
Es krim rasa coklat mint adalah kesukaannya.
Eh, tapi dari mana Steven tahu kalau dia suka es krim rasa coklat mint? Perasaan dia tidak pernah memberitahunya.
"Dari mana kau tahu aku suka es krim rasa coklat mint?"
Silvia merutuki kebodohannya karena berbicara pada Steven. Dia semakin kesal melihat ekspresi Steven yang tersenyum puas mendengar pertanyaannya barusan.
"Akhirnya setelah berhari-hari kau mau berbicara denganku." Steven menyelipkan anak rambut Silvia ke belakang telinga.
"Kau belum menjawab pertanyaanku."
Silvia menepis pelan tangan Steven yang masih asyik membenahi rambutnya.
Steven tersenyum, "Aku ini kan kekasihmu, jadi bukan hal sulit untuk mengetahui apa saja kesukaanmu."
Silvia berdecak kesal, ia segera melangkah ketika pintu lift terbuka.
Silvia mempercepat langkahnya ketika mengetahui Steven terus mengikutinya. Pria itu terus tersenyum, tidak memedulikan tatapan para pegawai yang memandang aneh ke arahnya.
Dengan cepat Steven menarik tangan Silvia dan dipeluknya tubuh gadisnya itu.
__ADS_1
"Jangan marah lagi, kumohon."
Silvia membulatkan matanya. Apa Steven tidak malu dilihat banyak orang seperti ini? Ah iya, pria ini kan memang tidak punya malu.
Urat malunya sudah putus sejak lahir.
Para pegawai mulai berbisik-bisik, ada yang tersenyum menggoda, ada yang pura-pura tidak melihat, bahkan ada pula yang memandang tidak suka ke arah mereka berdua.
"Pagi-pagi kalian berdua sudah pelukan. Ck ck, benar-benar tidak tahu malu."
Silvia segera melepaskan pelukan Steven ketika mendengar suara Nathan. Nathan melihat mereka berdua sambil menggelengkan kepala, kemudian dia memberi isyarat agar para pegawai kembali bekerja.
Nathan hanya tersenyum melihat ekspresi kesal pada wajah Steven.
Silvia kembali melangkahkan kaki jenjangnya, dia harus segera menuju ruangan kerjanya dan mulai bekerja.
Pekerjaannya pasti menumpuk, mengingat dua hari dia tidak masuk.
Silvia kembali merasa kesal saat merasakan tangan Steven tiba-tiba memeluk pinggangnya dari belakang ketika sudah memasuki ruang kerjanya. Silvia mendengus, dia berusaha melepaskan tangan Steven dari pinggangnya, tapi Steven justru mempererat pelukannya.
Kemudian pria itu menopangkan dagunya di atas bahu Silvia dan menempelkan pipinya pada pipi halus gadis itu.
__ADS_1
Tak lupa dia menghirup dalam-dalam aroma gadisnya yang sangat dia rindukan.
"Tetaplah seperti ini, lima menit saja." Steven semakin mempererat pelukannya dan menenggelamkan kepalanya lebih dalam pada ceruk leher Silvia.
Silvia diam. Tanpa sadar dia memejamkan mata dan mulai menikmati kehangatan yang Steven salurkan lewat pelukannya. Silvia belum pernah merasa senyaman ini.
Steven melepaskan pelukannya setelah lima menit. Dia membalikkan tubuh Silvia agar berhadapan dengannya. Tapi entah mengapa Silvia merasa kecewa karena Steven melepaskan pelukannya begitu saja.
Silvia sudah terlanjur merasa nyaman.
Steven tersenyum, "Jam makan siang, temui aku di kafe samping gedung. Aku akan mentraktirmu es krim." Dibelainya pipi putih gadis itu dengan lembut. Kemudian dia mengecup kening Silvia dengan lembut.
Silvia yang kesal karena Steven lagi-lagi menciumnya hanya mengangguk, sayang kalau menolak ajakan Steven begitu saja. Jarang-jarang ada yang membelikan es krim kesukaannya.
Steven segera keluar dari ruangan Silvia.
Gadis itu segera duduk di kursi dan mulai membuka beberapa file dan mulai bekerja.
Dia mendesah ketika mengetahui tugasnya benar-benar menumpuk. Membuat laporan, mengedit, mengatur jadwal bosnya seminggu ke depan, dan lain sebagainya yang membuat kepalanya terasa mau pecah.
.
__ADS_1