
"John, kau sudah pulang?" Perempuan dengan mata hijau dan berambut coklat itu segera menghentikan aktivitasnya ketika lelaki kecil dengan mata yang sama menghampirinya.
"Bagaimana sekolahmu? Apakah menyenangkan?" Perempuan yang masih muda itu memeluk anaknya dan mencium kedua pipinya.
Yang dicium malah memasang wajah kesal. "Mereka sangat membosankan." Laki-laki kecil itu mendengus, ibunya malah tertawa.
"Mereka? Maksudmu teman-temanmu?" Bocah itu mengangguk. "Kenapa membosankan?"
"Masa mereka tidak ada yang tahu operasi aljabar. Aku jadi tidak ada teman untuk mengerjakan buku ini," kata bocah itu sambil menunjuk buku yang dibawanya.
Ibunya mengalihkan pandangan pada buku yang dibawa anaknya. Itu kan buku suaminya waktu SMA dulu, kenapa bisa dibawa oleh Johnathan?
"Kau dapat dari mana buku itu?"
"Ayah memberikannya padaku, dan menyuruhku untuk mempelajarinya."
Perempuan itu menggelengkan kepala sambil tersenyum.
"Lalu, apa kau sudah mempelajarinya?"
"Sudah, tapi ada beberapa soal yang tidak bisa kujawab." Johnathan kecil mengerucutkan bibir mungilnya.
Perempuan itu menghembuskan napasnya, bisa-bisanya suaminya itu menyuruh anak usia sepuluh tahun untuk mempelajari pelajaran anak SMA.
Perempuan itu segera mengambil buku dari tangan Johnathan. "Buku ini sama sekali tidak cocok untukmu, Sayang," katanya.
"Kau masih kecil, tidak seharusnya kau belajar buku ini."
Perempuan itu segera mengangkat tubuh Johnathan dan memangkunya.
"Ayahmu itu gila, jadi kau jangan mau seperti dia." Perempuan itu bertutur lembut sambil sesekali mencubit hidung Johnathan. "Kau masih kecil, dan seharusnya kau bermain bersama teman-temanmu. Bukan belajar bersama ayahmu."
Johnathan diam sambil berpikir, "Entahlah, aku mungkin akan berada di tengah-tengah. Netral."
Ibunya mengerutkan dahi, "Maksudmu?"
"Jika bersama ayah aku akan menuruti permintaannya, dan jika bersama Ibu aku akan menuruti perkataan Ibu."
Perempuan itu mengembuskan napasnya, "Masuk kamar dan ganti bajumu, jangan sampai kau sakit karena belajar terus-menerus."
Johnathan kecil mengangguk-angguk.
__ADS_1
"Ibu sangat menyayangimu." Perempuan itu mengecup puncak kepala Johnathan dengan lembut.
Johnathan langsung berlari menaiki tangga dan menuju kamarnya.
...---...
Door!!!
Johnathan terbangun dari tidurnya ketika mendengar suara tembakan dari lantai bawah.
Bocah kecil itu segera bangkit dan keluar dari kamarnya.
Samar-samar dia bisa mendengar suara tangisan seorang perempuan. Suara yang sangat mirip dengan suara ibunya. Atau, itu memang tangisan ibunya?
Johnathan membulatkan matanya ketika melihat beberapa pria berbadan besar sedang mengobrak-abrik rumahnya.
Dia bisa melihat mereka membawa senjata api yang di arahkan pada ibunya.
"A-apa mau kalian?" Perempuan itu mengelus rambut suaminya yang sudah tergeletak penuh darah. Air matanya terjun bebas di atas pipinya.
"Kami tidak menginginkan apa-apa, Nona, kami hanya menjalankan tugas," jawab salah satu pria.
Pria itu malah tertawa, "Sudah saatnya perusahaan itu jatuh ke tanganku. Kau pikir enak menjadi bawahan suamimu yang cerewet ini?!" Pria itu menendang suaminya yang sudah tak bernyawa itu.
