Cintaku Pada Sang CEO Gila

Cintaku Pada Sang CEO Gila
Chap 04. Meet Again


__ADS_3

--


Nathan memasuki ruangan Steven dengan senyuman tersungging di wajah tampannya. Lelaki itu membawa beberapa berkas yang diinginkan oleh sahabatnya tersebut.


Diberikannya beberapa dokumen itu pada Steven. "Aku telah berhasil mencari tahu tentang gadis itu"


Steven tersenyum puas. "Good."


"Namanya Silvia Lim, seorang mahasiswi yang baru lulus beberapa hari lalu," beri tahu Nathan.


"Umurnya sekarang sekitar dua puluhan tahun, tak beda jauh dari umurmu. Tinggal bersama neneknya karena kedua orang tuanya meninggal saat kecelakaan."


"Dia anak tunggal?" tanya Steven sambil membolak - balik berkas di atas mejanya.


"Sebenarnya dia memiliki saudara kembar, tapi kembarannya itu ikut meninggal ketika kecelakaan itu. Yah, meski jasad saudaranya belum ditemukan sampai saat ini."


Steven mengambil beberapa foto yang ada di dalam berkas tersebut. Dipandangnya foto seorang perempuan dalam balutan toga hitam.


"Dia lebih cantik tanpa kaca mata," pujinya tanpa sadar. Dia memandangi beberapa foto itu dengan senyum yang merekah.


"Kerja yang bagus, Nath. "Steven memegang pudak Nathan, kemudian kembali berujar, "Mari kita mulai permainannya." Steven menyeringai penuh makna. Sedangkan Nathan, dia hanya mengangguk dan ikut saja alur yang dibuat oleh Steven.


--


Seorang gadis terlihat berjalan tergesa-gesa hendak menuju halte bus. Dia berdoa agar dia tidak telat di hari pertamanya bekerja.


"Sill!" teriak seorang wanita yang kini sedang berlari ke arah gadis itu.


"Ah, Steph, kau membuatku kaget saja." Gadis itu membenarkan letak kaca matanya yang tadinya melorot. "Ada apa?" tanyanya.

__ADS_1


"Ini hari pertamamu bekerja, kan?"


Gadis itu mengangguk.


"Oh My God!, Are you crazy?"


Gadis itu bingung. Perasaan tidak ada yang salah pada dirinya.


"Kau akan bekerja dengan jaket tebal dan tutup kepala seperti ini?" Stephanie melihat penampilan temannya itu dari atas sampai bawah. "Kau bahkan memakai celana jeans? Ah, yang benar saja!" seru perempuan bermata sabit itu.


"Berani taruhan, kau bahkan tidak akan diizinkan masuk oleh security. Silvia , your outfit is so fucking weird! Kau harus ubah penampilanmu!"


Silvia memutar bola matanya malas. "Jadi secara tidak langsung kau mengatakan kalau penampilanku selama ini aneh, begitu?"


"Iya," balas Stephanie mantap . Namun buru - buru dia meralat, "No-no! Maksudku, kau jangan berpakaian seperti ini saat bekerja. Pakai blazer dan rok kan bisa?"


Silvia melihat jam di tangan kirinya. Pukul delapan lebih sepuluh menit. Jika dia terus meladeni ocehan Stephanie, maka dia akan benar-benar terlambat nantinya.


Silvia melambaikan tangannya sebelum benar-benar memasuki bus.


"Daahh!" Stephanie melambaikan tangannya dan tersenyum lebar. "Selamat berjuang, Sill! Jangan terlalu galak di tempat kerja! Hahaha!"


Benar juga apa yang dikatakan oleh Stephanie . Calista harus mengubah penampilannya. Dia harus segera menemui sahabatnya itu setelah pulang dari kerja untuk mengajaknya belanja.


--


Calista mendapat berbagai macam pandangan dari beberapa pegawai yang ia lewati. Ada yang memandang tidak suka, ada pula yang memandang remeh ke arahnya."


Jadi, wanita biasa ini yang akan menggantikan posisi Irina?"

__ADS_1


"Tak bisa dipercaya. Bos memang sulit ditebak."


"Kau lihat? Penampilannya sangat norak."


"Jika dibanding Irina dia tidak ada apa-apanya. Kukira dia lebih cantik , tapi ternyata...."


" Ssttt, nanti dia mendengarnya."


Silvia mendengar semuanya. Tapi dia tetap tidak menghiraukan mereka semua. Yang harus dia pikirkan sekarang adalah bagaimana caranya agar dia tidak gugup bertemu bosnya nanti. Dia berharap semoga atasannya itu orang yang baik dan ramah. Bukan malah atasan galak dan cerewet berperut buncit seperti kebanyakan pemimpin lainnya.


"Ini ruangannya, Nona. Saya hanya bisa mengantar Anda sampai di sini. Sampai jumpa," ucap perempuan paruh baya yang mengantar Silvia.


Silvia tersenyum, "Terima kasih."


Diberanikannya mengetuk pintu di hadapannya itu.


Setelah mendapat instruksi untuk masuk, dia membukakenop pintu dan melangkah masuk.


"Excuse me, Sir," ucap Silvia pelan seraya melihat ke arah sang atasan yang membelakanginya.


"Senang bertemu denganmu lagi, Nona." Lelaki itu membalikkan kursi kerjanya dan menampakkan wajahnya.


Silvia membelalakkan matanya tidak percaya. Jadi atasannya adalah alien mesum yang sempat mengajaknya tidur waktu itu?


.


.


.

__ADS_1


Disinilah awal mula kisah mereka berdua dimulai-


__ADS_2