CINTAKU JATUH DIPELUKAN PAK TENTARA

CINTAKU JATUH DIPELUKAN PAK TENTARA
Yang Penting Halal


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian Jeng Ani sudah mulai aktif dengan kegiatan kampusnya,namun masalah yang harus dihadapi saat itu ketika dia masih kesulitan untuk membayar biaya kuliah semester pertamanya .


Jeng Ani tidak tega jika Ibunya yang harus mencukupi semua kebutuhan dan biaya kuliahnya,di usianya yang masih terbilang remaja dia harus ikut banting tulang demi membantu Ibunya melunasi biaya kuliahnya itu.


Sedangkan Pak Tejo belum bisa bekerja seperti dulu lagi ,dia mengisi waktunya disaat belum bisa kembali berkebun dengan membuat kerajinan untuk peralatan dapur berbahan dasar dari bambu yang diperoleh dari samping rumahnya.


Hasil dari kerajinannya tersebut Ibu Parni biasa menjualnya dengan cara berkeliling di beberapa Pasar ,harganya tidak begitu mahal membuat pelanggan setianya selalu memborong dagangannya tersebut.


Di luar jam kuliah Jeng Ani mencari kerja sampingan di sekitar tetangga Bibinya tersebut dengan membantu menyetrika pakaian,membuka usaha catering kecil-kecilan .


Jeng Ani terbilang gadis yang jauh dari kata gengsi ,dari kecil dia sudah merasakan pahit dan manisnya kehidupan.Maka dari itu di usianya yang masih terbilang muda dimana sebagian besar anak remaja di usia segitu waktunya menikmati masa-masa bersenang-senang dan hanya fokus kuliah saja namun beda halnya dengan Jeng Ani ,dia harus berkuliah dan bekerja tanpa ada waktu sedikitpun untuk bersantai dalam kondisi saat itu.


Hingga suatu hari ketika dia sedang mengerjakan pekerjaannya menyetrika baju di rumah tetangga Bibinya yang bernama Ibu Ratna seorang Dokter kandungan yang setiap hari membuka praktek dirumahnya tersebut.


Dan disitulah ada beberapa Ibu-ibu yang sedang duduk santai sambil memperhatikan pembantu barunya Dokter Ratna yaitu Jeng Ani,mereka berbisik-bisik seperti membicarakan sesuatu bahkan cibiran itu sampai keluar dari mulut salah satu dari mereka yang membuat Jeng Ani begitu langsung meneteskan air matanya.


Ya sebut saja namanya Devita atau biasa disebut Mbak Devi ,seorang istri Bos Rentenir yang terkenal judes .


"Eh Dek,tidak malu ya anak kuliahan kok nguli ngosok(kerja menyetrika)kalau anak saya ogah deh begitu dirumah saja makan tidur,emang orang tuamu kemana sih kok kuliah sambil mbabu(kerja)"ketus Mbak Devi Istri Bos Rentenir tersebut.


"Lo ...lo Bu jangan begitulah kan Dek Ani biar kerja begitukan yang penting halal ,ia kan Dek"Imbuh Dokter Ratna mencoba menguatkan perasaan Jeng Ani yang terlihat dari matanya begitu menahan air matanya agar tidak jatuh.

__ADS_1


Mereka malah tertawa terbahak-bahak tanpa ada rasa iba sedikitpun kepada Jeng Ani,demi menghindari celotehan yang dilontarkan oleh mereka Dokter Ratna beranjak pergi ke dapur dan pura-pura menyibukan diri membereskan ruang dapurnya tersebut.


Sekuat-kuatnya menahan air mata akhirnya jatuh juga ,dia berusaha tegar dan hanya membalas senyuman kepada mereka tanpa keluar sepatah katapun dari mulutnya.


Tanpa rasa belas kasihan sedikitpun mereka terus mengejek dan membicarakannya di depan mata Jeng Ani.


"Ia lo mbak Dek Ani Itu kasihan banget ya itu lho anaknya cantik banget apalagi bentuk tubuhnya begitu kayak gitar spanyol ,ya kalau jadi aku cari kerjaan yang lain yang lebih mengiurkan"lirih salah satu temannya namun masih terdengar juga di telinga Jeng Ani.


