
Kondisi kesehatan Ibu Parni semakin hari semakin memprihatinkan,Pak Tejo pontang panting kesana kemari mencarikan obat alternatif di berbagai pengobatan Medis maupun herbal namun tidak membuahkan hasil.Pada akhirnya Jeng Ani satu-satunya harapan orang tuanya untuk mencari uang demi mencukupi kebutuhan sehari-harinya,dia harus bekerja keras banting tulang meskipun usianya masih remaja .
Malam itu waktu menunjukkan pukul 23.00 WIB ,Jeng Ani masih sibuk dengan pekerjaan dapurnya .Tiba-tiba terdengar suara burung Cuit di atap rumahnya,Bulu Kuduk Jeng Ani terasa begitu merinding mendengar suara burung yang tak terbiasa didengarnya.Dia langsung lari menghampiri Bapaknya yang menemani Ibunya dikamar tidur tersebut.
Plakkkk..plak....plak..suara hentakan kaki Jeng Ani membuat Pak Tejo terkejut.
"Apa to nak, kok lari-lari kayak orang di kejar maling saja kamu itu"ucap Pak Tejo penasaran.
Pakkkkkkkkk...Jeng Aniiii merinding barusan ada burung yang bersuara di atap rumah hiiiiii serem banget"kata Jeng Ani ketakutan.
"Lha kamu ya aneh-aneh saja ,Bapak tidak dengar kok sebentar Bapak bantu kamu kerja mumpung Ibumu tidur ,tadi habis minum obat jadi bisa tidur nyenyak"balas Pak Tejo.
"Oh ya sudah Pak sering-sering lihat Ibu Pak, jangan sampai Ibu perlu bantuan apa begitu"imbuh Jeng Ani kembali kedapur.
Tengah malam Jeng Ani masih semangat membuat dagangannya untuk di jual keesokan harinya meskipun dalam hatinya masih terasa merinding atas kejadian barusan namun dia harus menyelesaikannya malam itu juga agar keesokan harinya tidak bangun telat untuk kembali masuk ke sekolah.Bapaknya masih setia menemaninya membantu bungkus tempe dan memasukkan keripik singkong ke dalam plastik,meskipun rasa lelah dan mengantuk namun Pak Tejo berusaha menahannya agar pekerjaan putrinya cepat segera selesai malam itu.
__ADS_1
Tepat pukul 02.00 WIB semua pekerjaan Jeng Ani baru selesai rasa lelah begitu terasa saat Jeng Ani membaringkan tubuhnya di atas kasur. Badan dan bagian tubuhnya terasa begitu remuk tidak karuhan setelah bekerja seharian, tidak terasa dia memejamkan matanya sebentar saja namun tiba-tiba terdengar suara ayam berkokok pertanda pagi hari sudah tiba.Jeng Ani segera bangun dari tidurnya dan seperti biasa menunaikan solat subuh setelah itu membuatkan sarapan pagi untuk orang tuanya sebelum dia melanjutkan aktifitasnya menuntut ilmu kesekolah seperti biasanya.
Sedangkan Pak Tejo belum bisa kembali bekerja karena masih menemani istrinya yang masih terbaring lemah di atas ranjangnya tersebut.Dua minggu belakangan ini Bu Parni sudah tidak mau makan dan hanya bisa minum saja tubuhnya mendadak menjadi kurus kering karena kekurangan asupan nutrisi,bicaranya pun tidak seperti biasanya dia seperti orang yang sudah kehilangan akal.
Tiba-tiba Ibu Parni mengeluhkan dadanya begetar sangat kencang seperti tertusuk oleh beribu-ribu jarum ,suaminya sangat panik dan meminta pertolongan Pak RT untuk memanggilkan Ustad Usman yang baru saja datang dari luar kota itu agar bisa membantu menyembuhkan penyakit istrinya tersebut.
Ternyata sakit yang diderita oleh Ibu Parni bukan penyakit sembarangan melainkan kiriman ilmu hitam dari istri sahnya Lek Heri lelaki yang pernah menjalin hubungan terlarang waktu dulu kala.
