Cintaku Pada Sang CEO Gila

Cintaku Pada Sang CEO Gila
Chap 03. Let's Fun Girl!!! #3


__ADS_3

"Berengsek!" umpat Steven sambil menggebrak meja, menimbulkan beberapa orang menoleh kepadanya.


Steven tidak peduli, justru yang merasa malu menjadi pusat perhatian adalah Nathan.


"Lelaki tua itu benar-benar cari gara-gara denganku." Steven tersenyum sinis.


"Cuih Perjodohan katanya? Sampai mati pun aku tidak akan mau menerimanya."


"Tapi apa salahnya menikah dengan perempuan tadi? Dia cantik, anak orang kaya, dan terlihat berpendidikan. Bukankah dia termasuk tipemu?" tanya Nathan.


"Dan kudengar dia adalah seorang model," tambah Nathan santai.


Steven mendongak menatap sahabatnya. "Bagiku, menikah atau tidak itu sama saja," tekannya serius. "Lagipula aku masih ingin bersenang-senang. Kalau aku menikah, bagaimana nasib wanita-wanita cantik diluar sana?"


"Hm, yeah, kau benar juga." "Puluhan model mengantri di luar sana agar bisa berkencan denganku, Jadi kurasa Roxanne juga akan mudah kutaklukkan."


Steven menatap serius ke arah Nathan , lalu menambahkan, "Tapi aku sama sekali tidak ada niatan untuk menikahinya." Dia menggelengkan kepalanya.


"I know. Tapi, kenapa tidak langsung kau tolak saja tadi?"


"Aku punya rencana lain," balas Steven .


Berikutnya, Steven kembali memusatkan pandangannya pada perempuan yang sempat mencuri perhatiannya tadi. Perempuan itu kini sudah memasukkan bukunya ke dalam tas dan akan segera pergi.


"Bawakan gadis berkaca mata itu padaku, perintahnya santai kepada Nathan.


"Sekarang," sambungnya tanpa mengalihkan perhatiannya pada gadis berhoodie cokelat tersebut .


Nathan mengikuti arah pandangan Steven Setelah tahu siapa yang dimaksud, dia langsung bereaksi, "Kau gila, ya? Dia cupu. Maksudku, dia terlihat seperti perempuan baik-baik. Mana mau dia memenuhi nafsu biadapmu? Skip, cari mangsa lain saja." "Kau tahu kan, tidak ada satu pun wanita di dunia ini yang mampu menolak pesonaku?"


Mendengar itu, Nathan memutar bola matanya malas . Sahabatnya ini mulai lagi. Ya, memang selama ini belum ada satu pun wanita yang menolak ketika didekati oleh Steven. Justru para wanita yang mengejar-ngejarnya.

__ADS_1


Siapa yang tidak mau dengan pengusaha muda, tampan, dan kaya seperti Steven? Semua wanita menginginkannya.


Survei membuktikan bahwa hampir 90 % wanita Amerika Serikat menginginkan pria dewasa yang tampan dan kaya.


Bagaimana dengan wanita di negara lainnya? Apakah sama?


Pastinya.


Nathan mulai menghampiri perempuan berkaca mata itu . Setelah berbincang-bincang sejenak, akhirnya Nathan berhasil membawa perempuan itu menuju ke meja Steven.


"Maaf, ada perlu apa Anda dengan saya?" tanya perempuan itu penasaran.


Steven tersenyum puas. Tinggal selangkah lagi dia pasti akan mendapatkan wanita dihadapannya ini. "Let's fun, Girl!, ayo kita bersenang-senang malam ini," ajak Steven menunjukkan senyum yang sangat memesona.


"Aku akan membuat malammu terasa indah, serasa di surga, hingga kau ketagihan dan tidak bisa melupakannya. Trust me, Babe." Steven memasang wajah arogan layaknya raja yang sedang menawarkan sesuatu yang menggiurkan kepada selirnya.


Mendengar itu, perempuan tersebut diam sesaat. Mencoba mencerna kata-kata yang barusan diucapkan pria di depannya yang tengah duduk dengan menyilangkan kaki di depannya ini.


"Oh, aku mengerti." Perempuan itu mengangguk, kemudian dia segera berjalan menuju mejanya untuk mengambil sesuatu.


"Steven tersenyum puas. Sedangkan Nathan hanya geleng-geleng sambil berdecak pelan.


"Pesankan kami hotel di dekat sini." Nathan segera memesan hotel dari ponselnya.


Tak lama kemudian, perempuan itu kembali ke meja Steven dan membawa sesuatu di tangannya.


"Permisi."


Setelah mengatakan itu, perempuan tersebut menyiramkan minumannya ke wajah Steven.


Nathan yang mengetahui itu segera membatalkan pesananan hotelnya. Sedangkan Steven hanya mematung karena terlampau syok tiba-tiba wajahnya disiram oleh cairan lengket yang sangat menjijikkan.

__ADS_1


Ini sungguh penghinaan baginya. Beraninya perempuan rendahan itu menodai wajah rupawannya.


"Aku tahu betul pria sepertimu. Pria yang bisanya hanya mempermainkan wanita , dan pada akhirnya pergi meninggalkannya. Dan perlu kau ingat , aku tidak seperti wanita yang selama ini memenuhi nafsu biadabmu."


Perempuan itu terdiam sebentar , menjatuhkan tatapan tidak bersahabat kepada Steven , kemudian melanjutkan, "Kasihan sekali orang tuamu kalau tahu kelakuan anaknya seperti apa ketika sedang berada di luar. Sedikit saran, sebaiknya setelah ini kau ke gereja dan renungkan semua dosa-dosamu, Tuhan malu punya makhluk berengsek seperti dirimu."


Lalu gadis itu membalikkan badan dan kembali menuju mejanya, mengambil tas kemudian keluar dari restoran.


Nathan melepaskan tawanya yang sedari tadi ia tahan. Dia harus memberi tepuk tangan pada gadis yang sudah membuat Steven kehilangan kata-kata itu.


"Sialan!" umpat Steven marah. "Tisu, Nath!"


Nathan segera mengambil tisu dan memberikannya pada Steven.


"****! Berani-beraninya dia berkata seperti itu padaku!"


"Bukankah sudah kubilang, dia tidak seperti wanita-wanita yang selama ini kau kenal . Dia perempuan baik-baik, Steve."


"Diam kau!"


Nathan berusaha menahan tawanya.


"Persetan dia mau atau tidak. Aku ingin kau cari tahu semua tentang dia, cari tahu apa kelemahannya dan buat dia datang padaku dengan sendirinya."


Nathan memandang Steven tak percaya. Pria itu memang ambisius. Apa pun yang dia inginkan, harus dia dapatkan.


"Kenapa kau tidak menerima Roxanne saja? Itu jauh lebih menguntungkan bukan?" Nathan memasukkan kedua tangannya pada saku celananya.


"Kalau aku bilang tidak, maka seterusnya akan tidak." "Okay," singkat Nathan.


"Kau benar-benar sangat menginginkannya, ya? " lanjutnya bertanya.

__ADS_1


"Setelah apa yang dia lakukan kepadaku, keinginanku untuk tidur bersamanya semakin besar. Setelah itu, akan kubuat dia menyesal karena sudah berani menghinaku seperti tadi." Steven berucap dengan tatapan mata lurus ke depan.


"Cari tahu apa pun tentangnya, Nath. Secepatnya, " perintahnya mutlak.


__ADS_2