
--
Steven segera keluar ruangan meninggalkan Nathan dan Silvia. Silvia yang mengetahui Nathan berjalan ke arahnya kembali tersenyum.
"Apa kabar, Nath?"
"Seperti yang kau lihat sekarang."
Silvia mengangguk kemudian kembali sibuk pada pekerjaannya.
"Kau pasti tertekan dengan sikap Steven yang seenaknya." Nathan mendudukkan dirinya di kursi depan meja Silvia.
Silvia segera menyudahi aktivitasnya, dia menutup laptopnya dan mengembuskan napasnya kasar.
"Dia selalu saja membuatku kesal dan marah. Apa dia tidak memikirkan perasaan seorang wanita sama sekali?"
Nathan tersenyum.
"Selama hidupnya, Steven selalu dimanja oleh kedua orang tuanya. Jadi tidak menutup kemungkinan kalau dia sedikit egois."
"Sedikit egois? Seriously? Dia egois sekali," protes Silvia kesal.
Lagi-lagi Nathan tersenyum. "Tapi dia tipe orang yang pekerja keras. Dia mampu menyelamatkan perusahaan ini dari kebangkrutan waktu itu." Nathan juga mengingat saat dia pertama kali bertemu dengan Steven.
Saat itu dia hanya seorang pengangguran. Berkat Steven dia bisa kerja di perusahaan ini sebagai manajemen keuangan serta penasihatnya. Yah, meskipun Steven tidak pernah mendengar nasihat darinya.
"Kau tahu, Silvia? Setelah bertemu denganmu, dia tidak pernah menemui wanita-wanita penghibur lagi."
Silvia tertegun. Apa itu karenanya? Apa Steven memang benar-benar mencintainya?
Tidak. Silvia tidak mau percaya begitu saja.
"Dia bahkan menolak dijodohkan dengan seorang model yang merupakan anak pengusaha kaya."
Perjodohan? Jadi selama ini Steven dijodohkan? Dan pria itu menolak perjodohan itu karenanya?
"Aku tidak tahu masalah perjodohan itu." Silvia menggeleng, "Tapi kenapa dia menolaknya dan lebih memilihku?"
Nathan tertawa, apakah selama ini Silvia tidak percaya bahwa Steven benar-benar mencintainya?
"Sudah kubilang kan sebelumnya, dia benar-benar mencintaimu."
Silvia menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak. Mana mungkin pria sepertinya sungguh-sungguh mencintaiku? Kau ingat kan, pertama kali kita bertemu dia ingin bercinta denganku?"
Silvia merasa jijik mengingat kejadian di restoran waktu itu.
"Lagipula apa untungnya memilih wanita miskin sepertiku dan melepaskan seorang model yang sudah terjamin masa depannya?"
__ADS_1
Nathan menarik ujung bibirnya, lalu berkata, "Terserah padamu, Silvia. Intinya yang aku tahu, Steven benar-benar jatuh cinta kepadamu."
--
Steven memasuki rumah mewahnya yang didominasi oleh warna putih gading. Dia harus segera menemui kedua orang tuanya sebelum tuan Sam dan Roxanne datang.
Tapi terlambat. Dia kini mendengus kesal ketika melihat mereka berdua sudah datang terlebih dulu. Dia segera mendudukkan dirinya di samping ayahnya dan berhadapan langsung dengan Roxanne.
Gadis bersurai emas itu tersenyum manis. Steven hanya membalasnya dengan senyum tipis.
"Berhubung orang yang kita tunggu sudah datang, aku akan langsung mengatakannya," ujar tuan Sam.
"Aku ingin menjodohkan Steven dengan Roxanne. Dan kurasa mereka berdua cocok."
Gadis itu kembali tersenyum manis setelah mendengar ucapan ayahnya.
Sedangkan kedua orang tua Steven hanya diam, karena semua keputusan ada di tangan putranya.
"Ini juga akan menguntungkan hubungan perusahaan kita."
Steven berdeham sebelum berbicara. "Maaf, sepertinya aku tidak bisa menerimanya."
Tuan Sam dan Roxanne terkejut. Namun kedua orang tua Steven justru tersenyum lega.
