
--
Tubuh Steven refleks menegang. Jantungnya berdegup tidak seperti biasanya. Dia merasakan hal aneh setelah mendengar perkataan Silvia barusan.
Apa dia benar-benar akan jatuh hati pada gadis di depannya? Seperti yang Nathan bilang sebelumnya?
Tidak mungkin, kan?
"Sudah kuduga kau akan berkata seperti itu." Steven memalingkan wajahnya dari Silvia. Pria itu kini tengah sibuk membuka file di dalam laptopnya.
"Baiklah, kau boleh memakai pakaianmu sendiri untuk sementara. Sekarang pergilah ke ruanganmu dan mulailah untuk bekerja."
Silvia mengambil seragam di atas meja itu dan segera keluar.
--
Sebenarnya, Silvia bukan tipe orang pemarah. Namun jika menghadapi pria menyebalkan seperti bosnya itu, entah kenapa tensinya naik hingga ke ubun-ubun, emosinya memuncak.
Bayangkan saja, pria hidung belang yang mengajaknya one night stand ternyata adalah bosnya sendiri.
Tapi, Silvia akui, Steven memang memiliki daya tarik yang luar biasa.
He was too damn good looking!
Tapi sayang, attitudenya tidak ada.
Benar-benar seperti kebanyakan pria tampan kaya raya di luar sana yang tidak pernah puas untuk memenuhi nafsunya.
Dan Silvia tidak akan mau menjadi salah satu korban untuk memenuhi nafsu pria itu.
"Sedang apa?"
Suara berat yang familiar itu mengagetkan Silvia hingga gelas berisi teh hangat di tangannya hampir terlepas.
Steven.
Bosnya itu menyandarkan bahunya di pinggiran pintu dapur kantor seraya menatap ke arah Silvia.
"Membuat teh," jawab Silvia sekenanya. Sebisa mungkin Silvia menghindari kontak mata dengan atasannya itu.
"Bisa buatkan aku juga?" Steven melangkah untuk masuk lebih dalam, mendekat pada Silvia.
__ADS_1
"Oke." Silvia meletakkan cangkirnya di atas meja pantry lalu membuatkan satu teh lagi untuk Steven.
Namun tanpa diduga, Steven malah mengambil cangkir Silvia dan meminum isinya.
"Hei," Silvia memprotes.
"Kenapa?" tanya Steven santai seraya lanjut meminum teh milik Silvia.
Silvia tidak mau menanggapi lagi. Ia lanjut untuk membuat teh sebagai ganti tehnya yang sudah diminum oleh Steven.
"Kau keturunan Asia?"
"Ya, salah satu orang tuaku asli Korea."
"Pantas."
"Kenapa?" Padahal, Silvia tidak ingin menanggapi pertanyaan-pertanyaan dari pria itu, namun mulutnya tidak bisa diajak kerja sama.
"Wajahmu unik. Aku suka. Apalagi hidungmu, itu adalah bagian favoritku, tidak terlalu mancung tapi tetap terlihat indah."
What the---
Silvia menoleh pada Steven yang menatapnya intens dari samping. Steven terlihat ingin sekali menerkam Silvia di sini.
"Jika kau berbuat cabul kepadaku, aku akan teriak?"
Steven memecahkan tawa renyahnya setelah itu, membuat Silvia semakin merasa ngeri dan takut. Pria itu sepertinya benar-benar sakit jiwa.
"Tidak ada sejarahnya aku melakukan tindak asusila," beri tahu Steven. "Aku tidak pernah memerkosa orang, Silvia, karena semua wanita yang membuatku tertarik akan dengan mudah kudapatkan, bahkan sebelum aku bertindak, mereka sudah lebih dulu mendekat."
"Tapi tidak denganku," tegas Silvia.
"Well, untuk sekarang, kan?"
"Selamanya."
"Oke-oke, silakan pada pendirianmu itu. Aku juga tidak peduli lagi denganmu. Karena jujur, kau sama sekali bukan tipeku."
"Aku senang mendengar itu."
"Tapi, jangan coba-coba untuk memancingku."
__ADS_1
Steven bergerak untuk lebih dekat pada Silvia. Mengetahui itu, Silvia termundur, hingga mentok pada pinggiran meja.
Steven mengurungnya. Kedua tangan pria itu menempel pada pinggiran meja, berada di kedua sisi tubuh Silvia, membuat Silvia tidak punya celah untuk menjauh.
"Kau ... mau apa?"
"Kalau kau memancingku, aku juga tidak bisa mengendalikan diriku sendiri," kata Steven semakin mendekatkan wajahnya pada Silvia.
"Kapan aku memancingmu?" Silvia berusaha untuk menjauhkan wajahnya agar tidak sedekat ini dengan wajah Steven.
Steven terkekeh kecil sebelum akhirnya menjauh dari Silvia. "Seharusnya aku foto wajah ketakutanmu tadi. Lumayan untuk mengusir tikus di got depan gedung perusahaan."
Sial!
Tanpa membalas ucapan Steven, Silvia melangkah cepat menuju pintu untuk keluar. Bos barunya itu benar-benar kurang ajar. Selalu berhasil memancing kekesalannya.
Baru beberapa hari bekerja di sini emosi Silvia sudah hampir meledak.
--
"Silvia Lim?"
"Ya?"
"Sudah lama aku ingin menanyakan hal ini kepadamu."
"Tanya apa, Bos?" Silvia mengedarkan pandangannya pada rekan kerjanya yang lain yang memasang wajah penasaran dengan apa yang akan ditanyakan oleh Steven kepadanya.
"Are you a virgin?"
Silvia tersedak ludahnya sendiri. Matanya melotot dengan raut wajah kaget yang kentara. Steven yang bertanya, tapi kenapa Silvia yang malu, ya?
Steven memang sudah tidak waras.
"Kurasa, hal seperti itu tidak pantas dibicarakan."
"Kenapa? Kau malu mengatakan bahwa dirimu masih perawan?"
Memang sialan oknum bernama Steven Bennet itu. Mulutnya minta diolesi saos sisa makanan Silvia.
Kurang ajar.
__ADS_1
Hingga sampai akhir pun, Silvia tidak menjawab.
--