
÷÷÷
Nathan membuka mata dan mengusap keringatnya. Napasnya tersenggal-senggal. Lagi-lagi dia memimpikan kejadian lima belas tahun lalu.
Dia meremas rambutnya ketika bayangan ibunya yang kesakitan kembali menghantuinya. Andai saja waktu itu dia melihat wajah pria berengsek itu, pasti sekarang dia sudah membunuhnya. Dia akan mambalas semua perbuatan pria itu pada keluarganya.
"Berengsek!" Nathan memukul tembok di sampingnya hingga tangannya berdarah. Air matanya mulai mengalir deras, dia berteriak sambil mengacak rambutnya.
"Aku bersumpah akan membalas lebih kejam dari apa yang pria brengsek itu lakukan pada Ayah dan Ibu!" Nathan mengepal tangannya hingga buku-buku kukunya memutih.
Nathan berteriak lebih keras dan kembali memukul tembok putih yang kini telah berubah warna menjadi merah karena darah.
Tak selang beberapa lama pintu apartemen Nathan terbuka dan dapat ia lihat Steven berlari ke arahnya.
"Kau gila?!" Steven segera menghentikan pukulan Nathan pada tembok itu. "Kau bisa melukai diri sendiri!"
Steven segera memeluk tubuh Nathan dan mencoba menenangkannya. Nathan menangis dalam pelukan Steven. Jika ia tidak bertemu pria ini, mungkin dia sudah bunuh diri saat itu.
"Tenanglah. Kau akan bisa membalaskan dendammu saat tiba waktunya nanti." Steven mengelus rambut Nathan dengan lembut.
Matanya mulai berkaca-kaca melihat sahabatnya manderita karena kejadian masa lalu. Dia bisa merasakan apa yang dirasakan Nathan karena dia juga pernah mengalami kejadian yang sama.
__ADS_1
Nathan melepaskan diri dari pelukan Steven dan mendongak, "Terima kasih. Terima kasih karena sudah banyak membantuku selama ini."
Steven tersenyum dan mengangguk sekali.
"Aku bisa merasakan apa yang kau rasakan. Kita sama-sama dihantui oleh masa lalu yang mengerikan," ujar Steven.
"Mereka harus dihukum atas apa yang mereka perbuat. Aku akan menemukan pria berengsek itu secepatnya, aku janji," lanjutnya. Nathan menangguk dan mengulum bibir.
"Aku juga akan membantumu untuk memberi pelajaran lelaki yang telah membunuh Anna."
Steven memejamkan mata ketika mendengar nama itu.
Ingatan tentang cinta pertamanya yang dibunuh dengan kejam kembali membuat kepalanya pusing. Dia segera memijit pelipisnya yang berdenyut.
"Apa yang membuatmu ke sini malam-malam begini?" tanya Nathan ketika Steven selesai mengobati luka di tangannya.
"Aku ingin tidur bersamamu," jawab Steven enteng.
Sontak Nathan membulatkan matanya,
"Menjijikkan! Aku pria normal."
__ADS_1
Steven tertawa melihat ekspresi sahabatnya.
"Aku bercanda, aku ke sini hanya ingin melihat keadaanmu. Aku khawatir kalau kau bermimpi lagi dan melakukan hal yang bisa melukai dirimu sendiri."
Steven mengamati lamat-lamat wajah Nathan yang penuh dengan keringat.
"Dan benar saja, kau bermimpi lagi dan melukai diri sendiri. Seperti yang sudah-sudah."
Nathan mengembuskan napasnya kasar, "Kau jangan terlalu menghawatirkanku. Aku tidak gila, tidak mungkin aku melukai diri sendiri."
Steven berdecak kesal. "Kau tidak ingat saat pertama kali kita bertemu? Saat itu bukankah kau ingin mengakhiri hidupmu?"
Nathan mengangguk lemah. "Hmm, ya."
Memang benar. Saat pertama kali bertemu Steven dia hampir mati kalau saja Steven tidak menghentikan aksi gilanya.
Saat itu dia sangat putus asa karena hidupnya sulit setelah kedua orang tuanya meninggal dan dia lari dari rumah untuk menyelamatkan diri saat itu juga.
Alhasil setelah bertemu Steven dia bisa hidup lebih layak dan bekerja di perusahaan Steven.
"Terima kasih atas semua kebaikanmu, Steve."
__ADS_1
Steven hanya mengangguk.
.