ya nanti Bapak cari nak,Bapak ambil sebagian tabungan yang ada di celengan itu dan sisanya Bapak pinjam lagi"balas Pak Tejo menghela nafas dalam-dalam.
"Ibu juga ada sedikit simpanan dari hasil jualan tempe tadi nak,nanti buat tambah uangnya Bapak ya buat melunasinya"imbuh Ibu Parni.
"Pak -Bu maaf merepotkan kalian terus"Jeng Ani janji pada kalian kalau suatu saat saya sudah sukses saya pasti akan membahagiakan kalian "balas Jeng Ani merangkul kedua orang tuanya tersebut.
__ADS_1
Jeng Ani sering merasa bersalah ketika dia harus selalu meminta uang dari kedua orang tua untuk biaya sekolahnya .