Cintaku Pada Sang CEO Gila

Cintaku Pada Sang CEO Gila
Chap 12. I Am Falling To You #2


__ADS_3

--


Silvia refleks memukul bahu Steven hingga membuat pria itu sedikit bergeser dari tempat duduknya.


"Enyahlah kau, Alien mesum!"


Steven hanya tertawa geli melihat reaksi gadis ini.


Steven baru sadar, ternyata Silvia masih saja memakai kaca matanya. Padahal semalam dia sudah membelikan gadis itu lensa kontak. Tapi kenapa dia belum memakainya?


Steven segera menarik lengan Silvia agar gadis itu segera bangkit dan kembali ke rumah. Silvia hanya mendengus mengetahui kelakuan Steven yang seenaknya saja terhadap dirinya.


Setelah sampai di rumah Silvia, Steven segera mengambil kotak dari dalam tas belanja. Kemudian dia membukanya.


"Diam, Silv" perintah Steven karena Silvia tidak bisa diam.


Silvia dapat merasakan napas Steven ketika pria itu melepas kaca matanya dan memakaikan lensa kontak pada matanya. Dia merasa gugup karena jarak mereka hanya beberapa senti.


Didorongnya tubuh Steven dan dipasangnya sendiri lensa kontak itu. Steven hanya mendengus.


Silvia tampak cantik tanpa bingkaian kaca matanya. Gadis itu bahkan lebih cantik dari semua perempuan yang pernah Steven temui.


Steven menatapnya lama. Diamati setiap inci wajah kekasihnya dan disimpan dalam memori otaknya. Bibir gadis itu tipis dan berwarna pink alami. Matanya bulat, tampak indah dengan lensa kontak berwarna hitam itu. Dan yang paling Steven suka adalah hidungnya. Hidung Silvia kecil, tidak terlalu mancung, namun tetap indah.


Pasti hidungnya menurun dari ayahnya. Ayahnya orang Korea, dan kebanyakan orang Korea hidungnya kecil namun tetap terlihat indah.


Intinya wajah gadisnya bagi Steven terlihat sempurna.


"Aku menyayangimu, Silvia." Dikecupnya puncak kepala Silvia dengan lembut. Silvia hanya diam, tanpa ada niatan berontak atau mendorong Steven.


"Wah-wah, cucuku sudah besar rupanya."


Refleks Silvia menjauhkan tubuh Steven darinya. "Ini bukan seperti yang Nenek kira," kilah Silvia.


Nenek malah memelototi Silvia, hingga membuat perempuan itu kembali menutup mulutnya rapat.


"Lanjutkan acara ciumannya. Aku akan membuatkan sarapan untuk kalian berdua."

__ADS_1


Nenek tersenyum dan segera berjalan menuju dapur.


Steven tersenyum puas, "Ayo kita lanjutkan. Tapi kali ini ciumannya di bibir, mau kan?"


Silvia membelalakkan matanya. "Mati saja sana!" Dia mendorong tubuh Steven hingga terjatuh, kemudian segera menyusul neneknya untuk menyiapkan sarapan.


Silvia yang berkeinginan membantu memasak segera mendapat amarah dari neneknya. Neneknya ingin dia bermesra-mesraan dengan Steven, tapi apa, dia malah meninggalkan pria itu sendirian.


"Cepat kembali pada Steven atau kau akan kubumbui setelah ini!" ancam neneknya.


Silvia bersikeras ingin membantu, dia tidak tahan hanya berduaan dengan Stevan di ruang tengah.


"Nenek, kumohon." Silvia memasang tampang memelas. Tapi neneknya tak menjawab dan tetap melanjutkan memasaknya.


"Neneekk." Silvia merengek seperti anak kecil.


Nenek segera memukul lengannya, "Kau bodoh atau apa? Sudah kubilang biar aku saja yang memasak, kenapa kau keras kepala sekali? Lagipula, kau tidak bisa memasak, kan? Bukannya enak, yang ada nanti makanannya jadi seperti muntahan kucing! Lebih baik kau temani Steven, jangan buat dia merasa tidak nyaman di sini."


Silvia merengut, dia tidak habis pikir kenapa neneknya ini begitu menyukai Steven. Andai saja neneknya tahu pria seperti apa Steven itu, pasti neneknya tidak akan bersikap baik pada lelaki itu.


Silvia menggeleng, percuma, neneknya pasti tidak akan percaya padanya.


Silvia kembali menghampiri Steven dan duduk di samping pria itu dengan wajah merengut.


"Kenapa?" tanya Steven bingung.


Silvia menggeleng dengan tatapan kosong.


"Steve," panggilnya pelan.


"Ya?" Steven menatap Silvia, menunggu apa yang akan gadis itu katakan.


"Apa anggota keluargamu banyak?"


Steven bingung sekaligus terkejut. Kenapa tiba-tiba Silvia menanyakan hal itu?


"Di keluargaku hanya ada aku, ayah dan ibuku. Kenapa?"

__ADS_1


"Tidak." Silvia menggeleng. Sebenarnya, Silvia ingin bertanya bagaimana rasanya memiliki keluarga lengkap seperti dirinya.


Wajar karena Silvia hanya tinggal dengan neneknya selama ini. Tanpa bisa merasakan kasih sayang ayah dan ibunya.


"Makanan siapp!" Nenek meletakkan makanan itu di atas meja. "Makanlah!"


"Ini apa, Nek?"


"Sup iga sapi," jawab nenek sambil tersenyum.


"Nenek kan tahu, aku tidak suka makanan seperti ini," protes Silvia. Dia memang tidak suka dengan daging sapi, apalagi yang dijadikan sup seperti ini. Dia bahkan akan muntah sebelum mencobanya.


"Ini Steven yang membeli, dan dia sangat menyukainya. Jadi makan saja!"


Silvia menatap tajam Steven yang kini tengah memasukkan satu sendok sup ke mulutnya.


"Nek, sebenarnya cucumu itu aku atau Steven, sih?" Silvia memasang wajah sedih yang dibuat-buat agar nenek kasihan padanya.


"Kalau begitu biarkan aku pergi dan angkat saja Steven jadi cucumu!" sambungnya.


"Benarkah? Kau tidak keberatan kalau Steven menggantikan posisimu sebagai cucuku?" Nenek dan Steven sama-sama tersenyum senang, membuat Silvia semakin menahan kekesalannya.


"Neneeekkk!" Silvia merengek seperti anak kecil hingga membuat neneknya dan Steven melepaskan tawa.


Diam-diam Silvia tersenyum senang melihat neneknya bisa tertawa selepas ini. Steven benar-benar telah mencuri hati neneknya. Dan entah kenapa, Silvia justru bersyukur akan hal itu.


Nenek telah banyak menderita selama ini. Setelah kematian kedua orang tua dan sauadara kembarnya sepuluh tahun lalu, Silvia dan neneknya menjalani masa-masa yang sulit.


Neneknya yang hanya memiliki kebun hanya bisa menghidupi biaya makan sehari-hari saja. Tidak bisa jika harus membiayai sekolah Silvia.


Jadi Silvia putuskan untuk bekerja keras dan belajar dengan giat agar dia bisa mendapatkan beasiswa. Dan usahanya ternyata tidak sia-sia, dia berhasil menjadi sarjana dan bekerja di perusahaan terbesar di New York sekarang, yakni perusahaan milik Steven.


'Aku janji akan membahagiakan Nenek suatu saat nanti.'


Tak terasa kedua mata Silvia berkaca-kaca.


-

__ADS_1


__ADS_2