
--
"Apa pantas bertanya seperti itu di depan banyak orang?" Silvia bertanya sambil berusaha mengikuti langkah Steven yang lebar.
"Pantas saja menurutku. Di sini, kau akan diejek jika masih perawan."
Steven dan Silvia memasuki lift. Hanya berdua. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, Calista menjaga jarak dari Steven dengan berada di pojok belakang lift.
"Keperawanan bukan hal yang patut untuk dibicarakan. Apalagi dijadikan tolok ukur untuk menilai seseorang."
"Kau tahu? Zaman sekarang, sulit untuk menemukan perempuan yang masih perawan, apalagi di kota ini."
"Tidak juga." Silvia tidak setuju dengan ucapan Steven. "Masih banyak perempuan yang menjaga kehormatan dirinya."
"Termasuk dirimu?"
"Iya, dan aku bangga akan hal itu."
Steven melangkah mendekat.
"Jangan mendekat!" seru Silvia memerintah.
Namun Steven tidak menghiraukannya. "Kau memang perempuan yang menarik, Silvia. Dan itu membuatku semakin ingin menaklukkanmu. Harus kuapakan kau agar mau menghilangkan egomu dan datang kepadaku? Karena saat aku memakai cara lembut pun aku tidak berhasil membuatmu takluk. Aku penasaran, sebenarnya apa yang membuatmu seteguh ini pada pendirianmu?"
"Ada hal yang tidak akan bisa kau benahi setelah hancur, yaitu harga diri. Dengan menyerahkan harga diriku kepada pria sepertimu, itu sama saja dengan menghancurkan seluruh hidupku," tegas Silvia. Lalu setelah lift terbuka, buru-buru ia mendorong pelan tubuh Steven agar menyingkir, kemudian ia berlalu keluar.
--
Silvia mengecek jadwal meeting pada laptop di depannya. Dua puluh menit lagi akan ada rapat guna membahas kelanjutan proyek department store yang sedang dalam masa pembangunan.
Dengan berat hati dia melangkahkan kaki panjangnya. Menuju ruangan Steven. Dia harus tetap menjaga sikapnya agar tetap sopan meski bosnya memancingnya nanti.
__ADS_1
Silvia langsung masuk ketika tahu pintunya dibiarkan terbuka. Tapi tidak ada satu orang pun di ruangan ini. Pergi ke mana bosnya?
Dia harus segera mencarinya keluar.
Namun ketika hendak keluar dia mendengar erangan seseorang dari ruangan di balik pintu yang tertutup. Dengan ragu dia melangkah mendekati pintu itu.
Diberanikannya untuk membuka pintu tersebut.
Silvia membulatkan matanya ketika melihat bosnya hampir tak sadarkan diri dengan beberapa botol wine berserakan di atas meja.
Dia segera menghampiri pria itu dan membantunya berdiri.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Silvia khawatir.
Steven memandang Silvia ketika tahu gadis itu tiba-tiba menyentuhnya.
"Kenapa kau minum sebanyak ini? Kau tidak tahu kalau akan ada rapat sepuluh menit lagi?" Silvia membaringkan tubuh Steven di sofa putih samping lemari anggur. Setelah itu dia ikut duduk di sampingnya.
Steven memijit pelipisnya. Dia meringis ketika merasakan kepalanya yang pusing. Habis berapa botol wine dia?
Silvia segera mencari kontak Nathan dalam ponsel Steven. Setelah berhasil mencari, dia menelepon Nathan dan memberi tahu pria tersebut.
"Sudah waktunya." Silvia melihat jam tangannya setelah mematikan telepon. "Aku harus ke ruang rapat sekarang."
Steven menahan tangan Silvia ketika dia hendak bangkit dari duduknya. Silvia yang mengetahui itu menautkan alisnya, bingung.
"Tetaplah di sini," pinta Steven dengan suara lirih, hampir seperti berbisik. Kemudian dia mengganti posisinya yang semula berbaring menjadi duduk.
"Apa maksudmu? Aku harus mengikuti rapat saat ini."
"Kumohon, temani aku sebentar saja. Setelah itu kau boleh pergi."
__ADS_1
Silvia tidak mengerti jalan pikiran pria itu. Tapi dia tetap menurut karena takut akan terjadi apa-apa nantinya. Lagipula bosnya dalam keadaan lemah, jadi tidak mungkin pria itu berani berbuat macam-macam padanya.
Silvia mengangguk dan kembali duduk.
"Ini sulit kuakui, tapi aku harus tetap mengatakannya padamu." Steven menatap serius ke arah Silvia.
"Ternyata, aku jatuh hati kepadamu," ungkapnya dengan keadaan yang bisa dibilang mabuk berat.
Silvia kaget setengah mati. Apa pria itu sadar apa yang barusan dia katakan?
Pria itu mabuk. Pasti dia hanya mengada-ada.
"Apa maksudmu?" tanya Silvia mengalihkan pandangan ke arah lain. Steven malah tersenyum samar melihat reaksi gadis itu.
Tak lama setelah itu dia meletakkan kepalanya dipangkuan Silvia, kembali berbaring.
Sontak perempuan itu kembali kaget. Silvia menunduk. Tatapan keduanya kembali bertemu.
Iris pure hazel milik Steven menatap dalam mata rusa gadis itu yang dihalangi oleh kaca mata tebal yang bertengger di hidung mungilnya. Silvia yang menyadari itu kembali mengalihkan pandangannya.
"Aku sudah berkali-kali memerintahkanmu untuk memakai lensa kontak, kan? Kenapa sampai sekarang kau masih mengenakan kaca mata?" tanya Steven.
"Kaca mata ini hanya akan menghalangi kecantikanmu," sambungnya sambil melepas kaca mata tersebut lalu membuangnya ke sembarang arah.
Tentu saja, Silvia geram.
"Kau lancang sekali," geram Silvia.
Steven tertawa. "Aku putus asa, karena tidak kunjung bisa membuatmu takluk. Yang terjadi justru sebaliknya, aku yang takluk kepada perempuan aneh sepertimu. Beberapa waktu terakhir ini kuhabiskan untuk memerhatikanmu. Tanpa sadar, mengamatimu sudah menjadi kebiasaanku, dan, akhirnya, tanpa aku mau, perasaan itu tumbuh."
Silvia membeku. Tapi dia tidak mau menganggap serius omongan Steven. Pria itu tengah mabuk, dan Silvia yakin apa yang diucapkannya barusan itu di luar kesadarannya.
__ADS_1
"Aku benar-benar mencintaimu, Silvia."
Itu adalah ucapan terakhir yang keluar dari mulut steven sebelum akhirnya dia benar-benar tidak sadarkan diri.