
--
Silvia tidak bisa fokus pada pekerjaannya. Steven terus saja memerhatikannya. Pria itu membuat konsentrasinya benar-benar hilang. Yang benar saja, sudah sekitar dua puluh menit dia di ruangan Silvia dan terus menatapnya dengan intens.
"Apa kau tidak ada pekerjaan lain sampai-sampai memerhatikanku terus-menerus?"
Steven malah tersenyum.
"Wajah cantikmu sayang untuk tidak kuperhatikan."
"Mulai lagi si mesum ini."
Silvia segera menutupi wajahnya dengan tangan kirinya. Membuat Steven berdecak kesal. Apakah Steven salah jika ingin menikmati indahnya ciptaan Tuhan di depannya ini?
Steven segera bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kursi tempat Silvia bekerja. Disingkirkannya tangan Silvia yang menutupi wajah cantiknya, kemudian Steven mencium pipi putih gadis itu.
Silvia tersentak kaget mengetahui kelakuan Steven yang tiba-tiba menciumnya. Mungkin untuk Steven ciuman itu hal yang wajar, tapi untuk Silvia itu adalah hal yang sedikit sakral.
Silvia ingin sekali marah, tapi ini di kantor. Dia harus tetap menjaga sikapnya terhadap bos yang kini telah menjadi kekasihnya ini.
Kekasih? Entahlah. Silvia terpaksa mengakuinya sebagai kekasih. Meskipun dia benar-benar membenci pria di sampingnya ini.
"Tolong jaga sikapmu, Sir," ucap Silvia menahan kekesalannya.
__ADS_1
Steven menaikkan sebelah alisnya bingung.
"Sir? Kenapa kau masih memanggilku seperti itu?"
"Ini di kantor, dan kau sekarang adalah atasanku. Jadi aku harus tetap memanggilmu seperti itu agar tetap sopan."
Steven berdecak.
"Aku tidak suka kau memanggilku seperti itu di mana pun dan kapan pun."
Silvia segera menoleh ke arah Steven dengan kening bertaut.
"Panggil namaku saja, atau panggil aku dengan sebutan sayang, babe, cinta, atau apa pun panggilan romantis lainnya."
Nada bicara Steven terdengar memaksa. Tapi Silvia tetap tak menghiraukannya, dia akan tetap memanggil Steven dengan sebutan sir atau boss.
Tak lama setelah itu, terdengar ketukan pintu dari luar. Silvia gugup, dia khawatir karena Steven masih disini. Bisa-bisa ada yang mencurigai apa hubungan mereka berdua setelah melihat Steven terus bersamanya.
"Kenapa?" tanya Steven ketika melihat wajah cemas Silvia.
"Kau takut kalau ada yang mengetahui hubungan kita?"
Silvia mengangguk. "Hm."
__ADS_1
Steven tersenyum, "Kenapa takut? Justru aku akan segera mengumumkannya."
Mata Silvia membulat sempurna setelah mendengar ucapan Steven. Dia gila?
Silvia hendak protes, tapi laki-laki itu keburu berjalan menuju pintu dan melihat siapa orang yang barusan mengetuk.
Steven segera membuka pintu. Kemudian dia mengernyitkan dahinya setelah tahu ternyata Nathan yang berada di hadapannya. "Ada apa?"
Nathan masih menatapnya datar. "Kau lupa?"
"Lupa apa?" Steven masih belum mengerti maksud sahabatnya itu.
"Bukankah sekarang tuan Sam dan Roxanne akan datang ke rumahmu?" Nathan beralih memandang Silvia yang juga sedang memandangnya. Pria itu tersenyum, yang dibalas oleh Silvia dengan senyuman juga.
Steven mendengus kesal, dia sebenarnya malas menemui mereka. Tapi dia harus tetap pulang untuk memberi tahu kedua orang tuanya kalau dia belum ingin menikah.
"Baiklah, aku akan pulang sekarang. Tolong jaga Silvia untukku," pesannya sambil menoleh ke arah gadisnya yang kini sibuk mengetik sesuatu di laptop. Lebih tepatnya, pura-pura mengetik sesuatu.
"Aku tidak ingin para pegawai pria mendekati atau menggodanya."
Nathan mengangguk.
-
__ADS_1
-
-