CINTAKU JATUH DIPELUKAN PAK TENTARA

CINTAKU JATUH DIPELUKAN PAK TENTARA
Hari Pertama Masuk Kampus


__ADS_3

Adzan subuh telah berkumandang Jeng Ani terbangun dari tidurnya ,dia langsung mengambil air wudhu dan melaksanakan solat subuh seperti biasanya .Sesudah selesai solat subuh Jeng Ani langsung pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi untuk keluarga Pamannya .


Akan tetapi saat mau menghidupkan kompor Jeng Ani masih kebingungan bagaimana cara menyalakan kompor listrik milik Bibinya itu.


"walah bagaimana ini cara menghidupkannya takut meledak aku hiiii ,di kampung kan tidak ada kompor begini palingan "pawon"(tungku dari batu dengan bahan bakarnya kayu)aku harus bangunkan Bibi dulu kali ya tapi takut ganggu deh ini kan masih pagi sekali ,arhhhh aku coba dulu kayaknya ini siapa tahu bisa nyala kan ada on/offnya nah aku putar on dulu kalau begitu"batin Jeng Ani masih bingung.


#Bismillah ,Ceklekkkkkk.


"Alhamdulillah akhirnya nyala juga ,dasar wong deso begini katrok tenan tho An..An...(orang desa ya begini kampungan betul)"lirih Jeng Ani girang.


Setelah beberapa menit kemudian Jeng Ani telah selesai memasak buat sarapan pagi mereka di dapur dan melanjutkan mengerjakan pekerjaan lain seperti menyapu ,mengepel dan menyiram bunga yang telah tumbuh subur di depan rumah itu.


Satu jam kemudian Paman dan Bibinya baru bangun pagi dan terkejut melihat seisi rumahnya sudah bersih dan tertata rapi ,bahkan sarapan pun sudah siap di meja makan tersebut.


Tiba-tiba Bibinya menghampiri Jeng Ani yang masih sibuk menjemur pakaian miliknya di belakang rumah itu.


"Ya Allah mbak kamu bangun jam berapa tadi kok semua sudah di bereskan ,tidak usah repot-repot mbak kalau disini kan mbak tujuannya mau kuliah to aku jadi malu hati deh"ucap Bibinya tersipu malu .


"Astaga Bi tidak apa-apa ,saya sudah terbiasa dari kecil begitu di kampung santai saja Bi heee...heee "balas Jeng Ani sambil tersenyum.


Pukul 07.00 pagi pekerjaan dirumah itu sudah selesai semuanya,Jeng Ani harus bersiap-siap untuk pergi ke kampusnya untuk mengikuti test psikologi dan kesehatan sebagai calon mahasiswa baru dia harus menyiapkan segala sesuatunya agar bisa lulus dari tahapan itu.

__ADS_1


Kemeja putih ,rok hitam pendek yang dipakainya dan rambut hitam bergelombang membuat aura kecantikan Jeng Ani sangatlah beda saat itu.Dia bergegas pergi ke kampus barunya pagi itu dengan berjalan kaki karena jaraknya tidak jauh dari rumah Pamannya.


Setibanya di kampus Jeng Ani duduk menyendiri di tempat duduk yang sudah disediakan oleh pihak kampus,dia masih terlihat malu-malu dan merasa begitu mindernya .Maklum baru pertama kali bertemu dengan teman yang belum pernah sama sekali dia kenal , namun tiba-tiba ada yang menghampiri Jeng Ani dan mengajak kenalan saat itu.


"Hai mbak boleh kenalan tidak ??,saya Silvi kamu siapa namanya mbak??"tanya Silvi mengajak kenalan Jeng Ani.


"Oh boleh...boleh,nama Saya Andriani mbak biasa orang-orang menyebut saya Jeng Ani he..he"jawab Jeng Ani begitu lugu dan logat jawanya masih kental dalam bahasanya itu.


Pertemuan dengan teman barunya membuat Jeng Ani sangat terharu karena Silvi ternyata anaknya begitu ramah dan sopan ketika berbicara dengannya.Setelah beberapa jam mengikuti serangkaian test di kampus itu dan syukur Alhamdulillah hasil pengumuman test yang diterimanya sangat memuaskan.


