
Jeng Ani berinisiatif sendiri untuk membantu meringankan biaya sekolah dengan berjualan keripik singkong di sekolahnya,dia tidak malu meskipun ada aja orang yang julid kepadanya.
Keesokan harinya Jeng Ani pertama kali berangkat sekolah dengan menjinjing dagangan keripik yang dibuatnya semalaman itu dengan dibantu oleh Ibunya,Ibu Parni mengajarkan anaknya untuk mandiri dari kecil hingga remaja saat itu,maka dari itu Jeng Ani sudah tidak malu lagi dengan mencari uang tambahan meskipun berjualan keripik tidak seberapa untungnya.
Sesampainya di sekolah dia langsung menawarkan dagangnya kepada teman-temannya,dia membawa 30 bungkus keripik singkong dan bersyukurlah Jeng Ani dagangan yang dibawanya habis tidak tersisa satupun.
Tetapi walaupun begitu ada juga temannya yang tidak suka dengan apa yang di lakukan Jeng Ani,cantik-cantik kok jualan keripik kok tidak malu dan lain sebagainya ejekkan itu buat Jeng Ani semakin kuat dan sabar demi mengejar cita-citanya.
Jam istirahat berlangsung seperti biasa Jeng Ani mengisi jam istirahatnya cuma untuk membaca novel kesukaannya,di pojok bawah pohon mangga ada sekumpulan teman-teman Jeng Ani rupanya mereka sedang membicarakan sesuatu terlihat jelas tatapan mereka begitu sinis terhadap dirinya.
"Ehhhhhh yang disana mojok terus,mau jadi kutu buku ya"ejek salah satu teman perempuan sekelasnya.
"Tidak boleh begitu dong say,dia tidak merugikan kamu kok ngapain kamu sewot gitu"bela teman sebangku Jeng Ani.
Tiba-tiba teman sebangkunya Jeng Ani menghampiri dirinya .
"Eh say kamu di bully terus tu sama mereka, katanya kamu mau jadi kutu buku lah terus cari muka lah ada lagi ini say katanya kamu jualan keripik itu kamu tidak pernah ya di kasih uang jajan sama orang tuamu?benar tidak sih say"tanya teman sebangkunya.
"Ah say santai aja kali tidak usah difikirin deh orang begitu ,kita yang jalani orang lain yang komentari wajarlah dibuat happy aja sayang,dan tidak betul juga tidak di kasih uang jajan sama mereka saya aja yang inisiatif sendiri buat jualan yang penting halalkan say"jawab Jeng Ani tersenyum.
"Ia sih say tapi kalau aku jadi kamu ya marah dong ,aku remas...remas muka mereka"ucap temannya geram.
Janganlah say biarin aja deh nanti kalau mereka capek ya berhenti sendiri ngomelnya"balas Jeng Ani legowo.
"Ya udah deh say aku pergi dulu yaa tidak usah di masukan dalam hati omongan mereka tadi itu"imbuh temannya.
__ADS_1
"Iyaaaa sayang tenang aja"jawab Jeng Ani .
Hari demi hari Jeng Ani menjalani kehidupan yang penuh dengan perjuangan,Ayah dan Ibunya mendukung penuh atas cita-cita anaknya yang mulia tersebut.
Pak Tejo terus menerus menekuni lahan pertanian dengan kerja kerasnya dia mampu menjual sayurannya kepada pedagang-pedagang di pasar dengan harga jual yang lumayan untuk mencukupi kebutuhan sehari-harinya.
Malam itu terjadilah perbincangan antara Pak Tejo dan istrinya di ruang tengah ditemani radio kuno yang masih memakai baterai pada zaman dulu kala itu.
"Bu sekarang lumayan ya hasil perkebunan Bapak lebih maju dari kemarin ini ada uang sedikit besok Bapk beli listrik biar tidak seperti masuk gua begini kasihan genduk(anak perempuan) bu belajarnya gelap-gelapan begitu"ucap Pak Tejo mengeluhkan keadaan rumahnya yang gelap gulita.