"Pak Tejo maaf saya akan mengatakan sejujurnya apa yang dirasakan oleh istri Bapak saat ini ,saya melihat di dada dan perutnya di penuhi dengan jarum yang sangat banyak sekali dan hanya bisa di sembuhkan dengan ruqiah apakah Bapak setuju atas tindakan yang akan saya lakukan nanti Pak"ucap Ustad .
"Silahkan Ustad asalkan istri saya segera sembuh dari sakit yang di deritanya ,kasihan sudah beberapa bulan belakangan ini hanya bisa terbaring disini saja ,mohon bantuannya Ustad"pinta Pak Tejo.
Sementara itu Jeng Ani sepulang dari sekolahnya dia langsung melihat keadaan Ibunya yang biasa terbaring lemah di kamarnya , kini dia terkejut ketika Ibunya sudah terlihat sehat seperti dulu lagi.
"Ibu ....bu ...Alhamdulillah Ibu sudah sehat???betul ini Ibu sudah bisa jalan??tanya Jeng Ani terkejut.
__ADS_1
"Betul nak Ibu sudah sehat ,tadi Bapakmu panggil Ustad Usman untuk mengobati Ibu ,syukur Alhamdulillah Allah masih sayang sama Ibu, dan nanti kalau Ibu sudah pulih betul Ibu bisa kembali bekerja lagi bantu Bapak dan kamu Nak"balas Ibu Parni begitu terharu atas kesembuhannya yang tidak disangka-sangka tersebut.
"Syukur Ibu Jeng Ani sangat bahagia sekali Ibu sudah sembuh,tidak usah memikirkan yang lain Bu yang penting Ibu fokus sama kesehatan Ibu dulu sampai benar-benar pulih"imbuh Jeng Ani memeluk tubuh Ibunya dengan erat.
Meskipun Ibu Parni sudah kembali sehat seperti sedia kala namun Jeng Ani belum memperbolehkan Ibunya untuk bekerja terlebih dahulu,sore itu dia yang masih sementara menjajakan dagangan Ibunya keliling kampung dengan menjinjing tas keranjang miliknya yang berisi bungkusan tempe.
Kondisi jalan yang berliku-liku kadang naik dan turun bahkan jalan setapak yang di laluinya untuk sampai ketempat tujuan pemukiman warga kampung sebelah membuat Jeng Ani kesulitan untuk melewatinya.
Setibanya di kampung sebelah dagangan Jeng Ani telah habis di serbu para Ibu-ibu di kampung tersebut,akan tetapi ada perkataan warga yang membuat Jeng Ani sedikit menyinggung perasaannya.
"Eh perawannya Pak Tejo semakin hari semakin cantik saja ya tapi sayang deh masih mau berjualan tempe keliling kampung,kalau jadi anak saya mana mau dia saya suruh begitu"sindir salah satu Ibu-ibu yang sedang duduk lesehan di depan rumah warga.
"Hustttttt sembarangan kamu Bu kalau bicara ,kan yang penting halal to Bu tidak usah julid gitu sama orang, jaga perasaan dia dong"lirih teman sebelahnya terlihat malu akan perkataannya.
Jeng Ani hanya menundukan kepala sambil membereskan keranjangnya yang sudah kosong tersebut dan segera pergi meninggalkan mereka.Sebenarnya perkataan mereka sungguh membuatnya terluka namun dia berusaha tetap tegar walaupun batinnya tidak kuat lagi menahan celotehan mereka.
__ADS_1
Dia terus melangkahkan kakinya sambil menahan tangisannya yang tidak bisa di bendung lagi ,baju yang dipakainya sampai terlihat basah dengan air matanya yang terus menetes setiap dia mengingat perkataan mereka.
Dia berusaha menguatkan hatinya sendiri,"Ani kamu tidak boleh lemah begini kamu pasti bisa melewatinya ,usahamu tidak akan menghianati hasilmu suatu saat nanti ayo Ani kamu pasti bisa,semangat An"batin Jeng Ani.