
--
"Dunia memang sempit ya, Silvia? We meet again." Steven menyeringai penuh makna hingga membuat Silvia mulai merasakan takut.
Gadis itu masih diam. Dia berharap bahwa apa yang dilihatnya adalah fatamorgana. Ya, dia pasti sudah gila sampai-sampai terbayang wajah alien mesum itu.
Dikerjap-kerjapkan matanya berkali-kali. Namun tetap saja. Usahanya sia-sia. Wajah atasannya masih sama, yaitu wajah pria di restoran itu.
"Kenapa? Kau tidak percaya kalau yang ada dihadapanmu sekarang ini adalah pria yang kau siram waktu itu?"
Steven segera bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Silvia.
"Kau harus menerima balasan karena telah membuatku malu, Nona!" Diraihnya pinggang Silvia agar mendekat hingga tidak ada jarak di antara mereka berdua.
"A-apa yang kau lakukan?" tanya Silvia tergagap. Ia terkejut dengan perbuatan pria yang asal memeluknya ini.
Silvia mencoba melepaskan diri dari pelukan pria di hadapannya. Namun sia-sia, sekuat apa pun usahanya, dia tetap tidak bisa menandingi kekuatan pria itu.
"Apa-apaan wajah takutmu itu? Seharusnya kau merasa senang bukan, karena bisa berduaan dengan pengusaha tampan sepertiku?" Steven terkekeh pelan melihat ekspresi takut pada wajah Silvia.
"Tinggal bilang iya, maka kita akan bersenang-senang dan kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan setelah itu," tawar Steven memandang wajah Silvia intens.
"Kau ingin apa? Uang? Jabatan? Atau popularitas? Kujamin, kau pasti akan mendapatkannya." Steven memandang penuh nafsu ke arah Silvia. Sementara Silvia berusaha menjauhkan wajahnya agar tidak sedekat ini dengan wajah pria yang masih memeluknya itu.
"Bagaimana, kau mau?" lanjut Steven bertanya dengan suara berat.
"You, Jerk! Seberapa sering kau melakukan hal seperti ini pada wanita, hah?!" bentak Silvia memandang Steven dengan pandangan jijik. Dia masih berusah agar terlepas.
Steven terdiam. Dia memandang kedua mata Silvia yang juga memandangnya . Mereka saling pandang beberapa saat dari jarak yang sangat dekat .
Steven jadi berpikir, ternyata tidak mudah untuk menaklukkan gadis ini. Steven salah karena ia terlalu meremehkannya.
Baiklah, kalau dengan paksaan gadis ini tetap tidak mau, maka dia akan menggunakan cara yang lembut supaya gadis ini datang padanya dengan suka rela.
Setelah itu, dilepaskan tangannya dari pinggang Silvia, kemudian berkata, " Maaf. Apa aku membuatmu takut?"
__ADS_1
Silvia di tempatnya berdiri merasa tidak percaya. Begitu cepatnya sikap pria itu berubah padanya. Apalagi yang telah direncanakannya?
"Maaf, aku akan segera mengurus surat pengunduran diri untuk perusahaan ini." Silvia membenahi letak kaca matanya dan tutup kepalanya yang berantakan karena ulah Steven tadi.
"Bukankah kau sudah menandatangani surat kontraknya? Jika kau melanggar, maka kau harus membayar dendanya sebesar satu juta dolar. Kau sanggup?"
Silvia mematung. Tenggorokannya tercekat. Bodoh. Kenapa dia tidak memikirkan sejauh itu? Dia asal tanda tangan tanpa memikirkan lebih lanjut isi kontraknya karena saat itu dia merasa sangat senang akan mendapat pekerjaan.
'Sial, dia memanfaatkan kelemahanku.'
Silvia membatin seraya menggigit bibir bawahnya.
Sedangkan Steven tersenyum puas. Dia kembali ke tempat duduknya. "Yah, jika kau sanggup membayar dendanya, maka kau boleh mengundurkan diri dari perusahaan ini."
"Aku... , aku tidak akan sanggup membayarnya." Silvia berkata lemah.
"Jadi, kau akan tetap bekerja di sini sebagai sektretarisku kan, Silvia?"
Silvia terpaksa mengangguk tanpa menatap mata lawan bicaranya.
"Bagus," ujar Steven pelan. "Sekarang ambil seragammu di ruang kostum yang disediakan khusus untuk pegawai, dan segeralah kemari setelah itu, karena aku sedang membutuhkan bantuan sektretarisku."
Sumpah! Daripada bekerja untuk alien mesum itu, lebih baik Silvia menganggur selama bertahun-tahun.
"Satu lagi."
Silvia membalikkan badannya malas. "Ya?"
"Aku tidak ingin kau memakai kaca mata. Pakai lensa kontak saja, bisa kan?"
Mulut Silvia terbuka hendak memprotes, namun kedatangan seorang pria mengurungkan niatnya.
Itu pria yang bersama alien mesum saat di restoran. Ya, Silvia ingat betul.
"Hai, Nona," sapa pria di hadapannya sambil tersenyum.
__ADS_1
Silvia balik tersenyum.
"Yo, Nath." Steven mengangkat tangan kanannya pada Nathan. Memberi isyarat kepada Nathan agar mendekat.
"Kau bisa pergi sekarang, Silvia," perintahnya pada sekretaris barunya tersebut.
Silvia segera pergi setelah mendapat perintah dari atasannya itu.
"Kau tidak macam-macam padanya, kan?" tanya Nathan.
Steven terkekeh mendengar ucapan Nathan.
"Sayangnya belum."
"Aku hanya ingin kau berhati-hati. Dia bukan wanita seperti itu. I mean , dia tidak seperti wanita-wanita yang selama ini kau temui."
Nathan duduk di kursi depan meja Steven, lalu menambahkan, "Yang kutakutkan malah kau nanti yang akan jatuh hati padanya."
"Hahaha, kau gila?" tanya Steven dengan memicingkan matanya ke arah Nathan.
Tidak ada kata 'jatuh cinta' dalam kamus hidup Steven. Setidaknya untuk saat ini.
"Aku hanya ingin menaklukkannya. Setelah dia takluk, maka aku akan membuangnya. Sama seperti yang kulakukan pada wanita lainnya," sambungnya.
"Kau seperti tidak mengenaliku saja."
Nathan mengedikkan bahu.
"Ya, ya, terserah padamu. Aku tidak begitu tahu masalah asmaramu," balas Nathan.
"Oh y, tapi kau akan tetap menikahi Roxanne, kan?"
"Nope." Steven menggeleng. "Meskipun kedua orang tuaku setuju nantinya, aku tetap akan menolaknya. Tapi, kau tahu kan, mereka tidak akan memutuskan sesuatu tanpa persetujuan dariku," kata Steven dengan nada sombong seperti biasa.
"Ya, kau kan memang pemegang kekuasaan dan pembuat keputusan di keluargamu."
__ADS_1
"Aku terlalu sempurna jika hanya memiliki satu wanita," ujar Steven yang ditanggapi oleh Nathan dengan kekehan geli seraya geleng-geleng kecil.
-