"HENTIKAN! KUBUNUH KAU!" teriaknya histeris. Perempuan itu bangkit dan mencoba untuk memukul pria di hadapannya.
Pria itu dengan santai menghindari pukulannya, pria itu kemudian menarik rambutnya sampai beberapa helai rambutnya lepas dari kulit kepala.
Perempuan itu menjerit kesakitan merasakan kepalanya yang berdenyut hebat. Darah mulai mengalir dari kepalanya itu.
"Sayang kalau kau kubunuh begitu saja, siksaan kecil tidak masalah, bukan?"
Perempuan itu berteriak ketika merasakan sebuah pisau membelah telinganya sampai putus. Kini wajahnya sudah penuh dengan darah, tapi sepertinya pria di hadapannya tidak menaruh rasa iba sedikit pun.
"Kau memiliki seorang putra, bukan? Di mana dia?"
Perempuan itu menggeleng-gelengkan kepala. Dia kemudian menyatukan kedua tangannya dan berdoa semoga Tuhan senantiasa melindungi Johnathan dari pria berengsek di depannya ini.
"Jangan pernah menyentuhnya!" teriak ibu Johnathan kemudian.
Pria itu tersenyum sinis mendengar ancaman perempuan yang sudah bersimbah darah di depannya.
__ADS_1
"Kalau aku melepaskan putramu begitu saja, bukannya itu akan merugikanku?" tanyanya.
"Bukankah sebuah kehormatan bisa mati di tanganku? Atau kau lebih ingin mati di tangan anak buahku, seperti apa yang dialami suamimu?"
Pria itu memberi isyarat pada anak buahnya untuk keluar dari rumah ini meninggalkannya bersama perempuan itu.
"Kusuruh mereka pergi agar hanya aku yang bisa melihat penderitaanmu. Agar hanya aku yang bisa mendengar jeritan indahmu. Hahaha."
"Aaahhhkkk ... hhhhkkkk!"
Pria itu menusukkan pisaunya pada mata kiri perempuan itu sampai mengeluarkan banyak darah.
Tak cukup sampai di situ, dia kembali menancapkan pisaunya pada telapak tangan perempuan itu sampai menyatu dengan lantai.
"Kau sekarang menyesal kan, karena dulu pernah menolakku dan lebih memilih lelaki yang tak berguna seperti suamimu?"
Pria itu tertawa puas melihat perempuan yang pernah ia cintai itu sudah terbaring lemas di bawahnya.
Perempuan itu menagis sesenggukan, dia lebih memikirkan keselamatan Johnathan dari pada keselamatannya sendiri.
Johnathan yang menyaksikan semua itu hanya bisa membungkam mulutnya dan menangis. Terlalu takut jika dia menampakkan diri.
Yang bisa dia lakukan hanya sembunyi dan melihat dari jauh ibunya yang menangis kesakitan. Dia tidak bisa melihat wajah pria kejam yang membantai keluarganya itu. Pria itu membelakanginya hingga wajahnya tidak terlihat.
Johnathan hanya bisa mendengar suara pria itu yang terdengar berat dan serak.
Perempuan itu mendongak, dia menatap tajam pria itu dengan sebelah matanya karena mata kirinya sudah tidak berfungsi.
"Tuhan tidak akan pernah memaafkan perbuatanmu. Kematianmu kelak akan terasa lebih sakit dari apa yang kurasakan sekarang. Ingatlah! Tuhan tidak akan diam saja melihat hamba-Nya disiksa melebihi hewan seperti ini!"
"Hahah, omong kosong!" Pria itu menarik wajah perempuan itu dan meludah tepat di wajah cantiknya yang kini sudah bercampur dengan merah darah.
Kemudian dia mengangkat pistolnya tepat di kepala perempuan itu, hendak menembak.
"Senang bisa mengenalmu, Stella."
Doorr!!!
-
-
__ADS_1