
--
Silvia mati-matian menahan emosinya ketika mengetahui bentuk seragam kerjanya. Yang benar saja, masa dia harus memakai seragam super ketat seperti ini?
Apalagi roknya yang super pendek dengan belahan yang hampir memperlihatkan pantat apabila dipakai. Pasti pria itu sengaja mempersiapkan seragam ini untuknya. Pria itu memang tidak ada otak.
Silvia mengambil seragam itu asal, kemudian segera keluar dari ruangan tersebut.
Setelah sampai di depan ruangan pimpinan, diketuknya dengan keras pintu di hadapannya.
Dibukanya dengan paksa di depannya dan dia segera melemparkan pelan seragam itu ke meja pria yang saat ini tengah tersenyum padanya.
"Apa masalahmu? Kau ingin aku memakai pakaian ini?" emosinya.
"Kenapa? Ada masalah? Itu sudah peraturan," jawab Steven enteng. "Kau tidak ada sopan-sopannya, ya." Steven berdecak menyayangkan perbuatan Silvia yang asal melempar seragam ke arahnya.
Silvia diam dan sekuat tenaga menahan amarahnya. Dipandanginya mata Steven dengan tatapan membunuhnya. Yang ditatap justru malah menciptakan smirk, membuat gadis itu semakin dongkol luar biasa.
"Tapi, bukankah seragam ini cocok untuk tubuh indahmu itu, hm?" kata Steven sambil menyandarkan punggungnya di sandaran kursi dan bersedekap dada. Matanya masih fokus menatap Silvia.
"Coba pakai mungkin kau akan terlihat lebih seksi dari model Victoria's Secret," ujar Steven menyeringai dan mengedipkan sebelah matanya.
Kalau saja Silvia bukan bawahan di sini, atau pria itu bukan bosnya, maka dia akan senang hati mencolok mata pria itu hingga keluar. Serius.
__ADS_1
"Apa-apaan kedipan itu?" Silvia memandang jijik pada pria itu.
"Sepertinya mataku kemasukan sesuatu." Steven mengucek matanya yang sebenarnya baik-baik saja. Silvia hanya memutar bola matanya malas.
"Seragam ini boleh tidak kau pakai asal kau punya seragam lain. Masalahnya, apa kau punya seragam sendiri saat ini?"
"Untuk sementara biarkan aku memakai baju yang sudah kupakai ini. " Silvia memegangi bajunya sendiri. "Aku akan mulai memakai seragam besok."
Steven mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Tapi, apa salahnya kau mencobanya dulu? Seragamnya tidak terlalu buruk. Jika kau mau, kau bisa ganti di ruangan itu." Steven menunjuk ruangan pribadinya . "Atau kau juga boleh ganti di depanku." Dia tersenyum menggoda.
Silvia yang mendengar itu refleks membulatkan matanya. "Alien mesum," kata Silvia, "jangan harap itu akan terjadi."
Karena tidak ingin perdebatan ini terus berlanjut, Silvia menghela napas dalam-dalam dan berujar,
"Maaf sebelumnya, hentikan semua omong kosong ini. Aku ke sini untuk bekerja, bukan untuk berdebat denganmu, Sir" Silvia ingat apa tujuannya ke mari. Meskipun pria itu sudah membuatnya kesal dan membuat tensi darahnya naik, tapi tetap saja dia adalah atasannya. Jadi sebisa mungkin Silvia harus tetap bersikap sopan dan profesional.
Dia juga merutuki kebodohannya yang sempat meladeni ucapan bosnya tadi.
"Maaf juga atas sikap dan perkataanku yang tidak sopan tadi"
Mengetahui itu, Steven terdiam sejenak. Gadis itu memang berbeda dari kebanyakan gadis pada umumnya. Dia tetap berpegang kuat pada pendiriannya sedikit pun tidak goyah meski Steven berkali-kali menggodanya.
__ADS_1
Sangat menarik. Dan Steven semakin merasa tertantang untuk bisa menaklukkannya.
"Nona Silvia" panggil Steven dengan suara bass-nya yang mendekati serak basah.
Silvia mendongak.
"Selama ini tidak ada satu pun wanita yang menolak pesonaku. Mereka justru mengantri untuk bisa berkencan denganku. Jadi kutawari kau sekali lagi. Hanya satu malam, dan kau akan kubebaskan setelah itu." Steven menatap Calista dengan tatapan serius.
"Come to me, and let's do it," sambungnya dengan tatapan yang masih tertuju pada Silvia.
"Listen to me, Sir, sudah berapa kali aku katakan kalau aku tidak akan menjual diriku? Aku akan menjaga kehormatanku ini meski nyawa taruhannya."
Steven kembali tertegun. Di kota New York ini ternyata masih ada wanita seunik Silvia. Mempertahankan kehormatannya dan tidak mau menyerahkan tubuhnya kepada pria tampan sepertinya. Benar-benar unik.
Apa jangan-jangan Silvia masih perawan?
Serius?
"Jangan kau anggap bahwa semua wanita itu sama, Sir. Biar pun aku miskin dan sangat membutuhkan uang, tapi aku tidak akan pernah menjual tubuhku kepada pria mana pun. Termasuk kepada dirimu. Jadi, kumohon, berhenti menawariku penawaran sampahmu itu dan biarkan aku bekerja dengan tenang di perusahaanmu ini."
.
.
__ADS_1
.