Saat hari pertama kali masuk kampus Jeng Ani mulai mempunyai banyak teman baru yang di kenalnya hari itu,teman-temannya mengagumi kecantikan Jeng Ani dan keramahannya dengan semua orang .


Kurang lebih setengah hari Jeng Ani mengikuti serangkaian test dan akhirnya telah selesai dilaksanakan ,dia harus secepatnya segera pulang kerumah Pamannya untuk membantu membuat segala macam kue untuk hidangan karena waktu itu dirumahnya akan diadakan yasinan di malam harinya.


"Lho sudah kembali dari kuliah to dek ,kok cepat sekali pulangnya"tanya salah satu Ibu-Ibu yang membantu di rumah Bibinya.


"Owh sudah Ibu,soalnya cuma sebentar saja kok testnya"jawab Jeng Ani sambil tersenyum.


"Mbak tadi Ibumu mau telpon katanya mau bicara penting sama kamu,mau saya telponkan balik sekarang apa nanti mbak "imbuh Bibinya.


"Sekarang juga tidak apa-apa Bi,kok fikiran saya tidak enak gini ya Ibu mau bicara apa ya kayaknya penting sekali Bi "balas Jeng Ani Panik.

__ADS_1


Bibinya langsung menelpon balik Ibunya Jeng Ani melalui ponselnya Lek Harni.


#Tut....tut...tutttttt,di telpon berulang-ulang namun tidak diangkat ponselnya,Jeng Ani begitu gelisah dan penasaran dengan hal penting apa yang akan di bicarakan oleh Ibunya itu.


Beberapa menit kemudian Lek Harni menelpon balik ke ponsel Bibinya.


"Hallo Jeng Ani ...Hallo..ini Ibumu mau bicara sama kamu ngrepotin saya terus Ibumu itu setiap mau telpon ,dikira handphone tidak ada biayanya apa"ketus Lek Harni bicara melalui ponselnya.


"Ya Allah Lek Harni maafin Ibu ya kalau sudah ngrepotin Lek Terus,nanti kalau Ani sudah punya uang saya belikan handphone sendiri Lek buat Ibu"balas Jeng Ani sambil mengusap dadanya.


"Halah kuliah aja baru masuk kok sudah mau belikan handphone Ibumu bangun dulu An dari tidurmu jangan-jangan kamu lagi ngipi ya,ini Ibumu mau bicara apa itu bicara jangan lama-lama pulsa saya nanti habis"ketus Lek Harni.


"Nak ini Ibu, bagaimana kuliahnya hari ini lancarkan??Ibu mau ngabarin kalau Bapakmu Jatuh dari pohon saat mau petik daun untuk pakan kambing kemarin ,kasihan tidak bisa berkebun lagi kakinya sampai 5 jahitan ,terus Nak untuk biaya seragam kuliah nanti Ibu jual simpanan perhiasanmu yang dulu Ibu belikan itu ya untuk sementara waktu "imbuh Ibu


Parni mengeluhkan keadaan Pak Tejo dan masih bingung dengan biaya kuliah anaknya yang masih kurang.


Tutt...tut..tut tiba-tiba pembicaraan lewat telepon itu terputus,Jeng Ani tidak berani menelpon balik Ibunya karena takut dengan Lek Harni yang terus marah-marah dengan Ibunya itu.


Fikiran Jeng Ani saat itu kalang kabut, dia mengkhawatirkan keadaan Bapaknya yang baru saja tertimpa musibah.Seharian dia sampai tidak mempunyai nafsu makan, sebentar-sebentar melamunkan kedua orang tuanya.


Hingga sampai malam telah tiba dan acara yasinan di rumah Pamannya telah selesai ,Jeng Ani masih telihat sedih raut wajah tidak ada keceriaannya lagi.

__ADS_1


Ingin sekali bicara lagi dengan Ibunya namun kedua orang tuanya belum mempunyai handphone termasuk dirinya,sesekali mereka telpon dengan memakai handphonenya Lek Harni namun semakin kesini perkataannya Lek Harni sangat menyakitkan hatinya.


Malam semakin larut waktunya untuk istirahat setelah seharian beraktifitas badannya begitu terasa sangat lelah namun ketika akan memejamkan matanya itu Jeng Ani selalu ingat kedua orang tuanya,dan tidur malampun begitu sangat gelisah sekali saat itu.


__ADS_2