
--
Silvia dan Stephanie keluar dari pusat pembelanjaan dengan beberapa tas belanjaan di tangan mereka. Stephanie yang shopaholic itu dengan senang hati menemani Silvia.
Note : Shopaholic adalah seseorang yang tidak mampu menahan keinginannya untuk berbelanja.
Tapi sepertinya bukan Stephanie yang menemani Silvia belanja, tapi Silvia lah yang menemani sahabatnya itu belanja. Yang benar saja, Silvia bahkan hanya membeli dua item tapi sahabatnya itu membeli lima baju sekaligus, belum lagi beberapa aksesori seperti syal, topi, dan lain sebagainya.
"Berhenti tersenyum, Steph! Aku tahu kau senang karena bisa belanja sebanyak itu." Silvia menatap tidak suka ke semua tas belanja Stephanie. "Tapi kau membuatku dalam masalah. Kau tahu apa yang akan nenekku lakukan kalau tahu aku pulang semalam ini?"
Silvia bergidik membayangkan kemarahan neneknya. Neneknya sekarang pasti sedang marah sekaligus mencemaskannya.
Silvia ingat dulu ketika masih SMA dia pernah pulang larut malam karena menghadiri pesta ulang tahun temannya. Alhasil setelah pulang neneknya tak mengizinkannya masuk dan menguncinya di luar rumah. Silvia yang bingung harus tidur dimana waktu itu hanya bisa menangis.
Setelah selama sepuluh menit dia menagis, akhirnya neneknya membukakan pintu untuknya.
Silvia tersenyum geli mengingat kejadian itu.
Tapi setelahnya, dia kembali bergidik takut memikirkan kemarahan nenekknya.
Tapi percayalah, sekejam apa pun neneknya, Silvia tetap menyayanginya.
__ADS_1
"Ayolah, Sil, ini baru jam delapan malam. Dan kau sudah takut dimarahi nenekmu? Ck, yang benar saja!"
Silvia menatap Stephanie dengan tatapan horor. Stephanie tidak masalah pulang jam berapa pun karena dia tinggal sendiri di apartemen, tapi Silvia, dia harus pulang sebelum jam tujuh malam karena itu adalah peraturan dari neneknya.
"Masalahnya---"
"Sstt, diam," sela Stephanie kemudian menghentikan langkah.
Silvia pun ikut menghentikan langkah karena sebuah mobil BMW hitam berhenti tepat di samping mereka. Silvia mengerutkan dahinya ketika seorang pria turun dari mobil itu.
Pria itu menghampirinya.
"Kau?" Silvia menunjuk pria itu dengan wajah kagetnya.
"Hah? Untuk apa?" tanya Silvia tidak paham.
Pria itu mengalihkan pandangannya pada Stephanie yang berada di samping kanan Silvia. Stephanie tersenyum menggoda, kemudian berbisik, "Kau berpacaran dengan lelaki tampan ini tanpa memberi tahu diriku?"
Silvia menginjak kaki Stephanie hingga membuat perempuan itu mengaduh kesakitan.
"Maksudmu?" tanyanya lagi kepada pria itu.
__ADS_1
"Masuk dulu," pintanya. "Temanmu sudah aku pesankan taksi, sebentar lagi taksi itu pasti datang." Lagi-lagi pria itu tersenyum, membuat Silvia semakin mengerutkan dahinya bingung.
"Masuklah, aku akan baik-baik saja." Stephanie mendorong Silvia supaya gadis itu segera masuk ke dalam mobil.
Dengan perasaan bingung campur takut, mau tidak mau Silvia segera memasuki mobil tersebut. Dia samar-samar melihat Stephanie yang tersenyum menggodanya.
Setelah memasuki mobil, pria itu langsung menghidupkan mobil dan menjalankannya.
Silvia masih bingung apa maksud pria di sampingnya ini. Menjemput? Mau dibawa ke mana dia?
"Kau ingin membawaku ke mana?"
"Steven menyuruhku untuk membawamu menemuinya."
Refleks Silvia membulatkan matanya. Ini sudah malam dan dia harus menemui Steven? Entah bagaimana nasibnya setelah pulang nanti. Mungkin dia akan diusir dari rumah oleh neneknya setelah ini.
"Apa dia sudah baikan?"
Silvia merutuki kebodohannya karena bertanya mengenai keadaan Steven. Untuk apa dia mencemaskan lelaki itu?
.
__ADS_1
.
.