He'eh Mbak betul banget,di Semarang ini lho banyak banget yang membutuhkan pekerja wanita seperti dia apalagi secara fisik mendukung kayak gitu, di itu tuuuuu ....ehemmmmm Mbak-mbak pasti sudah tau sendiri to"sambung temannya yang lain.


Tiba-tiba Dokter Ratna keluar dari Dapurnya tersebut.


"Ya Allah Ibu-ibu sudah to sudah",ucap Dokter Ratna mengelengkan kepalanya.


Dokter Ratna tidak enak hati dengan Jeng Ani atas perkataan tetangganya tersebut,setelah mereka pulang dia meminta maaf atas perkataan mereka yang membuat Jeng Ani sedih dan terpukul.


"Dek Ani maafkan perkataan mereka tadi ya tidak usah di masukkan dalam hati Adek, anggap saja angin lewat gitu aja"ucap Dokter Ratna merasa merasa malu hati dengan ulah mereka.


"Tidak apa-apa Dok namanya juga manusia pasti ada juga khilafnya"balas Jeng Ani tersenyum.


Setelah selesai bekerja dirumah Dokter Ratna ,waktu menunjukkan pukul 21.00, Jeng Ani harus kembali pulang kerumahnya untuk melanjutkan mengerjakan tugas kuliahnya untuk besok.

__ADS_1


Biarpun badannya terasa lelah setelah seharian kuliah dan bekerja namun semangatnya luar biasa,selesai mengerjakan tugas dia harus meluncur kedapur untuk menyiapkan bahan-bahan yang akan di masak keesokan harinya pesanan catering nasi kotak untuk pegawai Bank Muamalat yang tempatnya tidak jauh dari rumah Bibinya itu.


Matanya sudah tidak kuat lagi menahan rasa mengantuk yang begitu berat karena waktu itu sudah terlalu larut malam,dia terpaksa melanjutkan kembali pekerjaan itu keesokan harinya.


Karena terlalu kelelahan Jeng Ani tertidur dengan begitu pulasnya ,dia harus memasang alarm tepat waktu subuh untuk memasak pesanan cateringnya.


Baru beberapa jam memejamkan matanya namun alarm itu terus berbunyi pertanda waktu subuh telah tiba.


"Ya Allah badanku rasanya kayak patah-patah semua begini sih,oya lenganku kok yang sebelah kiri jadi memar gini .Ah mungkin besok akan sembuh dengan sendiri kayaknya ,kamu harus semangat An"Batin Jeng Ani menyemangati dirinya sendiri.


Meskipun lengannya terasa sakit ketika digerakan ,dia masih memaksakan diri untuk memasak pesanan pagi itu.


Beberapa jam kemudian semua pesanan nasi kotak itu sudah selesai dengan tepat waktu dan telah di ambil oleh salah satu pegawai Bank tersebut,perasaannya begitu bahagia ketika pagi itu menerima upah dengan hasil keringatnya sendiri.


"Alhamdulillah Ya Allah rezeki saya pagi ini sungguh luar biasa Bapak,Ibu terima kasih sudah mengajarkan anakmu ini mandiri dari sejak aku masih kecil"lirih Jeng Ani terharu memegang uang dengan hasil jerih payahnya sendiri.


Sebelum dia berangkat ke kampus,seperti biasa Jeng Ani harus membereskan rumah itu dengan begitu rapinya.


Bibinya sangat kagum dengan sikapnya Jeng Ani yang masih begitu sederhana ,pekerja keras dan tidak gengsi dengan pekerjaan apapun.Dia terus mendukung dengan apa yang di kerjaan oleh keponakannya itu asalkan tidak menganggu jam kuliahnya.


Sarapan pagi untuk keluarga sudah tersedia di meja makan tersebut,Jeng Ani jarang sekali untuk sarapan pagi dirumah karena dia terbiasa membawa bekal untuk di makan di kampus tanpa harus jajan setiap harinya.

__ADS_1


Bibinya sering kali menasehati agar keponakannya tersebut untuk selalu sarapan pagi namun dia kadang terburu-buru hingga lupa dengan menjaga pola makannya,padahal dia ada riwayat sakit maag sejak kecil.


__ADS_2