
Silvia menatap tajam Steven dan Nathan bergantian. Dia kesal karena mereka berdua selalu saja membahas sesuatu di ruangannya. Lalu untuk apa ruangan Steven dibangun kalau pria itu terus-terusan ke ruangannya?
Ditambah lagi Nathan. Kenapa dia sekarang juga sering ke ruangannya?
Silvia mencoba sibuk dengan dunianya, membiarkan dua pria yang tengah duduk di kursi pojok ruangan membahas sesuatu yang dia tidak ketahui.
"Bagaimana?" tanya Nathan.
Steven memijit pelipisnya.
"Saham kita turun dan itu akibat tuan Sam memutuskan kerja sama."
Steven tersenyum sinis, "Lelaki berengsek itu mau main-main denganku rupanya."
"Kalau begitu, ayo rebut perusahaannya," imbuhnya.
Nathan menatap Steven bingung. "Caranya?" Lalu Nathan mengambil gelas minuman di atas meja dan meneguknya.
"Dekati Roxanne."
Nathan tersedak mendengar perintah Steven. Mendekati Roxanne? Yang benar saja.
"Kau sampai sekarang belum pernah berpacaran, bukan?"
Nathan mengangguk.
Selama ini dia tidak pernah dekat dengan perempuan bukan karena tidak laku. Tidak. Justru banyak wanita yang tergila-gila padanya. Tapi dia tidak punya waktu untuk berurusan dengan wanita saat ini. Dia ingin fokus dulu dengan karirnya.
"Maka dari itu, ini kesempatanmu untuk lebih dekat dengan wanita. Aku tidak tega melihatmu menjadi bujangan seumur hidup. Kau harus mencicipi kenikmatan yang ada pada perempuan."
"Ehm!" Silvia berdegam mendengar kalimat terakhir Steven.
"Kita sedang membahas kenikmatan kopi buatan perempuan, Sayang," kilah Steven.
Silvia tak peduli lagi.
Sementara Nathan terdiam, mencoba memikirkan tawaran Steven.
"Lalu kalau aku berhasil mendekati Roxanne, apa yang harus kulakukan setelah itu?"
"Cari tahu semua tentangnya, terutama kelemahan perusahaan ayahnya. Setelah itu kita bisa dengan mudah menguasai perusahaannya." Steven tersenyum puas. Dia sangat yakin kalau rencananya ini akan berhasil.
"Baiklah. Aku akan mencoba mendekatinya.
...---...
Steven dan Nathan terlihat memasuki gedung pemotretan. Setelah mendapat izin dari security, mereka berdua segera memasuki ruangan pemotretan.
Mereka bisa melihat Roxanne sedang bergaya di depan kamera. Gadis itu memang benar-benar hebat dalam bergaya. Dia bisa menciptakan kesan imut sekaligus seksi dalam satu waktu.
Steven hanya menatapnya datar tanpa ekspresi, sedangkan Nathan mati-matian menahan kegugupannya. Ini pertama kali dia mendekati wanita.
Ketika mengetahui kehadiran Steven, Roxanne segera menghentikan pemotretannya. Dia segera berjalan mendekati mereka berdua.
"Maaf karena menyuruhmu datang ke sini lebih dulu." Roxanne tersenyum.
"Tidak masalah, lagipula aku yang pertama kali ingin bertemu."
"Kalau begitu, ayo kita cari tempat untuk mengobrol," kata Roxanne.
__ADS_1
Mereka bertiga memasuki restoran elit di samping gedung pemotretan Roxanne tadi.
"Katakan saja." Roxanne meminum kopinya dengan gaya yang anggun.
"Sahabatku ini," Steven menolehkan kepalanya ke samping, ke arah Nathan. "Dia merasa tertarik padamu."
Roxanne menatap Nathan dengan senyuman.
"Namamu Johnathan, bukan?"
Nathan mengangguk kecil.
"Aku merasa tersanjung bisa membuat pria tampan sepertimu tertarik padaku," lanjut Roxanne.