Sebenarnya ayah dan ibu Steven ingin putranya bisa memilih calonnya sendiri. Itu lebih baik daripada lewat perjodohan yang belum tentu akan membuat Steven bahagia.
"Aku sudah punya kekasih, Tuan. Jadi mana mungkin aku menikahi putrimu?" Steven menjawabnya dengan santai, dia tidak merasa gugup sedikit pun.
Persetan setelah ini tuan Sam akan membatalkan kerja sama atau tidak, yang penting dia sudah merasa lega sekarang.
Ayah dan ibu Steven semakin mengembangkan senyuman mereka. Putranya benar-benar sudah dewasa.
Sedangkan Roxanne hanya menunduk, dia meremas ujung gaunnya kuat-kuat. Selama ini tidak ada pria yang berani menolaknya. Justru mereka semua berlomba-lomba untuk bisa mendapatkannya.
Steven melihat jam rolex hitam di pergelangan tangan kirinya. Lalu mendongak lagi dan berkata, "Sepertinya aku sudah harus kembali ke kantor. Ada pekerjaan yang harus kuselesaikan."
Bohong. Sebenarnya dia ingin cepat-cepat menemui Silvia. Entahlah, sepertinya Steven tidak bisa jauh-jauh dari Silvia. Wajah gadis itu sudah menjadi candu baginya. Melebihi kecanduannya pada alkohol.
Dan dia ingin melihatnya setiap hari.
Steven segera bagkit dari duduknya dan melangkah hendak keluar.
"Tunggu!"
Steven berhenti dan menoleh ketika Roxanne menghentikannya.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Bisakah kita menjadi teman?"
Steven tersenyum tipis. "Kenapa tidak?" Setelah itu dia kembali melangkahkan kaki panjangnya.
--
Silvia keget karena Steven tiba-tiba memeluknya dari belakang. Apa pria ini tidak lihat kalau dia sedang membersihkan rak buku ruangannya sekarang?
"Lepaskan! Kau tidak bisa memelukku sembarangan, Sir."
Steven mendengus, lagi-lagi Silvia memanggilnya seperti itu.
"Bukankah sudah kubilang, jangan panggil aku seperti itu." Dia segera melepaskan pelukannya karena kesal.
"Jika kau memanggilku seperti itu sekali lagi, maka jangan salahkan aku jika aku mencium bibirmu."
Silvia mendelik ketika mendengar ancaman Steven.
Mulai sekarang dia harus benar-benar menjaga bibirnya. Jangan sampai bibir sucinya bersentuhan dengan bibir nista milik Steven.
"Jangan panggil aku dengan sebutan seperti itu atau pun sejenisnya," perintah Steven.
Silvia mengembuskan napasnya, terpaksa dia harus menurut pada Steven.
"Baiklah, Steve. Kau puas?"
Steven tersenyum lebar. Meski bukan panggilan sayang atau cinta, tapi dengan memanggil namanya itu sudah cukup.
"Ikut aku!" Steven menarik tangan Silvia dan membawanya keluar ruangan.
Dia segera membawa Silvia menuju tempat yang ramai pegawai.
"Aku akan mengumumkan sesuatu!" Steven sedikit menaikkan suaranya agar seluruh pegawai mendengarnya.
"Aku dan Silvia sudah resmi pacaran. Dan kuharap kalian memperlakukannya seperti kalian memperlakukannku!
Silvia melotot ke arah Steven. Bisa-bisanya dia mengumumkannya. Ini terlalu cepat.
Seluruh pegawai diam dan serius menatap mereka. Mereka cukup kaget mendengar pengakuan Steven yang to the point.
"Jika aku tahu kalian membuli atau menggodanya, kupastikan kalian akan menyesal setelah itu!"
Para pegawai mulai berbisik-bisik. Dan tak sedikit pula yang bertepuk tangan dan memberi mereka ucapan selamat. Mereka berpikir kalau Silvia sungguh beruntung bisa menjadi kekasih seorang CEO muda dan tampan seperti Steven.
"Akan kubunuh kau setelah ini," geram Silvia.
Steven hanya tertawa kecil mendengar ancaman Silvia.
__ADS_1
.