
--
"Dia lebih sehat dari yang kau kira." Nathan tersenyum tipis. "Dia tidak pernah minum sebanyak itu sebelumnya. Maksudku, itu mungkin karenamu."
Silvia segera menoleh ke arah Nathan. "Karenaku?"
"Dia telah menceritakannya padaku, semuanya. Dan aku yakin dia benar-benar jatuh hati kepadamu," ungkap Nathan jujur.
Kini Nathan menatap Silvia beberapa detik, setelah itu dia kembali fokus pada jalanan di depan.
'Jadi ucapannya waktu itu memang benar?' Silvia membatin.
"Apakah kau saudaranya? Atau sepupunya? Eum, kalian terlihat akrab."
"Aku teman sekaligus penasihatnya. Tapi entah kenapa ucapanku tidak ada satu pun yang dia turuti, hahah." Nathan tertawa.
Tak selang beberapa lama, Nathan menghentikan mobilnya di depan mal mewah.
Mereka berdua memasuki mal yang kini sudah sepi itu.
Ini belum larut, tapi kenapa mal ini sudah sepi? Apa akan segera tutup? Tapi biasanya mal semewah ini akan dibuka selama 24 jam. Silvia sempat bingung memikirkan suasana mal yang sudah sepi. Tapi dia segera melupakannya dan kini dia menatap lelaki yang tengah tersenyum tipis ke arahnya.
"Tugasku sudah selesai, kan?" tanya Nathan kepada Steven.
Steven mengangguk untuk menjawab pertanyaan Nathan.
"Bersenang-senaglah!" Setelah itu Nathan keluar dari mal meninggalkan mereka berdua.
Silvia sedikit takut mengetahui hanya mereka berdua yang mengunjungi mal ini. Meski ada beberapa pegawai mal yang masih bekerja, tapi bersama dengan Steven membuatnya khawatir akan terjadi sesuatu padanya.
Steven tersenyum lembut, "Tidak perlu takut. Aku sengaja mengosongkan mal ini untukmu. Kau bisa memilih semua barang sesukamu."
"Mengosongkan? Maksudmu?" Alis Silvia bertaut.
Steven hanya tersenyum miring mendengar pertanyaan Silvia.
"Ini mal keluargaku, jadi aku bisa dengan mudah mengosongkannya."
Silvia membulatkan matanya sempurna. Serius?
Ah iya, dia kan kaya, tidak heran.
__ADS_1
"Tapi itu tidak perlu, apa kau tidak lihat? Aku baru belanja tadi." Silvia menjunjung tas belanjaannya.
Steven langsung merebut tas itu dan membuangnya asal.
"Hei!" protes Silvia menatap malang barang belanjaannya.
"Barangnya sudah tidak ada, sekarang mulailah belanja lagi."
Silvia menatap sayang tas yang sudah terbuang itu. Dia membelinya dengan uang tabungannya, dan pria itu dengan mudahnya membuang barang-barang itu begitu saja?
"Apa sih, maumu? Memangnya kau siapa bisa mengaturku sesuka hatimu?!" Silvia meninggikan suaranya hingga membuat beberapa pegawai melihat ke arah mereka.
"Aku ini kekasihmu" jawab Steven dengan mantap.
Silvia terkejut mendengar jawaban Steven. Sejak kapan dia berpacaran dengan alien mesum ini?
"Kau sepertinya tidak waras. Sejak kapan kita pacaran?"
"Okay, be my girlfriend."
Silvia tersentak mendengar pernyataan pria di hadapannya itu.
"Jadilah kekasihku," ulang Steven dengan raut serius.
"Aku harus segera pulang." Tanpa menanggapi ucapan Steven, Silvia melangkah begitu saja.
Dia teringat kemarahan neneknya.
Namun dia segera berhenti ketika merasakan tubuhnya dipeluk dari belakang oleh Steven.
"You are mine" ujar Steven. "Kau tahu? Aku tidak terbiasa dengan penolakan." Steven semakin mempererat pelukannya. Seolah-olah jika dia lepaskan, maka gadis itu akan pergi darinya.
"Katakan bahwa kau adalah milikku," lanjut Steven berujar dengan suara beratnya.
Silvia tidak bisa berpikir jernih. Di satu sisi dia marah karena kelakuan Steven yang menurutnya keterlaluan. Tapi di lain sisi, dia takut kena marah neneknya setelah ini karena mengulur-ulur waktu untuk pulang.
"Yes, I am yours." Silvia terpaksa mengatakan itu karena dia ingin segera pulang. "Sekarang biarkan aku pulang, nenekku akan marah mengetahui aku pulang selarut ini."
Steven tersenyum. Setelah itu, dia segera melepaskan pelukannya dan membalikkan tubuh Silvia ke hadapannya.
"Terima kasih." Steven tersenyum lagi. Kemudian ditariknya tangan Silvia supaya gadis itu mengikutinya.
__ADS_1
"Sudah kubilang, aku ingin pulang!" Dengan kasar Silvia menarik tangannya dari genggaman Steven.
"Aku sudah mengubungi nenekmu, dan dia mengizinkanku untuk membawamu," jawab Steven enteng.
"Wait, what? Aku tidak percaya. Lagipula dari mana kau dapat nomor rumahku? Nomor ponselku saja kau tidak punya."
Steven mendengus geli, gadis itu bodoh atau apa? Lalu untuk apa gadis itu diterima kerja di perusahaannya kalau Steven tidak tahu apa-apa tentangnya?
Steven tahu semua tentang Silvia. Hanya saja gadis itu tak menyadarinya.
"Ingin bukti? Baiklah, akan aku menelepon nenekmu." Dia segera mengambil iPhone warna silver-nya dan memanggil seseorang.
"Halo!"
Silvia tersentak kaget mendengar suara cempreng yang familiar dari seberang sana. Ya, dia yakin itu adalah suara neneknya. Ternyata Steven tidak berbohong.
"Halo, Nenek, ini aku, Steven."
"Ah, Nak Steven. Bagaimana kencannya? Apa Silvia bersikap lembut padamu? Kalau dia kasar, jambak saja rambutnya. Hahah."
Steven tersenyum ke arah Silvia. Gadis itu menatap tajam ke arahnya. Kenapa neneknya bersikap ramah ke lelaki yang belum dikenalnya ini?
"Tidak, Nek, Silvia bersikap lembut padaku. Sangat lembut malah." Steven mengedipkan sebelah matanya pada Silvia. Membuat gadis itu semakin menatapnya tajam.
"Silvia ingin bicara padamu, Nek." Steven menyerahkan ponselnya pada Silvia.
"Nek!"
"Awas kalau kau kasar padanya!" ancam sang nenek di seberang sana.
Silvia menjauhkan ponsel itu dari telinganya setelah mendengar teriakan neneknya.
"Dia sekarang adalah calon menantuku, dan jika kau tidak bersikap lembut padanya, jangan harap pintu rumah terbuka untukmu!"
"Tapi, Nek."
"Selamat bersenang-senang! Pulanglah larut malam!"
"Nek! Nenek!"
Steven mengambil ponselnya dari tangan Silvia setelah panggilan itu dimatikan oleh neneknya. "Bagaimana? Aku tidak bohong, kan?"
__ADS_1
'Duh, Nek, kenapa kau selalu membuatku berada dalam masalah?' Silvia membatin dalam hati.
Dengan terpaksa dia mengikuti keinginan neneknya untuk menurut pada Steven.