Nathan menarik napasnya, lalu mengembuskannya. "Entahlah, kecantikanmu berbeda dari kebanyakan wanita, Nona Roxanne.Dan sepertinya kau juga wanita yang pekerja keras. Jadi, aku ingin--"
"Baiklah, ayo kita mulai hubungan kita," sahut Roxanne dengan nada kalem namun jelas.
Nathan kaget ketika mendengar ucapan Roxanne yang memotong ucapannya dan menyetujui ajakannya, bahkan sebelum Nathan berkata hingga usai.
Sementara Steven tersenyum puas karena rencana pertamanya sudah berhasil.
"Kita jalani dulu, siapa tahu kita akan cocok satu sama lain." Roxanne lagi-lagi tersenyum manis. Nathan hanya mengangguk.
"Baiklah, aku akan pergi dulu. Kalian berdua nikmatilah kencannya."
Roxanne menatap kepergian Steven dengan pandangan yang sulit diartikan.
Roxanne mengalihkan pandangannya ke wajah Nathan. Dapat dia lihat wajah tampan Nathan memerah menahan gugup. Pria itu pasti belum pernah berkencan sebelumnya.
Roxanne mengembangkan senyum manisnya, membuat Nathan balik tersenyum padanya.
Steven sialan! Nathan mengumpat dalam hati. Dia lebih memilih melawan belasan musuh daripada mendekati wanita seperti ini. Dia bukanlah Steven yang sering berganti pasangan.
Ponsel Roxanne yang berada di atas meja berdenting, membuat perempuan itu melihat ponselnya sebentar, lalu melihat Nathan lagi. "Mau menemaniku pemotretan?" tanya Roxanne.
Nathan dengan cepat mengangguk.
Mereka kembali lagi ke gedung untuk pengambilan gambar.
Nathan dengan sabar menunggu jalannya pemotretan. Tapi dia juga tidak bisa menutupi kegelisahannya ketika melihat Roxanne berpose seksi. Gadis itu membuat pipinya memanas.
Tak lama kemudian terlihat seorang pria memasuki ruangan dan menghampiri Roxanne. Roxanne yang mengetahui siapa yang datang langsung menghampiri pria itu dan memeluknya.
Nathan hanya diam melihat kemesraan dua insan beda jenis di hadapannya. Dia tidak bisa cemburu karena mereka juga baru berpacaran. Dan lagipula Nathan tidak menaruh perasaan lebih kepada Roxanne. Jadi dia tidak peduli jika Roxanne dekat dengan pria lain.
Nathan tersenyum ketika mereka berdua menghampirinya.
"Kenalkan, Nath, dia Gabriel, temanku."
Nathan bangkit dan mengulurkan tangannya. "Johnathan."
Gabriel menerima uluran tangan Nathan. "Gabriel, mantan kekasih Roxanne."
Seketika suasana menjadi hening. Gabriel yang sudah diberi tahu Roxanne kalau Nathan adalah kekasihnya memandang remeh ke arah Nathan.
"Kau kekasihnya, kan? Jaga wanitaku ini, ya," ucap Gabriel sambil memeluk pundak Roxanne dan tanpa malu mencium surai emas gadis itu.
Nathan menatap Roxanne dengan pandangan ingin penjelasan kenapa pria itu asal cium seperti itu.
Tunggu. Memang apa pedulinya Nathan? Pria itu mau memeluk atau mencium Roxanne, Nathan benar-benar tidak peduli.
__ADS_1
"Apa urusanmu ke sini?" tanya Roxanne kepada Gabriel ketika mereka bertiga sudah duduk.
Gabriel malah tersenyum menggoda. "Untuk menemuimu, Sayang. Untuk apa lagi?" Pria itu kembali mencium Roxanne, kali ini tepat di pipi kiri perempuan itu.
Roxanne memutar bola matanya malas, sudah terbiasa melihat kelakuan Gabriel yang senang menciumnya.
"El, tolong jaga sikapmu. Kau tidak lihat kekasihku ada di sini?"
