
--
Silvia membuka matanya perlahan kala sinar matahari menelusup memasuki kamar lewat fentilasi. Badannya sakit semua karena semalam dia diajak Steven mengelilingi mal yang luasnya hampir seluas stadion sepak bola.
Dia kini menggeliat, menguap lebar-lebar tanpa menutup mulutnya dengan tangan. Tipikal perempuan yang tidak ada anggun-anggunnya sama sekali. Pantas saja dia jomblo hingga hari ini.
Ah, apakah Silvia masih bisa dibilang jomblo setelah kejadian kemarin malam?
Kejadian di mana dia terpaksa menerima Steven menjadi kekasihnya.
"Hoamm." Dia lanjut menguap, menikmati sisa-sisa rasa kantuknya. Tapi ada yang aneh. Dia dapat merasakan sebuah tangan tengah memeluk pinggangnya dari belakang. Tapi itu tidak mungkin neneknya. Neneknya di jam seperti ini biasanya sudah pergi ke kebun belakang rumah. Juga sejak kapan neneknya tidur sekamar dengannya?
Silvia yang masih setengah sadar meraba meja kecil samping tempat tidurnya. Setelah mendapatkan kaca matanya, dia memakai benda tersebut dan memastikan siapa orang yang tidur di sampingnya.
"Aaaarghhhhh!" Dia memekik kencang hingga membuat orang yang masih terbaring di sampingnya terbangun.
"Dasar cabul!" Dipukulnya orang itu dengan guling birunya berkali-kali.
Orang itu segera bangkit guna menghindari pukulan bertubi-tubi dari Silvia.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan, sialan?!"
Tak disangka Steven akan berbuat sejauh ini.
Silvia menunduk melihat pakaiannya, untung masih lengkap. Tapi tetap saja Steven berhasil membuatnya marah karena tidur di ranjang bersamanya.
"Nenekmu yang menyuruhku." Steven menguap masih merasakan kantuk.
"Kau pikir aku bodoh?! Mana mungkin Nenek membiarkan cucu perempuannya tidur dengan alien cabul sepertimu?!"
"Waktu itu Nenek tidak mengizinkanku pulang, jadi aku terpaksa menginap. Karena rumah sempit ini hanya memiliki dua kamar, yaitu kamarmu dan kamar Nenek, jadi aku memilih tidur di karmarmu."
Silvia kembali mengingat waktu kemarin malam. Ya, Steven mengantarnya. Karena malam itu Silvia sudah sangat mengantuk, setelah sampai rumah dia segera masuk kamar dan tidur. Dan bodohnya dia tidak mengunci pintu kamarnya.
"Kenapa kau tidak tidur di kamar nenekku saja?" tanya Silvia dan berjalan menuju lemarinya dengan wajah yang masih kesal.
"Kekasihku itu kau, bukan nenekmu. Jadi sudah pasti aku memilih tidur bersamamu." Steven memandangi Silvia yang tengah sibuk memilih pakaian dalam lemarinya.
Silvia berbalik setelah menemukan seragam olahraganya. Tanpa peduli pertanyaan Steven, dia segera keluar hendak menuju kamar mandi untuk berganti pakaian.
__ADS_1
Steven hanya berdecak kesal. Tapi dia merasa senang bisa lebih dekat dengan Silvia. Dia ingat perkataan nenek semalam. Nenek mengatakan kalau dia senang melihat Silvia punya pacar. Apalagi kekasih cucunya itu lelaki tampan dan baik seperti Steven. Tapi tunggu, baik? Apa tidak salah?
Steven tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Mungkin selama ini dia tidak lebih dari pria berengsek yang suka mempermainkan wanita. Tapi mulai sekarang dia berjanji akan berubah. Ya, demi Silvia dia akan berubah.
--
Silvia dan Steven berhenti di kursi pinggir jalan setelah hampir setengah jam berlari. Silvia yang masih memasang wajah kesalnya itu meneguk air dalam botol yang dibawanya.
Setelah itu dia menyodorkannya pada Steven. Buru-buru pria itu menerima dan segera menghabiskannya.
"Silv, kau masih marah karena masalah tadi?"
Silvia menoleh.
"Mana ada wanita yang tidak marah kalau seorang pria tiba-tiba tidur di kamarnya?" Silvia kembali menatap lurus ke depan.
"Setahuku, semua wanita senang kalau aku tidur bersama mereka," jawab Steven dengab nada sombong yang sangat kentara.
.
__ADS_1
.
.