"Ya tidak apa-apa to Pak kalau memang sudah mencukupi untuk membelinya besok tidak usah ke ladang dulu ,pergi kerumah Pak RT mungkin beliau bisa bantu "jawab Ibu Parni memberi saran.
"Ia bu besok Bapak kesana ,anakmu belum tidur bu?"tanya Pak Tejo .
"Masih belajar Pak ,itu Ibu Sudah parutkan singkong buat jualannya Ani besok subuh baru Ibu goreng Pak kasihan Jeng Ani kalau ikut bangun pagi-pagi buat bantu Ibu tidak tega"balas Ibu Parni.
membantu untuk mencari uang.
"Tidak apa-apa Pak, Ibu senang kok bisa bantu bapak mencari nafkah ,sudah malam Pak mari tidur jangan lupa kunci pintu belakang ya Pak"balas Bu Parni bergegas pergi untuk istirahat malam di kamarnya.
Malam itu sunyi sepi terasa dingin sampai menusuk ke tulang-tulang,Jeng Ani masih sibuk dengan belajarnya selesai belajar dia menuju ke dapur mengecek bahan untuk dagangannya besok.
"Ya Allah kasihan Ibu ternyata sudah dipotong singkong ini"lirih Jeng Ani.
Jeng Ani tidak bisa tidur jika pekerjaaannya belum selesai maka dari itu dia lanjut menggoreng keripiknya dan membungkusnya dengan rapi lalu di masukkan keranjang jualannya,semangatnya Jeng Ani begitu luar biasa sampai jam 01.00 malam baru beranjak ke tempat tidurnya.
__ADS_1
Keesokan harinya adzan subuh berkumandang Ibu Parni terbangun dari tidurnya dan membangunkan suaminya itu dia bergegas mengambil air wudhu untuk solat berjamaah bersama Pak Tejo.Sesudah solat subuh Ibu satu anak itu menuju ke dapur berniat untuk mengoreng keripik yang sudah direndamnya,namun ternyata sudah di selesaikan anaknya semalaman.
"Ya Allah ternyata Genduk (anak perempuan)sudah selesaikan semuanya tadi malam pasti dia kecapekan itu kasihan banget anak itu"lirih Ibu Parni.
Pagi itu Waktu menunjukan Pukul 06.30 ,
Sedangkan Jeng Ani masih tertidur pulas kelelahan begadang semalam menyiapkan dagangannya sampai telat bangun untuk pergi kesekolah.
"Nak....nak bangun...... tidak sekolah to mobil yang mau kepasar sudah menunggu itu lho- sopirnya sudah bunyikan klakson terus"ajak Ibu Parni menarik selimut Jeng Ani.
" Ya Gusti Allah bu, aku kesiangan kayaknya tunggu Ani mandi dulu sebentar"balas Ani langsung melompat dari tempat tidurnya.
Para warga yang mau berdagang ke pasar sudah kumpul di mobil tersebut ada beberapa Ibu-ibu ngomel-ngomel karena sopirnya menunggu Jeng Ani yang masih belum datang juga waktu itu.
"Mas kok lama sekali mobilnya tidak jalan-jalan,nunggu siapa to sebenarnya"tanya salah satu warga dimobil itu.
"Nunggu Jeng Ani itu lo bu sebentar lagi anaknya nongkol mungkin bangun kesiangan biasanya jam segini sudah kesini"jawab Sopir tersebut.
"Ealah Jeng Ani lagi ....Jeng Ani lagi.....anak itu bikin ulah terus to,tinggal aja mas ini sudah siang lho"imbuh salah satu warga kesal karena Jeng Ani tidak muncul-muncul juga.
Tiba-tiba Jeng Ani datang tergesa-gesa sambil menjinjing dagangannya.
"Paman maafkan saya agak telat,maaf ya Ibu-Ibu"ucap Jeng Ani .
"Cepat masuk Jeng ,Para Emak sudah ngomel-ngomel sana An"imbuh sopir mobil itu.
__ADS_1
Pandangan Ibu-Ibu sangat kelihatan sekali kalau tidak suka dengan keberadaan Jeng Ani dalam mobil tersebut,mereka saling berbisik-bisik tanpa memikirkan perasaan Jeng Ani.