Gabriel menatap Nathan dengan pandangan tidak suka.
"Berarti kalau dia tidak di sini, aku bisa sepuasnya menciummu, kan?"
Roxanne segera memukul lengan Gabriel dengan keras, membuat pria itu mengaduh.
Mereka berdua kemudian tertawa, membiarkan Nathan hanya diam sedari tadi.
Nathan merasa bahwa dirinya lah yang menjadi obat nyamuk di sini. Dari tadi dia hanya diam menyaksikan keakraban kekasihnya dengan pria lain tanpa niat untuk ikut campur. Entah karena dia tidak peduli atau ... cemburu?
Nathan tersenyum, "Sepertinya kalian berdua sangat dekat."
Roxanne dan Gabriel seketika menoleh ke arah Nathan. "Kami hampir dua tahun berpacaran," ucap Roxanne memberi tahu, Nathan mengangguk.
"Bahkan kami berdua sudah seperti sepasang suami istri, sudah---" timpal Gabriel.
Roxanne melotot ketika mendengar ucapan Gabriel yang sama sekali tidak benar. Membuat Gabriel tidak melanjutkan kata-katanya.
Meski dia sudah lama berpacaran dengan Gabriel, tapi dia selalu menolak ketika pria itu ingin bercinta dengannya. Meski perbuatan itu lazim dilakukan di negara ini, tapi percayalah, Roxanne sangat menjaga kehormatannya. Dia akan menyerahkan mahkotanya hanya kepada pria yang benar-benar ia cintai, yang kelak akan menjadi suaminya.
"Jangan percaya apa yang barusan dikatakan Gabriel." Roxanne menggelengkan kepalanya. "Meski kami lama berpacaran, tapi kami tidak pernah melakukannya."
Nathan tersenyum, ada perasaan lega di dalam hatinya. "Aku percaya."
Gabriel berdecak kesal, rencananya membuat kekasih Roxanne marah gagal sudah. Haruskah dia memakai cara itu? Ya, dia akan melakukannya supaya pria bermata hijau di sampingnya ini segera pergi dari kehidupan gadisnya.
Dengan cepat Gabriel menarik Roxanne agar mendekat ke arahnya. Kemudian dia menempelkan bibirnya ke bibir merah muda gadis itu.
Roxanne membulatkan matanya, terlalu terkejut dengan perlakuan Gabriel yang tiba-tiba menciumnya tepat dibibir. Tak sampai di situ, Gabriel justru semakin memperdalam ciuman tersebut, ********** hingga mereka berdua kehabisan napas.
Roxanne segera mendorong tubuh Gabriel untuk menjauh darinya.
"Kau gila?" Roxanne menatap tajam ke arah Gabriel. Yang ditatap justru mengendikkan bahunya tidak peduli.
Gabriel tersenyum dalam hati, senang karena setelah ini pasti pria itu marah dan akan memukulnya. Setelah itu dia pasti akan memutuskan Roxanne, seperti yang telah dilakukan pria-pria yang mendekati Roxanne sebelumnya.
Tapi reaksi Nathan setelah itu membuatnya terkejut dan tak percaya.
"Maaf, Nath, Gabriel memang bersikap seenaknya."
Nathan tersenyum.
"Tidak masalah, lagipula kalian sudah biasa berciuman, kan?"
Roxanne menggigit bibir bawahnya. "Tapi meskipun begitu ...."
"Tenanglah, aku sama sekali tidak marah."
Gabriel berdecak lagi. Menatap Nathan dengan kesal.
"Meski seribu pria mencoba menyentuh atau menciummu, aku akan tetap menyayangimu," ungkap Nathan.
"Kau cantik, dan sudah wajar kalau banyak pria menjadi gila karenamu."
__ADS_1
Nathan terkejut ketika sadar apa yang barusan dia katakan. Sejak kapan dia menjadi pandai melontarkan kata-kata seperti itu? Apa tadi itu berasal dari hatinya yang paling dalam? Dia pasti sudah gila.
.